Sabtu, 29 Oktober 2016

First Job After First Graduate

            
        Well okey, i think i have more time to leave this blog because my priority have been changed. I already done writen short story Musabah Diri, and i want to continue my last story. First Job after First graduate.I am like lucky people because of this. I have been change my idealism of live to be a realistic yes, i write in there after i changed everything target that i realize is more better than idealism i am. The target is my dream to be a good women karier in big city, Jabodetabek, is my precious dream in my mind several month ago before my graduation day. Why Jabodetabek? Ofcourse because opportunity in there more better than my beloved city right now, Yogyakarta, Jabodetabek have more company which any field job require, Jabodetabek have a more salary which offers, Jabodetabek give chance to expand my safety zone, and other wish. But i already changed my idealism, because of my priority and next target i wanna right now, is not about just salary, expand safety zone, opportunity and others. I believe wherever i am, if i have efforts and prayers i can get what i want. Yogyakarta doesn’t have a good opportunity to my passionate about food technology but yeah Yogyakarta have a good zone to other and new knowladge in my job that i want. So is my new target, ambisius, and dream in there. Doesn’t mean about big city which big salary but big dream with big other passion.
            So i want to introduce my new job  after i’m a fresh graduate. I looking for job like looking for love, made exhausted T.T but i always gratitute to my  God, i Got my job before my Graduation day, 16 Nov later *so if you want to look at me, you can came at gsp wkwkkw*. I accepted in one of company provide for digital marketing field. In there i was accepting in creative digital team, my job desk is make concept begin for indetify of company clien, make sure brand of company clien, creative campaign, conceptor for some program and etc. You know? I’m not graduatate from management or economic major or preferrence marketing entusiat, i came from Food Technology, yes of course i’m learned about marketing but is not detail and is not all about marketing just a part of marketing. From my new job i really happy and entusiast because i learn more knowladge what i need to develop. Marketing is important in all company in arround the world, every company of course have a marketing division, if i want improv or develop my karier marketing have a good opportunity. But marketing is not easy as my learned in my collage, practice of marketing is more of difficult than i’m thinking before. Influencer other people is more difficult than i thinking i can get A in all my examination. But Is live i like new live that i have, right now. When preassure like stone in my brain, when i have to learn-learn-and learn to improve myself and i want to niat in my new job to learn new things, new adventure and new experience like my friend said “You have capabilty to always thirsty of  new experience. Yeah, i, i’m in here to swim my new ambisiotion and passion of new target i drive and i do what i love, which make me happines for the first things after it, My Idealism want to drive for my a gregious Journey of My live.

Oke thank you, and See my new post later.

Musabah Diri


Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT". (HR. Imam Turmudzi)
                Setelah dari Pare beberapa minggu lalu, saya mulai sering menikmati Quality Time dengan diri saya. Lebih sering baca buku, nekuni hobi, improv bahasa inggris, CV dll.  Tapi ada satu kisah yang menarik dari semua hal-hal itu,  saya mau cerita dulu sedikit, dari dulu saya memang udah punya hobi sibuk dan benar-benar sibuk, pas jaman kuliah saya rasa, saya tidak memiliki waktu ngangur banyak. Saya selalu gunakan waktu itu sebaik mungkin mulai dari kuliah, praktikum, part time dibeberapa tempat, organisasi yang lebih dari 3, kepanitiaan setiap bulan, ngerjain tugas dan laporan, belum kalo saya niat ikut lomba atau kompetisi esay atau blog atau LKTI saya ikutin.  Sibuk kan? Tapi setelah lulus saya sama sekali tidak bangga dengan diri saya, selama ini saya terlalu salah dalam menilai segala sesuatu ternyata. Mungkin iya, saya punya banyak pengalaman, banyak networking, banyak achievment atau awards yang saya tulis di CV *Maaf songgong dikit* ettapi saya tidak menjaga pengalaman saya itu, saya lalai dengan networking yang saya miliki, sertifikat yang lebih 20 yang pernah saya kumpulkan juga gak berpengaruh banyak pada kehidupan saya sekrang, saya juga bukan orang yang prestisius dalam kemampuan berbicara yang sebaiknya dimiliki orang berorganisasi banyak, saya juga tidak memiliki ke-Wah-an selama berada di organisasi, saya juga jarang menang di lomba yang saya ikuti, IPK saya kurang dari impian saya saat saya lulus. Tapi selama ini saya ambisius untuk meraih semua itu!, keambisiusan dan idealis saya terhadap pencapaian diri saya melambung terlalu tinggi, hingga akhirnya saya jatuh dengan semua yang tidak sepenuhnya tercapai, tidak sepenuhnya bukan semuanya. Lalu selama ini saya salah? Salahnya apa? Saya sudah berusahaa sepenuhnya, selagi saya bisa, saya salah yang mana?. Pertanyaan itu sering saya ajukan dengan diri saya, apa yang salah selama masa kuliah, seperti dia awal tadi saya bilang saya salah dalam pandangan. Saya tidak menyalahkan pandangan ambisius dan idealis saya yang saya salahkan adalah saya banyak lalai dalam segala sesuatu tersebut.
                Lalai paling sangat yang saya miliki adalah saya lupa apa hakekatnya kehidupan yang saya miliki saat ini. Selama ini yang saya rasakan adalah saya selalu terpacu untuk mengejar, mengejar kebanggaan dan kepuasaan yang saya inginkan, seperti jika saya bisa mendapat IPK sekian maka saya bangga jadi saya bahagia, selalu hari-hari saya selalu saya isi dengan tulisan-tulisan target masa depan masa sekarang, target harian dll. Ternyata saat itu lambat laun tapi pasti saat saya meraih apa yang saya inginkan, ada keinginan yang malah menjauhkan diri saya sepenuhnya. Keinginan itu adalah tentang arti kehidupan saya sepunuhnya saat ini?. Apa yang benar-benar saya cari sebetulnya? Saya mencari kepuasan diri saya, setelah semua yang saya dapatkan itu apakah saya puas? Saya rasa tidak, saya selalu terpacu untuk meraih yang lain. Selama perenungan beberapa hari ini akhirnya saya mulai banyak belajar tentang arti kehidupan dan apa yang yang saya cari *mario te**h sekali ya bahasanya* maafkan. Saya mau nanya yang kalian cari dikehidupan dari kehidupan ini apa? Sedikit saya menemukan jawabannya, selama ini saya terlalu jauh dalam memandang dunia, selalu dan selalu banyak memberikan waktu kepada dunia, saya lupa hakekatnya hidup semestinya.
                Dunia itu fana, tapi akhirat yang kekal. Bukannya saya sok religius atau apa, tapi selama beberapa hari ini saya merenungi hal ini saya mendapatkan banyak sekali pencerahan, Selama ini
  1. Sholat saya jarang tepat waktu. Di agama saya, sholat adalah hal paling utama, jika guru saya bilang sholat adalah pondasinya, dan yang pertama dihisab dialam baka. Tapii, seringnya saya terlalu khilaf dan lalai, lebih mementingkan ontime rapat dibanding ontime sholat, lebih memintingkan sholat tergesa-gesa dibanding kuliah telat, dan masih sering nunda karena hal spele lain. Saya punya cerita tersendiri dengan ibadah saya yang ini akhir-akhir ini juga, dan yang menyadarkan saya, jadi saya punya kecenderungan nelat sholat, pokoknya ada aja syetan yg ngangu saya dalam sholat. Pas akhir-akhir ini saya sering ketemu temen-temen yg agamanya 100% lebih baik dari saya gitu, jadi seringnya saya curhat masalah saya, nah dia menyarankan untuk sholat tepat waktu. Saya yang emang dri dulu sering nyoba tapi lebih ke keinginan saya, jadi saya sholat tepat waktu karena saya inginkan sesuatu #janganditiru. Bedanya di episode saya kemaren itu, saya tidak memiliki keinginan dan ambisi yang harus banget saya dapat, dan saya malah dapat banyak sekali rizki yang jalannya saya dapat dengan mudah, dan gampang aja gitu ngejalaninya, mulai dari kebinggungan masa depan yang berangsur-angsur ada jalan. Saya kan juga jobseeker, baru 10 hari yang lalu saya kirim CV, tapi setelah itu saya sudah disuruh tes lalu interview. Dan kalian tahu? beberapa hari ini saya sudah training setelah itu, padahal sama sekali tidak ada dalam benak saya secepat itu berprosesnya saya mendapatkan tawaran training, dan lain kali akan saya curhatkann lebih dalam di episode berikutnya...
  2. saya jarang menyertakan Rab saya setiap harinya, misal nih pas mau brangkat kuliah, saya cuman punya tujuan nyari ilmu, padahal pendekatan lain ibadah itu bisa dengan aktivitas sehari-hari kita selama ini misal pas nyari ilmu niatnya buat ibadah, Kan Allah selalu beserta kita akhirnya.
  3. Dari hal-hal ambisius dan idealis yang saya miliki selama ini takaran untuk dunia lebih tinggi hingga akhirnya saya lupa daratan, apa sejatinya yang perlu saya perjuangkan lebih.
  4. Akhirat di Hati Dunia di tangan. Iya saya lupa lagi bahwa selama saya ingin mengengam dunia itu, saya lupa prioritas utama saya, akhirat, sehingga dua-duanya saya gak dapet.
  5. Sejatinya saya hidup untuk Rabb saya, dan yang sering saya pertanyakan pada diri saya sekarang adalah “emang yang kamu cari didunia ini apa aja sih tan, cuman sholat tepat waktu aja susah?”


Hemmmm.... Saya kira itu sedikit curhatan random, saya tentang prioritas, idealisme, dan kehidupan saya akhir-akhir ini.

Senin, 26 September 2016

Balada di Kampung Inggris Pare Part I

          

                                                           Source Gambar : Google
             Hello guys, long time no see. Berasa udah lama ngak mengenal peradaban padahal baru sebulan ninggalin. Selamat datang dan hampir selamat tinggal September, yang katanya september ceria :D. Well ini postingan setelah saya mendapatkan wifi dari suatu tempat, dan saya berkeinginan untuk posting meskipun dengan malas-malasan karena rasanya banyak sekali hal yang harus saya lakukan *sok sibuk*  Ini adalah perjalanan saya di kampung inggris pare yang jauh dimata, tapi selalu dekat dihati *nyanyi* *abaikan*. Oke ini juga salah satu hal yang antara saya mempercayai diri saya dan enggak dengan kondisi yang saya alami disana makanya judulnya *alay begitu*. Kampung Inggris Pare yang namanya udah booming banget sebagai kampung yang dikelola memang untuk kursusan bahasa inggris, jadi tidak diragukan jika akan menemui banyak sekali tempat kursusan di Pare, setahu saya ada lebih 100 kursusan mulai yang emang berkualitas sampai yang biasa-biasa saja ada. Dengan bekal pengetahuan seadanya dan testimoni dari seorang teman akhirnya setelah saya yudisium saya memutuskan ke Pare, dorongan utamanya tentu saya ingin fasih berbahasa inggris dengan menambah score toefl, dan skill speaking. Saya ke pare dengan teman dekat saya, saya tidak mempersiapkan banyak hal, hanya beberaapa ngak rempong-rempong banget karena saya pikir adaptasi akan mudah di sana karena dekat dengan daerah asal saya, jadi nggak perlu barang banyak. Koper ukuran 14 yang kecil banget itu juga muat untuk memasukan semua pakaian saya dan 6buku saya haahaha. 
          Perjalanan ke pare juga tidak susah-susah banget, meskipun saya harus berjuang dengan sangat, karena untuk pertama kalinya saya menaiki Bus yang sama sekali diluar expektasi saya, bus tersebut dari arah Yogyakarta-Surabaya, tapi ini pengalaman menaiki bus yang masya Allah bikin saya dzikir saking amazing pengalamannya, karena didalam bis saya ketar-ketir karena ngebut dan tempat duduknya yang lumayan sempit, belum saya di penyet sama mbak-mbak deket saya, dan apesnya mbaknya mabuk darat *huaaa*. Oke itu secuil pengalaman menaiki bus sampai di terminal Jombang, dari terminal Jombang saya menggunakan ojek ke pare yang memang jaraknya lumayan. Jreng-jreng sampai akhirnya saya di Camp saya Logico Camp karena saya ambil program TOEFL ITP CAMP-ELFAST jadi dapet tempatnya di Logico Camp untuk tempat tinggal. Diawal kedatangan saya ada sapaan sumringah dari mbak-mbak yang juga sudah berada di sana lebih dulu dari saya, dan saat itu yang saya inginkan hanya mandi, saya langsung ke kamar mandi, untuk kamar mandinya saya pikir tidak membutuhkan waktu yang lama untuk saya beradaptasi karena bersih. Setelah mandi dan beres-beres saya tidur. Mungkin itu pengalaman yang biasa saja dan iya saya pikir saya akan terbiasa dan mudah adaptasi dengan kesan awal yang biasa saja seperti tempat saya sebelum-sebelumnya. Tapi ternyata saya salah mendugaaa. Di Pare saya seperti memasuki fase keluar dari zona nyaman dengan sangat, adaptasi saya juga terbilang susah-susah gampang, dan gak sebiasa di awal cerita. 
          Saya memilih lembaga Elfast yang notabene jauh dari camp logico, sehingga saya harus menyewa sepeda untuk transportasi hariannya. Emm cukup menyenangkan dibenak saya. di Camp sendiri saya harus menggunakan bahasa inggris total 24 jam selama 7 hari, wahh menarik di anggan saya! Saya juga dituntut belajar dari jam 5pagi sampai jam 9 malam ah menarik bagi saya. Hingga pada suatu ketika semua hal-hal yang biasa, menyenangkan dan menarik dibenak saya berubah sebagai mala petaka rasanya. Saya akui untuk hal perjuangan adaptasi saya sering dengan kondisi-kondisi diatas tapi tidak dengan setengah hati saya menjalaninya. Pare jauh dengan rumah saya, pare panas sekali udaranya, Pare bukan tempat yang menyenangkan untuk orang yang manja masalah makan seperti saya, Pare juga bukan tempat yang menyenangkan untuk orang yang butuh wifi kenceng untuk melalukan kerjaannnya setiap hari, Pare terlalu jauh dari pusat kota, Disana juga saya tidak memiliki akses yang bebas untuk melalukan apa yang saya ingin lakukan seperti belajar dengan kondisi tempat belajar yang nyaman contohnya. Hingga akhirnya saya yang menikmati petualangan baru itu kesusahan sendiri, saya terkena diare beberapa hari, belum udaranya yang lumayan panas, lebih panas dibanding semua kota yang pernah saya datangi, saya juga merasakan petualangan merasakan kesusahan dengan semua hal itu. Ahh mungkin seperti saya manja sekali, nggak tahan banting gitu doang udah ngeluh, mungkin saya pernah merasakan hal yang menyiksa seperti ini tapi tidak dengan kondisi keterbatasan dengan apa-apa susah, mau nyari udara yang tidak panas saja susahnya masya Allah *fiuh* tapii dari semua cerita yang keluhan saya tentang pare itu saya mulai banyak belajar karena saya dodol sekali jika tidak bisa memetik pelajaran yang sudah membuat saya tahan banting tentu!!
1.     Pare bukan pelarian. Selama ini saya kepare dengan tujuan yang cukup sedikit salah, saya ingin mengisi waktu pencarian kerja saya tapi juga ingin melarikan diri dari Jogja, salahnya adalah ada variable pelarian disana jika saya pikir-pikir untuk apa saya belajar jauh-jauh ke pare jika saya di Jogja bisa fasilitas lebih terjamin? ya karena ada sedikit unsur pelarian, dan itu yang sebaiknya tidak dilakukan Pare bukan tempat pelarian, Pare adalah penghubung pasti dengan tujuan  (bahasa Inggris), bukan sekedar pelampiasan untuk kepenatan semata. Bukan hanya sebagai tempat singgah untuk relaksasi masalah. Jadi luruskan niat jika mau ke Pare, Pare tidak semudah dibayangan saya sebelumnya. Apalagi untuk melarikan diri dari masalah, bukan pare tempatnya karena akan menambah masalah hahaha. 
2.     Mungkin kampung inggris bukan satu-satunya tempat yang membuat saya nyaman untuk belajar bahasa inggris, tapi dari sana saya menemukan kecintaan saya di belajar bahasa inggris.
3.     Saya menemukan orang-orang yang mampu memberikan motivasi-motivasi untuk belajar lebih dibahasa inggris karena kita satu visi meningkatkan kemampuan bahasa inggris tanpa pekerjaan dan tugas dari luar selain bahasa inggris
4.     Fokus, pare mengajarkan saya untuk fokus pada satu tujuan apa yang ingin saya capai disana, fokus tanpa adanya penghalang lain. 
5.     Keluar dari zona nyaman. Ini yang sekiranya luar biasa saya terima disana, saya tidak memiliki zona nyaman saya sama sekali disana selain belajar tentunya tapi tempat belajarnya juga lumayan bikin ngak nyaman jadi gak ada zona nyaman disana. Tapi Pare mengajarkan saya untuk memperluas dan keluar zona nyaman itu. Dan untuk keluar zona ini saya masih harus belajar, tapi jika saya selalu berada di zona yang sekiranya nyaman-nyaman saja kapan saya berkembang?!!! 
6.     Petualangan baru. Pare mengajarkan saya bahwa saya memiliki skill bertahan di petualangan baru, yang saya pikir mudah hanya butuh adaptasi tapi tidak kita harus memiliki passion bukan hanya di tujuan tapi di tempatnya
7.     Sosialisasi. Disana saya sekamar 4 orang dan saya bisa berbagi semuanya, di benak saya ini yang bakal sedikit susah karena saya paling males untuk berbagi kamar, kamar adalah tempat penting untuk mengembalikan energi positif saya, ternyata tidak saya merasa bahagia dan lebih termotivasi, apalagi sesi sharing setiap hari yang sering kita lakukan. Sehingga tidak banyak yang harus saya adaptasikan memang. meskipun ya masih harus banyak belajar.
8.  Nikmati proses. Saya bertemu dengan banyak orang mulai dari yang bahasa inggrisnya sebelas duabelas dengan saya yang expert banget atau yang lainnya, tapi dari semua step yang saya jalanni disana saya hanya ingin menikmati prosesnya sebaik mungkin entah hasilnya bagaimanapun. Saya disana untuk belajar bukan mendapatkan score terbaik, meskipun tentunya saya memiliki sikap untu memiliki target tinggi untuk meraih nilai tinggi itu.
9.     Harus Bahagia.
10.  Fokus, Fokus, Fokus, Fokus, Fokus

Mungkin cukup sekian curhatan saya tentang kampung inggris pare, lain kali akan saya curhatkan lagi jika saya bertemu Wifi.





Selasa, 09 Agustus 2016

Setelah Lulus Kuliah


            Akan ada banyak sekali pertanyaan yang tentu meliputi kebahagiaan setelah dinyatakan lulus dari sebuah universitas, entah pertanyaan hanya sekedar nanya kepo ataupun introgasi. Dan pertanyaan itu tentu sering bersenandung dengan indahnya dibenak saya. Pertanyaan pada umumnya seperti setelah lulus mau ngapain ? kerja? Lanjut Kuliah? Nikah?. Akan ada 2 persimpangan yang pelik dihadapan saya sekarang lanjut atau bekerja?. Prioritas saya selama ini adalah melanjutkan pendidikan, belajar lebih dan menemukan yang saya cari. Namun, karena berbagai hal akhirnya saya memilih untuk bekerja, orang tua saya ataupun teman saya yang mendengar jawaban saya hanya bilang : Saya pikir kamu tertarik jadi akademisi. Sayaa diam dan binggung mau menjawab apa. Jujur saya memang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan tapi seperti yang saya bilang diatas ada banyak pertimbangan hingga akhirnya saya memilih bekerja pertimbangan itu dimulai dari
  • Saya ingin menerapkan ilmu saya dari jenjang pertama yang saya dapat, mungkin kedengarannya klise tapi ya itulah kenyataanya, saya ingin mempraktekan dilapangan ilmu yang sudah saya dapat dari universitas bergengsi di negri saya  
  • Keluar dari zona nyaman. Kalian tau apa zona ternyaman dalam hidup saya? Belajar dengan diberikan asupan tanpa mencari, seperti kuliah, dikelas mendengarkan dosen lalu belajar seadaanya di rumah, ujian dengan sistem indonesia banget lalu mendapatkan hasil memuaskan.Well, itu yang membuat saya ragu dan paling ragu, saya tidak mungkin terus-terusan untuk belajar dengan pradigma hanya mencari nilai dengan ilmu yang sekiranya itu tidak ada muaranya bagi saya. Itu mengapa saya ingin keluar dari zona nyaman saya dengan mencari kerja. Saya berkeinginan jika saya mendapatkan kerja nanti selain mengaplikasikan ilmu saya, saya juga bisa diberikan pembelajaran secara langsung dengan ilmu yang tidak dapat saya pelajari dari buku ataupun dosen.
  • Mencari tantangan baru. Saya anak pertama sebagai seorang anak pertama tentu ada banyak beban untuk lebih bermanfaat secara moril ataupun materil bagi keluarga, itu mengapa saya ingin mencari kerja, saya ingin merasakan segera menjadi seseorang yang mandiri dengan merasakan susahnya mencari uang.  Meskipun saya beberapa kali bekerja di beberapa tempat dan saat saya bekerja itu seperti saya beruntung sekali karena saya selalu mendapatkan nilai ataupun gaji yang tidak sebanding dengan pekerjaan saya selalu nilainya tinggi padahal pekerjaan saya juga biasa saja. Dan saya tahu itu hanya secuil pengalaman bekerja diluar saya belum merasakan menjadi seorang karyawan secara tetap. Itu mengapa saya seperti tertantang ingin mendapatkan kerja segera 
  • Menguasai bidang baru. Saya tahu mungkin saaat bekerja saya harus menguasai hal yang sebelumnya saya tidak kuasai tapi bukankah itu menyenangkan? Saya bisa mengembangkan hal baru meskipun jika melanjutkan pendidikan lanjutan saya juga dapat merasakan menguasai hal baru tapi konsep belajar di universitas saya dulu seperti saya tidak yakin dengan “menguasai hal baru”. Karena dulu saya menguasai yang hanya dasar saja tidak menyeluruh karena kita dituntut menguasai banyak sekali dasar dengan kompetensi sebatas ujian ataupun tugas ataupun laporan yang lebih menyita waktu jadi seperti belajar dipermukaan tanpa mengetahui dasar. 
  • Menemukan duniaku. Jika saya bekerja mungkin hanya sabtu minggu saya libur tapi saya ingin menyelami dunia yang “pernah” saya tinggalkan saat kuliah. Dulu saat saya kuliah banyak sekali yang bilang “pas masih kuliah digunakan kesempatan untuk jalan-jalan” tapi saya memilih setiap sabtu minggu untuk mengikuti kepanitiaan yang menguras waktu libur weekend, lebih tertarik mengikuti seminar ataupun pelatihan yang diberikan gratis dari kampus setiap weekend, atau malah pulang karena jarak rumah dekat. Dan karena hal-hal itu saya jarang menikmati Jogja secara menyeluruh padahal sering diajak maen sama teman. Hal itulah yang menyebabkan saya ingin menyelami dunia “traveling” nanti dengan menggunakan uang saya sendiri, meskipun travelingnya hanya ke gramedia terdekat wkwkkw. 
  • Hal baru. Jujur selama ini saya memang orang yang cenderung menyukai berbagai hal baru untuk dicoba, seperti “sok multitasking” padahal mah -___-. Saat saya bekeraja menurut saya tidak akan ada tugas ataupun laporan yang menguras tenaga dan waktu seperti kuliah setelah bekerja seharian dikantor jika saya melakukan dengan efektif dan efisien bekerja dikantor, dari situlah saya tertarik untuk mendaftarkan diri dibeberapa program kursus yang saya inginkan seperti design, ya Allah pengen banget jago design sekarang ini karena banyak hal, lalu belajar piano, heheh saya suka mendengarkan mozart dan pengen banget bisa mainkan tuts-tutz nada mozart. 
  • Puas menyelami diri saya. Setelah saya tahu kelebihan dan kekurangan saya dipekerjaan, setelah saya tahu apa yang harus saya kembangkan dan perjuangkan, apa yang harus saya kuasai lagi, setelah saya berkontribusi di tempat saya bekerja, softskill ataupun hardskill yang harus saya miliki setelah bekerja, saya ingin kembali menuntut ilmu diuniversitas. Saya orang yang selalu ingin diajar oleh profesor-profesor hebat, saya ingin belajar di perpustakaan sampai suntuk dan ngantuk, saya masih ingin mendengarkan seminar gratis dari kampus, saya masih ingin menikmati fasilutas kampus, saya ingin berteman dengan banyak orang dari segala disiplin ilmu, saya masih ingin bisa exchange keluar negri, saya masih ingin meraih juara pimnas yang tidak pernah saya dapat dikampus sekarang, saya ingin belajar lebih banyak menulis dan menikuti karya tulis ilmiah dan lain sebagainya. Itu mengapa saat semua hal diatas saya sudah dapat dan saya lebih tahu tentang diri saya, saya ingin kembali menuntut ilmu di universitas.
     Sekian curhatan dan pertimbangan saya yah meskipun gak jelass semoga mengandung pesan yang bermanfaat.......

                                                                                          Be Come Succesfull Person



Senin, 08 Agustus 2016

Download (E)book Pendongkrak Score TOEFL dan IELTS


Persiapan TOEFL  (mu) Dengan Buku Kece dibawah ini
(Buku Pendongkrak Score TOEFL dan IELTS)

             Well kali ini saya ingin berbagai file Ebook pendongkrak Score TOEFL dan IELTS  yang 100% berguna dan recomended banget untuk mendongkrak score Toefl dan IELTS temen-temen. Oke Lets See
Dibawah ini adalah 7 rekomendasi buku untuk TOEFL bisa langsung didownload....
1.      Cambridge TOEFL Download Disini

2.      Barron's How to prepare for the TOEFL iBT (11th ed.)_2 Download Disini

3.      kapland-toefl-ibt-2010-2011_1421246946 (1) Download Disini

4. How To Prepare TOEFL  Download Disini
5.  LONGMAN_2001_Complete.course.for.the.TOEFL.test_Preparation.for.the.computer.and.paper.tests  Download Disini

Untuk versi Cdnya saya memiliki beberapa namun tidak semua saya upload karena keterbatasan Dropbox
Sedangkan untuk IELTS saya ada beberapa 
Link Download Disini

Dan untuk buku yang lain saya berikan link-nya nanti menyusul dan segera semangat!!!!!


Rabu, 27 Juli 2016

Hanya Butuh Waktu 11 menit untuk Jatuh cinta dengan -Critical Eleven By Ika Natassa-


           
-Dalam Dunia Penerbangan dikenal istilah Critical Eleven-
Sebelas menit paling kritis di dalam pesawat-tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing- Karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
-Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya-
            Teh Ika Natasa memang selalu amazing untuk membuat orang gemes dengan jalan ceritanya, karena kemasan dari novel, hal yang menarik dinovel ini adalah  2 plot yang sanggup bikin penasaaran bikin tergiang-giang apa yang akan terjadi nanti, dan Teh Ika berhasil membuat saya orang yang cenderung melompat ke bagian ending dalam suatu novel tidak saya lakukan di novel ini, karena semua kunci tidak berada di ending tentu kepenasaran dan keinginan saya untuk mendalami semua cerita enjadi kunci kesuksesan novel yang membuat saya senyum bahagia setelah membaca novel ini. Teh Ika juga masih samaaa seperti di novel-novel sebelumnya, setiap kata yang di tulis pastikan akan selalu bermakna, quatable, tapi sama sekali ngak menye-menye. 
                                                    -Aldebaran Risjad Atau Ale-
Posisi Beno dari seri Divortier teh Ika keganti sama Ale dihati saya. Ale seorang Petroleum Engineer yang menghabiskan 5 minggu di Rigg, sebuah tempat pengeboran minyak lepas pantai, dan 5 minggu berikutnya di rumah, hal itu berlaku selama 1 tahun, 5 minggu di Rigg dan 5 Minggu selanjutnya di Rumah. Ale seorang anak pertama dari 5 bersaudara sekaligus anak kesayangan di keluarga Risjad. Entah kenapa dari seorang Beno di Divortier keganti ke Ale karena tentu penokohan dari Ale yang sama sekali tidak ada cacat bagi saya untuk seorang pria. Cowok kalem, cool, pengetahuan luas, tinggi, senyum manis, tenang, romantis dan tidak se-player Haris adik dari Ale. Dan karena pembawaan kebapak-an dan ke-yang lain dari Ale mengantikan Beno dari hati saya wkwkkw.
                                                                -Tanya Baskoro-
Seorang management consultan, Wanita karir yang merupakan anak tunggal dari keluarga besar Baskoro. Jika melihat Tanya, ingatan pertama saya pada Alexandra Wicaksono yang bermain di Divortier, seorang wanita karir, independent, cekatan, gesit, terawat, dan tentu cantik.
Yang paling saya sukai dicerita ini adalah saat Pertemuan pertama mereka di Pesawat ternyata membuat Ale ataupun Tanya,  saling penasaran. Tentu karena pembawaan mereka yang nge-clik saat mereka saling berbicara, dan first impression disini menjadi first love sigh juga. Cerita berlanjut satu bulan setelah kejadian mereka bertemu di pesawat Ale, mulai menghubungi Tanya dan mengajamakan di Ketoprak Ciragil

 -Kutipan-
"Hidup ini jangan dibiasakan menikmati yang instan-instan, Le, jangan mau gampangnya saja. Hal-hal terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu
"Marriage is a little bit like gambling, isn't it? Bahkan lebih berisiko daripada berjudi. Waktu kita duduk di depan meja poker atau blackjack atau dice, kita bisa memilih ingin mempertaruhkan seberapa banyak. Sedikit, sepertiga, setengah, atau semua, kemenangan yang bisa kita peroleh atau kekalahan yang harus kita tanggung semua tergantung dari seberapa besar risiko yang berani kita ambil. Tapi pernikahan tidak begitu. saat kita duduk di depan meja penghulu dan melaksanakan ijab kabul, semua kita "pertaruhkan". In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that"
          Kesan dramatis dalam pdkt sama sekali tidak ada di novel ini karena novel ini memang bukan novel teenlit yang lebih membuat penasaran di awal-awal cerita pdkt. Diawal cerita para pembaca digiring untuk menyelami permasalahan dianatara mereka berdua namun tidak diberitahu apa yang benar-benar terjadi. Hingga akhirnya setelah dipertengahan awal kita mengetahui masalah-masalah yang membuat seorang Tanya Baskoro membenci Ale Risjad yang nota bene masih menjadi suaminya, akting menjadi suami istri idaman juga
          Teh Ika sanggup mengaduk-ngaduk pikiran dan perasaan saya dengan novel ini, pembawaan Ale disini apalagi. Diatas saya menyebutkan saya menyukai sikap Ale, Ale adalah sesosok pria yang benar-benar Pria bagi saya di novel ini, tergambar jelas saat dia melalui semua masalanya dengan istrinya bagaiamana dia mau memperbaiki semuanya meskipun Tanya memerlukan waktu dan pemakluman yang sangat lama, dia juga orang yang mampu meeredamkan hatinya dengan perseruan dengan Ayahnya dulu karena tidak mau Ibunya terluka. Plot ale adalah plot yang serius bikin saya melelh dengan pembawaan Ale disini mhahahah.
          4.5 dari skala 5 untuk novel ini, kurang tebal! salah satu caption untuk mengambarkan ke ekecewaan saya terhadap novel ini, dengan dimensi antara Tanya dan Ale, 344 halaman bagi sayaa kurang. Hal pertama yang saya sukai dari novel ini adalah  penokohan yang di jelaskkan secara detail teh Ika. Teh ika biisa berperan ganda memainkan penokohan Ale ataupun Tanya tanpa cacat, dengan berbagai tempat unik yang selalu dapat teh Ika gambarkan secara detail dan menarik, ah itu yang selalu saya tunggu dari novel-novel teh ika selanjutnya, penulisan novel yang tidak monoton dan selalu bikin penasaraan.
                                   -Harapan dan Bayangan Critical Eleven untuk Film-
Yeaay salah satu hal yang di tunggu dari 2017 ini adalah Critical Eleven akan di film, dan menjadi salah satu list film yang harus ditonton. Harapannya di film ini, untuk pemainnya saya ingin request Adipati Dolken untuk Ale sedangkan untuk peran tanya saya pengen dengan Maudy Ayunda, 2 karakter jempolan yang menurut saya nge-clic untuk memainkan peran Ale seorang Petroleum Engineer, yang tegas, kebapak-an, tapi memiliki sisi lembut di balik, pembawaan kerasnya. Sedangkan Maudy Ayunda saya pilih karena pembawaan dia yang smart, asik di ajak bicara seperti Tanya, dan memiliki sikap independent tergambar dari dirinya. Untuk permasalahan sendiri saya ingin menambahkan bumbum masalah lebih ditajamkan lagi, bukan hanya konflik antar Tanya ataupun Ale yang di usung tapi di tambah dengan sedikit bumbu-bumbu adik Ale (Hari). Untuk gaya bahasa harapannya gaya bahasa Mbak Ika Natassa yang quateble, gak menye-menye, dan selalu memberikan makna semoga selalu di munculkan dalam filmnya nanti. Harapannya yang terakhir semoga cepat rilis Teaser untuk filmnya. Ketika di tanya bayangan tentang di film kan Critical Eleven yang pertama saya bayangkan adalah sikap Ale yang mampu mengalahkan Rangga di Ada Apa Dengan Cinta 1, yang di lebih cuek tapi berwibawa, tegas, cool, dan sikapnya yang kebapakan masih akan tercermin, bayangkan selanjutnya adalah keseruan dan keromantasian dalam film yang akan bikin baperr tingkat dewa dengan interaksi antara Tanya dan Ale, dan waktu 90 menit tidak akan cukup untuk melihat setiap scane di film, butuh waktu 11 menit untuk menyelami sedikit tentang novel ini bagus, butuh lebih dari 90 menit untuk menonton filmnya, dan butuh lebih dari beberapa tahun untuk move on dari sesosok Ale.

Popular Posts