Selasa, 14 Oktober 2025

Lets Talk About Money Part I

       Dulu salah satu targetku sebelum 30th adalah punya rumah sendiri. Apakah ini berlaku untuk saat ini? entah kenapa impian dan target sebelum 30th punya rumah sendiri dan kendaraan itu sirna ditempa realita.  Malah aku mulai realistis untuk tidak pensiun di kota sekarang aku tinggalli dan terlalu dini untuk memutuskan membeli rumah sekarang apalagi jika pakek KPR dan di kota domisili. Aku mulai mempertimbangkan banyak aspek selain dimana domisili untuk pensiun juga tentang prioritas tabunganku akhir-akhir ini. Selama lebih dari 5th aku bekerja mungkin pencapaianku tidak sementereng teman seangkatan yang sudah berani ambil KPR, punya rumah, mencicil beli kendaraan roda 4, atau punya tabungan sekian ratus juta. Semakin aku dewasa, semakin aku melihat orientasiku memang bukan hanya barang-barang tangible yang terlihat, orientasi menumpuk uang dan membelikan barang juga bukan prioritasku. Mungkin semua ini karena salah satu psikologisku di masa lalu terhadap uang. Dulu aku dibesarkan dengan pola “uang disimpan, bukan dinikmati”. Sekarang aku mulai membalik pola itu ingin menikmati apa yang dulu tidak boleh. Orientasi dari pengalaman yang kurang menyenangkan dengan keuangan itu akhirnya membentuk pradigmaku tentang uang sampe saat ini, trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya. Aku mulai banyak membeli barang yang harusnya bisa di beli saat aku kecil, aku mulai menabung untuk banyak perjalanan yang dari dulu aku impikan, aku mulai membeli makanan yang dulu aku ingin rasakan. Financial attacment ini akhirnya membentuk diriku yang sekarang bahkan ketika aku memiliki uang berlebih rasa-rasanya aku hanya ingin menabung tanpa membelikan barang-barang tangible seperti ayahku dulu beli atau membeli sesuai keinginan dia yang selalu ditargetkan ke aku saat aku mulai bekerja, karena merasa untuk apa aku membeli lukaku di masa lalu? yang aku sadari trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya.  

Mungkin di usiaku sekarang ini harusnya keilmuan dan kepemilikan aset sudah ditahap lebih dari cukup dan bisa sesuai dengan target ayahku dari dulu. Nyatanya tidak, aku bukan anak pertama penurut dan sesuai keinginan mereka, aku mulai melepaskan keterikatanku dengan uang, aku tidak perlu harus memenuhi standart dan target sosial. 

Meskipun ini salah tentu saja, aku tumbuh dengan luka-luka yang memang harus aku sembuhkan tapi nyatanya menyembuhkan memang butuh waktu, jadi saat ini aku melalui luka-luka itu dengan melatih keseimbanganku melihat dan menggunakan uang.  Beranjak dewasa  dengan pencapaian yang seadaanya ini akhirnya  aku mulai  berusaha untuk menikmati uangku dengan sadar, tapi tetap aku memiliki prinsip arah tujuan jangka panjang. 

Uang mungkin dibutuhkan untuk semuanya tapi aku tidak harus memiliki uang ratusan juta untuk berbahagia, aku tidak perlu memiliki standar sukses dengan memiliki rumah di usia  30th, tidak harus membeli properti atau barang-barang tangible agar dilihat bahwa aku sukses seperti standar umumnya. Aku mulai nyaman dengan menabung untuk banyak kesempatan tak terbatas, stabilitas batin, kebebasan memilih, pengalaman yang aku ingin rasakan dan kemampuan menikmati hidup tanpa rasa bersalah. Jadi bagiku memiliki tabungan ataupun aset apapun di usia berapapun bukan keterlambatan, tapi juga proses menemukan makna baru dari kata “cukup” dan tau standar kebahagiaan diri sendiri.  

Rabu, 24 September 2025

Sebuah cerita di September 2025 Bagian 1

       Kalo ditanya kamu milih September 2024 atau 2025 tentu aku tanpa pikir panjang akan memilih September 2024 tanpa tapi! Tapi entah gimana ceritanya ada banyak plot twist di 2025 ini yang bikin aku hah heh huh hoh. Plot twist pertama tentang dia. Mari kita cerita ringan-ringan dulu sebelum yang berat-berat 

Dia orang lama, teman belajar, teman ambis keluar dari jurusan selama satu tahun, dia berhasil dan aku masih di jurusanku gagal kedokteran untuk kesekian kali. Akhirnya dia pindah kuliah di PTN lain. Sebut aja X


Ada satu momen akward yang aku ingat. Dulu, dia pernah datang ke kosku tanpa pemberitahuan. Aku kira itu temen cewekku yang janjian nganter buku, temen cewekku nunggu di motor dia yg disuruh ke kamarku, dia berdiri tanpa manggil cuman ngetuk di depan pintu. Saat itu dengan santainya aku menuju pintu tanpa pakai jilbab, dan dia jadi satu-satunya teman cowok yang pernah lihat aku dalam keadaan begitu. Lol, momen awkward tapi memorable krn bingung dan salting sekali waktu


Aku tak banyak pengalaman dengannya yg aku ingat, hanya kenangan belajar dan belajar itu, percakapan sederhana yg aku ingat dulu sepertinya hanya

"Tan matamu mirip mataku ya ada hitam-hitamnya, di bagian lensa mata yg putih" ohiya disitu aku baru menyadari kita punya kesamaan yg unik yg orang lain tidak punya


Satu tahun setelah pisah, kita pernah ketemu di jalan menuju tempat yg sering kita habiskan waktu dulu buat belajar, disana dia dateng entah untuk apa saat aku tanya dia hanya jawab “mau maen” setelah itu kita menjalani hidup masing-masing, dia orang yg masih selalu melihat story2ku dan akupun hanya tau update kehidupannya lewat story2nya


Tau apa plot twist dari semua itu, kita ketemu lagi Sebagai auditor internal vs auditor eksternal, 10th setelah semua itu dan semesta tiba2 nemuin dengan cara yg tidak terduga. Jadi dia kerja di perusahaan A sebagai auditor internal, aku kerja sebagai auditor eksternal buat sertifikasi izin edar/keamanan pangan untuk perusahaan dia. di tahun 2021 aku sebagai PIC narahubung buat perusahaan dia (X) tapi saat itu langsung koordinasi dengan Lead auditornya sebut aja mba A. Sejak 2021-2022 aku bekerjasamanya dengan mba A langsung, di 2023 mba A resign pindah ke perusahaan B, akhirnya X yg jadi lead pengganti mba A, sayangnya udah bukan aku PIC di perusahaan dia dari 2023-2025


Di tahun 2025, Mba A menghubungiku lagi untuk pendaftaran sertifikasi perusahaan B, tempat dia bekerja sekarang. Kali ini, kami akhirnya bertemu langsung karena sudah nggak ada batasan pandemi. Di sinilah cerita lain ternyata Mba A masih jadi teman dekat X! disini Dia tahu kalau aku dan X juga temenan dulu. Dari situ, Mba A mulai berperan sebagai makcomblang, berusaha nyatuin kami dengan cara yang rapi banget. 


Hasilnya? Belum Berhasil, 🤣

Sayangnya, usaha Mba A belum membuahkan hasil. Ada “krikil-krikil” kecil yang masih mengganjal di antara kami, mungkin perbedaan pandangan atau timing yang belum pas. Tapi, yang bikin aku takjub adalah betapa sempitnya dunia ini. Siapa sangka temen lama dari masa kuliah bisa ketemu lagi lewat hubungan audite-auditor, dan malah dicomblangin sama klien yang juga temen dekat kami masing2


Revisi Core Belief System

Sejak 2022, aku selalu yakin kalau jodohku bakal orang baru, bukan dari lingkaran temen lama. Aku bahkan udah lupa sama kenangan dengan temen-temen kuliah, termasuk X. Tapi, plot twist ini bikin aku mikir ulang. Mungkin aku perlu revisi core belief system-ku soal jodoh. Hidup ternyata punya cara lucu buat ngingetin bahwa masa lalu bisa nyambung lagi ke masa kini dengan cara yang nggak pernah kita duga.

Popular Posts