Quarter Life Crisis, Masihkah?
Bagi saya, saya sudah pernah jatuh bangun tentang fase-fase
mempertanyakan kehidupan di mulai dari sejak lulus kuliah pertama di usia 20th.
Mungkin, sekarang yang saya rasakan adalah memahami dan memberikan yang terbaik
untuk pilihan yang telah dibuat. Apakah semua pilihan yang saya pilih
memberikan banyak dampak selama ini? entahlah. Saya juga kurang tahu pasti, tapi
bagi saya dengan perkembangan waktu saya menjadi pribadi yang lebih baik. Pun
bagi saya, semua pilihan itu baik, tidak ada yang salah karena dulu kita punya
pertimbangan untuk memilih pilihan tersebut. Jika hasilnya tidak sesuai bukan salah
pilihannya mungkin ada banyak faktor hingga kita mendapatkan hasil yang tidak
sesuai dengan ekspektasi. Kalo di buku The Courage To Be Dislike dijelaskan “Life isn’t just hard, if the past
determined everything and couldn’t be changed, we who are living today would no
longer be able to take effective steps forward in our lives” yang intinya
ngapain mempertanyakan keputusan yang telah diambil dimasa lalu. Toh kita tidak
punya waktu untuk diputar kembali dan menganti pilihan itu, yang bisa kita
lakukan hanya dengan memperbaiki hari ini bukan? Pun masa depan juga tidak ada
yang tahu hasilnya, tapi disitulah salah satu cara mencintai apa yang kita
miliki sekarang serta mulai sadar bahwa langkah kita sekarang yang akan
menentukan kita nantinya. Kayak di bukunya
John C. Maxwell : Sometimes You Win, Sometimes You Learn.
Selama beberapa tahun terakhir saya bertemu dengan banyak sekali konsep
kehidupan yang menyenangkan meskipun tidak semuanya baik bagi saya, tapi setidaknya
pemahaman diri tentang pengetahuan itu menyenangkan. Malah ganguan tidur, suka anxiety, worrying, bandingin dengan
orang lain dan lain-lain itu bisa berkurang tajam dengan pengetahuan tentang
diri dan mekanisme kehidupan yang bisa saya pelajari dari orang lain, dari
buku-buku, lewat artikel atau social media mereka yang saya baca, menariknya
saya cukup banyak mengurangi tekanan hidup dan yaudahlah yaa dibanding
sebelum-sebelumnya. Padahal dulu saya tipe-tipe kompetitif dan ambis yang cukup
ngeselin, wkwkwk bersyukurnya saya sekarang. Perasaan : mau menang sendiri,
egosentris apa-apa harus saya, harus jadi pemeran utama dalam banyak cerita,
selalu dapat apa yang di inginkan dan tidak memaknai hidup lebih berkurang
drastis. Salah satu pelajaran hidup yang harus banget diketahui di usia saya
sekarang mungkin tentang Tujuan hidup,
nilai-nilai kehidupan yang mau dipegang dan digunakan, dan Passion. Semua
itu seperti Saya sebuah kompas dan peta sederhana untuk menyelesaiakan visi dan
misi di bumi.
Kompas dan Peta Kehidupan
Kompas dan peta sederhana itu
seperti Value, Purpose, dan pasion yang bagi saya semua itu digunakan buat menyelesaiakan
visi dan misi kita di bumi. Saya percaya bahwa Allah menciptakan kita pasti
dengan perannya masing-masing. Itu kenapa kalo kita mungkin merasa tidak
berguna sekarang, mungkin kita aja yang
terlalu berekspektasi sama kehidupan dan peran kita di muka bumi. Seperti kita
yang terlalu berekspektasi semua akan kita dapatkan, kita akan selalu menjadi
pemeran utama, pemeran pembantu itu tidak dibutuhkan dll. Kalo kita di fase
itu, mungkin saat ini kita lupa bahwa drama atau film yang bagus membutuhkan
pemeran pembantu untuk menghidupkan cerita. Mungkin peran kita hari ini tidak
banyak maknanya, hanya menjadi seonggok daging yang sedikit berguna, tidak
banyak dibutuhkan tapi siapa tahu ada diri kita yang diharapkan kehadirannya sewaktu-waktu,
oleh pengemis yang minta-minta, oleh ibu yang minta tolong kita, oleh teman
yang nyari teman cerita, oleh teman yang nge-seen atau ngelike postnya atau
oleh orang yang tidak kenal kita berikan senyum iklas seadanya. Peran kehidupan
enggak harus kita jadi pemeran utama kan? Peran sekecil apapun ada manfaatnya
juga kan?
Kalo yang lain sudah punya banyak banget peran-peran strategist
dimana-mana di pusat-pusat hingar bingar kehidupan dan banyak disorot, pasti
ada pundak mereka juga yang siap menangung beban tersebut. Sedangkan kita?
Mungkin belum saatnya menangung beban tersebut. Kita masih diberikan menangung
beban kita sekarang untuk dimaksimalkan peran terbaiknya. Mungkin, kompas dan
peta sederhana tidak akan selalu serta merta menuntun kita ke arah yang
menyenangkan, kadang nanjak, berliku, lewati banyak bebatuan, sungai, gunung, putar arah, terjal dll, untuk mencapai apa yang kita mau, tapi bukan
kah disitu seninya? Seni menikmati kehidupan. Saya bacot kayak gini gampang
banget ya ngerasanya. Padahal hari ini juga saya dititik mau
mengkampret-kampretkan kehidupan, udah modal usaha banyak banget kekuras eh
belum BEP karena situasi sekarang, lagi memperjuangkan misi kehidupan yang lain
ehh kok cukup menantang sekali jalannya, lagi terkurung dengan khidmat di rumah
karena belum dibolehin merantau jauh, teman yang salah paham karena prinsip
yang saya ambil, memperjuangkan potensi diri dengan kerja di banyak tempat yang
kadang banyak kadang ya enggak banyak (Meskipun orang tua saya juga tidak menyuruh kerja sih dikondisi sekarang). Tapi saya juga
percaya sih : Setelah Kesusahan Pasti Akan Ada Kemudahan.
Menjadi Half
of Stoic
Bagi saya dari semua ke-ambyaran di 2020, cukup bisa dinikmati dengan
menjadi Half of Stoick (Self-proclaimed) Sebuah konsep pemaknaan
hidup yang saya kenal di awal 2020. Mungkin untuk belajar lebih jauh tentang
konsep ini bisa baca buku Filosofi Teras dari Henry Manpiring. Recommended banget
sih untuk orang-orang yang cukup overthinking. Bagi saya menikmati hidup bisa
dilakukan dengan banyak cara contohnya yang saya pelajari dari filsuf Marcus
Aerelius dengan konsep stoic ini adalah :
1.
Mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan
pertama yang bisa kita kendalikan itu seperti pikiran kita, kebahagiaan, apa
yang kita miliki, waktu kita, dll sedangkan yang tidak bisa kita kendalikan
seperti : kekayaan, pertemanan,omongan orang, dll. Kenapa sebaiknya kita mengendalikan apa
yang kita bisa kendalikan? Contohnya mengendalikan pikiran kita, mengendalikan
emosi kita, mengendalikan diri kita dll. Kita tidak bisa mengendalikan omongan
orang tapi kita bisa mengendalikan pikiran kita terhadap omongan tersebut.
2. 10% Apa yang terjadi 90% cara kita merespon.
Capek
gak sih kalo ada apa-apa kita pikirin, kita sukanya juga cuman mikirin gak
nyari solusi, iyaa gak sih? Dan ini salah satu pelajaran berharga yang saya
dapat dari filsuf stoa. Dibanding capek-capek mikirin terus apa yang akan
terjadi nanti mending mikirin gimana merespon keadaan tersebut. Merespon tersebut
termasuk bagaimana kita menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. “Jangan Biarkan
hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau itu akan membuatmu
tidak akan pernah siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi”-Ali bin Abi
Thalib
3.
Ekspektasi dan Masalah
Dari bab-bab awal saya cukup sering menyingung tentang ekspektasi ya?. Bagi
saya di fase 20an tahun sekarang berkompromi dengan ekspektasi adalah kunci. Belajar
untuk tidak terlalu memandang tinggi banyak hal, kemampuan kita, pertemanan
kita, keluarga kita, diri kita, usaha kita, dll. Kayak di bukunya Mark Manson :
Seni Bersikap Bodo Amat yang bilang “… dan Pengetahuan serta penerimaan
terhadap eksistensi anda sendiri yang sedang-sedang saja akan benar-benar
membebaskan anda untuk menuntaskan apa yang sungguh ingin anda selesaikan,
tanpa peneliaan/ekspektasi yang muluk-muluk”. Kita terlalu berekspektasi
terlalu tinggi terhadap diri sehingga lupa ada ruang bernama pasrah dan
berserah, padahal nyatanya tidak semua hal harus searah dengan impian kita
kan?.
“Aku sudah Pernah Merasakan semua
kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”.
Berharap hanya kepada Allah itu yang utama, karena saya mengimami Allah punya
banyak jalan, rencana dan cinta saat kita tawakal. Kadang yang buat kita enggan
untuk berdamai dengan gagal itu bagi saya, kita kurang pasrah, terlalu tinggi
berekspektasi jadi pas jatuh kerasa banget. Padahal saat nilai harapan kita
cukup dan banyak berserah saya ngerasa ketika gagal masih akan tetap berpijak
di bumi, gak hancur-hancur banget. “When
Something is mean to be yours it will be” jadi “Do Your Best and God will do
the Rest” .
Sekian bacotan saya di fase 20an ini. Semoga ada sedikit manfaat meskipun
sepertinya sudah muak sendiri di paragraph awal. Tapi bodo amat, tetep saya publish
aja buat mengikat memori pernah sampai ditahap menyakini keputusan dan tertatih
memperjuangkannya juga hehe See you!
Yang selalu
ingin memperbaiki diri
GIP
0 comments:
Posting Komentar