Selasa, 26 April 2016

Bicara Tentang Penantian

    
  
Tempo lalu teman saya bercerita tentang seseorang, someone special for her. She tell about his bravery in our age said seriously about marriage, maybe is some stuff which make me wondering but till no i don’t have some bravery to talk someone about of this because don’t have or other, is one of problem wkkwkw, though i often writing about it its doesn’t mean i’m going to marriage in my age right now or sooner oh no i can’t imagine of this. Though my friend tell to me, he have been brave to propose her with her parent. After this my friend tell story why, how, what can make him to propose her. And its so sweet moment, make me wondering 5w+1h about of this. If we talk about of this, this it not far from mate. One of best make me comfort zone if my friend and other writer in tumblr talking of this. I just wondering of this but i know its so very dini to know, because my age and my priority in the now. Well my priority i have is how? doesn't Who. Who in this is who my mate or a half of my lifee *eeeaa* . I have been wondering because its one of the urgently topic whoever have to know sooner or latter.            
Yesterday i read about “Pernikahan TANPA Cinta” Tidak jauh dari hakekat pernikahan, ideologi, dan berbagai hal latar belakang why she write about of this. And of course its open some thing about dien To me. malah saya suka dengan tulisanya. Menikah tidak melulu tentang cinta, ah its not about story of love in marriage. Tidak melulu tentang perkenalan yang berbelit-belit, pendekatan yang lebih 5thaun. Its just simple talking about pernikahan tanpa pengenalan, tapi pemilihan yang tepat. As long as i just think someday i want meet someone who love me and i love him and build rumah tangga dengan ikatan yang bernama pernikahan. Itu yang dinamakan jodoh dunia ketika kita telah bertemu dengan tambatan hati, but till now when i love someone and he don’t love me back saya harus giman? Enggak mau nikah gitu? Kan tidak juga, seseorang pernah berkata bahwa sejatinya wanita diciptakan untuk dipilih tapi bukan berarti tidak dapat memilih. Dengan hakekat simpel itu saya mulai berfikir ulang bahwa jodoh memang tidak selalu tentang  seseorang yang kita cintaikan?. Jodoh selalu seseorang yang tidak jauh dari kita tentu, tidak jauh amal perbuatanya, tidak jauh dari sifatnya, tidak jauh berbeda dengan akhlaknya. Seperti diAl-quar’an kan Orang baik untuk orang baik, dan yang keji untuk orang yang keji. Which is tinggal milih mau jodoh yang seperti apa tergantung kitanya, jika ingin jodoh kelas yang kita inginkan, kita juga harus memantaskan diri untuk memperbaiki diri sesuai dengan kelas yang diinginkan bukan? Wait, tapi bukan semata-mata berubah jadi orang yang berkelas karena jodoh juga sih, karena berubah adalah cara kita memantaskan diri hanya untuk Allah SWT not for someone else. I ‘m so worried to myself  #selfreminder sejak dini because of that haha J.                                                                                                                    
Jika saya dapat menarik beberapa hal dari tulisan tersebut adalah 1. . Cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu berjalan 2.  Hati dikontrol oleh otak kanan, yang berarti dapat dikontrol dan dikendalikan 3. Witing Tresno Jalaran Soko Kulino  4. Jodoh adalah cermin kita. Berbicara hati yang dapat dikontrol saya setuju, selama ini saya serig mengendalikan perasaan saya dengan berbagai dorongan intern dan ekstern, dan buktinya saya bisaa mengendalikan sampai sejauh ini meskipun i need space and time to adaptation, tapi sejauh ini i don’t worry because responsibily of heart i just worried someone whom i love #alahapasih.well jika hati udah mau di kendalikan dengan kita. Tentang cinta yang akan tumbuh seiringnya waktu, Pak Anis Baswedan di acara Mata Najwa tempo lalu berkata “Jika anda mencintai seseorang jangan biarkan cinta itu penuh diseluruh hati anda, tapi berikan ruang untuk cinta itu tumbuh  dengan seiringnya waktu” Well jika kita berbicara tentang pernikahan tanpa cinta, tentu dengan seseorang yang belom kita cinta, tapi hati kita dapat mengendalikan jadi biarkan saja perasaan itu tumbuh nantinya dengan berjalanya waktu,dengan pepatah jawa “witing tresno jalaran soko kulino”. Jika dengan berbagai dalih tentang perasaan, sampai kapanpun saya berfikir dengan embel-embel cinta dan kemunafikan kita selalu tidak akan puas dengan yang kita dapat. I mean semua orang memiliki expektasi tersendiri dengan future  yang diharapkan, tapi jika kita tidak berfikir lilahitaa’ala dan pasrah dengan niat suci dari pernikahan apa yang dapat diperbuat?. Pernikahan juga tidak melulu soal perasaan kok bagi saya pribadi, toh buktinya banyak yang nikah dijodohin tapi awet sampai sekarang dan bikin iri seperti  orang tua saya misalnya, tapi yang berembel-embel cinta, udah say goodbye tengah jalan karena menikah sebagai cara membangun cinta.                                  
Saya pribadi yang notabene masih 19th pernikahan terlalu jauh jika harus memikirkanya. Namun, ini adalah salah satu topik penting untuk maasa depan sih kalo bagi saya. Jika ngomongin tentang pernikahan yang tanpa cinta, tanpa mengerti betul perasaan kita, hanya keyakinan bahwa yes he is trust my half of my life, *yang keyakinanya entah cari dimana, karena sampai sekarang saya belom tertarik untuk mencari* Yang berlandaskan dengan hukum jadi kalo bukan untuk menyalurkan rasa cinta kita kepada seseorang kenapa kita harus menikah,?  *pemikiran saya yang masih awam*. Karena menikah bukan hanya berlatar penyaluran perasaan, hasrat, ataupun hawa nafsu. Lebih dari sekedar itu semua ketika kita memilih untuk menikah saya berfikir bahwa saya ingin menyempurnakan agama saya seperti sunnah rasul, saya juga tidak yakin suatu saat nanti saya dapat terbebas dari fitnah dengan menjadi perawan tua, saya ngin menikah karena Allah SWT. Selain berdalih agama, saya yakin diusia saya yang mungkin 30th akan adatang adalah usia dimana jati diri telah saya dapat, tapi saya takut tanpa seseorang yang berada disamping saya seumur hidup saya, saya dapat melalui semuanya dengan baik-baik saja. Saya membutuhkan orang yang mengerti saya, mengayomi, penstabil jiwa dan menopang saya nantinya. Lebih kepada bagiamana saya harus menjalani hidup saya dengan mempercayai orang lain seratus persen yang dapat menjadi pengerti,pengayom, penstabil, dan penopang jiwa saya tentu saja.                                     
Siapapun anda tuan, saya akan menanti anda sampai tangan anda berjabat tangan dengan ayah saya, untuk ikrar janji suci.



                                                                        -Yang selalu ingin memperbaiki diri-

0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts