Senin, 24 April 2017

Mengapa (belom) ingin Menikah?



Jika  seringnya saya menyebut diri sedang mengalami Quarter Life Crisis, tapi saya merasa sedang mengalami fase diluar  Quarter Life Crisis tentang Cinta, Teman Hidup, ataupun hal-hal berkaitan dengan Jodoh menikah dll segala tetek bengek yang melingkupinya. Mungkin kedengaran aneh, disaat usia saya yang mengarah lebih dewasa pemikiran menjadi seorang isteri ataupun hal-hal itu tak pernah lagi terpikir diotak saya, bukan hanya itu membicarakan tentang pernikahan sekarang ini bagi saya adalah hal yang juga sama-sama tabu dan benar-benar tak ingin saya pikirkan saat ini. Mungkin fase ini diluar life crisis yang saya menyebutnya Fase mati perasaan, ya fase mati perasaan saat perasaan tak pmerespon sedikitpun tentang berbagai hal yang berkaitan dengan virus merah jambu. Bagi saya pribadi ini adalah tahun tanpa galau berkelebatan di otak saya berbulan-bulan selama beberapa tahun terakhir. Tapi disatu sisi saya merasa takut, takut saya benar-benar tidak tertarik menikah dan menjadi perawan tua sepanjang umur saya (amit-amit ya Allah). Saya single dan belom minat menikah, iya karena saya tahu:
1.  Bayangan pernikahan saat ini dan (belom) lurusnya niat sebuah pernikahan
Bagi saya bayangan saya tentang menikah sekarang ini masih semu dan terlalu abstrak. Bagi saya menikah gak segampang saya mendaftar jurusan kedokteran sebanyak 14 kali meskipun gak ada yang lolos, menikah gak segampang saya bisa tidur pules malam ini. Lol. Dan berbagai bayangan menakutkan saat kita akan menikah, lebih sering muncul dipikiran saya saat ini.  Yang tambah bikin saya kadang mikir adalah kata-kata yang sering bertebaran di lini masa sosmed saya “Memperbaiki diri untuk calon imamku kelak” (atau kalimat senada). Ini salah satu niat yang disalurkan lewat kata yang belom lurus bagi saya. Pun dengan niat saya pribadi, bisa jadi selama saya memperbaiki diri atau sedang memantaskan diri jatuhnya itu diniatkan untuk imam saya kelak bukan untuk Tuhan saya, meskipun tak salah sih ketika kita memantaskan diri maka kita juga mendapat imam yang sesuai dengan kita seperti di ayat Al-qur’an. Tapi menjadi hal paling konyol yang bikin saya mikir itu salah satu indikasi belom lurusnya niat buat nikah karena sebaik-baiknya niat ditujukan hanya karena Allah bukan untuk ciptaannya.
2.Bayangan : Mengarungi kehidupan berdua akan lebih menarik dibanding tanpa pasangan
Siapa yang bilang? Bagi saya sampai sekarang yang masih menganut paham single happy, ini salah satu hal terlampau jija* karena bagi saya dan analisis saya dari orang disekitar saya, menikah itu bukan hanya menyatukan kita dengan si pasangan, namun juga dengan keluarganya, dan semakin banyak orang yang berada di lingkup pernikahan semakin banyak probelitas sebuah masalah yang akan muncul.
3.  Saya belom memiliki, Komitmen pernikahan, komitmen tertinggi dari sebuah kehidupan
Bagi saya komitmen pernikahan gak segampang nulis komitmen seratus persen di lembar protofolio pendaftaran pekerjaan, atau melamar beasiswa, atau ndaftar organisasi. Komitmen pernikahan adalah komitmen yang dipertanggung jawabkan langsung dengan janji didepan penghulu dan langsung janji sama Tuhan. komitmen ini yang nantinya gak cuman untuk sekarang didunia. Kalo ditanya tentang (berkurangnya) komitmen dengan :  besok kan bisa cerai dis kalo gak cocok?  Well gue paling benci hal senada ini, emangnya janji  sama Tuhan lo bisa seenak jidatnya dikotori dengan Cerai, well kalo cowok sih banyak yang ngak masalahin ya tapi kalo cewek, dengan streotip “Janda” yakin gak dapet tatapan miring di masyakarat sekarang ini?. Dan saya masih bego yang masalah beginian, masih sering gak seratus persen dengan orang untuk mengikat komitmen lebih jauh dengan saya, dan masih sering mikir “jalani aja dulu” itu ngak berlaku dipernikahan . Itu mengapa saya masih cenderung no coment tentang pernikahan karena komitmen saya terhadap pernikahan saja nol persen.
4.  Saya sadar belom bisa menjadi ibu yang baik
Klise! Alasan lain saya menolak menikah muda atau saat ini adalah saya tau banget, I’m not really good mother if I marriage right now karena saya belom becus menurunkan ego saya  dan saya juga belom memiliki pengetahuan tentang pernikahan, belom ngerti caranya jadi istri yang baik, dan belom punya basic agama yang baik dalam segala sesuat. Bisa sih belajar, tapi saya tidak ingin tergesa-gesa belajar hal  seperti ini, terlebih hanya karena saya ingin menyegerakan tapi jatuhnya  tergesa-gesa seperti diburu-buru deadline
5.  Masih ingin sendiri
Klise kedua! Saya seorang introvert, tapi saya juga bisa jadi extrovert, namun untuk sekamar  dengan orang asing yang biasa disebut suami, Oh dear! itu hal yang bikin saya begidik ngeri sendiri sebelom membayangkan sekarang ini. Saya masih mencintai aktivitas kesendirian saya, bisa memiliki banyak quality time bersama keluarga, bisa kesana kesini sendirian, bebas ngelakuin apapun keinginan saya, bisa jalan kemanapun, Bisa ketawa ketiwi dengan sahabat-sahabat saya, bisa menikmati setiap sudut tempat atau hal baru setiap saat, dan tentunya masih bisa ngraih impian terbaik saya.
6.  Masih memiliki banyak keinginan
Well, ini juga klise sih, tapi saya gak ngak bisa menyalahkan hal ini, I have a lot of plans. Beberapa hal yang ingin saya capai sekarang adalah S2 dan menduduki jabatan bonafit di salah satu perusahaan multinasional *Oke ini mimpi saya*. Saya juga masih memiliki segudang harapan ingin melangkahkan kaki saya kemanapun keinginan saya, menyusuri belahan benua di dunia. Saya masih punya ambisi melanjutkan usaha kedua orang tua saya, dan masih memiliki ambisi memiliki sebuah usaha yang bisa survive, dan di bilang sebagai salah satu “Industri Kreatif”.  Masih punya tanggung jawab besar sebagai anak pertama serta untuk bermanfaat bagi orang disekitar saya, Dan ofcourse masih ingin lebih banyak berbakti terhadap keluarga terutama ayah dan ibu saya.
7.    Berekspektasi terlalu tinggi.
Bayangan berkedok bahagia abis nikah, Pernah membayangkan happily after ever abis nikah? Saya pikir banyaak dari teman saya yang seirng menyebutkannya dengan memiliki ambisi dan ekspektasi terlalu tinggi “Happily ever after” dari sebuah pernikahan. Pernikahan menjadi gerbang kebahagiaan selamanya, namun disatu sisi saat saya membayangkan ini sama sekali jauh tentang happily ever after.  Terutama dalam hal emosional dan finansial yang bagi saya belom sama sekali cukup untuk saya jika memikirkan menikah sekarang ini.  Dan ekspektasi saya terlalu jauh kebawah tentang pernikahan, yang membuat saya merasa saya belom yakin terhadap pernikahan pada saat ini.
8.   Tentang pernikahan dan called of Muslimah yang dirinduhkan surga
Pemikiran ataupun anjuran menikah hanya karena “Wanita yang dirinduhkan surga adalah wanita yang tunduk dengan suami” atau kata-kata senada yang memojokon wanita, bahwa wanita harus tunduk dengan suami jika ia ingin masuk surga. Bukannya saya menentang menjadi wanita soleh yang taat dengan suami, tapi bagi saya pribadi, seorang wanita sudah agung dari sejak ia dilahirkan, tanpa ataupun dengan suami pasti dia akan mendapat surga dengan ketaqwaannya, tanpa harus diiming-imingin dengan tunduk ataupun taat dengan suami. Dan jalan menuju surga gak semuanya harus melalui sebuah pernikahan bagi saya. tapi saya tidak meragukan bahwasanya kedudukan seorang istri sholeh di berbagai hadist dan ayat al-qur'an adalah sebuah keagungan dan perhiasan terbaik di dunia, tapi kembali lagi seperti yang saya bilang, tidak semua jalan masuk surga harus melalui tahap jadi istri kan?
9.  Ikut-ikutan
Takutnya, dengan niat saya yang emang belom lurus-lurus bangett, saya juga takut menikah hanya sebagai ajang ikut-ikutan, temennya yang lain udah pada nikah! Terus saya ikutan nikah, yang lebih ngak enaakin perasaan dan jiwa adalah saat pertanyaan “Kapan nikah?” bersaut-sautan di sekliling saya, dan membuat saya pengen cepet-cepet nikah hanya karena itu *nauzubillah dah masalah beginian*
10.      Belom mengetahui pentingnya pernikahan
Last but not leats, Sampai saat ini saya belom tahu mengapa seorang harus menikah? So far saya tidak menemukan why I should to be marriage. Kalo kata teman saya, because saya belom banyak ngebutuhin orang lain (read pasangan), dan untuk mencapai I know the urgent things about marriage, is when I believe saya tidak bisa hidup sendiri sampai kapanpun, semandirinya saya sekarang jadi saya butuh orang disamping saya dalam kehidupan saya. Hal lain yang membuat saya merasa saya tidak ingin  menikah sekarang adalah saya masih sering merasa saya bisa apa-apa sendiri. Meskipun belom 100% karena masih ada campur tangan kedua orang tua ataupun orang disekitar kadang.  Tapi btw beberapa waktu lalu saya mendapat sebuah meme yang membuat saya kesal, tentang seorang wanita yang mandiri dan tidak membutuhkan seorang disampingnya dalam kasus ini seorang pasangan. Ini meme-nya

Dan entah kenapaa saya gregetaaan!!! Hahaha, seperti yang saya bilang so far saya belom membutuhkan orang lain (read pasangan) sekarang tapi bukan berarti saya tidak ingin menikah atau tidak butuh pasangan suatu saat nanti, saya percaya suatu saat pemikiran-pemikiran ini akan dapat berubah dan yang merubahnya bukan saya yang harus menurunkan kemandirian saya, karena akan down grade dong jadinya, if I have to down my own perspective about independent person, tapi harusnya si pria yang harus me-upgrade diri mereka untuk bisa membuktikan kepada si wanita, bahwa dia bisa mengayomi dan melindungi tanpa si wanita harus menurunkan level mandirinya.
Mungkin ini curhatan ngaco saya hari ini. Percaya pada saya ini adalah curhatan 25 April 2017, bukan berarti satu atau dua tahun yang akan datang saya masih tidak ingin menikah, malah bisa jadi saya udah dilamar, ada rencana menikah, ataupun lainnya dan semua ini bisa berubah karena saya percaya Allah adalah sebaik-baiknya pembolak-balikan hati kapanpun itu.


Yang selalu Memperbaiki diri



Gadis Intan P

0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts