Senin, 17 Agustus 2020

Stoicism dan Fase 20an Tahun


Quarter Life Crisis, Masihkah?

Bagi saya, saya sudah pernah jatuh bangun tentang fase-fase mempertanyakan kehidupan di mulai dari sejak lulus kuliah pertama di usia 20th. Mungkin, sekarang yang saya rasakan adalah memahami dan memberikan yang terbaik untuk pilihan yang telah dibuat. Apakah semua pilihan yang saya pilih memberikan banyak dampak selama ini? entahlah. Saya juga kurang tahu pasti, tapi bagi saya dengan perkembangan waktu saya menjadi pribadi yang lebih baik. Pun bagi saya, semua pilihan itu baik, tidak ada yang salah karena dulu kita punya pertimbangan untuk memilih pilihan tersebut. Jika hasilnya tidak sesuai bukan salah pilihannya mungkin ada banyak faktor hingga kita mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Kalo di buku The Courage To Be Dislike dijelaskan “Life isn’t just hard, if the past determined everything and couldn’t be changed, we who are living today would no longer be able to take effective steps forward in our lives” yang intinya ngapain mempertanyakan keputusan yang telah diambil dimasa lalu. Toh kita tidak punya waktu untuk diputar kembali dan menganti pilihan itu, yang bisa kita lakukan hanya dengan memperbaiki hari ini bukan? Pun masa depan juga tidak ada yang tahu hasilnya, tapi disitulah salah satu cara mencintai apa yang kita miliki sekarang serta mulai sadar bahwa langkah kita sekarang yang akan menentukan kita nantinya. Kayak di bukunya John C. Maxwell : Sometimes You Win, Sometimes You Learn.

Selama beberapa tahun terakhir saya bertemu dengan banyak sekali konsep kehidupan yang menyenangkan meskipun tidak semuanya baik bagi saya, tapi setidaknya pemahaman diri tentang pengetahuan itu menyenangkan. Malah ganguan tidur, suka anxiety, worrying, bandingin dengan orang lain dan lain-lain itu bisa berkurang tajam dengan pengetahuan tentang diri dan mekanisme kehidupan yang bisa saya pelajari dari orang lain, dari buku-buku, lewat artikel atau social media mereka yang saya baca, menariknya saya cukup banyak mengurangi tekanan hidup dan yaudahlah yaa dibanding sebelum-sebelumnya. Padahal dulu saya tipe-tipe kompetitif dan ambis yang cukup ngeselin, wkwkwk bersyukurnya saya sekarang. Perasaan : mau menang sendiri, egosentris apa-apa harus saya, harus jadi pemeran utama dalam banyak cerita, selalu dapat apa yang di inginkan dan tidak memaknai hidup lebih berkurang drastis. Salah satu pelajaran hidup yang harus banget diketahui di usia saya sekarang mungkin tentang Tujuan hidup, nilai-nilai kehidupan yang mau dipegang dan digunakan, dan Passion. Semua itu seperti Saya sebuah kompas dan peta sederhana untuk menyelesaiakan visi dan misi di bumi.

 

Kompas dan Peta Kehidupan

      Kompas dan peta sederhana itu seperti Value, Purpose, dan pasion yang bagi saya semua itu digunakan buat menyelesaiakan visi dan misi kita di bumi. Saya percaya bahwa Allah menciptakan kita pasti dengan perannya masing-masing. Itu kenapa kalo kita mungkin merasa tidak berguna sekarang, mungkin  kita aja yang terlalu berekspektasi sama kehidupan dan peran kita di muka bumi. Seperti kita yang terlalu berekspektasi semua akan kita dapatkan, kita akan selalu menjadi pemeran utama, pemeran pembantu itu tidak dibutuhkan dll. Kalo kita di fase itu, mungkin saat ini kita lupa bahwa drama atau film yang bagus membutuhkan pemeran pembantu untuk menghidupkan cerita. Mungkin peran kita hari ini tidak banyak maknanya, hanya menjadi seonggok daging yang sedikit berguna, tidak banyak dibutuhkan tapi siapa tahu ada diri kita yang diharapkan kehadirannya sewaktu-waktu, oleh pengemis yang minta-minta, oleh ibu yang minta tolong kita, oleh teman yang nyari teman cerita, oleh teman yang nge-seen atau ngelike postnya atau oleh orang yang tidak kenal kita berikan senyum iklas seadanya. Peran kehidupan enggak harus kita jadi pemeran utama kan? Peran sekecil apapun ada manfaatnya juga kan?

Kalo yang lain sudah punya banyak banget peran-peran strategist dimana-mana di pusat-pusat hingar bingar kehidupan dan banyak disorot, pasti ada pundak mereka juga yang siap menangung beban tersebut. Sedangkan kita? Mungkin belum saatnya menangung beban tersebut. Kita masih diberikan menangung beban kita sekarang untuk dimaksimalkan peran terbaiknya. Mungkin, kompas dan peta sederhana tidak akan selalu serta merta menuntun kita ke arah yang menyenangkan, kadang nanjak, berliku, lewati banyak bebatuan, sungai, gunung, putar arah, terjal dll, untuk mencapai apa yang kita mau, tapi bukan kah disitu seninya? Seni menikmati kehidupan. Saya bacot kayak gini gampang banget ya ngerasanya. Padahal hari ini juga saya dititik mau mengkampret-kampretkan kehidupan, udah modal usaha banyak banget kekuras eh belum BEP karena situasi sekarang, lagi memperjuangkan misi kehidupan yang lain ehh kok cukup menantang sekali jalannya, lagi terkurung dengan khidmat di rumah karena belum dibolehin merantau jauh, teman yang salah paham karena prinsip yang saya ambil, memperjuangkan potensi diri dengan kerja di banyak tempat yang kadang banyak kadang ya enggak banyak (Meskipun orang tua saya juga tidak menyuruh kerja sih dikondisi sekarang). Tapi saya juga percaya sih : Setelah Kesusahan Pasti Akan Ada Kemudahan.

 

Menjadi Half of Stoic

Bagi saya dari semua ke-ambyaran di 2020, cukup bisa dinikmati dengan menjadi Half of Stoick (Self-proclaimed) Sebuah konsep pemaknaan hidup yang saya kenal di awal 2020. Mungkin untuk belajar lebih jauh tentang konsep ini bisa baca buku Filosofi Teras dari Henry Manpiring. Recommended banget sih untuk orang-orang yang cukup overthinking. Bagi saya menikmati hidup bisa dilakukan dengan banyak cara contohnya yang saya pelajari dari filsuf Marcus Aerelius dengan konsep stoic ini adalah :

1.       Mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan

pertama yang bisa kita kendalikan itu seperti pikiran kita, kebahagiaan, apa yang kita miliki, waktu kita, dll sedangkan yang tidak bisa kita kendalikan seperti : kekayaan, pertemanan,omongan orang,  dll. Kenapa sebaiknya kita mengendalikan apa yang kita bisa kendalikan? Contohnya mengendalikan pikiran kita, mengendalikan emosi kita, mengendalikan diri kita dll. Kita tidak bisa mengendalikan omongan orang tapi kita bisa mengendalikan pikiran kita terhadap omongan tersebut.

2.       10% Apa yang terjadi 90% cara kita merespon. 

    Capek gak sih kalo ada apa-apa kita pikirin, kita sukanya juga cuman mikirin gak nyari solusi, iyaa gak sih? Dan ini salah satu pelajaran berharga yang saya dapat dari filsuf stoa. Dibanding capek-capek mikirin terus apa yang akan terjadi nanti mending mikirin gimana merespon keadaan tersebut. Merespon tersebut termasuk bagaimana kita menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. “Jangan Biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau itu akan membuatmu tidak akan pernah siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi”-Ali bin Abi Thalib

3.       Ekspektasi dan Masalah

Dari bab-bab awal saya cukup sering menyingung tentang ekspektasi ya?. Bagi saya di fase 20an tahun sekarang berkompromi dengan ekspektasi adalah kunci. Belajar untuk tidak terlalu memandang tinggi banyak hal, kemampuan kita, pertemanan kita, keluarga kita, diri kita, usaha kita, dll. Kayak di bukunya Mark Manson : Seni Bersikap Bodo Amat yang bilang  “… dan Pengetahuan serta penerimaan terhadap eksistensi anda sendiri yang sedang-sedang saja akan benar-benar membebaskan anda untuk menuntaskan apa yang sungguh ingin anda selesaikan, tanpa peneliaan/ekspektasi yang muluk-muluk”. Kita terlalu berekspektasi terlalu tinggi terhadap diri sehingga lupa ada ruang bernama pasrah dan berserah, padahal nyatanya tidak semua hal harus searah dengan impian kita kan?.

“Aku sudah Pernah Merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”. Berharap hanya kepada Allah itu yang utama, karena saya mengimami Allah punya banyak jalan, rencana dan cinta saat kita tawakal. Kadang yang buat kita enggan untuk berdamai dengan gagal itu bagi saya, kita kurang pasrah, terlalu tinggi berekspektasi jadi pas jatuh kerasa banget. Padahal saat nilai harapan kita cukup dan banyak berserah saya ngerasa ketika gagal masih akan tetap berpijak di bumi, gak hancur-hancur banget. “When Something is mean to be yours it will be” jadi “Do Your Best and God will do the Rest” .

Sekian bacotan saya di fase 20an ini. Semoga ada sedikit manfaat meskipun sepertinya sudah muak sendiri di paragraph awal. Tapi bodo amat, tetep saya publish aja buat mengikat memori pernah sampai ditahap menyakini keputusan dan tertatih memperjuangkannya juga hehe See you!

 

Yang selalu ingin memperbaiki diri

GIP

0 comments:

Posting Komentar

Popular Posts