Sabtu, 29 Juni 2019

Menjaga Kewaran dengan bersikap "Bodo Amat"

       

      Ada masa kita memang harus bersikap BODO AMAT. Tidak membiarkan segala hal masuk dalam pikiran ataupun hati. Salah satu pembelajaran dari 2019 ini adalah, mungkin Gadis Intan sudah mulai belajar bagaiaman mengontrol perasaan dan pikirannya yang terlalu banyak sampah dan tidak membiarkan semua hal harus dipikirkan. Jadi post ini merupakan sedikit ilmu yang saya dapat, cara Bodo Amat, dari banyak pihak dan pastinya sedikit review tentang buku bestseller Mark Mason.

       Prinsip dan mindset dari bodo amat memang tidak serta merta bersikap bodo amat sih, Bodo amat itu tergantung konteksnya dan ada aturannya, karena di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang bodo amat dan tidak banyak orang yang peduli. Ngomongin Bodo Amat, yang seharusnya dilakukan bagi saya pribadi adalah tidak perlu memikirkan apapun yang tidak dapat kita rubah, atau diluar batas kendali kita. Sehingga kita perlu let it flow dan bodo amat segala sesuatunya. Misalnya nih : saat kita UAS kita sudah mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin, sudah berdoa, berusaha dan tawakal, tapi naasnya kita mendapatkan dosen yang killer dan pelit terhadap nilai, saat pembagian nilai, nilai kita gak sebaik yang kita harapkan, hal ini mungkin membuat kita kecewa dan akan uring-uringan. ehh tapi, disatu sisi kita akan lebih sakit hati, disitu diperlukan mensugesti diri untuk bodo amat.


       Belajar dari buku bestseller di 2019, The subtle art not giving a Fuck by Mark Mason, tidak semua hal didunia ini memang harus disugesti secara positif dan membiarkan segala sesuatu terlihat baik-baik saja, padahal nyatanya tidak sedang baik-baik saja, disana kita perlu menekankan untuk menerima hal-hal negatif itu karena pada nyatanya itu akan membuat kita lebih kuat dalam menghadapi masalah dan bersikap bodo amat disini dengan mencari solusi bukan mensugesti positif terus tanpa membuat solusi atas banyak permasalahan, dan membiarkan masalah tambah runyam dengan ilusi pikiran positif kita. Selain itu, selama ini banyak sekali value sampah yang kita miliki, well, boleh sependapat boleh tidak, tapi di suatu keadaan kita memang menekankan banyak nilai-nilai yang kadang diluar batas kendali kita. Nilai-nilai ini seperti kebahagiaan yang harus di ukur dari uang, menjalani kehidupan yang harus positif-positif terus, materialistik dalam melihat suatu keadaan, tidak diperbolehkan kecewa, kenikmatan yang palsu, dll. 

       Padahal menurut Mark, "nilai-nilai yang kita pegang menentukan hakikat permasalahan kita dan hakikat dari permasalahan kita menentukan kualitas hidup kita". Kalo kita terus menerus terjebak dalam delusi nilai-nilai yang berkembang di masyarakat atau mengikuti ekspektasi lingkungan, kita akan terjebak dalam lingkaran setan kebahagian ditentukan pada sesuatu hal. Itu mengapa kadang, kita memang dituntut untuk cuek dan masa bodoh untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting ataupun tidak, dan memilih yang paling tepat buat kita. 

       Paradoks kegagalan/kesuksesan. Selama ini selalu melihat orang lain atau orang yang ada disosial media, yang sedang memamerkan kehidupan dan pencapainya kita mengangap bahwa meraka sudah sukses pada titik tertentu, padahal kita tidak tau bagaimana perjuangan dia mencapai titik itu, well ini juga dibahas oleh Mark, beliau berpendapat "Perbaikan dalam segala bidang, dilatarbelakangi oleh ribuan kesalahan kecil, dan besarnya kesuksesan anda berdasarkan pada beberapa kali anda gagal melakukan sesuatu. Jika seseorang lebih baik daripada anda mengenai segala sesuatu hal, sepertinya itu karena dia telah mengalami kegagalan yang lebih banyak". pada titik tertentu pula sebagian besar dari kita berhasil meraih suatu posisi mengkondisi kita untuk takut gagal, untuk menghindari kegagalan secara naluriah dan hanya terpaku pada suatu keadaan yang ada diddepan dan sudah kita kuasai. Hal inilah yang sebenarnya membatasi dan menghambat kita. Kita hanya benar-benar sukses kalo kita ada suatu bidang yang memungkinkan kita untuk rela gagal. Jika kita tidak bersedia untuk gagal, kitapun tidak bersedia untuk sukses. Selama ini kita terbiasa memilih nilai yang buruk, yang akhirnya menyebabkan kita merasa gagal,  misal dalam contohnya mark menyebutkan bahwa "Membuat semua orang menyukai saya" hal ini yang akan menjadikan kita cemas karena kegagalan ditentukan 100% oleh tindakan orang lain, bukan tindakan kita sendiri. Hal inilah yang diperlukan untuk bersikap Bodo Amat pada nilai-nilai buruk yang tidak perlu kita yakini. dan kita tidak memiliki kendali, karena penghargaan diri kita hanya berdasarkan belas kasih orang lain. Tidak mengapa jika kita memiliki nilai "membuat semua orang menyukai saya" karena ingin memperbaiki kehidupan sosial, sehingga kita perlu menjalin hubungan yang baik antar sesama, tapi kembali lagi. Jadi mulailah untuk memikirkan ulang antara ekspektasi dan nilai baik yang perlu kita anut, bukan serta merta mengiyakan banyak nilai buruk yang akan membuat kita cemas dan kecewa nantinya

Dari buku Mark Mason, akan ada banyak sekali nilai-nilai baru atau pengetahuan baru tentang bersikap Bodo Amat itu sendiri. Akan ada banyakk sekali pengetahuan baru yang saya dapat. Ambil yang baik dan buang yang buruk, meskipun tidak semua isi buku ini harus saya iyakan tapi, ada cara yang yang lebih waras dalam melihat suatu permasalahan atau kegagalan, ada pendekatan yang bisa memperbaiki sikap saya secara pribadi sebenarnya.

Sekian review nilai kehidupan yang sedikit banyak terilhami oleh Mark Mason, selamat membaca nilai keseluruhan 8/10.







6 Bulan di 2019



Helllooo, longg-long time no see blog. Akhirnya saya ingin kembali bercerita, jadi mari melanjutkan serpihan bahasan amburadul kehidupan yang memang tidak ada jalan mulusnya, tapi saya yakin pelaut yang hebat tidak terlahir dari ombak yang tenang.

Tentang bulan juni. Well, sebenarnya ada banya sekali ide yang ingin saya bahas di blog ini, tapi selalu sampe di draft dan saya ragu untuk mempublish, saya menamai diri saya sebagai seorang content creator freelancer sekarang karena itu memang pekerjaan serabutan saya tapi untuk berkicau di blog rasa-rasanya masih ada banyak barier yang akhirnya membenamkan ide-ide saya untuk tidak saya munculkan. Bukan kenapa-kenapa sih mungkin ini salah satunya karena, selama ini saya punya pandangan yang cukup ideal sebagai seorang content writer, dan tulisan-tulisan saya selama ini diblog hanya sebagai pembebasan sampah-sampah pikiran yang miliki dan jauh dari "keidealisme-an" saya dalam menulis. hmmmmm, sayangnya kalo ada batasan seperti ini terus dan saya membiarkan beranak-pinak mungkin saya tidak akan pernah mencoba untuk menulis lagi, jadi mari memulai menulis sampah kembali untuk menyehatkan pikiran, jiwa dan hati, tanpa menghiraukan apa esensi dari tulisan itu sesungguhnya. Jadi jika anda tidak sengaja ke blog ini, semoga anda tidak menyesal melanjutkan membaca tulisan ini.

Tentang Bulan Juni, entah kenapa saya tidak pernah mengerti dengan arah pikiran saya akhir-akhir ini, entah tentang bagaimana menjadi seseorang yang super duper random, dan banyak keputusan-keputusan yang jauh dari prioritas saya atau prioritas cadangan yang berakhir saya jadikan prioritas utama hemmmmmm.

Bulan ini saya pikir akan memberikan banyak oase untuk kehidupan di tahun 2019, tapi siapa sangka, ternyata saya lebih banyak menelan pil pahit karena ketidak hati-hatian saya dalam mencoba. Dimulai dari banyaknya drama skripsi saya, yaaa mungkin suatu saat nanti saya akan ceritakan, lalu berujung dengan banyaknya list competisi kegagalan saya, dan taraaa berakhir saya gagal dengan prioritas cadangan yang akhirnya saya jadikan prioritas utama.

Bulan yang cukup melelahkan ternyata :'))

  • Di mulai dari ramadhan dan lebaran di 2019 yang jatuh di bulan juni 2019, bagi saya ada banyak turning point yang membuat saya lebih terpacu untuk segera menyelesaikan skripsi saya, banyak sekali ide baru tentang usaha yang ingin saya rintis dan akan saya buat sembari skripsi di Malang atau setelah lulus, tapi jalan tidak semulus itu, ada banyak gejolak dalam kehidupan saya yang saya pikir salah satu bagian dari mencari jati diri. Di lebaran ini, saya belajar banyak tentang hal-hal diluar batas kemampuan saya sebelumnya, tentang bagaiamana lebaran banyak mengajarkan saya arti sebuah rasa sykur yang amat, karena saya dapat berkumpul lengkap dengan keluarga saya, masih bisa melihat tumbuh kembang keponakan atau sepupu yang tambah mengemaskan, atau malah menjadi pribadi yang lebih sadar tentang make up,  di lebaran ini juga saya belajar buat pakek eyeliner yang proper, ngeblush pipi, dan memberikan aksen glowing, tapi yang natural, please jangan ketawa saya masih menerka-nerka bagaimana ceritanya saya sampe di titik saya belajar make up -____- is not meehh anyway, tapi belajar make up ternyata seru jugaa, hahah, selain dapat pujian karena banyak yang pangkling tapi juga ngeliat muka yang lebih proper, wkwkwk. Hal lainnya adalah saya mulai belajar mencintai keluarga dan kehidupan saya sepenuhnya, lebaran ini banyak sekali menampar saya sepertinya, ada banyak hal yang berubah di sekitar saya, dan berakhir saya banyak merenung banyak moment yang sebenarnya saya lewatkan selama ini :'))) karena jarak dan waktu yang banyak tidak bersahabat. Meskipun di Lebaran ini juga banyak banget kode kapan saya pengen nikah? huhu emang nikah segampang itu tanteee? saya aja masih yang mbuh-mbuhan gini, disuruh nikah, wkwkkw. Tapi akhirnya sedikit saya tanggepin juga dengan senyuman dan banyak minta doa aja, padahal rencana awal kalo ditanyain kapan nikah, udah ada jawaban yang saya siapkan ehh tapi gak berani juga dijawab yang udah dipersiapkan, apalagi saat ibu yang kode behhhh, rasa-rasanya fix ini mah udah disuruh cepet-cepet mikirin tapi ibu gak berani langsung bilang, cuman bilang "Kalo pas doa ditambahin, semoga segera dipertemukan dengan jodohnya" ulalaa, saya iyain aja, padahal jauh dilubuk hati saya yang paling dalam kalo saya berdoa cuman minta semoga Intan punya banyak kesiapan buat nikah, karena sampe sekarang ngerasa belum siap sama sekali jadi belum pengen nikah gitu, jadi kalo doa kayak gitu takut jodohnya datang beneran dan saya merasa belum siap,  T.T 
  • Skripsi memiliki titik terang, yang tau jatuh bangunnya saya tentang skripsi pasti tau banget kalo banyak titik yang membuat saya super down dan bener-bener yang kehilangan jati diri, yang blur dan pengen realistis aja, tapi Allah tidak membiarkan saya untuk realistis meskipun dospem saya kayaknya udah enek banget ngeliat saya, kayaknya tuh, karena kalo konsul seringnya ganti perusahaan setelah banyak drama karena kebijakan-kebijakan yang membuat saya pengen ganti semua-muanyaa, tapi Alhamdullilahnya bulan ini sudah di acc, tinggal sidang, doakan penelitian saya lancar sajaa yaa, siapapun yang membaca tjurhatan saya ini
  • Bulan ini mengajarkan saya buat "deal with the failed moment", selama ini emang bercita-cita sih sebelum saya lulus harus dapet kerja lagi, jadi semua kesempatan yang ada didepan saya, saya hajar aja gituu, gak nanggung-nanggung sampai banyak hal yang membuat saya meninggalkan skripsi saya, dan memang ada pangilan tes kerja, dan bodohnya ada banya momen yang saya failed karena emang kurangnya persiapan sya dan bagaimana cara membagi prioritas saya terhadap arah masa depan dan keadaan sekarang. Moment di bulan juni ini adalah saat saya failed karena saya gak keterima di tahap 3 di salah satu perusahaan impiann saya, saya down sih seminggu terakhir karena bagaimanapun saya pengen banget kerja diperusahaan itu, ehh saya gak lolos karena kesalahan fatal saya, hemmm, ya mungkin ini salah satu namanya belum rejeki. Hal kegagalan kedua di bulan ini adalah saya gagal buat keterima beasiswa pelatihan Big Data Analisis dari Kemenkoinfo :((( sedih bangett juga dan ini terjadi pas seminggu saya gagal di paragon, rasa-rasanya udah sakit masih ketimpa tangga. Karena saya bener-bener pengen banget sih keterima, yaaa meskipun saya gak tau sih ngatur jadwal buat belajarnya gimana karena masih ada tanggung jawab skripsi jadi akhirnya saya optimis aja, Allah udah tau yang terbaik bagi hambanya, tugas kita hanya berusaha, berdoa dan tawakal. 
  • Gimana kalo saya patah hati? well, ini norakk dan kok bisa sih? karena saya belum pernah jatuh cinta rasa-rasanya di 2019 ini, tapi ada saat saya bisa naksir orang, hmmmmmm! damn-nya adalah orang itu nggak mungkin naksir saya balik!!!! ketika saya bercerita ini dengan sahabat saya, sahabat saya malah bilang "kamu terlalu gak percaya diri" tapi emang benerr sih, saya cukup cupu dan orang paling pesimis dengan hal-hal berkaitan dengan relationship. Dan berakhir saya membuat asumsi-asumsi yang membuat perasan saya patah sendiri. Asumsi saya adalah orang yang saya taksir kayaknya udah deket sama salah satu role model saya dari dulu, seperti pengen bilang "Yahh elu mah siapa tan!!!" sedihh dan sakit sih tapi belum berdarah-darah kok, satu hal yang saya tekankan dalam diri saya adalah saya pengen berkolaborasi dengan beliau suatu saat nanti, emmm bikin sebuah project pemberdayaan gitu kalo bisa, jadi kalo beliau bisa sama role model saya kan saya bahagia karena bakal banyak dampak positif yang bisa diberikan, InsyaAllah, dan insyaAllah juga saya mengesampingkan perasaan saya, santaee, saya udah sering ngalamin ini jadi kalo untuk ngembaliin diri saya sepenuhnya bakal dengan mudah kok Insya Allah. 

Popular Posts