Selasa, 16 Mei 2017

Solo Traveller ke Bandung-Jakarta-Bogor dan Filosofi perjalanan Edisi I

-Saya suka menikmati hal baru, mengunjungi tempat baru, menghirup aroma baru,  melakukan hal yang berbeda setiap saya mulai merasakan bosan, atau mendengarkan sebuah playlist baru setiap hari, yeah!! Itu mood terbaik saya!. Waktu itu Tuhan  punya cerita seru untuk saya, di berikan kesempatan menikmati udara di kota baru,  baru pertama kalinya saya mengunjunginya, baru mencoba travelling seorang diri tanpa ditemani kerabat ataupun teman terdekat, baru perjalanan terjauh dengan modal minim backpacker budget. Tapppii Tuhan menghadirkan berbagai rasa baru yang seru, unik dan menarik, ah baru-baru ini saya ingin mengulangnya lagi!.
Hari itu hari kamis, setelah menyelesaikan pekerjaan kantor terakhir saya buru-buru ke stasiun dengan persiapan yang super-duper dadakan! Iyaa bukaan Intan Namanya jika ngakk dadakan! Pesen tiket inipun dengan dadakan pulaaa. Nyaris ngak dapet tiket murah sesuai kantong karena kejepit long weekend. Kereta berangkat pukul 18.15 saya berada 15 menit lebih awal distasiun. Kereta yang saya tumpangi adalah kereta ekonomi tak khayal kita harus berhadap-hadapan tempat duduknya, ada 4 tempat duduk di kerata dekat saya, dan naasnya saya barengan dengan para cowok-cowok strong didekat saya. Yahh tapi ini perjalanan yang baru juga buat saya, baru pertama kalinya saya seorang diri perempuan sendiri yang diapit para pria yang belom pernah saya kenal.
Dari dulu, kereta api adalah salah satu moda transportasi favorite saya, menggunakan kereta selalu memberikan kenyamaanan entah mengapa. Selama di kereta saya seperti menikmati waktu me time yang lebih intim dengan diri saya, how filosofis am? Hahahha. But trust me I always already to do filosofis journey in Bandung. Meskipun dengan perisapan yang dadakan perjalanan ini adalah perjalanan dengan berbagai tujuan yang saya impikan. Ada berbagai alasan absurd yang mengiringi perjalanan sendiri saya tanpa siapa-siapa di 3 kota yang akan datangi, ada berbagai filosofis yang saya gunakan diperjalanan ini, dan ada alasan saya merinduhkan “freedom choice”. Ah jika membahas ini tak akan ada ujungnya bagi saya.
Sepanjang perjalanan hanya beberapa kali saya mengobrol tidak banyak dengan beberapa orang di samping saya ditemani satu buku agenda kecil tentang rangkaian plan saya selanjutnya,  cuaca malam dengan gerimisnya lebih menawarkan rasa kantuk, tapi saya masih mencoba membaca salah satu novel dan menikmati lagu kesukaan saya di spotify karena belom begitu larut bagi saya saat itu, baru pukul 9 malam, beberapa waktu berlalu ditemani dengan bantal pinjeman dari KAI akhirnya saya terlelap juga. Pukul 1 malam saya dibangunkan bapak disamping saya untuk pindah posisi karena orang di depan saya sudah sampai ditujuan mereka masing-masing. Saya menselonjorkan kaki saya, ahh ini rasanyaaa nikmatt tak terkiraa bagi saya saat itu. Pukul 03.00 kereta sampai di Stasiun Terakhir keberangkatan, stasiun Kiara Condong. Dengan mata berbinar-nbinar saya sampai di stasiun pertama #expedisiGadisIntan. Stasiun Kiara Condong. Saya memberanikan diri memasuki wilayah utama di stasiun Kiara condong yang mengingatkan saya dengan kisah absurd backpackeran bersama kedua kawan saya 2 tahun silam Jogja-Surabaya-Malang mungkin lain kali saya akan ceritakan lagi. Saya langsung ke mushola untuk rebahan, tapi tidak dapat tidur T.T mungkin karena posisi yang kurang nyaman ataupun pikiran-pikiran absurd saya yang lain.



      Pukul 4 saat subuh tiba saya kekamar mandi, untuk mandi dan beres-beres dan setelah selesaai semua-muanyaa saya balik kemushola lagi karena nunggu motor yang akan diantar jam 8, masih lamaaa, akhirnya saya memutuskan untuk jalan sekeliling stasiun Kircon, deket kircon ada pasar tapi saya tidak tertarik memasuki pasar karena takutnya bakal kelamaan dan akang yang nganterin motor udah nungguin, jadinya saya sarapan dideket Kircon. Ada berbagai jajanan ataupun sarapan khas yang di tawarkan deket Kircon, dan saya memilih Tahu kupat khas Sumedang. Rasaanya lumayaan, tapii tahu kupatnya beda dengan tahu kupat daerah saya di Sragen, Magelang dan beberapa wilayah Jogja *karena gak semua* yang menggunakan sambal kecap asem bukan sambal kacang, so faar lumayan penganjal peruut yang murah 8k dengan teeh hangat tawar karena sama sekali tanpa gula, *jika diJabar setau saya harus bilang teh manis jika ingin dibuatkan teh manis, bukan teh tawar* Setelah menyantap penganjal perut di pagi ini saya ke staisun kircon kembali untuk bertemu dengan akang pengantar motor.
Saya menyewa motor di hari pertama di bandung karena tujuan hari pertama saya di Lembang yang notabene akan sedikit kesusahan jika saya menggunakan transport umum, meskipun diawal saya berfikir ingin menggunakan transport umum tapi setelah nanya-nanya sama temen-temen yang ada di Bandung akhirnya saya menggunakan motor yang saya pikir lebih effective. Saya menyewa motor di saverental, 24 jam dengan biaya 85k, motor beat, tapi jika yang injection beda 5k menjadi 90k, akan ada kurir yang mengantar motor tanpa kita mengambilnya, dan so worth it rental bagi saya.
Ohiya saya punya cerita lucu difoto ini saat berfoto di Gedung Sate, tunggu kelanjutannya yaa!!

Oke ini pembukaan untuk solo traveler edisi 1 di Bandungnya ya, tunggu cerita tentang Lembang dan Bandung Kota serta 3 kota lainnya : Bogor, Depok, Jakarta ! See Ya! 

Kamis, 04 Mei 2017

Bukan Hanya Menjadi Perempuan (Biasa) di Indonesia




Saya hidup di Indonesia, dimana berbagai stigma tentang perempuan melekat tajam disini. Stigma-stigma yang seakan-akan mengucilkan dan membatasi ruang perempuan untuk mengekspresikan dirinya agar dapat berkarir. Persimpangan dan batasan-batasan yang dibuat di masyarakat pada umumnya, membuat kebanyakan  dipertimbangkan perempuan di Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan keinginan lingkungan. Menjadi seorang perempuan diera globalisasi dan digital sekarang ini, menjadikan perempuan memilki banyak pilihan untuk menentukan kehidupannya, bukan hanya dengan mengikuti arus ataupun menyesuaikan diri dengan masyarakat pada umumnya namun sayangnya tak banyak dari kita memilki pilihan untuk kebebasan itu. Saya seorang perempuan dengan lingkungan yang memiliki minat rendah terhadap sebuah pendidikan, beruntungnya saya dibesarkan dikeluarga yang sadar akan pentingnya sebuah pendidikan. Pendidikan di lingkungan saya seperti sebuah mainan atau barang baru, yang hanya sekedar dan seadanya dalam mendapatkannya, tidak perlu di miliki dan digunakan. Lalu bagaimana dengan citra emansipasi dari Kartini selama ini? Pendidikan sudah didapatkan setiap perempuan di Indonesia, tapi belom sepenuh perempuan-perempuan itu sadar akan pentingnya sebuah pendidikan bagi saya. Selama ini jeruji penjara tentang batasan seorang perempuan masih melekat tajam di lingkungan saya

Tentang Stigma masyarakat Macak, Masak, Manak
"Macak, Masak, Manak" di lingkungan saya lebih kental untuk seorang perempuan di banding "Pendidikan Tinggi seorang perempuan untuk kehidupan diri sendiri dan lingkungan yang lebih baik". Salah satu hal yang seringnya bikin saya tertohok adalah menikah adalah tujuan dasar nan wajib dibanding sebuah pendidikan, ada yang salah? Tidak, tapi kurang tepat bagi saya. Dibalik keagungan seorang perempuan, perempuan banyak memiliki peran penting di kehidupannya bukan hanya Macak, maasak, manak. Bagaimana dengan kesetaran gender?. Bukankah Masak, bersih-bersih rumah, merawat anak bukan hanya tugas seorang Ibu rumah tangga? dan merupakan tugas bersama dengan suaminya? Yah ini tentang stigma, pandangan kesetaran gender tak ubahnya hanya sebuah teks bacaan tanpa implementasi di lingkungan kita sehari-hari, karena anggapan seorang pria yang memenuhi kebutuhannya dengan bekerja, lalu perempuan hanya diinisiasi sebagai tukang asuh gratis anak, koko rumah tangga, tukang bersih-bersih dan bla-bla tugas klise seorang perempuan, lalu apa kabar peran kesetaraan gender?

Pendidikan dan Karier seorang Wanita dan statusnya
Pernah mendengar Ira Koesno? Seorang moderator di debat pilkadi DKI 2017, yang namanya sering di sebut di media social hanya karena status single yang dimiliki. Padahal dibalik status beliau, beliau memiliki prestasi yang luar biasa namun prestasinya seperti  menghilang begitu saja saat tahu bahawa beliau masih lajang. Bukan hanya itu Mirisnya lagi banyak netizen yang berkomentar menjijikan sok tau mengapa beliau masih single, dan mengangap sebuah kecacatan. Kesel? Saya yang perempuan entah mengapa kesell dengan hal tersebut, mungkin selama ini Ira Koesno bukan role model dalam kehiduapan saya, tapi mengamati komentar-komentar pedas nan sok tau wal sok bijak tapi tak berkelas membuat saya berpikir ulang mengapa saya dilahirkan di Indonesia?.
Masyarakat pada umumnya mengangap seorang yang normal adalah mereka yang “Menikah-memiliki anak-memiliki keluarga kecil yang dirasa bahagia”. Lalu mereka perempuan yang berprestasi dan mengesampingkan hal-hal yang berkaitan dengan “kenormalan” Mungkin akan digunjing, dikomentarin, dan dihina sesuka hati mereka. Padahal perempuan-perempuan ini memiliki hak yang sama untuk menentukan arah kehidupannya, lalu siapa yang salah?. Apresiasi terhadap wanita yang cemerlang dikarir ataupun pendidikan juga tak sebanding lurus dengan apresiasi sebuah pernikahan seorang perempuan.
Jangan sekolah ketinggian, nanti lelaki pada takut mendekat" 
Pernah mendengar kalimat ini? Saya sering dengar, apalagi dari orang-orang diluar keluarga saya tapi masih dilingkup lingkungan saya, anggapan seorang wanita tak ubahnya hanya seorang juru koki, tukah berbersih rumah, dan perawat gratis seorang anak masih ada sampai sekarang dan anggapan pendidikan tak ubahnya sesuatu yang dirasa tidak penting karena pada nyatanya hanya akan kembali dirumah sebagai tukang-tukang diatas, tanpa pendidikanpun mereka mampu. Yakin?

Mandiri dan status lemah
Stigma lain dimasyarakat tentang seorang perempuan selalu dipandang seorang yang lemah, manja dan lucu. Lalu saat ada seorang wanita yang tangguh dan mandiri adalah hal yang menakutkan, dan dianggap perempuan ini adalah perempuan yang tidak butuh orang lain atau pendamping atau akan sulit mencari pasangan atau lainnya. Seperti sebuah meme ini. 

Mengangap sebuah kemandirian seorang perempuan adalah sebuah kesalahan dan mengangap perempuan mandiri tak ubahnya sebagai sebuah kegagalan perempuan?.

Selama ini Pemerintah kita telah menempatkan kaum perempuan sebagai partner bagi pembangunan. Isu gerakan dan pemberdayaan perempuan yang berkembang berkisar dalam suatu pemikiran bahwa perempuan sebagai sumber daya pembangunan, dengan kata lain politik gender telah memakai pendekatan Women In Development dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam derap pembangunan nasional. Konsep ini memberikan porsi kepada kaum perempuan untuk lebih eksis meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan menuju bangsa yang sejahtera dan penuh kedamaian (Anonim,2013). Jadi tidak ada batasan-batasan aktualisasi diri seorang perempuan, dan kesadaran tentang nilai tertinggi yang dimiliki seorang perempuan yang bukan hanya menjadi perempuan biasa saja dengan hal-hal ini
             
  Perempuan berhak Mengenyam pendidikan Tinggi
 “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901
 Bait surat yang ditulis Kartini untuk Prof Anton dan Nyonya, yang sekarang ini menjadi sebuah buku terkenal “Habis Gelap Terbitlah Terang” dari sana beliau ibu kartini menyampaikan bahwa seorang perempuan berhak mendapatkan pendidikan karena nantinya kami seorang perempuan adalah madrasah pertama dari anak-anak kami-
Selama ini persepsi pendidikan hanya di inisiasi sebagai sebuah hal yang dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, ataupun meningkatkan derajat kehidupan orang-orang yang berpendidikan padahal lebih dari itu semua, pendidikan penting karena dengan pendidikan bukan hanya mendapat sebuah pengetahuan lebih dari itu dengan pendidikan kita memiliki banyak cara pandang dalam melihat sebuah masalah, kaya akan jalan pikirnya, luas pengetahuannya, problem solving handal, dan tentunya tahu mana yang benar dan buruk bukan hanya mengandalkan feeling namun juga logika. Jika ada yang bilang “Buat apa sarjana ataupun master yang nantinya hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga?” saya yakini ibu rumah tangga ini bukan hanya sekedar seorang ibu, dia pasti tahu bagaiama menjadi seorang ibu rumah tangga yang ahli segala bidang yang harus di ketahui seorang ibu rumah tangga. Dan jangan salah ibu rumah tangga yang sarjana pasti tak akan menggunakan sebagian besar energinya hanya terbuang sia-sia untuk hal-hal negative.
·      
·         Seorang perempuan wajib untuk mandiri 
                Jika seorang perempuan itu lemah dan manja, bagaimana peran kita nanti untuk generasi kita     nanti perempuan tak ubahnya hanya akan selalu dianggap seorang yang tak berguna, atau seorang dibalik layar yang tak pantas menduduki deretan jajaran CEO, Presiden, Direktur, Manager ataupun yang lainnya. Seorang perempuan saya pikir harus memiliki cara pandang menjadi seorang yang mandiri karena perempuan ini memilki multi peran nantinya. Jika ia lemah dan manja, tak mau susah lagi, apa kabar tugas rumah, merawat suami dan seorang anak ataupun dipekerjaan dia yang lain. Tapi mandiiri disini bukan berarti perempuan tersebut harus selalu mengunguli seorang pria kapanpun itu, bagi saya seorang perempuan memiliki kesetaran dengan pria, tapi ada berbagai konteks kodrati dan hakekatnya seorang perempuan tak selalu mengunguli pria. Jika kamu sebagai perempuan lemah, bagaimana membendung stigma tentang berbagai hal dari perempuan dengan pembuktian yang kamu lakukan? Dan jangan pernah takut menjadi seorang perempuan mandiri karena takut dianggap lebih suprerior dibanding pria, karena laki-laki superior pastinya akan memilih perempuan superior juga.
·         Perempuan memilki peran yang sama untuk Indonesia yang lebih baik
Hubeis (1985) mengatakan, analisis alternatif peran perempuan dalam mendorong pembangunan dapat dilihat dari tiga aspek yakni (1) peran tradisi atau peran domestic yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Perempuan yang berhasil mengelola rumah tangga dengan baik akan menjadi inspirasi dan motivator bagi pelaku pembangunan, (2) peran transisi yang berkaitan dengan garapan lahan pertanian atau bekerja di usaha keluarga dan (3) peran kontemporer. Perempuan memiliki peran di luar rumah tangga atau disebut wanita karier. Peran-peran ini menunjukkan bahwa perempuan baik langsung maupun tidak langsung mempunyai kontribusi yang besar terhadap pembangunan bangsa. Dan Perempuan tak ubahnya seperti laki-laki yang memiliki peran ganda dalam kehidupannya, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, dan tentu perempuan memiliki pilihan yang sama untuk menentukan kehidupannya seperti seorang laki-laki, bukan hanya dipilihkan menjadi seorang ibu rumah tangga atau hanya wanita karir, ataupun perempuan sekedarnya, kita hidup di era digital dimana ada banyak pilihan yang dapat kita pilih menjadi seorang perempuan. Sebagai seorang sarjana lalu menjadi ibu rumah tanggapun tak salah, menjadi perempuan lajang selama hidupnya dengan berbagai prestasi yang ia miliki juga tak ada yang salah, dan tak ada yang salah dengan berbagai pilihan yang menarik untuk dipilih asal sesuai norma agama, adat, dan hukum yang berlaku. Bukan hidup memang banyak pilihan?
             
Saya perempuan Indonesia yang sadar bahwa saya memiliki peran penting tapi bukan berarti saya melepaskan kodrat saya sebagai perempuan seutuhnya, karena menjadi perempuan bukan hanya mereka yang dibalik layar, seorang perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama untuk menjadi seorang khalifah di bumi. Peranmu, peranku dan peran kita disini ada untuk lingkungan kita yang lebih baik, dan saya melanjutkan perjuangan ibu Kartini dimulai dari saya sendiri, menjadi seorang perempuan berpendidikan tinggi, mandiri dan mampu memberikan manfaat untuk lingkungan dan diri saya sendiri dan aku Menunggu peranmu, peranku dan peran perempuan Indonesia menjadi Indonesia yang lebih baik.





Popular Posts