Minggu, 07 Juni 2026

Tentang Menjadi Berperan I

Salah satu “palu gada” pekerjaanku selain auditor (tupoksi utama) adalah jadi mbak-mbak admin pengaduan dan konsultasi. Bahkan beberapa teman kantor sudah merasa kasihan sama load pekerjaanku dan sering bilang, “Udah, lepas aja adminnya.” Tapi entah kenapa aku selalu meyakinkan atasan untuk tetap menjadikanku admin, bahkan di tengah banyaknya pekerjaan lain.

Buatku yang anaknya word of affirmation, peran ini justru jadi semacam escape di sela-sela mencari ketidaksesuaian saat audit atau verifikasi dokumen. Apalagi kalau dapat ucapan sederhana dari pelaku usaha, meskipun cuma “terima kasih”. Rasanya capek seharian langsung hilang karena merasa masih punya sedikit peran dan manfaat untuk orang lain.

Selama 5 tahun dan dari peran ini juga, aku banyak belajar tentang komunikasi yang berempati. Aku belajar bahwa komunikasi bukan sekadar mengeluarkan isi pikiran. Komunikasi yang baik adalah memastikan pesan diterima sesuai maksudnya, dengan mempertimbangkan konteks, timing, bahasa, dan kondisi lawan bicara. Karena ternyata, menjadi benar saja tidak cukup cara menyampaikan juga sangat penting.

Aku juga belajar untuk lebih sabar menghadapi pelaku usaha dengan berbagai gap kompetensinya. Ada yang pintar banget, cepat memahami semuanya. Tapi ada juga yang benar-benar masih kesulitan mengoperasikan Ms. Word, sementara seluruh pendaftaran sudah menggunakan OSS 🥹

Belajar tetap santun saat rasanya ingin tantrum. Belajar tetap profesional saat menghadapi berbagai tingkah pelaku usaha yang kadang bikin pengen “nampol online” rasanya 😭 Tapi tetap berusaha sesopan mungkin, tetap open minded, dan tidak merasa paling benar. Karena namanya manusia, semuanya masih sama-sama belajar dan punya salah.

Dari situ juga aku belajar bahwa kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan empati. Aku selalu tertarik dengan orang yang pengetahuannya luas, tapi ternyata tidak semua orang mampu menggunakan empatinya dengan baik, sebesar apa pun wawasannya.

Di dunia yang serba hiruk-pikuk ini, semoga kita bisa menjadi salah satu orang yang tidak hanya punya pikiran luas, tapi juga hati yang luas.

Jumat, 15 Mei 2026

30 Lesson in 30 Years Old

    Hello! Setelah berminggu-minggu ini draft belum ke publish akhirnya mari mempublish pelajaran hidup yg terpikirkan di minggu-minggu ini, akan di update setelah dapat pelajaran hidup yang lain! Semua pelajaran ini bukan di tulis berdasarkan prioritas, tapi yang terpikirkan dan dimaknai sejak bulan April lalu!

1. Kita akan selalu di Uji dengan apa yang Kita Cintai, Suka dan menjadi Tujuan Kita
Semakin dewasa ternyata aku semakin sadar bahwa sering kali  justru hal-hal yang paling kita cintai, paling kita kejar, atau paling kita anggap pentinglah yang menjadi area ujian terbesar dalam hidup kita. Kenapa? Karena di situlah keterikatan kita paling kuat. Saat kita sangat menginginkan sesuatu entah seseorang, karier, mimpi, atau tujuan hidup kita jadi lebih rentan pada takut kehilangan, kecewa, obsesif, atau merasa hancur ketika hasilnya tidak sesuai harapan.  Bukan hanya itu, saat kita belum lulus pada suatu ujian tersebut, kita akan selalu diuji pada hal-hal yang sama.
2Salah satu skill penting saat dewasa adalah kemampuan untuk bangkit dan melanjutkan hidup setelah momen buruk   
Seiring bertambah dewasa, aku belajar bahwa hidup akan selalu dipenuhi proses, usaha, perjuangan, harapan, dan hasil yang tidak selalu berjalan searah dengan apa yang telah kita upayakan. Dari situ, aku menyadari bahwa salah satu skill penting yang perlu diasah adalah kemampuan untuk tidak terlalu lama terjebak dalam momen buruk. Bukan berarti kita harus menekan rasa sedih, kecewa, atau marah, tetapi kita perlu memiliki batas yang sehat: kapan memberi ruang untuk berduka, menerima kegagalan, menangisi kehilangan, lalu perlahan kembali melangkah. Saat gagal dalam percintaan, seberat apa pun rasanya, kita perlu meyakinkan diri bahwa hidup tidak berhenti di satu orang atau satu cerita. Saat gagal dalam usaha atau tujuan yang sudah diperjuangkan, bukan berarti kita harus menghabiskan waktu berbulan-bulan tenggelam dalam penyesalan. Dewasa mengajarkan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana, namun hidup tetap harus bergerak. Maka, yang perlu dilatih bukan kemampuan untuk tidak terluka, melainkan kemampuan untuk pulih, menerima realita, mengambil pelajaran, dan mengalihkan energi pada hal-hal lain yang tetap layak diperjuangkan. Pada akhirnya, hidup bukan tentang menghindari kegagalan atau rasa sakit, tetapi tentang seberapa cepat kita mampu berdamai dan kembali berjalan 
3. Belajar Melepaskan Kemelakatan  
Tidak semua yang kita inginkan ditakdirkan untuk tinggal. Terlalu melekat pada orang, hasil, status, atau rencana justru membuat kita mudah menderita. Memiliki sesuatu itu baik, tapi jangan sampai identitas kita ikut bergantung padanya. Pada sebuah status, identitas, orang, hasil, usaha, dll.  
4. Hasil tidak selalu linear dengan usaha 
Semakin dewasa semakin sadar ternyata hasil memang tidak selalu sesuai dengan usaha, ada kalanya hasilnya eksponensial, kadang linier kadang stuck tidak bergerak tau malah ke arah minus. Usaha dan hasil tidak selalu punya hubungan yang sederhana. Kadang kita bekerja keras lama tanpa hasil terlihat, lalu hasil datang sekaligus. Kadang hasil datang cepat. Kadang tidak sesuai ekspektasi meski sudah optimal. Tugas kita ada pada usaha; hasil sering kali dipengaruhi banyak variabel di luar kendali. Dan aku mempercayai variabel terbaik adalah bukti kasih sayang Allah bagaimanapun hasilnya.
5. Be present 
Banyak kecemasan lahir dari hidup di masa depan, dan banyak penyesalan lahir dari hidup di masa lalu. Padahal hidup hanya benar-benar terjadi di saat ini. Hadir penuh di momen sekarang membuat kita lebih tenang, sadar, dan mampu menikmati hal-hal yang sering terlewat. 
6. Diri kita adalah akumulasi pilihan kita  
Hidup dibentuk bukan hanya oleh keadaan, tetapi oleh keputusan-keputusan kecil yang kita pilih setiap hari: apa yang dibaca, siapa yang ditemui, bagaimana merespons masalah, dan kebiasaan apa yang dipertahankan. Kita sedang membangun versi diri kita melalui pilihan. Kita sering merasa kecewa dengan diri kita, Karena akumulasi berbagai tindakan yang kita miliki, jadi sebelum bereda di titik itu sering-sering, mari memilih keputusan terbaik untuk diri kita. 
7. Kemenangan tidak selalu berbentuk hal besar 
Sering kali kita hanya mengakui pencapaian besar dan lupa bahwa kemenangan juga hadir dalam bentuk kecil: bangun tepat waktu, berani memulai lagi, menahan emosi, konsisten olahraga, atau memilih istirahat saat dibutuhkan. Hidup dibangun dari kemenangan-kemenangan kecil yang konsisten ataupun kemenangan kecil yang kita usahakan setiap saat.
8. Komunikasi bukan hanya pesan tersampaikan, tapi dipahami dengan benar 
Berbicara bukan sekadar mengeluarkan isi pikiran. Komunikasi yang baik memastikan pesan diterima sesuai maksud, mempertimbangkan konteks, timing, bahasa, dan kondisi lawan bicara. Benar saja tidak cukup cara menyampaikan juga penting. 
9. Kita semua punya banyak peran dalam hidup 
Kita bisa menjadi anak, teman, rekan kerja, pemimpin, pasangan, atau individu yang sedang bertumbuh sering kali dalam waktu bersamaan. Hidup yang baik bukan tentang unggul di satu area sambil mengabaikan lainnya, tetapi berusaha hadir dan bertanggung jawab pada setiap peran sebaik mungkin. 
10. Kita dibentuk oleh apa yang kita konsumsi 
Bukan hanya makanan, tetapi juga informasi, percakapan, tontonan, bacaan, dan lingkungan. Apa yang terus-menerus kita lihat, dengar, dan konsumsi akan membentuk cara berpikir, standar hidup, bahkan identitas kita. 
11. Boundaries itu bentuk self-respect 
Menjadi baik bukan berarti selalu tersedia, selalu mengiyakan, atau membiarkan orang melewati batas. Boundaries membantu kita menjaga energi, waktu, nilai, dan kesehatan mental. Orang lain mengajarkan kita cara memperlakukan diri berdasarkan batas yang kita tetapkan. Tidak peduli sehebat apa kamu dalam mengolah waktu hal pertama yang perlu diperhatikan juga tentang mengelola energi dan salah satunya punya batasan/Bounderies pada banyak hal. 
12. Belajar memaknai dan mencintai apa yang dimiliki 
Belalar buat memaknai kehidupan berarti belajar bahwa kita bisa memberikan makna setiap peran, cerita,  garis kehidupan yang kita  punyai, daÅ„ nyatanya setiap coretan memiliki makna, meskipun kadang kita masih berusaha untuk mencerna mengapa dan bagaimanannya. 
13. Menjadi baik adalah bentuk cinta pada diri sendiri dan Pencipta 
Dunia bisa keras, tidak adil, dan melelahkan, tetapi itu bukan alasan untuk ikut berubah menjadi orang yang pahit atau jahat. Menjadi baik adalah keputusan sadar untuk tetap menjaga nilai, integritas, dan kemanusiaan, bahkan ketika berada di lingkungan yang tidak selalu ideal. Aku percaya bahwa apa yang kita tanam pada akhirnya akan kita petik; mungkin balasannya tidak selalu datang langsung dari orang yang menerima kebaikan kita, tetapi energi baik itu akan menemukan jalannya untuk kembali. Karena itu, memilih menjadi baik sejatinya juga merupakan bentuk mencintai diri sendiri sekaligus menghormati Pencipta. Mencintai diri memberi kita penerimaan, penghormatan, serta kemampuan untuk merawat hidup dengan baik, namun cinta diri tanpa arah dapat dengan mudah bergeser menjadi ego. Di sisi lain, mencintai Pencipta membuat kita memiliki pusat, tujuan, serta tempat untuk kembali ketika hidup terasa tidak pasti. Maka, mencintai diri perlu dilakukan secara adil melalui pemahaman akan self-boundaries, self-worth, dan self-love, sehingga kita tahu kapan menjaga diri, menghargai diri, dan tetap bertumbuh. Pada akhirnya, keseimbangan antara mencintai diri dan mencintai Pencipta melahirkan dua hal penting dalam hidup: self-worth yang sehat dan surrender yang tulus. 
14. Penting punya kurikulum untuk diri sendiri 
Semakin dewasa ada banyak hal yang terjadi, selain kita harus beradaptasi dengan berbagai hal itu kita juga harus tetap agile dengan perubahan dan pertumbuhan yang terjadi. Pertumbuhan tidak bisa hanya diserahkan pada kebetulan. Kita perlu sadar: skill apa yang ingin dipelajari, kebiasaan apa yang dibangun, karakter apa yang diperbaiki, dan pengetahuan apa yang diperdalam. Diri kita juga perlu roadmap. Pentingnya sering mengaudit kehidupan, memonitoring dan mengevaluasi kehidupan. 
15. Membaca buku memberi efek domino 
Salah satu pelajaran dari 40 lessonnya bang Raditya Dika salah satu highlight yang aku suka adalah salah satu investasi terbaik adalah dengan baca buku. Karena sebelum buku itu terbit ada proses riset penulis bertahun-tahun atau berbulan-bulan untuk membuat bukunya dan kita bisa langsung membaca buku itu.  Satu buku yang tepat bisa mengubah cara berpikir, keputusan, kebiasaan, bahkan arah hidup. Pengetahuan tidak bekerja satu arah; ia menciptakan efek berantai dan memperluas perspektif secara eksponensial. 
16. Tidak semua kesempatan harus diambil, tapi tanggung jawab harus dijalankan 
Tidak semua hal yang available itu aligned. Kita tidak wajib mengejar semua peluang. Namun apa yang sudah menjadi komitmen dan tanggung jawab perlu diselesaikan dengan baik. 
17. Cukup dengan apa yang dimiliki dan warnai prosesnya 
Rasa cukup bukan berarti berhenti bertumbuh, tapi kemampuan untuk tetap merasa tenang tanpa harus selalu memiliki lebih. Kita tetap boleh punya ambisi dan tujuan, tapi tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang belum ada. Hidup terasa lebih ringan ketika kita bisa menghargai apa yang sudah dimiliki, sambil tetap berjalan menuju apa yang diinginkan.  Hidup bukan hanya soal mencapai tujuan, tapi bagaimana kita menjalani perjalanan menuju ke sana. Kita adalah penulis sekaligus ilustrator cerita hidup sendiri punya kuasa memberi makna pada proses. 
18. Hidup adalah marathon, bukan sprint 
Hidup itu maraton bukan sprint kita semua punya jalur dan kecepannya masing-masing. Tidak perlu melihat hasil ataupun kecepatan oran lain karena memang semua orang punya lintasannya sendiri-sendiri. Belajar dari lari maraton kita bakalan belajar juga tidak semua harus selesai sekarang. Hidup lebih tentang keberlanjutan daripada ledakan sesaat. Konsistensi kecil yang dilakukan lama sering mengalahkan semangat besar yang cepat habis. 
19. Allah selalu memberi yang terbaik 
Yang terbaik tidak selalu berarti yang paling kita inginkan. Kadang bentuk terbaik datang sebagai penundaan, penolakan, kehilangan, atau perubahan arah. Waktu sering membuat kita memahami mengapa sesuatu terjadi. 
20. Compound effect itu nyata 
Keputusan kecil yang diulang setiap hari akan menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang baik maupun buruk. Sedikit lebih baik setiap hari jauh lebih powerful daripada perubahan ekstrem yang tidak konsisten. Hal ini juga berlaku untuk setiap uang yang kita tabung dan kita belanjakan. 
21. Waspada sunk cost fallacy 
Hanya karena sudah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, atau emosi, bukan berarti kita harus terus bertahan di sesuatu yang sudah tidak sehat atau tidak relevan. Masa lalu bukan alasan untuk mengorbankan masa depan. 
22. Nilai diri ditentukan dari diri sendiri 
Validasi eksternal itu berubah-ubah. Jika nilai diri bergantung pada pencapaian, pasangan, pekerjaan, atau pengakuan orang lain, kita akan mudah goyah. Self-worth perlu berakar dari dalam. 
23. Coping Mecanism dan Hobi di Usia Dewasa 
Punya hobi itu penting saat dewasa. Semakin bertambah usia, hidup akan semakin mudah dipenuhi tanggung jawab, tuntutan, dan berbagai tekanan yang kadang datang bersamaan. Di tengah rutinitas yang repetitif, hobi memberi kita ruang untuk bermain, berekspresi, beristirahat secara mental, dan mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang produktivitas, target, atau pencapaian. Hobi juga dapat menjadi coping mechanism yang sehat untuk menghadapi stres, karena membantu pikiran memiliki saluran untuk melepaskan emosi dan mengisi ulang energi. Tidak harus sesuatu yang besar atau mahal, justru hal-hal kecil yang sederhana sering kali paling berkelanjutan dan bermanfaat saat dewasa, seperti membaca beberapa halaman buku, berolahraga, berjalan kaki, journaling, mendengarkan musik, memasak, merawat tanaman, merapikan kamar, menggambar, atau sekadar menikmati kopi tanpa distraksi. Kebiasaan kecil seperti ini membantu kita memiliki anchor di tengah hidup yang sibuk dan tidak selalu stabil. Saat dewasa, kemampuan untuk menenangkan diri, mengelola stres, dan kembali terhubung dengan diri sendiri adalah skill yang sama pentingnya dengan bekerja keras. Karena pada akhirnya, hidup yang sehat bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kita capai, tetapi juga seberapa baik kita bisa menjaga diri di tengah segala tekanan. 
24. Traveling : Semakin jauh pergi, semakin kenal diri sendiri 
Keluar dari zona nyaman, lingkungan familiar, atau rutinitas memaksa kita melihat diri tanpa distraksi. Perjalanan sering kali bukan hanya tentang tempat baru, tapi versi diri yang baru. Traveling juga bukan hanya tentang menemukan hal lebih jauh dari yg kita pikir kan tapi seberapa dalam kita kenal dengan diri kita.  
25. Ambil keputusan berdasarkan nilai dan prinsip 
Tidak semua pilihan diukur dari untung-rugi jangka pendek. Pilihan yang baik adalah yang selaras dengan value, prinsip hidup, kebermanfaatan, serta minim mudharat untuk diri dan sekitar. 
26. Lampu Sorot : Kita Tidak Sepenting itu Untuk Oran Lain
Kita tidak sepenting itu untuk orang lain, jadi berhentilah hidup seolah seluruh dunia sedang memperhatikan setiap langkahmu. Kesalahan kecil yang membuatmu malu berhari-hari, keputusan yang kamu takut akan dihakimi, atau momen canggung yang terus kamu putar ulang di kepala sering kali hanya besar di pikiranmu sendiri. Orang lain pun sibuk dengan hidup, masalah, ketakutan, dan lampu sorot versi mereka masing-masing. Terlalu sering kita menunda banyak hal hanya karena takut dilihat gagal, takut terlihat tidak cukup baik, takut dinilai aneh, atau takut mengecewakan ekspektasi yang bahkan mungkin tidak pernah benar-benar ada. Padahal hidup yang terus dikendalikan oleh ketakutan akan penilaian orang lain hanya membuat kita kehilangan kesempatan untuk benar-benar hidup. Bukan berarti pendapat orang lain tidak penting sama sekali, tetapi tidak semua suara layak dijadikan kompas. Ada saatnya kita perlu menerima bahwa kita hanyalah bagian kecil dari dunia yang besar. Dan justru di sanalah letak kebebasannya. Saat menyadari bahwa tidak semua orang memikirkanmu, kamu jadi lebih berani mengambil keputusan, mencoba hal baru, memulai dari nol, gagal, belajar, lalu bangkit lagi tanpa terlalu banyak drama di kepala. Dunia tidak berhenti hanya karena kamu membuat satu kesalahan. Orang-orang tidak akan mengingat semua detail tentangmu seperti kamu mengingat dirimu sendiri. Maka lepaskan beban untuk selalu tampil sempurna. Hiduplah sedikit lebih ringan. Pakai baju yang kamu suka, ambil peluang yang kamu mau, mulai hal yang sudah lama kamu tunda, katakan pendapatmu, dan jalani hidup sesuai nilai yang kamu percaya. Karena pada akhirnya, kita tidak sepenting itu untuk orang lain dan itu bukan hal yang menyedihkan, melainkan melegakan.
27. Perbandingan terbaik adalah dengan versi diri masa lalu 
Membandingkan diri dengan orang lain sering tidak adil karena variabel hidup berbeda. Ukuran progres yang lebih sehat adalah: apakah hari ini kita lebih baik, lebih bijak, atau lebih kuat dari sebelumnya. 
28. Educated is Weapon
Salah satu warisan terbaik dari orang tuaku adalah pendidikan yang aku miliki. Pendidikan bukan hanya gelar formal, tapi cara memperluas peluang, meningkatkan kualitas berpikir, dan membuka cara pandang baru. Pengetahuan memberi kebebasan memilih hidup dengan lebih sadar.
29. Jangan pernah merubah “warna” hanya untuk orang lain 
Menyesuaikan diri itu perlu, tapi kehilangan jati diri itu mahal. Tidak semua tempat akan cocok dengan kita, dan tidak semua orang akan menyukai kita—itu wajar. Kita boleh berkembang, memperbaiki diri, dan belajar menjadi lebih baik, tapi bukan berarti harus mengubah esensi diri hanya demi diterima. Orang yang tepat tidak akan meminta kita menjadi versi yang bukan diri kita. 
30. Hidup harus selalu bergerak

Hidup tidak berhenti hanya karena kita sedang sedih, gagal, bingung, atau kehilangan arah. Akan selalu ada hari berikutnya yang datang. Maka ketika keadaan terasa berat, tugas kita bukan selalu langsung hebat, tapi tetap bergerak meski pelan. Kadang satu langkah kecil jauh lebih penting daripada menunggu motivasi besar.


Sekian pelajaran hidup yang terpikirkan! Semoga ada sedikit manfaat, apakah sudah diimplementasikan langsung oleh penulisnya, tentu saja belum sepenuhnya, tapi semoga bukan hanya ditulis tapi juga bisa benar-benar diterapkan di kehidupannya. Allahumma baarik….. 

Rabu, 01 April 2026

What Letting Go Actually Feels Like

       Setelah Ramadhan berlalu, harusnya blog ini berisi cerita tentang makna dan hikmah Ramadhan. Eh malah yapping nggak penting lagi kayak gini. Tapi karena lagi bener-bener buntu dan rasanya berat, yapping di sini jadi salah satu cara favorit buat meringankan perasaan.

Mungkin ini efek datang bulan dan berbagai drama kehidupan akhir-akhir ini. Kayaknya memang lagi butuh ruang buat “ngomong” selain journaling. Bahkan lari dan meditasi pun akhir-akhir ini belum cukup membantu. Back to the topic.

Setelah cerita panjang tentang “What Love Taught Me in My Late 20s”, aku sempat berpikir bahwa tanggal 14–16 Februari 2026 adalah momen untuk benar-benar melepaskan semuanya. Menutup semua kenangan buruk soal percintaan di usia yang sudah mau masuk kepala tiga.

Tapi ternyata… tidak, saudara-saudara 😅
Bahkan teman-teman dekatku pun sepertinya sudah capek dengan drama yang berulang ini.


Semua ini bermula dari penugasan mendadak di akhir Ramadhan untuk Monev.

Awalnya kami sudah mendapat perusahaan sesuai risiko usaha, tapi setelah koordinasi ternyata tidak bisa dilakukan karena tidak ada proses produksi. Padahal saat itu aku sudah di Jogja, niatnya WFA cantik di perpus 🥲. Beberapa perusahaan lain juga tidak bisa dilakukan Monev karena masih suasana halal bihalal. Sampai akhirnya…  aku dapat penugasan ke perusahaan lain, dan itu perusahaan tempatnya bekerja.

Jediaarr.

Aku sempat ingin menolak, dengan alasan menghindari conflict of interest karena kami pernah saling kenal. Tapi setelah dipikir lagi, aku juga sering berinteraksi dengan banyak pelaku usaha lain. Jadi alasan itu terasa kurang kuat. Apalagi beliau juga tidak menangani langsung di store tersebut jadi pikirku, tidak akan berpengaruh dalam proses monev ini.

Akhirnya aku tetap lanjut.

Dengan tenang aku mencoba menghubungi PIC store sebut saja perusahaan A. Tapi ternyata PIC-nya sudah pensiun. Dan pada akhirnya… aku harus menghubungi dia lagi.

Di situ rasanya campur aduk.
Bingung, tapi juga… ada sedikit rasa senang. Dan di sinilah aku sadar, logika dan perasaan memang sering tidak sinkron. Kami mulai berkomunikasi lagi. Intens. Apakah ada progress? Tentu saja tidak.

Kalau dipikir-pikir, selama ini aku selalu jadi pihak yang berusaha:
aku yang follow up, aku yang cari topik, aku yang menjaga komunikasi tetap hidup. Dan setelah itu… aku juga yang menyalahkan diri sendiri.

Bukan hanya itu, aku bahkan pernah menangis karena hal kecil. Sebenarnya hal ini sudah berulang dia lakukan, dan selama ini masih berusaha menolerierir. Tapi hari itu, saat hormonku lagi kacau karena PMS, aku jadi blabbering ke dia.

Sederhana: dia tidak memanggil namaku. Aku tahu ini terdengar sepele, tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa menerima kalau ada orang mengirim pesan tanpa sapaan terlebih dahulu. Setidaknya panggil nama, “Tan”, atau sekadar “hi” bukan langsung ke tujuan chat. Menurutku, sesederhana itu adalah bentuk menghargai lawan bicara. Sama seperti ketika kita bicara langsung....

Aku merasa lebih dihargai kalau dipanggil atau disapa dulu. Dihargai sebagai temannya, atau bahkan sebagai koleganya pun, bukankah tetap perlu menyapa sebelum menyampaikan maksud?

Dan ini bukan hal baru. Sejak hari dia datang ke kantor, sejak saat itu dia tidak pernah memanggil namaku lagi. Aku sempat berpikir, mungkin setelah bertemu langsung dia sedang memberikan batasan entah apa alasannya dan itu masih bisa aku tolerir.

Tapi lama-lama aku merasa jengah. Karena kalaupun itu bentuk batasan, seharusnya tetap ada rasa menghargai, kan? Setidaknya sebagai teman, atau kolega, dengan cara komunikasi yang sewajarnya bukan malah terasa seperti menarik diri 🙂


Sampai akhirnya, momen tanggal 17 Maret 2026 itu terasa seperti jawaban.

Saat itikaf tgl 16, aku berdoa:
"Ya Allah, Intan tahu takdir-Mu selalu indah. Besok, 17 Maret, Intan mau dikasih kabar terbaik dari semua ini."

Dan memang… ada “jalan” yang terbuka.

Tapi ternyata bukan jalan untuk bersama.
Melainkan jalan untuk benar-benar melepaskan. Sedih? Iya.

Aku tetap menangis.
Aku tetap butuh waktu untuk menerima semuanya.
Karena jujur… ini masih sulit dicerna, baik oleh hati maupun logika.

Mungkin diperjalanan itu aku mendapati diriku yang sudah mulai kehabisan energi dan capek untuk berusaha juga, akhirnya bener-bener tidak berusaha lebih kembali, rasa-rasanya komunikasi terakhir itu, aku sudah berusaha lebih dewasa untuk benar-benar mau melepaskan semuanya, meskipun tentu saja belum sepenuhnya berhasil. kalo kata temenku masih ada energi chasing tapi setidaknya sudah tidak ada energi cegil seperti biasanya. Jadi mari mengusahakan untuk lebih mencintai diri sendiri itu sebaik mungkin dan melepaskan yang memang tidak pernah memilih dan mengusahakan Intan :).

Sabtu, 21 Februari 2026

Refleksi 2025 Part I

Aku pernah belajar mencintai dan menggenggam semuanya dengan begitu erat. Lalu perlahan, satu per satu, semua itu menghilang.

Sepertinya, sejatinya 2025 adalah tentang belajar melepaskan banyak kemelekatan: kemelekatan pada benda, pada seseorang, pada hal-hal yang berharga, bahkan pada semua yang pernah aku miliki.

Perihal kesehatan.

Alhamdulillah, tahun ini kesehatanku jauh lebih baik. Jika di akhir 2024 aku beberapa kali harus bolak-balik ke klinik karena sakit, di 2025 aku tidak lagi sampai harus sesering itu berobat.

Aku juga mulai banyak memasak, rajin olahraga, dan entah sejak kapan jadi sering membawa bekal yang lucu-lucu dan enak. Ternyata aku bisa menjadi manusia yang sangat menikmati memasak sebagai bentuk stress release. Dari yang awalnya hanya keinginan, berubah menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bahkan sampai pada tahap terasa seperti kebutuhan. Dari sana, aku menemukan bentuk self-love yang baru: merawat diri lewat masakan yang kubuat sendiri. Selain itu aku juga lebih sering nongkrong di tempat gym, buat olahraga entah hanya ikutan kelas yoga, lari di treadmil, dll. Seperti di tahun 2024 aku masih mencintai lari marathon meskipun tahun 2025 tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya untuk ikutan race tapi tahun 2025, lari juga masih menjadi coping stressku. Selain itu coping stressku yang lain tentu saja dengan membaca buku dan traveling, ada lebih dari 8buku yang bisa aku selesaikan di tahun ini, meskipun kurang dari target setidaknya ini lebih banyak dibanding 2024. Traveling masih menjadi salah satu self healing - melepas burn out untukku. Kapan-kapan kita cerita panjang tentang berbagai pengalaman perjalanan ini yang tidak bisa hanya pada satu artikel

Selain kesehatan fisik, di akhir tahun aku juga mulai mengevaluasi kesehatan mentalku. Jujur, 2025 bukanlah tahunku. Tahun ini benar-benar mengguncang kehidupanku sebagai manusia dewasa dari banyak sisi. Sampai akhirnya aku bertekad mengikuti talent mapping dan psychological check-up.

Tidak semuanya baik-baik saja, tetapi ada banyak hal yang tetap perlu disyukuri. Dihasil talent maping ini aku masih sedikit shock dengan hasil IQ ku yg masih diatas average karena sejauh ini aku selalu pikir IQ ku rata-rata, apalagi setelah 5th kerja dengan rutinitas yang sama🥲 Selain itu ada banyak sisi psycology cek up yang aku merasa related blind spotku dari dulu.

Kabar baiknya, dari proses konsultasi itu aku akhirnya menemukan trigger dan akar masalah yang selama ini hanya bisa kuraba-raba. Dulu aku hanya menduga-duga, tidak pernah benar-benar yakin. Kini, semuanya terasa lebih jelas, bahkan sampai pada bagian tentang bagaimana melepaskannya. Meskipun aku belum bisa melepaskan semuanya

Aku masih perlu meramu semuanya. Ibarat memasak, aku baru saja diberikan resep dan bahan-bahannya belum sempat benar-benar mengolahnya dan menghidangkannya.

Akhir 2025 terasa sangat pelik. Aku merasa seperti jiwa yang kehilangan arah  menggenggam begitu banyak hal, tetapi nyatanya justru harus belajar mengikhlaskan semuanya.

Semua memang butuh proses, dan sekarang aku sedang berjalan di dalam proses itu.

Prihal Pekerjaan

Ini adalah salah satu “gong” terbesar tahun 2025. Bahkan menjadi alasan utama aku pergi ke psikolog.

Aku merasa kehidupanku di pekerjaan sudah tidak kondusif. Aku seperti dituntut untuk selalu terlihat baik-baik saja, padahal di dalamnya aku begitu rapuh.

Perpindahan dari peranku sebagai auditor yang mungkin akan membawaku ke peran baru ke depannya  terasa sangat mengguncang. Aku bahkan belum sanggup menyebutnya dengan lantang, karena aku masih sangat mencintai peranku sebagai auditor.

Rasanya seperti duniaku tiba-tiba menjadi gelap. Padahal semua ini bahkan belum sepenuhnya dijalani, tetapi kebingungan dan ketakutannya sudah terasa begitu besar. Aku juga belum tahu alasan aku diposisi ini, belum tau harus bagaimana, belum tau hikmah semua itu tentang apa. Aku masih di fase denial dan fase menerima semuanya dulu tanpa perlu menolak semuanya. 

Memasuki Januari 2026, aku mulai banyak mengerem diri. Aku pelan-pelan melepaskan beberapa hal, sambil menata kembali apa saja yang benar-benar masih menjadi kepunyaanku.

Aku sedang belajar untuk tidak lagi menggenggam terlalu erat.

Belajar bahwa yang memang ditakdirkan untukku tidak akan pernah benar-benar pergi.

Dan yang pergi, mungkin memang tidak pernah ditakdirkan untuk tinggal.

Kita usahakan menulis banyak refleksi baik di bulan baik ini, meskipun mungkin tidak bisa langsung setiap hari satu refleksi, karena ternyata jadwal pelatihan-audit-pekerjaan minggu-minggu ini terlalu kejar-kejaran dengan deadline dan tugas, tapi meskipun begitu aku tetap mencintai pekerjaanku sebagai auditor🥹


Kamis, 19 Februari 2026

How To Self Love Part I

Day 2 — Satu Hari, Satu Cerita: Refleksi Ramadhan 🌙

Setelah fase patah hati kemarin, aku menyadari satu hal: ternyata yang paling sulit bukanlah kehilangan orang lain, tetapi belajar kembali pulang kepada diri sendiri. Sampai hari ini, aku masih bertanya dan belajar  bagaimana cara mengisi kembali “tangki cinta” di dalam diriku, agar setelah semua keraguan, aku tetap bisa memilih diriku sendiri, tanpa syarat.

Beberapa waktu terakhir, aku menemukan jawaban kecil, tapi terasa menenangkan: kembali ke dapur buat masak. Memasak menjadi ruang sunyi yang menenangkan. Di sana tidak ada tuntutan untuk menjadi kuat, tidak ada ekspektasi siapa pun  hanya ada aku, bahan-bahan sederhana, dan proses yang pelan.

Di awal Ramadhan ini, dengan sisa energi yang kumiliki, aku  kembali ke dapur.  Suprisingly! Hari ini aku bisa memasak tahu bakso dalam 30 menit, tumis jamur pakcoy, dan garang asem ayam yang enak meskipun tanpa diicip.

Bagiku, memasak bukan sekadar menyiapkan makanan. Ia seperti ritual merawat diri. Saat memotong, menumis, dan meracik rasa, aku belajar hadir sepenuhnya. Fokus pada apa yang ada di tanganku, bukan pada kekacauan di kepalaku. Memasak bukan hanya soal menyiapkan nutrisi terbaik, tapi juga cara  coping stress terhadap gedebag-gedebug dunia akhir-akhir ini. Saat memasak, aku bisa fokus pada bahan yang kuolah, pada apa yang sebenarnya aku butuhkan dan inginkan. Pelan-pelan, dari proses itu, aku bisa menyajikan “the best food on the table”  bukan cuma untuk tubuh, tapi juga untuk hatiku.

Pelan-pelan aku mengerti, mencintai diri sendiri tidak selalu berbentuk hal besar. Kadang, ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: memastikan diriku tetap ternutrisi dan tetap diperhatikan oleh diriku sendiri. Ini juga hal kecil tapi membahagiakan dan nanti yang akan selalu aku rawat : berbahagia dengan hal yang kecil dan sederhana

Hari ini aku tidak sedang berusaha menjadi luar biasa.

ttd

Yg selalu ingin belajar mencintai dirinya lebih baik. ✨




Rabu, 18 Februari 2026

Day I Refleksi Ramadhan : Reset-Refocus

Day I Refleksi Rahmadhan : Reset-Refocus-Recharger. Momen terbaik untuk merest kehidupan bagiku adalah saat rahmadhan. Alhamdulillah tahun ini masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali menemui rahmadhan. Untuk banyak prihal yang akupun ragu kalo bukan karena Allah gak tau akan kuat atau tidak untuk menjalani semua ujian di tahun ini, tapi diberikan Allah ketemu lagi dengan rahmadhan rasanya bahagia sekali. Momentum sebulan setiap tahun untuk recharger iman. Seperti rahmadhan tahun ini rasanya cuman pengen kembali ke Allah, setelah banyak peristiwa yang rasa-rasanya sudah sejauh itu dengan Allah, tapi aku selalu ingat dengan salah satu hadist ini

Nabi SAW meriwayatkan dari Rabb-nya (hadis qudsi) bahwa Dia telah berfirman, ”Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari)

Bahkan ketika kita banyak dosa sering melakukan kesalahan gitu, Allah masih tetap mau berlari saat kita mau berjalan mendekat kepadaNya🥹

Mungkin sama dengan rahmadhan-rahmadhan tahun-tahun sebelumnya yang akan ada banyak rencana dan target ibadah,  kita coba usahakan untuk beribadah sebaik mungkin itu, mencoba untuk membuat plan sebaik mungkin “If You Fail To Plan you are planning to fail”. Mengusahakan dan merencanakan rahmadhan ini akan menjadi rahmadhan terbaik untuk Intan

Untuk Intan di akhir Ramadhan 1447 H : 

Terima kasih sudah bertahan, sudah berusaha hadir, dan sudah memilih untuk kembali pulang, lagi dan lagi  kepada Allah SWT, di setiap sujud yang mungkin tidak selalu sempurna, di setiap doa yang kadang masih berantakan, dan di setiap niat baik yang pelan-pelan kamu rawat.

Semoga di Ramadhan ini bukan sekadar banyaknya ibadah yang tercapai, tetapi kualitas terbaiknya yang tumbuh di dalam hati. Ibadah yang membuatmu lebih lembut, lebih tenang, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah. Ibadah yang tidak hanya terasa di sajadah, tapi juga terlihat dalam caramu memandang hidup, memandang orang lain, dan memandang dirimu sendiri.

Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadi ruang reset untukmu membersihkan luka lama, melepaskan beban yang tidak perlu kamu bawa, dan menenangkan pikiran yang terlalu sering bekerja keras. Semoga kamu belajar bahwa kamu tidak harus selalu kuat sendirian, karena ada tempat pulang paling aman yang selalu terbuka: kepada Allah.

Jika nanti setelah Ramadhan berakhir kamu kembali merasa lelah, ingatlah versi dirimu di bulan ini  yang bangun lebih awal, yang menahan diri, yang belajar ikhlas, yang percaya bahwa setiap usaha kecil tidak pernah sia-sia.

Intan, kamu tidak harus menjadi sempurna. Kamu hanya perlu terus kembali. Dan Semoga tahun ini merupakan salah satu rahmadhan terbaikmu🥹

Dan semoga setelah Ramadhan ini, kamu tidak hanya menjadi pribadi yang lebih taat, tapi juga lebih damai.

Tertanda

Dengan penuh sayang dan harap, Diriku yang sedang belajar pulang.


Popular Posts