Pernah dengar tentang “red string theory” ? keyakinan bahwa orang lama yang dipertemukan kembali adalah bagian dari takdir masa depan. Tahun ini usiaku 30th, aku banyak belajar tentang bagian ini akhir-akhir ini, seperti kebanyakan orang di usia ini yang masih single mungkin ada banyak pertanyaan serupa "Kapan aku menemukan dan ditemukan dengan pasangan yang tepat itu?" itu pertanyaanku berulang hingga akhirnya akhir 2025 kemaren aku bertemu dia. Aku tidak akan membohongi diriku sendiri. Perasaan itu memang muncul. Aku tidak sepenuhnya profesional seperti yang terlihat dari luar. Aku pernah jatuh karena ekspektasiku. Di usiaku yang sudah mau menginjak kepala orang ini, aku berpikir dia orang lama yang akan menjadi takdirku, dia orang lama yang suatu saat akan ada di masa depan dan masa tuaku sebagai teman di kehidupanku bukan hanya hubungan profesional tapi hubungan romantis. Tapi gayung tidak bersambut, interaksi kita memang hanya di ranah profesional bukan personal. Sebagai kawan lama yang ditakdirkan bertemu kembali karena sesuatu hal tidak ada tambahan drama romantis seperti di cerita-cerita novel atau malah film telenovela yang akan berakhir seperti di imajinasiku. Sedih? Pasti! Tapi ternyata aku banyak belajar dari luka masa lalu itu. Jadi Mari di bahas apa yang aku pelajari dari kisah cinta 20s yang gagal muluk ini.
Kenapa aku punya hook yang dalam dengannya?! Aku akhirnya memahami kenapa “hook” emosiku dengannya terasa begitu dalam, padahal interaksi kami sebenarnya tidak pernah intens. Ternyata, yang terikat bukan hanya pada dirinya sebagai pribadi tetapi pada masa hidup yang ia wakili. Kami pertama kali bertemu di tahun 2013–2014, masa ketika aku sedang berada di titik paling rapuh sekaligus paling berjuang dalam hidupku. Tahun-tahun itu identik dengan hal yang sangat bermakna 2013-2014 : Di sanalah aku belajar bertahan, di sanalah aku menemukan makna hidup, dan di sanalah aku mengenal versi diriku yang kuat meskipun sedang rapuh. Aku juga punya kedalaman emosi terutama dengan perpustakaan dan jogja, bagiku salah satu tempat favorite di muka bumi ini adalah Jogja dan perpustakaan. Itu kenapa saat bertemu dengannya aku melihat banyak masa laluku dan keterikatan emosionalku dengan masa laluku. Hal lainnya dia Orang Jogja, hal magis yg sering aku semogakan. Itulah sebabnya Jogja dan perpustakaan selalu terasa seperti rumah dan keterikatan emosional bagiku, bukan sekadar tempat, tetapi simbol dari perjalanan menjadi diriku hari ini. Dan tanpa kusadari, dia menjadi salah satu sosok yang hadir di fase itu. Bukan sebagai cinta, melainkan sebagai teman yang ikut menjadi bagian dari latar perjuanganku. Ketika kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun setelahnya, yang sebenarnya muncul bukan hanya perasaan terhadapnya, tetapi juga gelombang kenangan terhadap masa laluku sendiri. Aku seperti diingatkan kembali pada diriku yang dulu: yang rapuh, yang berjuang, yang belajar berdiri sendiri. Dari situ aku mengerti satu hal penting: Aku tidak sedang terikat pada dirinya di masa sekarang, aku sedang terikat pada masa lalu dan ekspektasi ku. Itu kenapa ekspektasiku tinggi sekali rasa-rasanya. Padahal, meskipun masa itu membentukku, hidupku tidak seharusnya terus berputar di sana. Aku tidak perlu melupakan masa lalu, tetapi aku perlu melepaskan kemelekatan dan ekspektasi terhadapnya. Ekspektasi semesta seperti mendukung dengan kisah ini, seperti red string teori, padahal tidak seindah itu. Selain itu, aku masih terjebak ekspektasi pada sosok dia di masa lalu, bahwa dia orang yang aku kenal dulu, bukan dia yang sekarang padahal dia pribadi yang berbeda. Masa lalu adalah pelajaran, bukan tempat tinggal. Ia boleh menjadi bagian dari cerita, tetapi bukan penentu arah masa depan. Dan kini aku belajar untuk memandang semuanya dengan lebih jernih : Aku menyadari bahwa aku perlu melepaskan kemelekatanku pada masa lalu. Bukan karena masa itu tidak berarti, justru sebaliknya ia pernah membentukku, menguatkanku, dan mengajarkanku banyak hal tentang diriku sendiri. Namun, dibentuk oleh masa lalu tidak berarti aku harus terus tinggal di sana. Hidupku tidak lagi terjadi di waktu itu. Hidupku ada di hari ini, di diriku yang sekarang, yang sudah bertumbuh dan berubah. Begitu pula dengannya. Ia bukan lagi sosok yang sama seperti yang pernah aku kenal dulu. Ia hanyalah seseorang di masa kini yang kebetulan memiliki jejak di masa laluku. Karena itu, aku ingin belajar melihat masa lalu dengan cara yang baru bukan sebagai tempat untuk kembali, melainkan sebagai ruang belajar yang telah selesai perannya. Aku memilih menerimanya dengan utuh, menyimpan pelajarannya. kadang seseorang hadir kembali bukan untuk menjadi bagian masa depan tetapi untuk menunjukkan seberapa jauh kita sudah melangkah dan bertumbuh.
Aku belajar dia datang : untukku menemukan diriku sendiri
Aku selalu punya high standar memasukan seseorang di dalam hatiku, sebagai manusia yang cukup rasional, idealis-keras kepala dan logic bahkan sering pakek tools analisis Matriks, SWOT, Cost Benefit analisys dalam hidupnya sehari-hari. Jatuh cinta adalah hal yang tidak aku sukai karena aku perlu invest waktu, pikiran dan perasaan berhargaku yg bisa jadi investasi bodong. Jadi aku selalu punya tools untuk memasukan seseorang baru di hatiku, dan ternyata tools itu tidak berlaku dengannya karena yaa nyatanya aku seperti menemukan diriku yang lain saat jatuh hati dengannya. Menemukan diriku yang tidak perlu insecure buat jatuh cinta, tidak perlu harus menggunakan analisis segambreng buat merasakan cinta lagi, tidak perlu susah payah buat berusaha jadi orang lain. Gongnya aku mulai bersemangat buat ngejar ketertinggalanku dengannya, dia seorang auditor halal. Salah satu impianku dulu, kenapa auditor halal, karena aku ingin menjadi salah satu bagian yg lebih bermanfaat untuk agamaku melalui pekerjaanku, dan salah satu caranya menurutku dengan jadi auditor halal pun sesuai dengan IKIGAIku. Dewasa setelah aku lulus-bekerja hingga aku melupakan keinginanku, dan saat aku bertemu dengannya ada keinginan itu kembali, jadi mungkin bertemu dia bukan untuk menjadi partner di kehidupanku personal tapi memang Allah kirimkan dia untuk mengingatkanku belajar jadi auditor halal. Jadi mari Kita coba peran itu kembali! Jadi aku juga belajar banyak kehadirannya mungkin bukan untuk menetap tapi hanya sebagai bahan pelajaran dalam hidupku! And thats okeey
Aku jadi mengenal standar hatiku sendiri
Sebagai orang punya pola “earning love” (harus layak dulu baru dicintai), Ini biasanya terbentuk dari pengalaman hidup lama, misalnya karena aku harus berprestasi dulu baru dipuji, harus kuat dulu baru dihargai, terbiasa berjuang sendirian, sering berada diposisi membuktikan, hingga aku melihat pola aku merasa tertantang buat mencintai duluan dibanding dicintai dulu. Padahal, sebagai seorang cowok mereka memiliki biologis dan psikologis sebagai pengejar/pemburu "If he would, he will" ini standar kan ya?. Tapi ketika aku dikejar-kejar cowok aku merasa ilfil entah kenapa ini dari dulu jaman aku sekolah sampe kerja, aku tidak suka di deketin cowok yang aku tidak naksir duluan. Dari poin ini aku belajar untuk melihat hatiku yang utuh itu : masa laluku yg perlu earning love itu harusnya tidak aku bawa hingga aku dewasa, cinta yang seutuhnya adalah cinta dual side bukan one side. Jika aku sendiri yang memperjuangkan sedangkan dia tidak maka itu namanya bukan perjuangan tapi pengorbanan, dan cinta bukan tentang menjadi korban. Aku mulai mengamati pola ini dan standarku dicintai bukan hanya memiliki tapi tentang diperjuangkan, diusahakan, dihormati dan dipilih dengan sadar. Jadi percuma kalo dia 10000 nilainya di mataku kalo dia tidak punya standar itu yang akan 0 karena semua value hidupnya akan di kali dengan standarku juga kan. Termasuk tentang standar keterikatan/kemelekatan emosional dengan dirinya. Karena cinta yang sehat seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan. Ia tidak membuat kita terus menerka, membaca tanda, atau terjebak dalam overthinking tanpa ujung. Jika sampai hari ini yang tersisa adalah pertanyaan, analisis, dan kegelisahan, mungkin itu bukan standar dicintai dan dipilih olehnya. Melainkan hanya keterikatan emosional, ekspektasiku yang belum selesai dan cinta one side (alias cinta bertepuk sebelah tangan)
Aku belajar bahwa nilai diriku tidak bergantung pada siapa yang memilihku
Aku pernah dengar analogi sederhana tapi sangat menenangkan: Kalau aku adalah es krim stroberi terenak, lalu ada seseorang yang justru memilih es krim cokelat, itu bukan berarti aku tidak enak, tidak berharga, atau kalah. Itu hanya berarti selera, kebutuhan, dan preferensinya memang berbeda. Begitu juga dalam hidup. Ketika seseorang tidak memilih kita, sering kali refleks pertama adalah menyalahkan diri, merasa kurang, merasa gagal, dan merasa tidak cukup. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap orang membawa: latar belakang, kebutuhan emosional, kesiapan, timing, dan arah hidup yang berbeda. Pilihan mereka lebih banyak berbicara tentang kondisi dan kebutuhan mereka, bukan tentang nilai diri kita. Aku sedang belajar menerima bahwa: tidak dipilih bukan berarti tidak layak, tidak diperjuangkan bukan berarti tidak berharga, dan tidak berjodoh bukan berarti gagal. Sakit? tentu saja. Tapi aku juga belajar bahwa rasa sakit tidak harus menjadi tempat tinggal yang permanen. Ia cukup menjadi tempat singgah untuk memahami, lalu dilepas perlahan. Suatu hari nanti, aku akan dipilih oleh seseorang yang memang membutuhkan “stroberi” seseorang yang melihat nilaiku sebagai sesuatu yang tepat, bukan sekadar alternatif. Dan ketika itu terjadi, aku akan tahu: bukan karena aku berubah menjadi lebih berharga atau berubah menjadi es krim coklat, melainkan karena sejak awal, aku memang sudah berharga dan es krim stroberi terenak itu.
Sekian yapping tentang pelajaran kehidupan mba-mba menuju 30s yang masih gagal dalam kisah cintanya! Tapi meskipun saya gagal dengan kisah cinta saya saat ini dengan anda, saya menemukan diri saya yang lain, Terima kasih pernah singgah! I’m glad we could reconnect again after all these years. Semoga anda selalu diberikan kelancaran dalam karier dan kehidupan anda ya! Dan sekarang saya tetap memilih dengan standar yang saya miliki, dengan value diri saya dan akan lebih mencintai diri saya lebih ugal-ugalan!
0 comments:
Posting Komentar