Day 2 — Satu Hari, Satu Cerita: Refleksi Ramadhan 🌙
Setelah fase patah hati kemarin, aku menyadari satu hal: ternyata yang paling sulit bukanlah kehilangan orang lain, tetapi belajar kembali pulang kepada diri sendiri. Sampai hari ini, aku masih bertanya dan belajar bagaimana cara mengisi kembali “tangki cinta” di dalam diriku, agar setelah semua keraguan, aku tetap bisa memilih diriku sendiri, tanpa syarat.
Beberapa waktu terakhir, aku menemukan jawaban kecil, tapi terasa menenangkan: kembali ke dapur buat masak. Memasak menjadi ruang sunyi yang menenangkan. Di sana tidak ada tuntutan untuk menjadi kuat, tidak ada ekspektasi siapa pun hanya ada aku, bahan-bahan sederhana, dan proses yang pelan.
Di awal Ramadhan ini, dengan sisa energi yang kumiliki, aku kembali ke dapur. Suprisingly! Hari ini aku bisa memasak tahu bakso dalam 30 menit, tumis jamur pakcoy, dan garang asem ayam yang enak meskipun tanpa diicip.
Bagiku, memasak bukan sekadar menyiapkan makanan. Ia seperti ritual merawat diri. Saat memotong, menumis, dan meracik rasa, aku belajar hadir sepenuhnya. Fokus pada apa yang ada di tanganku, bukan pada kekacauan di kepalaku. Memasak bukan hanya soal menyiapkan nutrisi terbaik, tapi juga cara coping stress terhadap gedebag-gedebug dunia akhir-akhir ini. Saat memasak, aku bisa fokus pada bahan yang kuolah, pada apa yang sebenarnya aku butuhkan dan inginkan. Pelan-pelan, dari proses itu, aku bisa menyajikan “the best food on the table” bukan cuma untuk tubuh, tapi juga untuk hatiku.
Pelan-pelan aku mengerti, mencintai diri sendiri tidak selalu berbentuk hal besar. Kadang, ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: memastikan diriku tetap ternutrisi dan tetap diperhatikan oleh diriku sendiri. Ini juga hal kecil tapi membahagiakan dan nanti yang akan selalu aku rawat : berbahagia dengan hal yang kecil dan sederhana
Hari ini aku tidak sedang berusaha menjadi luar biasa.
ttd
Yg selalu ingin belajar mencintai dirinya lebih baik. ✨

0 comments:
Posting Komentar