Ada masa kita memang harus bersikap BODO AMAT. Tidak membiarkan segala hal masuk dalam pikiran ataupun hati. Salah satu pembelajaran dari 2019 ini adalah, mungkin Gadis Intan sudah mulai belajar bagaiaman mengontrol perasaan dan pikirannya yang terlalu banyak sampah dan tidak membiarkan semua hal harus dipikirkan. Jadi post ini merupakan sedikit ilmu yang saya dapat, cara Bodo Amat, dari banyak pihak dan pastinya sedikit review tentang buku bestseller Mark Mason.
Prinsip dan mindset dari bodo amat memang tidak serta merta bersikap bodo amat sih, Bodo amat itu tergantung konteksnya dan ada aturannya, karena di dunia ini sudah terlalu banyak orang yang bodo amat dan tidak banyak orang yang peduli. Ngomongin Bodo Amat, yang seharusnya dilakukan bagi saya pribadi adalah tidak perlu memikirkan apapun yang tidak dapat kita rubah, atau diluar batas kendali kita. Sehingga kita perlu let it flow dan bodo amat segala sesuatunya. Misalnya nih : saat kita UAS kita sudah mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin, sudah berdoa, berusaha dan tawakal, tapi naasnya kita mendapatkan dosen yang killer dan pelit terhadap nilai, saat pembagian nilai, nilai kita gak sebaik yang kita harapkan, hal ini mungkin membuat kita kecewa dan akan uring-uringan. ehh tapi, disatu sisi kita akan lebih sakit hati, disitu diperlukan mensugesti diri untuk bodo amat.
Belajar dari buku bestseller di 2019, The subtle art not giving a Fuck by Mark Mason, tidak semua hal didunia ini memang harus disugesti secara positif dan membiarkan segala sesuatu terlihat baik-baik saja, padahal nyatanya tidak sedang baik-baik saja, disana kita perlu menekankan untuk menerima hal-hal negatif itu karena pada nyatanya itu akan membuat kita lebih kuat dalam menghadapi masalah dan bersikap bodo amat disini dengan mencari solusi bukan mensugesti positif terus tanpa membuat solusi atas banyak permasalahan, dan membiarkan masalah tambah runyam dengan ilusi pikiran positif kita. Selain itu, selama ini banyak sekali value sampah yang kita miliki, well, boleh sependapat boleh tidak, tapi di suatu keadaan kita memang menekankan banyak nilai-nilai yang kadang diluar batas kendali kita. Nilai-nilai ini seperti kebahagiaan yang harus di ukur dari uang, menjalani kehidupan yang harus positif-positif terus, materialistik dalam melihat suatu keadaan, tidak diperbolehkan kecewa, kenikmatan yang palsu, dll.
Padahal menurut Mark, "nilai-nilai yang kita pegang menentukan hakikat permasalahan kita dan hakikat dari permasalahan kita menentukan kualitas hidup kita". Kalo kita terus menerus terjebak dalam delusi nilai-nilai yang berkembang di masyarakat atau mengikuti ekspektasi lingkungan, kita akan terjebak dalam lingkaran setan kebahagian ditentukan pada sesuatu hal. Itu mengapa kadang, kita memang dituntut untuk cuek dan masa bodoh untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting ataupun tidak, dan memilih yang paling tepat buat kita.
Paradoks kegagalan/kesuksesan. Selama ini selalu melihat orang lain atau orang yang ada disosial media, yang sedang memamerkan kehidupan dan pencapainya kita mengangap bahwa meraka sudah sukses pada titik tertentu, padahal kita tidak tau bagaimana perjuangan dia mencapai titik itu, well ini juga dibahas oleh Mark, beliau berpendapat "Perbaikan dalam segala bidang, dilatarbelakangi oleh ribuan kesalahan kecil, dan besarnya kesuksesan anda berdasarkan pada beberapa kali anda gagal melakukan sesuatu. Jika seseorang lebih baik daripada anda mengenai segala sesuatu hal, sepertinya itu karena dia telah mengalami kegagalan yang lebih banyak". pada titik tertentu pula sebagian besar dari kita berhasil meraih suatu posisi mengkondisi kita untuk takut gagal, untuk menghindari kegagalan secara naluriah dan hanya terpaku pada suatu keadaan yang ada diddepan dan sudah kita kuasai. Hal inilah yang sebenarnya membatasi dan menghambat kita. Kita hanya benar-benar sukses kalo kita ada suatu bidang yang memungkinkan kita untuk rela gagal. Jika kita tidak bersedia untuk gagal, kitapun tidak bersedia untuk sukses. Selama ini kita terbiasa memilih nilai yang buruk, yang akhirnya menyebabkan kita merasa gagal, misal dalam contohnya mark menyebutkan bahwa "Membuat semua orang menyukai saya" hal ini yang akan menjadikan kita cemas karena kegagalan ditentukan 100% oleh tindakan orang lain, bukan tindakan kita sendiri. Hal inilah yang diperlukan untuk bersikap Bodo Amat pada nilai-nilai buruk yang tidak perlu kita yakini. dan kita tidak memiliki kendali, karena penghargaan diri kita hanya berdasarkan belas kasih orang lain. Tidak mengapa jika kita memiliki nilai "membuat semua orang menyukai saya" karena ingin memperbaiki kehidupan sosial, sehingga kita perlu menjalin hubungan yang baik antar sesama, tapi kembali lagi. Jadi mulailah untuk memikirkan ulang antara ekspektasi dan nilai baik yang perlu kita anut, bukan serta merta mengiyakan banyak nilai buruk yang akan membuat kita cemas dan kecewa nantinya
Dari buku Mark Mason, akan ada banyak sekali nilai-nilai baru atau pengetahuan baru tentang bersikap Bodo Amat itu sendiri. Akan ada banyakk sekali pengetahuan baru yang saya dapat. Ambil yang baik dan buang yang buruk, meskipun tidak semua isi buku ini harus saya iyakan tapi, ada cara yang yang lebih waras dalam melihat suatu permasalahan atau kegagalan, ada pendekatan yang bisa memperbaiki sikap saya secara pribadi sebenarnya.
Sekian review nilai kehidupan yang sedikit banyak terilhami oleh Mark Mason, selamat membaca nilai keseluruhan 8/10.


