Kamis, 04 Mei 2017

Bukan Hanya Menjadi Perempuan (Biasa) di Indonesia




Saya hidup di Indonesia, dimana berbagai stigma tentang perempuan melekat tajam disini. Stigma-stigma yang seakan-akan mengucilkan dan membatasi ruang perempuan untuk mengekspresikan dirinya agar dapat berkarir. Persimpangan dan batasan-batasan yang dibuat di masyarakat pada umumnya, membuat kebanyakan  dipertimbangkan perempuan di Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan keinginan lingkungan. Menjadi seorang perempuan diera globalisasi dan digital sekarang ini, menjadikan perempuan memilki banyak pilihan untuk menentukan kehidupannya, bukan hanya dengan mengikuti arus ataupun menyesuaikan diri dengan masyarakat pada umumnya namun sayangnya tak banyak dari kita memilki pilihan untuk kebebasan itu. Saya seorang perempuan dengan lingkungan yang memiliki minat rendah terhadap sebuah pendidikan, beruntungnya saya dibesarkan dikeluarga yang sadar akan pentingnya sebuah pendidikan. Pendidikan di lingkungan saya seperti sebuah mainan atau barang baru, yang hanya sekedar dan seadanya dalam mendapatkannya, tidak perlu di miliki dan digunakan. Lalu bagaimana dengan citra emansipasi dari Kartini selama ini? Pendidikan sudah didapatkan setiap perempuan di Indonesia, tapi belom sepenuh perempuan-perempuan itu sadar akan pentingnya sebuah pendidikan bagi saya. Selama ini jeruji penjara tentang batasan seorang perempuan masih melekat tajam di lingkungan saya

Tentang Stigma masyarakat Macak, Masak, Manak
"Macak, Masak, Manak" di lingkungan saya lebih kental untuk seorang perempuan di banding "Pendidikan Tinggi seorang perempuan untuk kehidupan diri sendiri dan lingkungan yang lebih baik". Salah satu hal yang seringnya bikin saya tertohok adalah menikah adalah tujuan dasar nan wajib dibanding sebuah pendidikan, ada yang salah? Tidak, tapi kurang tepat bagi saya. Dibalik keagungan seorang perempuan, perempuan banyak memiliki peran penting di kehidupannya bukan hanya Macak, maasak, manak. Bagaimana dengan kesetaran gender?. Bukankah Masak, bersih-bersih rumah, merawat anak bukan hanya tugas seorang Ibu rumah tangga? dan merupakan tugas bersama dengan suaminya? Yah ini tentang stigma, pandangan kesetaran gender tak ubahnya hanya sebuah teks bacaan tanpa implementasi di lingkungan kita sehari-hari, karena anggapan seorang pria yang memenuhi kebutuhannya dengan bekerja, lalu perempuan hanya diinisiasi sebagai tukang asuh gratis anak, koko rumah tangga, tukang bersih-bersih dan bla-bla tugas klise seorang perempuan, lalu apa kabar peran kesetaraan gender?

Pendidikan dan Karier seorang Wanita dan statusnya
Pernah mendengar Ira Koesno? Seorang moderator di debat pilkadi DKI 2017, yang namanya sering di sebut di media social hanya karena status single yang dimiliki. Padahal dibalik status beliau, beliau memiliki prestasi yang luar biasa namun prestasinya seperti  menghilang begitu saja saat tahu bahawa beliau masih lajang. Bukan hanya itu Mirisnya lagi banyak netizen yang berkomentar menjijikan sok tau mengapa beliau masih single, dan mengangap sebuah kecacatan. Kesel? Saya yang perempuan entah mengapa kesell dengan hal tersebut, mungkin selama ini Ira Koesno bukan role model dalam kehiduapan saya, tapi mengamati komentar-komentar pedas nan sok tau wal sok bijak tapi tak berkelas membuat saya berpikir ulang mengapa saya dilahirkan di Indonesia?.
Masyarakat pada umumnya mengangap seorang yang normal adalah mereka yang “Menikah-memiliki anak-memiliki keluarga kecil yang dirasa bahagia”. Lalu mereka perempuan yang berprestasi dan mengesampingkan hal-hal yang berkaitan dengan “kenormalan” Mungkin akan digunjing, dikomentarin, dan dihina sesuka hati mereka. Padahal perempuan-perempuan ini memiliki hak yang sama untuk menentukan arah kehidupannya, lalu siapa yang salah?. Apresiasi terhadap wanita yang cemerlang dikarir ataupun pendidikan juga tak sebanding lurus dengan apresiasi sebuah pernikahan seorang perempuan.
Jangan sekolah ketinggian, nanti lelaki pada takut mendekat" 
Pernah mendengar kalimat ini? Saya sering dengar, apalagi dari orang-orang diluar keluarga saya tapi masih dilingkup lingkungan saya, anggapan seorang wanita tak ubahnya hanya seorang juru koki, tukah berbersih rumah, dan perawat gratis seorang anak masih ada sampai sekarang dan anggapan pendidikan tak ubahnya sesuatu yang dirasa tidak penting karena pada nyatanya hanya akan kembali dirumah sebagai tukang-tukang diatas, tanpa pendidikanpun mereka mampu. Yakin?

Mandiri dan status lemah
Stigma lain dimasyarakat tentang seorang perempuan selalu dipandang seorang yang lemah, manja dan lucu. Lalu saat ada seorang wanita yang tangguh dan mandiri adalah hal yang menakutkan, dan dianggap perempuan ini adalah perempuan yang tidak butuh orang lain atau pendamping atau akan sulit mencari pasangan atau lainnya. Seperti sebuah meme ini. 

Mengangap sebuah kemandirian seorang perempuan adalah sebuah kesalahan dan mengangap perempuan mandiri tak ubahnya sebagai sebuah kegagalan perempuan?.

Selama ini Pemerintah kita telah menempatkan kaum perempuan sebagai partner bagi pembangunan. Isu gerakan dan pemberdayaan perempuan yang berkembang berkisar dalam suatu pemikiran bahwa perempuan sebagai sumber daya pembangunan, dengan kata lain politik gender telah memakai pendekatan Women In Development dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam derap pembangunan nasional. Konsep ini memberikan porsi kepada kaum perempuan untuk lebih eksis meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan menuju bangsa yang sejahtera dan penuh kedamaian (Anonim,2013). Jadi tidak ada batasan-batasan aktualisasi diri seorang perempuan, dan kesadaran tentang nilai tertinggi yang dimiliki seorang perempuan yang bukan hanya menjadi perempuan biasa saja dengan hal-hal ini
             
  Perempuan berhak Mengenyam pendidikan Tinggi
 “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901
 Bait surat yang ditulis Kartini untuk Prof Anton dan Nyonya, yang sekarang ini menjadi sebuah buku terkenal “Habis Gelap Terbitlah Terang” dari sana beliau ibu kartini menyampaikan bahwa seorang perempuan berhak mendapatkan pendidikan karena nantinya kami seorang perempuan adalah madrasah pertama dari anak-anak kami-
Selama ini persepsi pendidikan hanya di inisiasi sebagai sebuah hal yang dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, ataupun meningkatkan derajat kehidupan orang-orang yang berpendidikan padahal lebih dari itu semua, pendidikan penting karena dengan pendidikan bukan hanya mendapat sebuah pengetahuan lebih dari itu dengan pendidikan kita memiliki banyak cara pandang dalam melihat sebuah masalah, kaya akan jalan pikirnya, luas pengetahuannya, problem solving handal, dan tentunya tahu mana yang benar dan buruk bukan hanya mengandalkan feeling namun juga logika. Jika ada yang bilang “Buat apa sarjana ataupun master yang nantinya hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga?” saya yakini ibu rumah tangga ini bukan hanya sekedar seorang ibu, dia pasti tahu bagaiama menjadi seorang ibu rumah tangga yang ahli segala bidang yang harus di ketahui seorang ibu rumah tangga. Dan jangan salah ibu rumah tangga yang sarjana pasti tak akan menggunakan sebagian besar energinya hanya terbuang sia-sia untuk hal-hal negative.
·      
·         Seorang perempuan wajib untuk mandiri 
                Jika seorang perempuan itu lemah dan manja, bagaimana peran kita nanti untuk generasi kita     nanti perempuan tak ubahnya hanya akan selalu dianggap seorang yang tak berguna, atau seorang dibalik layar yang tak pantas menduduki deretan jajaran CEO, Presiden, Direktur, Manager ataupun yang lainnya. Seorang perempuan saya pikir harus memiliki cara pandang menjadi seorang yang mandiri karena perempuan ini memilki multi peran nantinya. Jika ia lemah dan manja, tak mau susah lagi, apa kabar tugas rumah, merawat suami dan seorang anak ataupun dipekerjaan dia yang lain. Tapi mandiiri disini bukan berarti perempuan tersebut harus selalu mengunguli seorang pria kapanpun itu, bagi saya seorang perempuan memiliki kesetaran dengan pria, tapi ada berbagai konteks kodrati dan hakekatnya seorang perempuan tak selalu mengunguli pria. Jika kamu sebagai perempuan lemah, bagaimana membendung stigma tentang berbagai hal dari perempuan dengan pembuktian yang kamu lakukan? Dan jangan pernah takut menjadi seorang perempuan mandiri karena takut dianggap lebih suprerior dibanding pria, karena laki-laki superior pastinya akan memilih perempuan superior juga.
·         Perempuan memilki peran yang sama untuk Indonesia yang lebih baik
Hubeis (1985) mengatakan, analisis alternatif peran perempuan dalam mendorong pembangunan dapat dilihat dari tiga aspek yakni (1) peran tradisi atau peran domestic yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Perempuan yang berhasil mengelola rumah tangga dengan baik akan menjadi inspirasi dan motivator bagi pelaku pembangunan, (2) peran transisi yang berkaitan dengan garapan lahan pertanian atau bekerja di usaha keluarga dan (3) peran kontemporer. Perempuan memiliki peran di luar rumah tangga atau disebut wanita karier. Peran-peran ini menunjukkan bahwa perempuan baik langsung maupun tidak langsung mempunyai kontribusi yang besar terhadap pembangunan bangsa. Dan Perempuan tak ubahnya seperti laki-laki yang memiliki peran ganda dalam kehidupannya, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, dan tentu perempuan memiliki pilihan yang sama untuk menentukan kehidupannya seperti seorang laki-laki, bukan hanya dipilihkan menjadi seorang ibu rumah tangga atau hanya wanita karir, ataupun perempuan sekedarnya, kita hidup di era digital dimana ada banyak pilihan yang dapat kita pilih menjadi seorang perempuan. Sebagai seorang sarjana lalu menjadi ibu rumah tanggapun tak salah, menjadi perempuan lajang selama hidupnya dengan berbagai prestasi yang ia miliki juga tak ada yang salah, dan tak ada yang salah dengan berbagai pilihan yang menarik untuk dipilih asal sesuai norma agama, adat, dan hukum yang berlaku. Bukan hidup memang banyak pilihan?
             
Saya perempuan Indonesia yang sadar bahwa saya memiliki peran penting tapi bukan berarti saya melepaskan kodrat saya sebagai perempuan seutuhnya, karena menjadi perempuan bukan hanya mereka yang dibalik layar, seorang perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama untuk menjadi seorang khalifah di bumi. Peranmu, peranku dan peran kita disini ada untuk lingkungan kita yang lebih baik, dan saya melanjutkan perjuangan ibu Kartini dimulai dari saya sendiri, menjadi seorang perempuan berpendidikan tinggi, mandiri dan mampu memberikan manfaat untuk lingkungan dan diri saya sendiri dan aku Menunggu peranmu, peranku dan peran perempuan Indonesia menjadi Indonesia yang lebih baik.





0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts