Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT". (HR. Imam Turmudzi)
Setelah dari Pare beberapa
minggu lalu, saya mulai sering menikmati Quality Time dengan diri saya. Lebih
sering baca buku, nekuni hobi, improv bahasa inggris, CV dll. Tapi ada
satu kisah yang menarik dari semua hal-hal itu,
saya mau cerita dulu sedikit, dari dulu saya memang udah punya hobi
sibuk dan benar-benar sibuk, pas jaman kuliah saya rasa, saya tidak memiliki
waktu ngangur banyak. Saya selalu gunakan waktu itu sebaik mungkin mulai dari
kuliah, praktikum, part time dibeberapa tempat, organisasi yang lebih dari 3,
kepanitiaan setiap bulan, ngerjain tugas dan laporan, belum kalo saya niat ikut
lomba atau kompetisi esay atau blog atau LKTI saya ikutin. Sibuk kan? Tapi setelah lulus saya sama
sekali tidak bangga dengan diri saya, selama ini saya terlalu salah dalam
menilai segala sesuatu ternyata. Mungkin iya, saya punya banyak pengalaman,
banyak networking, banyak achievment atau awards yang saya tulis di CV
*Maaf songgong dikit* ettapi saya tidak menjaga pengalaman saya itu, saya lalai
dengan networking yang saya miliki, sertifikat yang lebih 20 yang pernah saya
kumpulkan juga gak berpengaruh banyak pada kehidupan saya sekrang, saya juga bukan
orang yang prestisius dalam kemampuan berbicara yang sebaiknya dimiliki orang
berorganisasi banyak, saya juga tidak memiliki ke-Wah-an selama berada di
organisasi, saya juga jarang menang di lomba yang saya ikuti, IPK saya kurang
dari impian saya saat saya lulus. Tapi selama ini saya ambisius untuk meraih
semua itu!, keambisiusan dan idealis saya terhadap pencapaian diri saya
melambung terlalu tinggi, hingga akhirnya saya jatuh dengan semua yang tidak
sepenuhnya tercapai, tidak sepenuhnya bukan semuanya. Lalu selama ini saya
salah? Salahnya apa? Saya sudah berusahaa sepenuhnya, selagi saya bisa, saya
salah yang mana?. Pertanyaan itu sering saya ajukan dengan diri saya, apa yang
salah selama masa kuliah, seperti dia awal tadi saya bilang saya salah dalam
pandangan. Saya tidak menyalahkan pandangan ambisius dan idealis saya yang saya
salahkan adalah saya banyak lalai dalam segala sesuatu tersebut.
Lalai paling sangat yang saya
miliki adalah saya lupa apa hakekatnya kehidupan yang saya miliki saat ini.
Selama ini yang saya rasakan adalah saya selalu terpacu untuk mengejar, mengejar
kebanggaan dan kepuasaan yang saya inginkan, seperti jika saya bisa mendapat
IPK sekian maka saya bangga jadi saya bahagia, selalu hari-hari saya selalu
saya isi dengan tulisan-tulisan target masa depan masa sekarang, target harian
dll. Ternyata saat itu lambat laun tapi pasti saat saya meraih apa yang saya
inginkan, ada keinginan yang malah menjauhkan diri saya sepenuhnya. Keinginan
itu adalah tentang arti kehidupan saya sepunuhnya saat ini?. Apa yang
benar-benar saya cari sebetulnya? Saya mencari kepuasan diri saya, setelah
semua yang saya dapatkan itu apakah saya puas? Saya rasa tidak, saya selalu
terpacu untuk meraih yang lain. Selama perenungan beberapa hari ini akhirnya
saya mulai banyak belajar tentang arti kehidupan dan apa yang yang saya cari
*mario te**h sekali ya bahasanya* maafkan. Saya mau nanya yang kalian cari
dikehidupan dari kehidupan ini apa? Sedikit saya menemukan jawabannya, selama
ini saya terlalu jauh dalam memandang dunia, selalu dan selalu banyak
memberikan waktu kepada dunia, saya lupa hakekatnya hidup semestinya.
Dunia itu fana, tapi akhirat
yang kekal. Bukannya saya sok religius atau apa, tapi selama beberapa hari ini
saya merenungi hal ini saya mendapatkan banyak sekali pencerahan, Selama ini
- Sholat
saya jarang tepat waktu. Di agama saya, sholat adalah hal paling utama,
jika guru saya bilang sholat adalah pondasinya, dan yang pertama dihisab
dialam baka. Tapii, seringnya saya terlalu khilaf dan lalai, lebih
mementingkan ontime rapat dibanding ontime sholat, lebih memintingkan
sholat tergesa-gesa dibanding kuliah telat, dan masih sering nunda karena
hal spele lain. Saya punya cerita tersendiri dengan ibadah saya yang ini
akhir-akhir ini juga, dan yang menyadarkan saya, jadi saya punya
kecenderungan nelat sholat, pokoknya ada aja syetan yg ngangu saya dalam
sholat. Pas akhir-akhir ini saya sering ketemu temen-temen yg agamanya
100% lebih baik dari saya gitu, jadi seringnya saya curhat masalah saya,
nah dia menyarankan untuk sholat tepat waktu. Saya yang emang dri dulu
sering nyoba tapi lebih ke keinginan saya, jadi saya sholat tepat waktu
karena saya inginkan sesuatu #janganditiru. Bedanya di episode saya
kemaren itu, saya tidak memiliki keinginan dan ambisi yang harus banget
saya dapat, dan saya malah dapat banyak sekali rizki yang jalannya saya
dapat dengan mudah, dan gampang aja gitu ngejalaninya, mulai dari
kebinggungan masa depan yang berangsur-angsur ada jalan. Saya kan juga
jobseeker, baru 10 hari yang lalu saya kirim CV, tapi setelah itu saya
sudah disuruh tes lalu interview. Dan kalian tahu? beberapa hari ini saya sudah training setelah itu, padahal sama sekali tidak ada dalam benak saya
secepat itu berprosesnya saya mendapatkan tawaran training, dan lain kali
akan saya curhatkann lebih dalam di episode berikutnya...
- saya
jarang menyertakan Rab saya setiap harinya, misal nih pas mau brangkat
kuliah, saya cuman punya tujuan nyari ilmu, padahal pendekatan lain ibadah
itu bisa dengan aktivitas sehari-hari kita selama ini misal pas nyari ilmu
niatnya buat ibadah, Kan Allah selalu beserta kita akhirnya.
- Dari
hal-hal ambisius dan idealis yang saya miliki selama ini takaran untuk
dunia lebih tinggi hingga akhirnya saya lupa daratan, apa sejatinya yang
perlu saya perjuangkan lebih.
- Akhirat
di Hati Dunia di tangan. Iya saya lupa lagi bahwa selama saya ingin
mengengam dunia itu, saya lupa prioritas utama saya, akhirat, sehingga dua-duanya
saya gak dapet.
- Sejatinya
saya hidup untuk Rabb saya, dan yang sering saya pertanyakan pada diri
saya sekarang adalah “emang yang kamu cari didunia ini apa aja sih tan,
cuman sholat tepat waktu aja susah?”
Hemmmm.... Saya
kira itu sedikit curhatan random, saya tentang prioritas, idealisme, dan
kehidupan saya akhir-akhir ini.









