Sabtu, 21 Februari 2026

Refleksi 2025 Part I

Aku pernah belajar mencintai dan menggenggam semuanya dengan begitu erat. Lalu perlahan, satu per satu, semua itu menghilang.

Sepertinya, sejatinya 2025 adalah tentang belajar melepaskan banyak kemelekatan: kemelekatan pada benda, pada seseorang, pada hal-hal yang berharga, bahkan pada semua yang pernah aku miliki.

Perihal kesehatan.

Alhamdulillah, tahun ini kesehatanku jauh lebih baik. Jika di akhir 2024 aku beberapa kali harus bolak-balik ke klinik karena sakit, di 2025 aku tidak lagi sampai harus sesering itu berobat.

Aku juga mulai banyak memasak, rajin olahraga, dan entah sejak kapan jadi sering membawa bekal yang lucu-lucu dan enak. Ternyata aku bisa menjadi manusia yang sangat menikmati memasak sebagai bentuk stress release. Dari yang awalnya hanya keinginan, berubah menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bahkan sampai pada tahap terasa seperti kebutuhan. Dari sana, aku menemukan bentuk self-love yang baru: merawat diri lewat masakan yang kubuat sendiri. Selain itu aku juga lebih sering nongkrong di tempat gym, buat olahraga entah hanya ikutan kelas yoga, lari di treadmil, dll. Seperti di tahun 2024 aku masih mencintai lari marathon meskipun tahun 2025 tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya untuk ikutan race tapi tahun 2025, lari juga masih menjadi coping stressku. Selain itu coping stressku yang lain tentu saja dengan membaca buku dan traveling, ada lebih dari 8buku yang bisa aku selesaikan di tahun ini, meskipun kurang dari target setidaknya ini lebih banyak dibanding 2024. Traveling masih menjadi salah satu self healing - melepas burn out untukku. Kapan-kapan kita cerita panjang tentang berbagai pengalaman perjalanan ini yang tidak bisa hanya pada satu artikel

Selain kesehatan fisik, di akhir tahun aku juga mulai mengevaluasi kesehatan mentalku. Jujur, 2025 bukanlah tahunku. Tahun ini benar-benar mengguncang kehidupanku sebagai manusia dewasa dari banyak sisi. Sampai akhirnya aku bertekad mengikuti talent mapping dan psychological check-up.

Tidak semuanya baik-baik saja, tetapi ada banyak hal yang tetap perlu disyukuri. Dihasil talent maping ini aku masih sedikit shock dengan hasil IQ ku yg masih diatas average karena sejauh ini aku selalu pikir IQ ku rata-rata, apalagi setelah 5th kerja dengan rutinitas yang sama🄲 Selain itu ada banyak sisi psycology cek up yang aku merasa related blind spotku dari dulu.

Kabar baiknya, dari proses konsultasi itu aku akhirnya menemukan trigger dan akar masalah yang selama ini hanya bisa kuraba-raba. Dulu aku hanya menduga-duga, tidak pernah benar-benar yakin. Kini, semuanya terasa lebih jelas, bahkan sampai pada bagian tentang bagaimana melepaskannya. Meskipun aku belum bisa melepaskan semuanya

Aku masih perlu meramu semuanya. Ibarat memasak, aku baru saja diberikan resep dan bahan-bahannya belum sempat benar-benar mengolahnya dan menghidangkannya.

Akhir 2025 terasa sangat pelik. Aku merasa seperti jiwa yang kehilangan arah  menggenggam begitu banyak hal, tetapi nyatanya justru harus belajar mengikhlaskan semuanya.

Semua memang butuh proses, dan sekarang aku sedang berjalan di dalam proses itu.

Prihal Pekerjaan

Ini adalah salah satu “gong” terbesar tahun 2025. Bahkan menjadi alasan utama aku pergi ke psikolog.

Aku merasa kehidupanku di pekerjaan sudah tidak kondusif. Aku seperti dituntut untuk selalu terlihat baik-baik saja, padahal di dalamnya aku begitu rapuh.

Perpindahan dari peranku sebagai auditor yang mungkin akan membawaku ke peran baru ke depannya  terasa sangat mengguncang. Aku bahkan belum sanggup menyebutnya dengan lantang, karena aku masih sangat mencintai peranku sebagai auditor.

Rasanya seperti duniaku tiba-tiba menjadi gelap. Padahal semua ini bahkan belum sepenuhnya dijalani, tetapi kebingungan dan ketakutannya sudah terasa begitu besar. Aku juga belum tahu alasan aku diposisi ini, belum tau harus bagaimana, belum tau hikmah semua itu tentang apa. Aku masih di fase denial dan fase menerima semuanya dulu tanpa perlu menolak semuanya. 

Memasuki Januari 2026, aku mulai banyak mengerem diri. Aku pelan-pelan melepaskan beberapa hal, sambil menata kembali apa saja yang benar-benar masih menjadi kepunyaanku.

Aku sedang belajar untuk tidak lagi menggenggam terlalu erat.

Belajar bahwa yang memang ditakdirkan untukku tidak akan pernah benar-benar pergi.

Dan yang pergi, mungkin memang tidak pernah ditakdirkan untuk tinggal.

Kita usahakan menulis banyak refleksi baik di bulan baik ini, meskipun mungkin tidak bisa langsung setiap hari satu refleksi, karena ternyata jadwal pelatihan-audit-pekerjaan minggu-minggu ini terlalu kejar-kejaran dengan deadline dan tugas, tapi meskipun begitu aku tetap mencintai pekerjaanku sebagai auditor🄹


0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts