Senin, 30 Januari 2017

Pria Di Bawah Hujan


Hujan sore ini dibalik koridor jendela kuamati hujan yang selalu hadir tanpa permisi, menjadikan ketidak pastian selalu ada saat ia datang begitu saja. Kopi pekat yang baru kupesan diantar waiters yang sudah hapal dengan kebiasanku di cafe ini. Lucu saja rasanya melihat gelagapan orang yang sering kecewa dengan ketidakpastian hujan, gelagapan tanpa persiapan ketika basah menjadi hal yang harus dilalui. Seorang pria jakung memasuki pelataran cafe, pria yang sama setiap harinya selalu sama di jam sama, keadaan yang sama dan pesanan kopi yang tak pernah berubah setiap hari, Expresso, Dengan wajah yang selalu sama menatap layar smarth phone dengan kebinggungan ketika hujan melanda. Tanpa berpikir panjang dia duduk di depanku, memberikan salam permisi lewat mata dan tanganya yang meminta perizinan duduk dikursi depan, aku hanya menganguk mengiyakan, senyumnya masih sama tulus dan berpemanis. Dengan hembusan napas berat dia mengeluarkan buku hitam yang sering ia bawa kemana-mana. Aku memang telah mengenalnya jauh-jauh hari sebelum aku tahu kebiasaanya menunggu hujan reda atau sekedar menengelamkan diri bersama kopinya di tempat ini.
Lucu rasanya, mengenal tanpa dikenal sekedar tahu tanpa ingin diketahui. Mencuri pandang dibalik buku tebal yang aku gunakan untuk menutupi mataku yang sering liar memandang kearahnya. Aku selalu melihatnya, keseriusanya mencorat-coret bukunya. Duduk di hadapanya adalah hal pertama dalam sejarah kehidupan paling istimewa yang sering aku tunggu. Meskipun ketakutan itu ada saat detak jantungku diketahuinya secara nyata, mungkin. Rasanya mengetahui semua orang yang menceritakanya dengan nama harum yang selalu ia bawa dibalik wajah tampannya, membuatku sadar hanya sebuah butiran tanpa kepercayaan saat aku mengetahui persaanku. Aku tersenyum menatap jendela.
“Apa yang istimewa dibalik jendela kaca yang selalu sama sepertinya?” ucapnya membuyarkan lamunanku
“Tidak ada, hanya menyukai orang yang menunggu hujan reda, atau sekedar membasahkan diri dengan derasnya ketidakastian hujan”
“Jadi anda menyukai kesusahan orang lain?” ucapnya
‘Tidak juga hujan bukan malapetaka untuk mengidentifikasi hujan adalah kesusahan”
“Untuk pecandu sastra iya? Untuk para penggila kerja? Hujan hanya sebuah permasalahaan semata”
“Jadi hujan salah?”
            “Aku tidak menyalahkan hujan, hanya kurang menyukai hujan dibalik permasalahan yang ia timbulkan”
“Mungkin anda disuruh menunggu atau memberikan jeda”
“Membosankan hidup seperti itu, memberikan jeda tanpa kepastian”
“Mungkin anda tidak pernah memberikan jeda dalam hidup, jadi terkesan kehidupan hanya harus diisi oleh hal yang pasti. Pasti menyisakan tawa atau malah luka”
“Bukankah itu lebih baik dibanding ketidak pastian, yang membuat orang-orang bertanya-tanya atau malah kepura-puraan saja”
“Mungkin?” Ucapku mengakhiri pernyataan klise filosofis yang baru kita buat.
1 tahun berlalu, Aku telah meninggalkan Jogja. Dengan berbagai cara aku membuang ketidakpastian perasaanku sendiri, mungkin benar aku terlalu menikmati sebuah jeda tapi lupa ada kepastian yang harus aku rasa. Mungkin hujan kali ini bukan sebagai jeda dalam hariku, melainkan sebuah cara harus melewatinya bukan sebuah masalah besar untuk ditunggu. Mungkin itu sama dengan perasaanku selama satu tahun ini menunggu tuan yang aku kenal tapi sama sekali tak mengenalku, dibalik jendela kaca yang sering aku tunggu. Namun, jika aku tetap menunggu dia aku lupa hakekatnya rasa itu sendiri. Ada saat menunggu tanpa kepastian adalah sebuah jeda yang menyenangkan dengan harapan palsu yang selalu aku biarkan mengerogoti logika yang tak semestinya. Kembali lagi, itu hanya sebuah ketidak pastian!. Dan ketidak pastian hanya dicintai orang yang tidak ingin terlukai oleh kenyataan, mungkin itu aku. Aku takut terluka. Selama satu tahun ini aku menata perasaanku sendiri menengalamkan rindu yang tiba-tiba muncul dengan fokus kepekerjaanku sekarang, selama itu artinya setiap detik ketika aku melewati waktu. Dia masih selalu terngiang dibalik harapan-harapan ketidak pastian yang selalu aku agung-agungkan tanpa kejelasan. Mungkin sekarang dia telah bersama orang lain, memadu cinta seperti semua orang harapkan. Pun aku juga ingin seperti itu, tentu dengan melupakan orang yang yang tak pernah benar-benar mengenalku, tapi rasanya semakin aku ingin melupakanya, semakin aku sadar rasa itu lebih mengikat diperasaanku.
Hujan mengguyur Jakarta, aku berjalan dengan payung yang selalu aku bawa ditasku, tidak ada lagi kata menunggu yang syarat akan kenangan bersama hujan deras, aku melepaskan diri bersama butiran hujan yang turun dari langit. Seorang pria berjalan mendekatiku menutup payungnya dan berjalan beriringan denganku, senyum tulus berpamanisnya masih sama tak pernah berubah meski satu tahun telah berlalu.
“Jadi, sekarang sudah menjadi seorang yang mencintai kepastian ucapnya”
“Tidak, hanya tidak mungkin membuang kesempatan hanya karena menunggu ketidakpastian”
“Bagaimana dengan Cappucino dicafe sebrang jalan?, sekedar penunggu ketidakpastian hujan yang katanya jeda sebuah rencana?”
“Bukankah itu sama saja membuang waktu dan membuang kesempatan dibuku agendaku?”
“Bukannya ini waktu yang kamu tunggu? Membuang ketidak pastian didalam benakmu?”
          Aku hanya tersenyum berjalan beriringan dengannya  dibawah hujan                        
-TAMAT-









0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts