"Kita di Masa Depan Adalah
orang Yang Memiliki Pekerjaan Membanggakan.Suatu Pekerjaan yang Sempat Menjadi
Cita-Cita banyak Orang. Warna Seragam Kita nanti sudah menunjukkan betapa mulia
dan berharganya aktivitas kita Dan Siraman Warna Putih itu telah Membuat Semua
Orang Dengan Rela Menyandarkan Kepercayaan pada Kita " (Eko Prasetyo dalam "Orang
Miskin Dilarang Sakit", Resist book 2004, dengan sedikit perubahan)
Rekan sejawat yang terhormat,
Jika Anda ingin menjadi dokter
untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.Mungkin fakultas
ekonomi lebih tepat untuk mendidik Anda menjadi businessman bergelimang
rupiahDaripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi
mengejar kekayaan.
Jika Anda ingin menjadi dokter
untuk mendapatkan posisi sosial tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan,
maka silahkan kembali ke Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir'aun di sana. Dari
Anda di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda
hanya agar Anda terkesan paling berharga.
Jika
Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau menarik perhatian
calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency selebritis yang akan
mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan para wanita. Dari Anda
bersembunyi di balik topeng klimis dan jas putih necis, sementara Anda alpa
dari makna dokter yang sesungguhnya.
Dokter
tidak diciptakan untuk itu, kawan.
Memilih
menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW keluaran terbaru,
bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih kebanggaan, bukan sekadar
agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat melihat kita lewat.
Memilih
menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian. Mengabdi pada masyarakat yang
masih akrab dengan busung lapar dan gizi buruk. Mengabdi pada masyarakat yang
masih sering mengunjungi dukun ketika anaknya demam tinggi.
Memilih
menjadi dokter adalah memilih jalan empati, ketika dengan lembut kita merangkul
dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena
malaria.
Memilih
jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan, ketika kita tergerak
mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan pembayaran
cuma-cuma.
Memilih
jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian, saat kita terpaku dalam
sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.
Memilih
menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi, ketika seorang tukang becak
menangis di depan kita karena tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit
anaknya yang terkena demam berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah
disaksikan dunia, kita menepuk bahunya dan berkata, "jangan menangis
lagi, pak, Insya Allah saya bantu pembayarannya."
Memilih
menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang, saat dengan sepenuh cinta
kita mengusap lembut rambut seorang anak dengan leukemia dan berbisik lembut di
telinganya, "dik, mau diceritain dongeng nggak sama oom dokter?"
Memilih
jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan, ketika sebuah perusahaan
farmasi menjanjikan komisi besar untuk target penjualan obat-obatnya, lalu
dengan tetap tersenyum kita mantap berkata, "maaf, saya tidak mungkin
mengkhianati pasien dan hati nurani saya"
Memilih menjadi dokter adalah
memilih jalan pengorbanan, saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan
panik mengetuk pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu
dengan ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya kontes menembus pekat dan
dinginnya malam.
Memilih
menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita
kita. Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi
ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.
Yah,
memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter
sudah tidak lagi perlu ada ...
NB :
Ini bukan provokasi untuk menjadi dokter miskin, bukan juga mengatakan bahwa
dokter tidak perlu penghormatan atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya
sekedar sebuah nasihat untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk
meluruskan kembali niat kita dalam menjadi seorang dokter. Karena setiap amal
tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi terhormat, asal
jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu rendah jika diniatkan hanya
untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin akan sangat susah untuk menggenggam
erat idealisme ini nantinya. Namun saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan
niat yang tepat, idealisme ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus
sendirian dalam memperjuangkannya, meskipun banyak yang mencemooh dan
merendahkan. Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai setiap usaha dan
perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak
akan pernah.
copypasted dari Almira
Aliyannisa 's notes
0 comments:
Posting Komentar