Senin, 21 Maret 2016

Hujan

Kadang aku membenci hujan, meskipun lebih sering menyukainya dibalik jendela kaca yang sering aku lihat. Hujan memang menawan bagi sastrawan sebagai epicnya prosa yang dia buat, atau sekedar pecandu petricore yang menenagkan atau ibu dari selayang prosa nan agung untuk disanjung. Sore ini aku membenci hujan bukan apa-apa saat semua rencana di buku agenda hitamku hanya bias planing semata. Itu yang aku benci dari hujan (Kadang) saat semua yang aku susun harus mengalami jeda yang berjarak. Hujan selalu memberikan jeda jika kita berada diluar ruangan. Harus menunggu reda untuk melanjutkanya, atau berbasah-basah ria untuk tidak sekedar menunggu. Jeda ataupun menunggu, mungkin hujan sore tadi mengajarkan aku arti menunggu dan memberikan jeda untuk mengetahui perasaanku sederas hujan yang telah berlalu. Atau sekedar pemberitahu menunggu tidak selamanya membosankan seperti yang aku tahu. 
 Hujan kali ini menodongku, berselancar di dunia maya dengan kesemuan realita untuk menunggu hujan reda. Hujan memang selalu sama harus pandai memilih untuk melepaskan atau menunggu. Menunggu ketidakpastiaan hujan  dengan cengkrama kehangatan ruang yang diberikan namun celaka oleh rencana, atau keluar melepaskan diri dari hangatnya ruangan, berlari namun harus basah tak berpikir panjang apa yang akan terjadi nanti. Dan aku mememilih menunggu, ku selami bait kata yang sering kau buat untuknya, ah memang sebuah tusukan tapi aku menyukainya. Aku menyukai bait yang kau cipta, seperti berbicara pada diri ini tidak kah kau membuat bait untuk kedua kali?

0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts