Hy!! Untuk siapapun yang membaca ini semoga kamu bahagia dimanapun kamu berada!.
Ini sebuah cerita, tentang anak manusia yang sedang banyak pelajaran di setiap perjalananya.
Saya banyak bersyukur belakangan ini, saya tahu bukan karena saya terlalu banyak mendapatkan banyak hal yang menakjubkan lebih dari sekedar itu! banyak hal istimewa dan menakjubkan yang selama ini tidak saya sadari. Seperti kebahagian sederhana buat makan setiap harinya, mau makan tinggal beli tanpa saya harus mikir besok ada uang atau tidak. Tapi selama ini semua itu sering kali saya tidak syukuri, bagaimanapun itu salah satu previlege saya di dunia bukan?. Lebih dari semua itu, bisa kuliah di universitas bagus, bisa menentukan masa depan yang di inginkan tanpa terbebani dengan keinginan dan keharusan dar orang tua, bisa belajar nyaman tanpa banyak kendala itu juga banyak previlege yang saya dapatkan selama ini. Tapi taukah kalian, bahwa rasa syukur saya minim sekali, saya tidak banyak bersyukur dengan banyak kemudahan yang saya miliki, ada banyak rasa kurang setiap harinya. Selalu ada rasa "Cuman". Namanya juga manusia, dengan banyak hal yang dapatkan pun tidak serta merta kata syukur itu selalu terucap dan ter-yakini di hati saya, ada banyak rasa kurang.
Itu salah?!. Tentu saja! Saya tahu previlege setiap orang berbeda-beda, tapii, tidak semua orang memiliki previlege seperti kita sekarang ini, jika kita mau melihat sekitar, ada banyak orang yang susah payah hanya untuk mendapatkan rejeki, dengan banyak previlege yang kita miliki termasuk otak, tangan dan kaki yang rasa-rasanya mencari rejeki tanpa harus kepanasan bisa dengan mudah kita lakukan, tanpa harus berjalan jauh, hanya duduk dan mengerjakan tugas kita. Saya tahu, terlalu cemen sekali bagi saya jika rasa syukur saya bandingin dengan orang di bawah saya, tapi bukankah kita memang tidak hanya belajar melihat keatas? tapi selalu mau melihat kebawah, bahwa di titik ini Allah sudah terlalu baik dengan memberikan banyak hal, tapi yang kita sadari ada ronggo "Kufur" atau rasa kurang bersyukur itu hingga semua previlege yang kita miliki hanya sebuah anggan untuk orang lain, sedangkan kita seperti hal biasa saja tanpa makna dengan semua itu.
Padahal sejatinya Tuhan tak pernah salah memberikan kita di titik kita sekarang, Allah pernah bilang
"Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." Qs. Asy-Syura [42]: 27
Ditengah-tengah gempuran sosial media dan di fase udah dewasa dan menghadapi banyak tantangan di luar sana, satu hal yang selalu ingin saya jaga. TENTANG SYUKUR.
Allah sebaik-baiknya pemberi dan perencana, di fase ini dan titik ini, tidak ada yang salah jika masih ada rasa selalu ingin memperjuangkan, berusaha, berdoa dan tawakal.
Rejeki tidak harus berbentuk uang, rasa syukur, adalah sebuah rejeki juga bukan?
dan sebaik-baiknya rejeki adalah yang selalu mendekatkan kita dengan Allah, ;')) krn sejatinya rejeki kita sudah diatur sama Allah berbeda dengan akhirat kita. "Allah telah mengatur rejeki kita tapi tidak dengan akhirat kita"-Ust Adi Hidayat lalu?
Semoga sebaik-baiknya kita, adalah seorang khilafah yang sadar akan privelege yang kita miliki, dan mengupayakan banyak cara untuk memaksimalkan potensi dan previlege itu.