Rabu, 01 April 2026

What Letting Go Actually Feels Like

       Setelah Ramadhan berlalu, harusnya blog ini berisi cerita tentang makna dan hikmah Ramadhan. Eh malah yapping nggak penting lagi kayak gini. Tapi karena lagi bener-bener buntu dan rasanya berat, yapping di sini jadi salah satu cara favorit buat meringankan perasaan.

Mungkin ini efek datang bulan dan berbagai drama kehidupan akhir-akhir ini. Kayaknya memang lagi butuh ruang buat “ngomong” selain journaling. Bahkan lari dan meditasi pun akhir-akhir ini belum cukup membantu. Back to the topic.

Setelah cerita panjang tentang “What Love Taught Me in My Late 20s”, aku sempat berpikir bahwa tanggal 14–16 Februari 2026 adalah momen untuk benar-benar melepaskan semuanya. Menutup semua kenangan buruk soal percintaan di usia yang sudah mau masuk kepala tiga.

Tapi ternyata… tidak, saudara-saudara 😅
Bahkan teman-teman dekatku pun sepertinya sudah capek dengan drama yang berulang ini.


Semua ini bermula dari penugasan mendadak di akhir Ramadhan untuk Monev.

Awalnya kami sudah mendapat perusahaan sesuai risiko usaha, tapi setelah koordinasi ternyata tidak bisa dilakukan karena tidak ada proses produksi. Padahal saat itu aku sudah di Jogja, niatnya WFA cantik di perpus 🥲. Beberapa perusahaan lain juga tidak bisa dilakukan Monev karena masih suasana halal bihalal. Sampai akhirnya…  aku dapat penugasan ke perusahaan lain, dan itu perusahaan tempatnya bekerja.

Jediaarr.

Aku sempat ingin menolak, dengan alasan menghindari conflict of interest karena kami pernah saling kenal. Tapi setelah dipikir lagi, aku juga sering berinteraksi dengan banyak pelaku usaha lain. Jadi alasan itu terasa kurang kuat. Apalagi beliau juga tidak menangani langsung di store tersebut jadi pikirku, tidak akan berpengaruh dalam proses monev ini.

Akhirnya aku tetap lanjut.

Dengan tenang aku mencoba menghubungi PIC store sebut saja perusahaan A. Tapi ternyata PIC-nya sudah pensiun. Dan pada akhirnya… aku harus menghubungi dia lagi.

Di situ rasanya campur aduk.
Bingung, tapi juga… ada sedikit rasa senang. Dan di sinilah aku sadar, logika dan perasaan memang sering tidak sinkron. Kami mulai berkomunikasi lagi. Intens. Apakah ada progress? Tentu saja tidak.

Kalau dipikir-pikir, selama ini aku selalu jadi pihak yang berusaha:
aku yang follow up, aku yang cari topik, aku yang menjaga komunikasi tetap hidup. Dan setelah itu… aku juga yang menyalahkan diri sendiri.

Bukan hanya itu, aku bahkan pernah menangis karena hal kecil. Sebenarnya hal ini sudah berulang dia lakukan, dan selama ini masih berusaha menolerierir. Tapi hari itu, saat hormonku lagi kacau karena PMS, aku jadi blabbering ke dia.

Sederhana: dia tidak memanggil namaku. Aku tahu ini terdengar sepele, tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa menerima kalau ada orang mengirim pesan tanpa sapaan terlebih dahulu. Setidaknya panggil nama, “Tan”, atau sekadar “hi” bukan langsung ke tujuan chat. Menurutku, sesederhana itu adalah bentuk menghargai lawan bicara. Sama seperti ketika kita bicara langsung....

Aku merasa lebih dihargai kalau dipanggil atau disapa dulu. Dihargai sebagai temannya, atau bahkan sebagai koleganya pun, bukankah tetap perlu menyapa sebelum menyampaikan maksud?

Dan ini bukan hal baru. Sejak hari dia datang ke kantor, sejak saat itu dia tidak pernah memanggil namaku lagi. Aku sempat berpikir, mungkin setelah bertemu langsung dia sedang memberikan batasan entah apa alasannya dan itu masih bisa aku tolerir.

Tapi lama-lama aku merasa jengah. Karena kalaupun itu bentuk batasan, seharusnya tetap ada rasa menghargai, kan? Setidaknya sebagai teman, atau kolega, dengan cara komunikasi yang sewajarnya bukan malah terasa seperti menarik diri 🙂


Sampai akhirnya, momen tanggal 17 Maret 2026 itu terasa seperti jawaban.

Saat itikaf tgl 16, aku berdoa:
"Ya Allah, Intan tahu takdir-Mu selalu indah. Besok, 17 Maret, Intan mau dikasih kabar terbaik dari semua ini."

Dan memang… ada “jalan” yang terbuka.

Tapi ternyata bukan jalan untuk bersama.
Melainkan jalan untuk benar-benar melepaskan. Sedih? Iya.

Aku tetap menangis.
Aku tetap butuh waktu untuk menerima semuanya.
Karena jujur… ini masih sulit dicerna, baik oleh hati maupun logika.

Mungkin diperjalanan itu aku mendapati diriku yang sudah mulai kehabisan energi dan capek untuk berusaha juga, akhirnya bener-bener tidak berusaha lebih kembali, rasa-rasanya komunikasi terakhir itu, aku sudah berusaha lebih dewasa untuk benar-benar mau melepaskan semuanya, meskipun tentu saja belum sepenuhnya berhasil. kalo kata temenku masih ada energi chasing tapi setidaknya sudah tidak ada energi cegil seperti biasanya. Jadi mari mengusahakan untuk lebih mencintai diri sendiri itu sebaik mungkin dan melepaskan yang memang tidak pernah memilih dan mengusahakan Intan :).

0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts