
Siapa yang tak mengenal kota ini? Kota dengan seribu hal yang akan selalu istimewa tanpa harus disebutnya satu persatu. Kota romantis diestiap sudutnya dengan lampu merkuri kuning lima watt dibeberapa sudut ataupun tempat-tempat tertentu (angkringan). Dulu waktu saya SD, tak pernah sedikitpun membayangkan akan tinggal dikota ini, jika saya bercita-cita saya selalu berharap tinggal di Surabaya, deket dengan tempat Ayah saya bekerja. Saya masih ingat saat itu guru pernah menerangkan tentang universitas di pelajaran PKN dan salah satu pertanyaanya tentang Universitas Gadjah Mada, saya ingat saat itu saya tepat menjawabnya Universitas ini berada di Jogjakarta, ejaanku dulu Yogyakarta bukan Jogjakarta. SMP dan awal SMA saya juga tak pernah tahu tentang Jogja, hanya tau di Jogja ada UGM, Malioboro, dan Parangtritis pun aku belom pernah ke Jogja, iyaa saya belom pernah sekalipun berwisata ataupun study tour di Jogja walaupun Aku hanya dari pinggiran Jawa Tengah. Hingga akhirnya kelas dua SMA seseorang yang saya kenal, diterima di UGM. Saya mulai kasak kusuk mencari tahu tentang UGM dan Jogja saat itu melalui Internet tentunya. Ada ribuan artikel tentang Jogja ataupun UGM. Hingga saat itu tibaa!! saya bersama teman saya SMA berkesempatan study Tour ke Jogjakarta, ah ini untuk pertama kalinya saya di Kota yang istimewa bukan hanya sebutannya. Yeah untuk pertama kalinya saya menjatuhkan air mata saya dan berdoa hanya ingin menjadi salah satu bagian dari Jogja dan kampus impian saya. Lalu ketika bus melaju saat pulang pandangan saya hanya satu mencari UGM karena saya belom pernah melihat kampus itu, kampus impian sayaa. Sayangnya saya tidak bertemu dengan kampus itu. Beberapa minggu berlalu saya ke Jogja kembali, bersama keluarga besar saya dan hanya untuk Ujian Masuk UGM (UM UGM 2013) saat itu saya berkata kepada ibu saya, “Bu, besok Intan wisuda disitu” sambil menunjuk GSP, Grha Sabha Pramana, Setiap ucapan adalah doa, dan saya percaya itu!! Beberapa minggu kemudian saya dinyatakan ketrima di salah satu kampus impian saya dan beberapa tahun setelahnya di wisuda di GSP. Ah itu cerita 4 tahun lalu saat saya berjuang untuk Jogja dan UGM.

Akan ada seribu kisah jika saya menceritakan Jogja, tentang pahit getir kehidupan seorang anak perantauan, tentang setiap rindu rumah karena rata-rata masakan manis di Jogja, tentang kisah klasik melankolis patah hati atau Jatuh cinta, tentang siapa saja yang pernah menjadi orang istimewa di kota istimewa untuk menemani saya. Rindu itu tak akan pernah ada jika kita belom merasakan kehilangan. Saya pikir benar adanya, selama 4 tahun ini saya berada di Jogja menikmati setiap jengkal kehidupan yang tak selamanya manis dan baik-baik saja. Banyak berjuang dan tragis jika saya mengingatnya.
Jika saya mendengar kata Jogja, haluan pertama saya tentang istimewa kotanya dan orang yang pernah setidaknya mengisi hari-hari saya selama 4 tahun terakhir. Sepi itu selalu ada saat saya sadar sekarang mereka tak lagi diJogja, ah jika sebuah rasa huru hara, saat ini mungkin jogja mulai sirna keistimewaanya, karena tahun ini tahun tanpa mereka dihari-hari saya. Satu persatu teman seperjuangan saya meninggalkan Jogja, meraih impian mereka, dan hanya saya yang masih sedikit ingin lebih lama di kota ini. Seringnya saya mendengar dari mereka, mereka merinduhkan Jogja, dan selalu saya jawab bahwa sekarang saya tak sedang merinduhkan jogja, tak sedang kasmaran ataupun jatuh cinta dengan setiap hal di Jogja, karena beberapa bulan terakhir saya pikir, saya lebih sering patah hati dengan siapa yang berada di Jogja. Kisah klasik manusia, tentang cinta bukan?.

Setiap orang yang pernah menginjakan kaki di Jogja pasti tahu, seberapa murah tempat ini, seberapa mengagumkanya Jogja dengan pariwisata yang memukau di setiap sudut yang ia miliki, seberapa banyak makanan yang terlampau nikmat yang sesuai kantong di kota ini, seberapa romantis sudut di Jogja, seberapa ramah setiap senyuman orangnya, seberapa memukau setiap jengkal kehidupan disini, bagi saya Jogja tentang sebuah bukan hanya sebagai kota untuk berjuang dan bertahan hidup. Yaa, saat saya menginjakan kaki saya sebagai mahasiswa, berangkat pagi pulang larut untuk memenuhi standart kualitas yang sesuai dengan harapan kampus dan impian saya, saat saya harus menahan rasa kantuk yang amat hanya untuk mendengarkan evaluasi sebuah acara yang kita kerjakan, saat saya harus menahan rasa lapar ketika tanggal tua, ketika saya sangat bersyukur pernah datang kesebuah kota dengan rasa nasi kucing angkringan yang luar biasa nikmatnya!!, saat saya terlampau bahagia saat saya bisa menikmati seporsi indomie telor rebus pakek cabe di a’ burjo sebrang kos, atau saat saya harus begadang membuat laporan ataupun belajar di café-café 24jam di jogja. Tentang bagaimana, kisah klasik nan indah itu tercipta, tentang bagaimana dari jogja saya bisa jatuh cinta dengan satu orang, Jogja juga mengajarkan saya menjadi seorang melankolis nan realistis mengiyakan anjuran orang tua mencari sesuap nasi di Jogja. Melalui persaingan kerja dan Tentang bagaimana akhirnya saya harus bertahan di Kota yang ingin saya tinggalkan beberapa bulan lalu tapi saya masih harus disini.
Setiap tempat dijogja mungkin pernah saya datangi lalu menghingapi selalu berkesan. Jogja itu rumah bagi siapa saja yang pernah datang ketempat ini, karena pada nyatanya setiap orang yang pernah datang ketempat ini akan ingin segera kembali kesini. Tempo lalu saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta, saya satu tempat duduk dengan seorang warga lokal asli Jakarta, yang ingin sekali tinggal di Jogja. Dia menceritakan keinginan terbesarnya bisa melanjutkan karir disini, saat itu saya hanya tertegun, yaa, karena bukan sekali dua kali saya menemukan orang yang bercerita tentang ingin kembali ke Jogja, karena kesan magis yang selalu ditimbulkan kota ini. Setiap sudut Jogja adalah kenyamanan yang tak pernah di ganti di Kota lain.
Saya mengenal Jogja 4 tahun yang lalu, tinggal dan menikmati setiap kisah kehidupan dikota dengan nilai UMR yang minim sekali dibanding kota lain bagi saya. Pun, Jogja bukan tempat yang paling tepat untuk mengambarkan sebuah kota dengan pesatnya pencari kerja, bukan pula tempat yang menarik sebagai tujuan pencari kerja, tapi Jogja tak menawarkan kemacetan setiap berangkat ataupun pergi kekantor, tak menawarkan polusi disetiap tempatnya, tak menawarkan hedonnya sebuah price tag sebuah barang, tak menawarkan sebuah kedok kemapanan seperti Ibu Kota. Jogja akan selalu sederhana tapi setiap orang yang pernah di kota ini mencintainya dengan luar biasa.

Saya tak pernah menyarankan sebuah kemewahan yang akan anda dapat disini, pada nyatanya seberapa besar nilai sebuah kehidupan disini, akan selalu terganti dengan kenyamanan setiap jengkal yang selalu ditawarkan dari kota bernama Jogja. Namun, Seberapa besarpun saya mencintai kota ini cepat ataupun lambat saya akan pergi dari tempat ini, tepat bulan Juli nanti saya akan melanjutkan pendidikan dan mulai kehidupan baru di kota lainnya. Lalu sebuah kisah itupun terwujud mengukir kenangan di Jogja sudah cukup selama 4 tahun ini, Jogja adalah rumah bagi saya, tentu saya akan kembali kerumah saya entah kapan itu doakan saja, saya punya peran kecil yang bermanfaat disini. Jogja :”.

Seberapapun besar dan cintanya saya, saya harus sadar saya tak mungkin di Jogja yang terlalu nyaman untuk zona nyaman saya ini.
Yang Akan selalu Mencintai Jogja
All gambar Source by Google dengan kata pencarian
1. Jogjakarta
2. UGM
3. Angkringan
4. Malioboro
0 comments:
Posting Komentar