Source Gambar : Google
Hello guys, long time no see. Berasa udah lama ngak
mengenal peradaban padahal baru sebulan ninggalin. Selamat datang dan hampir
selamat tinggal September, yang katanya september ceria :D. Well ini postingan
setelah saya mendapatkan wifi dari suatu tempat, dan saya berkeinginan untuk
posting meskipun dengan malas-malasan karena rasanya banyak sekali hal yang
harus saya lakukan *sok sibuk* Ini adalah perjalanan saya di
kampung inggris pare yang jauh dimata, tapi selalu dekat dihati *nyanyi*
*abaikan*. Oke ini juga salah satu hal yang antara saya mempercayai diri saya
dan enggak dengan kondisi yang saya alami disana makanya judulnya *alay
begitu*. Kampung Inggris Pare yang namanya udah booming banget sebagai kampung
yang dikelola memang untuk kursusan bahasa inggris, jadi tidak diragukan jika
akan menemui banyak sekali tempat kursusan di Pare, setahu saya ada lebih 100
kursusan mulai yang emang berkualitas sampai yang biasa-biasa saja ada. Dengan
bekal pengetahuan seadanya dan testimoni dari seorang teman akhirnya setelah
saya yudisium saya memutuskan ke Pare, dorongan utamanya tentu saya ingin fasih
berbahasa inggris dengan menambah score toefl, dan skill speaking. Saya ke pare
dengan teman dekat saya, saya tidak mempersiapkan banyak hal, hanya beberaapa
ngak rempong-rempong banget karena saya pikir adaptasi akan mudah di sana
karena dekat dengan daerah asal saya, jadi nggak perlu barang banyak. Koper
ukuran 14 yang kecil banget itu juga muat untuk memasukan semua pakaian saya
dan 6buku saya haahaha.
Perjalanan ke pare juga tidak susah-susah banget, meskipun
saya harus berjuang dengan sangat, karena untuk pertama kalinya saya
menaiki Bus yang sama sekali diluar expektasi saya, bus tersebut dari arah
Yogyakarta-Surabaya, tapi ini pengalaman menaiki bus yang masya Allah bikin
saya dzikir saking amazing pengalamannya, karena didalam bis saya ketar-ketir
karena ngebut dan tempat duduknya yang lumayan sempit, belum saya di penyet
sama mbak-mbak deket saya, dan apesnya mbaknya mabuk darat *huaaa*. Oke itu
secuil pengalaman menaiki bus sampai di terminal Jombang, dari terminal Jombang
saya menggunakan ojek ke pare yang memang jaraknya lumayan. Jreng-jreng sampai
akhirnya saya di Camp saya Logico Camp karena saya ambil program TOEFL ITP CAMP-ELFAST jadi dapet tempatnya di Logico Camp untuk tempat tinggal. Diawal kedatangan
saya ada sapaan sumringah dari mbak-mbak yang juga sudah berada di sana lebih
dulu dari saya, dan saat itu yang saya inginkan hanya mandi, saya langsung ke
kamar mandi, untuk kamar mandinya saya pikir tidak membutuhkan waktu yang lama
untuk saya beradaptasi karena bersih. Setelah mandi dan beres-beres saya tidur.
Mungkin itu pengalaman yang biasa saja dan iya saya pikir saya akan terbiasa
dan mudah adaptasi dengan kesan awal yang biasa saja seperti tempat saya
sebelum-sebelumnya. Tapi ternyata saya salah mendugaaa. Di Pare saya seperti
memasuki fase keluar dari zona nyaman dengan sangat, adaptasi saya juga
terbilang susah-susah gampang, dan gak sebiasa di awal cerita.
Saya memilih lembaga Elfast yang notabene jauh dari camp
logico, sehingga saya harus menyewa sepeda untuk transportasi hariannya. Emm
cukup menyenangkan dibenak saya. di Camp sendiri saya harus menggunakan bahasa
inggris total 24 jam selama 7 hari, wahh menarik di anggan saya! Saya juga
dituntut belajar dari jam 5pagi sampai jam 9 malam ah menarik bagi saya. Hingga
pada suatu ketika semua hal-hal yang biasa, menyenangkan dan menarik dibenak
saya berubah sebagai mala petaka rasanya. Saya akui untuk hal perjuangan
adaptasi saya sering dengan kondisi-kondisi diatas tapi tidak dengan setengah
hati saya menjalaninya. Pare jauh dengan rumah saya, pare panas sekali
udaranya, Pare bukan tempat yang menyenangkan untuk orang yang manja masalah
makan seperti saya, Pare juga bukan tempat yang menyenangkan untuk orang yang
butuh wifi kenceng untuk melalukan kerjaannnya setiap hari, Pare terlalu jauh
dari pusat kota, Disana juga saya tidak memiliki akses yang bebas untuk
melalukan apa yang saya ingin lakukan seperti belajar dengan kondisi tempat
belajar yang nyaman contohnya. Hingga akhirnya saya yang menikmati petualangan
baru itu kesusahan sendiri, saya terkena diare beberapa hari, belum udaranya
yang lumayan panas, lebih panas dibanding semua kota yang pernah saya
datangi, saya juga merasakan petualangan merasakan kesusahan dengan semua hal
itu. Ahh mungkin seperti saya manja sekali, nggak tahan banting gitu doang udah
ngeluh, mungkin saya pernah merasakan hal yang menyiksa
seperti ini tapi tidak dengan kondisi keterbatasan dengan apa-apa susah, mau nyari
udara yang tidak panas saja susahnya masya Allah *fiuh* tapii dari semua cerita
yang keluhan saya tentang pare itu saya mulai banyak belajar karena saya dodol
sekali jika tidak bisa memetik pelajaran yang sudah membuat saya tahan banting tentu!!
1. Pare bukan pelarian. Selama ini saya kepare dengan tujuan yang cukup sedikit salah, saya
ingin mengisi waktu pencarian kerja saya tapi juga ingin melarikan diri dari
Jogja, salahnya adalah ada variable pelarian disana jika saya pikir-pikir
untuk apa saya belajar jauh-jauh ke pare jika saya di Jogja bisa fasilitas
lebih terjamin? ya karena ada sedikit unsur pelarian, dan itu yang sebaiknya
tidak dilakukan Pare bukan tempat pelarian, Pare adalah penghubung pasti dengan
tujuan (bahasa Inggris), bukan sekedar pelampiasan untuk kepenatan semata. Bukan
hanya sebagai tempat singgah untuk relaksasi masalah. Jadi luruskan niat jika
mau ke Pare, Pare tidak semudah dibayangan saya sebelumnya. Apalagi untuk
melarikan diri dari masalah, bukan pare tempatnya karena akan menambah masalah
hahaha.
2. Mungkin kampung inggris
bukan satu-satunya tempat yang membuat saya nyaman untuk belajar bahasa
inggris, tapi dari sana saya menemukan kecintaan saya di belajar bahasa
inggris.
3. Saya menemukan
orang-orang yang mampu memberikan motivasi-motivasi untuk belajar lebih
dibahasa inggris karena kita satu visi meningkatkan kemampuan bahasa inggris
tanpa pekerjaan dan tugas dari luar selain bahasa inggris
4. Fokus, pare mengajarkan
saya untuk fokus pada satu tujuan apa yang ingin saya capai disana, fokus tanpa
adanya penghalang lain.
5. Keluar dari zona nyaman.
Ini yang sekiranya luar biasa saya terima disana, saya tidak memiliki zona
nyaman saya sama sekali disana selain belajar tentunya tapi tempat belajarnya
juga lumayan bikin ngak nyaman jadi gak ada zona nyaman disana. Tapi Pare
mengajarkan saya untuk memperluas dan keluar zona nyaman itu. Dan untuk keluar zona ini saya masih
harus belajar, tapi jika saya selalu berada di zona yang sekiranya
nyaman-nyaman saja kapan saya berkembang?!!!
6. Petualangan baru. Pare
mengajarkan saya bahwa saya memiliki skill bertahan di petualangan baru, yang saya pikir mudah hanya butuh adaptasi tapi tidak kita harus memiliki passion
bukan hanya di tujuan tapi di tempatnya
7. Sosialisasi. Disana saya
sekamar 4 orang dan saya bisa berbagi semuanya, di benak saya ini yang bakal sedikit
susah karena saya paling males untuk berbagi kamar, kamar adalah tempat penting
untuk mengembalikan energi positif saya, ternyata tidak saya merasa bahagia dan lebih termotivasi, apalagi sesi sharing setiap hari yang sering kita lakukan. Sehingga tidak banyak yang harus saya adaptasikan memang. meskipun ya masih harus banyak
belajar.
8. Nikmati proses. Saya
bertemu dengan banyak orang mulai dari yang bahasa inggrisnya sebelas duabelas
dengan saya yang expert banget atau yang lainnya, tapi dari semua step yang
saya jalanni disana saya hanya ingin menikmati prosesnya sebaik mungkin entah
hasilnya bagaimanapun. Saya disana untuk belajar bukan mendapatkan score
terbaik, meskipun tentunya saya memiliki sikap untu memiliki target tinggi
untuk meraih nilai tinggi itu.
9. Harus Bahagia.
10. Fokus, Fokus, Fokus, Fokus, Fokus
Mungkin
cukup sekian curhatan saya tentang kampung inggris pare, lain kali akan saya
curhatkan lagi jika saya bertemu Wifi.

Desa Pare ini letaknya di jatim ya?
BalasHapusIya mbak di Kediri Jatim
Hapus