Setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing, termasuk saya sekarang yang sedang berdiri disini, ah jika saya bayangkan betapa pelik kehidupan yang nyatanya tak segampang membalikan telapak tangan ini, meratapi perbandingan zona waktu satu orang dengan orang lain mungkin sebuah ratapan sendu. Tapi sampai saat ini saya percaya akan zona waktu setiap orang berebda-beda, ada yang lulus kuliah usia 21th lulus sarjana, ada yang 21th melanjutkan kuliah, ada yang 23th baru lulus kuliah tetapi langsung kerja, ada yang masih ngangur beberapa tahun kemudian untuk mendapatkan pekerjaan, ada yang usia segitu sudah menikah atau pada 30th seseorang baru menikah, ini tentang sebuah kehidupan bukan? Dan saat quarter life crisis sekarang inipun pemikiran-pemikiran tentang perbandingan usia seseorang dengan kesuksesan seseorang berasa benar-benar menohok (kadang). Kadang sering saya membayangkan saat saya usia 21th masih jauh sekali dengan kesuksesan sepertinya, disaat semua orang yang lain sudah banyak yang berlomba-lomba mengejar kehidupan yang gemilang entah dunia ataupun akhirat, sudah ada yang mendirikan start up, sering mengikuti berbagai conferensi di belahan benua lain, mengikuti berbagai pengabdian untuk masyarakat sekitar, udah hafidz 30 juz alquran sedangkan saya? Jauh sekali diluar hal-hal tersebut, saat saya ingin tidak menunda sholat diawal waktupun, masih aja banyak gagalnya.
Memasuki quarter life crisis rasa-rasanya ambisi-ambisi yang membuncah itu dibarengi juga dengan ambisi untuk tidak kalah dengan keadaan ataupun orang sekitar, terlebih untuk kita yang masih muda tentunya. Sedangkan kehidupan tak selalu memberikan point-point hebat sebuah kesuksesan seperti yang kita harapkan, tidak menyenangkanpun pasti akan lebih banyak disbanding dengan kesenangan yang didapat. Zona waktu setiap orang memang berbeda-beda pada nyatanya, tak mengapa jika kita saat ini masih harus mengayuh sepda dengan ban bocor atau kempes yang akan lebih susah sampai pada tujuan kita, tak mengapa jika kita masih harus ngesot untuk sampai pada titik yang kita inginkan, teruslah berjalan meskipun dengan napas tersengal karena capeknya, teruslah melajukan sepadanya meskipun dengan ban kempes.
Zona waktu setiap orang berbeda, pun dengan roda peputarannya yang berbeda satu sama dengan yang lain, saat kita dibawah suatu saat pasti rodanya akan kembali berputar keatas pun dengan sebaliknya, jadi tak mengapa dan tak usah risau jika saat ini perputarannya masih amat lama untuk sampai ke puncak atau roda diatas. Tapi yang pasti cepat atau lambat kita juga akan (pernah) diposisi puncak ataupun atas yang kita inginkan. Zona waktu juga akan mengajarkan sebuah proses yang tak instan, seinstant bikin mie instant. Tapi dari zona waktu kita akan belajar memaknai proses dan menikmatinya. Zona waktu kita memang tak sama kan pada nyatanya, jika kita masih tertinggal jauh bukan berarti kita yang selalu kalah atau gagal memperjuangkan segala sesuatu. Karena zona waktu setiap orang berbeda, kita tak pernah tahu perjuangan yang bagaimana yang akan membawa seseorang itu melajukan sepadanya secara cepat, tapi kita tahu hal indah sebuah proses yang akan memperindah perjuangan yang kita miliki, Ah proses, seberapa banyak proses indah yang tak terhitung itu kita perjuangkan dengan sangat? Saat kaki yang lelah itu tak pernah meminta untuk berhenti berjalan, untuk setiap rapalan doa yang selalu diucapkan, untuk tangan yang takpernah lelah merendra cerita manis disetiap lembar kertas, untuk daya juang yang saat lelahpun masih ingin dan terus untuk memperjuangkan, tak mengapa jika hasilnya berbeda dengan yang kita harapkan dari doa, mungkin itu cara Tuhan mempercantik jalan cerita kita, kita tak tahu saja sampai mana darah juang terbaik yang akan melajukan sepeda kita untuk lebih cepat sampai pada satu titik
Memasuki quarter life crisis rasa-rasanya ambisi-ambisi yang membuncah itu dibarengi juga dengan ambisi untuk tidak kalah dengan keadaan ataupun orang sekitar, terlebih untuk kita yang masih muda tentunya. Sedangkan kehidupan tak selalu memberikan point-point hebat sebuah kesuksesan seperti yang kita harapkan, tidak menyenangkanpun pasti akan lebih banyak disbanding dengan kesenangan yang didapat. Zona waktu setiap orang memang berbeda-beda pada nyatanya, tak mengapa jika kita saat ini masih harus mengayuh sepda dengan ban bocor atau kempes yang akan lebih susah sampai pada tujuan kita, tak mengapa jika kita masih harus ngesot untuk sampai pada titik yang kita inginkan, teruslah berjalan meskipun dengan napas tersengal karena capeknya, teruslah melajukan sepadanya meskipun dengan ban kempes.
Zona waktu setiap orang berbeda, pun dengan roda peputarannya yang berbeda satu sama dengan yang lain, saat kita dibawah suatu saat pasti rodanya akan kembali berputar keatas pun dengan sebaliknya, jadi tak mengapa dan tak usah risau jika saat ini perputarannya masih amat lama untuk sampai ke puncak atau roda diatas. Tapi yang pasti cepat atau lambat kita juga akan (pernah) diposisi puncak ataupun atas yang kita inginkan. Zona waktu juga akan mengajarkan sebuah proses yang tak instan, seinstant bikin mie instant. Tapi dari zona waktu kita akan belajar memaknai proses dan menikmatinya. Zona waktu kita memang tak sama kan pada nyatanya, jika kita masih tertinggal jauh bukan berarti kita yang selalu kalah atau gagal memperjuangkan segala sesuatu. Karena zona waktu setiap orang berbeda, kita tak pernah tahu perjuangan yang bagaimana yang akan membawa seseorang itu melajukan sepadanya secara cepat, tapi kita tahu hal indah sebuah proses yang akan memperindah perjuangan yang kita miliki, Ah proses, seberapa banyak proses indah yang tak terhitung itu kita perjuangkan dengan sangat? Saat kaki yang lelah itu tak pernah meminta untuk berhenti berjalan, untuk setiap rapalan doa yang selalu diucapkan, untuk tangan yang takpernah lelah merendra cerita manis disetiap lembar kertas, untuk daya juang yang saat lelahpun masih ingin dan terus untuk memperjuangkan, tak mengapa jika hasilnya berbeda dengan yang kita harapkan dari doa, mungkin itu cara Tuhan mempercantik jalan cerita kita, kita tak tahu saja sampai mana darah juang terbaik yang akan melajukan sepeda kita untuk lebih cepat sampai pada satu titik

0 comments:
Posting Komentar