Jumat, 17 Februari 2023

Membaca Buku untuk Lebih Bahagia

Source : Freepik


    Masih melanjutkan topik sebelumnya tentang mengenal diri, saya memulai mencoba lebih peka terhadap diri saya, meskipun masih banyak kurangnya. Mengenai hal ini saya teringat dengan salah satu kebiasan yang bisa membuat saya bahagia dan nggak uring-uringan saat menjalani hari-hari saya. Biasanya saya selalu memiliki ritual setiap harinya. Ritual atau kebiasaan ini yang membuat saya merasa lebih baikan ketika sedang mengalami badmood tiba-tiba, atau mengalami banyak ketidakpastian yang menyebabkan saya akan kesel sendiri. Kebiasaan ini ternyata hanya dengan membaca buku. Efeknya secara langsung bisa meningkatkan mood saya, dan menjadikan suatu tanda pada hal-hal kecil yang saya lakukan nantinya. Saya selalu menyebut baca buku adalah salah satu healing saya di beberapa tahun terakhir. Meskipun sebenernya saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. 
    Nyatanya hanya kegiatan duduk diam dan mulai membaca buku adalah salah satu healing atau escaping murah buat saya. Salah satu kebiasaan membaca buku saya biasanya saat mulai masuk ke dalam mobil, saat perjalanan Dinas Luar yang mengharuskan saya commute dari kantor ke tempat klien, meskipun saya menyukai pekerjaan saya, biasanya saya cukup kesel sendiri dengan kemacetan jalanan atau diperjalanan tanpa ngapa-ngapain, dan untuk menghilangkan bad mood itu ternyata saya cukup mulai membaca buku di perjalanan. Membaca buku juga jadi salah satu reward setelah saya melakukan hal-hal kecil, misalnya setelah saya bisa menyelesaikan suatu pekerjaan atau setelah saya mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, maka buku adalah sarana hadiah kecil-kecilan kepada saya. Saya juga mencoba mulai lebih dekat dengan membaca buku dibandingkan dengan scrolling medsos, meskipun efek Bahagia secara instan yang dihasilkan dari scrolling medsos akan lebih cepat dibandingkan membaca buku. Karena saya melihat ke diri saya, meskipun membaca buku membuat saya healing, efek Bahagia instan yang cepat didapatkan dengan scroll gambar yang memanjakan mata juga tidak bisa ditampik. Namun, nyatanya emosi yang tercipta akan selalu berbeda, buku akan lebih memberikan dampak Bahagia yang Panjang atau rasa menyenangkan yang tahan lama bagi saya dibandingkan media social hanya akan memberikan kesenangan namun sementara. Membaca buku ternyata bisa menjadi terapi bagi saya untuk jadi lebih bahagia, terarah dan punya tujuan. Selamat berproses lebih banyak dengan membaca. 

#30DWC #Day2


Kamis, 16 Februari 2023

Mengenal diri : Tentang Memberi Jeda

      
Source Gambar : Freepik.com

    Konsep mengenal diri dan pembahasan yang tidak selesai-selesai sampai akhir hayat. 2022 lalu ngajarin buat belajar lebih terkait diri sendiri, dulu saya pikir, saya sudah mengenal diri saya dengan baik, ternyata tidak! saya masih kepayahan dengan konsep diri saya. Belajar mengenal diri bukan cuman tentang tujuan saya kedepan, plan jangka panjang dan jangka pendek, tapi lebih sadar dengan diri sendiri siapa diri kita, kelebihan diri kita kelemahan diri, mengenal kebiasaan buruk dan baik diri sendiri, mengenal emosi diri, manajemen energi, manajemen waktu, manajemen emosi, dll. Ternyata, saya baru kenal diri saya hanya sebagian kecil dalam kehidupan saya. Saya masih harus jatuh bangun, mengerti diri saya sendiri, ini emosi apa ya, cara buat lepas dari burn out gimana ya, dll. Beberapa waktu terakhir saya ngerasa burn out, kecapean parah, karena dihantam banyak deadline dan dihantam banyak tugas yang gak selese-selese, harus sakit demam dan flu beberapa hari, sampe sakit telingga yang gak sembuh-sembuh dan belum masalah terkait yang lain. Capek sekali, saya yang seringnya ceria, ke kantor dengan muka murung, gak bersemangat, udah kelelahan sendiri, dan ngerasa udahlah aja. Hari-hari yang kelabu itu diperparah dengan makanan yang tidak jelas, gak mindfull jalanin hari, makan berantakan jamnya, tidur juga, apalagi masalah lainnya.
Titik itu, menjadi salah satu titik saya mulai mengenali diri saya terkait prioritas dan kapasitas. Saya mulai sedikit demi sedikit belajar bahwa tidak mengapa jika pada akhirnya saya mulai istirahat baru melanjutkan perjalanan berikutnya, tidak mengapa tidak mengiyakan semua kesempatan, tidak mengapa jika saya mengisi amunisi saya terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan, tak mengapa, Memberijeda pada diri sendiri. Ada Dunia tak akan pernah berhenti menyajikan hingar bingarnya, kita yang harus jeli member batas, mana yang perlu dimiliki mana yang hanya perlu dipahami, mana yang kita butuhkan mana yang hanya kita inginkan, mana yang kita perlu menjadi mana yang bahkan tak perl kita ketahui. Memang pada akhirnya, yang mau dituju mau kemana dan untuk siapa?
       Ini salah satu challange tulisan di 30 Hari menulis bersama #30DWC, challange pertama terkait kepnulisan yang saya ikuti, mengalokasikan waktu saya setiap hari untuk menguraikan dan merefleksikan kehidupan saya selama ini lewat tulisan, challange pertama meskipun mengumpulkan dengan telat, tapi tak mengapa, kita perbaiki selanjut-selanjutnya setelah ini. Mungkin di topik-topik selanjutnya saya akan banyak belajar tentang ini, tentang refleksi diri di tulisan terkait mengenal lebih ke dalam diri saya sendiri.

#30DaysWrittingChallange #Day1

Minggu, 08 Januari 2023

Tentang Ujian

Salah satu resolusi di 2023 adalah pengeluaran sesuai budget tapi tetep bisa mindfulness eating or my food. Dari seminggu lalu tu udah bisa banget njalanin plan A, masak, trus ngatur pola makan, ngatur budget keuangan, dll. Tapi tiba-tiba aja kupingku sakit berdenging, dan kayak gak bisa denger sebelah (ini karena aku ngebersihin kuping pakek cotton bath tapi kekerasan) Akhirnya Ke dokter, ternyata harga perawatan dan pengobatannya lumayan banget, akhirnya radak kesel lahh ini aku udah hemat selama seminggu ini, tiba-tiba ada pengeluaran out of budget yang mayan, padahal kemren udah berusah ngehemat-hemat, T.T tapi ternyata disitu ujiannya wkwkkw. 

Di fase Aku yg ngerasa alah udah out of budget gitu, gak usah deh repot-repot masak lagi, toh nantinya yg dikeluarin paling sama aja banyaknya, gak usahlah hemat-hemat toh nanti yang dikeluarin bakalan banyak juga dll. Siang ini ngedengerin beberapa rekaman kajian, krn dari kemren gak bisa ikut zoom bcs of something, salah satu kontemplasinya ternyata buat istiqomah tu ujiannya banyak ya :” ya kali mau berubah gak ada ujiannya, dan emang bener sih “Memulai itu lebih gampang dari istiqomah” jadi gimana tan? masih mau lanjut plannya apa dapet ujian kek gitu langsung puter jalan?

Senin, 02 Januari 2023

Lesson Learned From 2022

        2022 mungkin bukan salah satu tahun tahun akselerasi kehidupan, bukan salah satu tahun dengan berbagai pencapaian, dan bukan tahun yang bisa menceklist semua target yang telah di buat.  Seperti menaiki roller coaster, Ada banyak letupan emosi dan perasaan campur aduk yang membuncah di tahun ini. Selain itu tentu saja ada banyak kejadian ups and down yang menegangkan tapi menyenangkan setelah sedikit demi sedikit bisa terlalui dan bisa dimaknai.  Recap lesson learnead 2022 ini,  Aku dedikasikan untuk orang ini, orang yang sudah aku mintai waktunya untuk memberikan berbagai kesan dan pesan dari 2022, di curahkan semua emosinya di berbagai macam tulisan dan ini salah satu tulisannya. Pertama-tama aku pengen bilang terimakasih banyak dulu buat orang ini, orang pertama yang selalu aku sebut dalam doa, orang pertama yang selalu membuat aku yakin aku bisa melewati semuanya dengannya, orang pertama yang ada disampingku saat aku lelah dan ingin menyerah, orang yang tidak pernah lelah berproses dan bertumbuh dengan versinya, dan orang itu adalah diriku sendiri. Terimakasih ya Intan, untuk daya juangmu di tahun ini, terimakasih untuk proses yang telah kamu lalui, terimakasih untuk tidak pernah menyerah dengan berbagai hal yang telah dilewati. And Here we go 8 Lesson learned i got from 2022!


1. Mencintai dan Memaknai Proses bukan Hasil
Tahun ini aku belajar untuk berproses lebih banyak, tidak terhitung berapa jumlah kelas di luar kuliah yang aku ambil, jumlah kursus pengembangan diri ataupun skill yang aku ikuti. Aku juga masih kuliah dan  belajar di kampus setiap hari. Apakah aku sudah bisa menuai yang aku pelajari? aku merasa makin hari makin aku mengalami kemunduran, semakin belajar semakin banyak yang aku tidak paham. Semakin sadar aku bukan siapa-siapa, semakin hari impostor syndromku makin menjadi-jadi. Lelah sekali awalnya, aku merasa sudah selalu memberikan lebih tapi hasilnya masih selalu sama. KPI yang aku buat secara pribadi tidak mengalami peningkatan yang berarti, malah lebih banyak stuck. dan akhirnya aku belajar juga setelah berkomplentasi, Bambu butuh 5 tahun untuk menguatkan akarnya baru bisa langsung tumbuh panjang 2 Meter selama 6 minggu. Aku mengenalnya dari buku Atomic Habit tentang daya laten. Disana juga diberikan contoh “Mengeluhkan kesuksesan yang tidak kunjung tercapai meski sudah bekerja keras sama seperti mengeluhkan balok es yang tidak meleleh meskipun sudah dipanaskan dari suhu minus 3,5 sampai minus 0,5 derajat. Usaha kita tidak sia-sia hanya tersimpan. karena semua terjadi pada suhu nol derajat” see? semua proses punya daya lecut/dataran potensi latennya masing-masing! Selamat melanjutkan proses yang baik tan!

2. Kembali ke Allah
Setelah banyak belajar, belajar pengembangan diri, belajar buat skill digital marketing, ui-ux, sampe segala macem skill baru di 2022. Aku lupa, bahwa yang utama dari sekian banyak pembelajaran muaranya cuman buat Allah. I mean, aku belajar buat apa sih? tujuannya buat apa? buat lebih pinter? buat side hustle? memangnya dari sekian banyak rangkaiannya itu apa tujuan utama yang mau aku dapat?. Dan aku jadi belajar bahwa sejatinya ilmu itu dari Allah, aku terlalu memusatkan perhatianku ke usahaku, tanpa banyak melibatkanNya, aku sering lupa sejatinya aku mencari ilmu itu tujuan utamanya buat apa, dan siapa yang ngasih ilmu itu. Tujuan mengenal Allah dan kembali ke Allah gak sih?. Bahwa aku bukan siapa-siapa, ilmu, dan segala hal yang aku dapat itu titipan dariNya, bagaimana kita bisa menggunakan sebaik-baiknya, buat diri kita dan orang lain nantinya. 

3. I found Myself
Tahun ini mungkin salah satu tahun titik terendah dalam hal relationship setelah 2019 lalu. Semuanya ini, bermuara pada Q2 2022, hal terkonyol yang aku selalu tampik, dulu memang sedari awal aku tidak ingin mencoba menggunakan hatiku, malah aku sudah berkali-kali sholat hajat dan sholat istikharah untuk memasrahkan hatiku, menggunakan segala jenis tools agar aku bisa menghilangkan perasaanku, mencari semua redflagnya, berkali-kali menghapus nomornya, tapi nihil. Perasaan itu masih tetap ada, meskipun begitu 2022, mengajariku bahwa perasaan itu valid, aku hanya perlu menerimanya secara utuh, utuh dan perlahan-lahan mencari tahu, kenapa sih Allah kirimkan perasaan ini? kenapa sih Allah nggak menghilangkan perasaan ini, padahal jelas-jelas sedari awal aku sudah sholat istikharah dan sholat hajat  buat dilepasin aja perasaannya, dan aku baru sadar setelah akhir tahun, yang mau Allah bilang kemaren itu tentang ini, Tahun yang mengajariku bahwa pada akhirnya titik itu bukan cuman buat aku, bahwa ternyata dari sekian titik kesamaan itu, itu cuman sekedar titik-titik yang Allah pengen bilang "Kalo aku tidak menjatuhkan hatimu, kamu masih akan berkutat dengan masalah yang sama". Nyatanya caraNya mendewasakan ku lewat dirinya, pada akhirnya memang cerita akhir bakalan sama aja, tapi prosesnya yang beda, proses itu mengenalkan aku sama diriku, tentang apa yang aku butuhkan, apa yg hanya aku inginkan, mengenalkan aku tentang keberhargaan diriku seutuhnya bukan hanya karena dipilih ataupun tidak, tentang self worthy and esteem ku dan pada nyatanya aku memang masih harus mendeskripsikan rumah yang seperti apa yg aku butuhkan untukku mengangkasa bersama nantinya, terimakasih telah memberikan salah satu pelajaran yang berharga di 2022ku. 

4. Tentang Prioritas
Kayaknya hal utama yang aku soroti di 2022 adalah tentang prioritas, dunia yang sementara aku yang terlalu banyak ingin dicapai, hingga akhirnya prioritas yang aku ingin jadikan utama, banyak bergesernya. Refleksi utama di tahun ini sepertinya tentang ini. Tentang banyaknya hal yang aku kehilangan di dalamnya, disaat harusnya aku memberikan prioritas utama disana. Hingga akhirnya aku mulai mengubah titik balik prioritasku, menjadikan 5 prioritas utama yang aku cuman pengen lebih aku utamain dibandingkan dengan yang lainnya dulu. Mungkin kamu jadi salah satunya! #eh (Read Kamu : Diriku sendiri)

5. Memaknai Cukup
Sejatinya setiap tahun aku berhadapan dengan hal-hal di luar ekspektasiku, mungkin akunya yang terlalu berekspektasi, terlalu berekspektasi hasil, berekspektasi dengan diri sendiri, berekspektasi dengan orang lain, ataupun lainnya, dan akhirnya aku mulai kecewa dengan ekspektasi-ekspektasi yang sudah aku buat. Awalnya berat sekali menerima kejadian demi kejadian yang aku sama sekali tidak pernah aku harapkan dan akan mendapatkannya di tahun ini. 

Ternyata dari semua rentetan masalah itu aku diajarkan tentang makna cukup dan melepas keterikatanku, di beberapa bulan terakhir di akhir 2022 ada banyak rasa tenang dengan saat aku bisa melepaskan keterikatanku pada suatu hal ; entah pertemanan, barang ataupun impian, merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki dan tidak banyak berekspektasi apapun dengan berbagai hal. Tidak berekspektasi bukan berarti tidak berharap tapi lebih ke tawakal dengan banyak runtutan kejadian dan target yang telah dibuat, berdamai dengan diri dan berdamai dengan banyak realita disekitar. Meskipun aku masih punya banyak PR juga didalamnya, tapi aku belajar untuk mulai menata harapan, dan memaknai kata cukup yang sesungguhnya, Tentang dunia hanya di tangan bukan di hati itu yang utama, mantraku setiap harinya “Whats Yours will always find you”. 

6. Tentang Support System
2022, ini daiajarin ketemu banyak orang, ketemu dengan berbagai macam orang baru, yang nanonano banget rasanya. Salah satu hal yang kerasa, banyak banget pelajaran dari mereka. Dari mereka yang masyaAllah daya juang untuk akselerasi akhiratnya ataupun daya juang diberbagai aspek. Satu hal yang pasti aku mulai belajar buat melepaskan keterikatanku ke mereka, letting go everythings about us or them and Not expectation of anythings. Aku mulai membuka diriku ke banyak circle tapi gak mau yang mengikat atau terikat ke mereka aku punya batasan sikap dan bagaimana aku harus bersikap, rasa-rasanya aku ketemu diriku yang lebih dewasa dalam hal ini. Kayaknya aku bisa sampe ditahap ini karena aku belajar dari 2021, yang mana aku kecewa banget sama circle yang aku pikir merupakan salah satu support system terbaik tapi mereka meninggalkan aku saat aku berada di titik terendahku. Hingga akhirnya, 2022 aku tidak punya bayangan support system yang seperti apa yang aku harapkan, hingga akhirnya aku diketemukan dengan mereka support system yang bisa mewarnai hari-hari ku di 2022. Terimakasih ya kalian, warna 2022ku yang aku anggap pucat jadi berwarna sekali dengan kalian.

7. Berani ke Psikolog
2022, ngajarin buat memvalidasi perasaanku dan tidak lari dari masalah, termasuk beban dan kegagalan, dulu aku pikir aku bisa menyelesaikan ke rumitan pikiranku dan beban-bebanku tanpa bantuan orang lain, ternyata tidak!. Meskipun sudah sering meminta bantuan ke teman dan sering curhat, ada hal-hal yang memang hanya bisa diselesaikan dengan ahlinya. Ada beberapa blind spot yang baru aku sadarin setelah dari psikolog, pun ada hal-hal yang memang aku harus di sadarin secara objektif scientific based tidak bisa yang menerka-nerka aku ini kenapa dan kayaknya aku harus gini deh.

8. Choose What I Thought and Mindfulness
2022 ngajarin aku buat "Hadir" dengan "Kesadaran Penuh" Saat ini dan sekarang. Sebagai orang yang cukup thinker dalam berbagai hal ada masa-masa aku merasa jiwaku berada di tempat tersebut tapi tidak dengan pikirannya, itu kenapa salah satu bahan evaluasi aku dari diri aku pribadi dan orang lain yang udah isi di NGL maupun di gform, disuruh lebih mengurangi overthinking. 2022, ngajarin aku buat lebih bisa memanage pikiran aku, meskipun tentu saja ini juga masih PR buat aku pribadi sampe di 2023. Aku mulai mencoba memilih apa yang perlu aku pikirin dan apa yang memang rasanya gak penting-penting amat buat dipikirin. Terlebih tentang kekhawatiran aku pada suatu hal, pun aku mau belajar untuk lebih hadir di saat ini, apa yang aku lakukan dan apa yang sekarang terjadi. Indikator keberhasilan mindfulness versi ku kayaknya gampang, salah satunya dengan mengucap bashmallah di aktivitas keseharian, kenapa mengucap bashmallah? bagi kami sebagai umat muslim, basmallah bermakna bahwa kami telah menyertakan Allah SWT dalam kegiatan kami. Pun, bagik,u jika aku hadir di kegiatan itu, saya akan otomatis mengucapkannya, beda saat saya tidak hadir di kegiatan tersebut, kemungkinan aku akan lebih banyak lupa mengucapkannya dan terburu-buru tanpa dinikmati. 


Sekian sedikit pembelajaran yang didapat dari 2022 versiku part 1 mungkin kalo ada tambahan akan aku up selanjutnya, kalo versimu kayak gimana? semoga entah apapun pembelajarannya kita bisa sama-sama memaknai banyak proses di dalamnya yaa dan tentunya diberikan kelapangan hati untuk mencari banyak hikmahnya, meskipun pada nyatanya ada kejadian yang memang tidak bisa langsung kita tahu jawaban mengapa kita di titik itu. Kadang waktu yang hanya bisa menjawab semuanya, tidak perlu buru-buru karena tidak ada yang memburu kita, nikmati saja prosesnya! Happy New Year.  

Jumat, 19 Agustus 2022

Blabbering of life 2

      Untuk banyak-banyak doa yang malah tidak sesuai, pada akhirnya Agustus sama juga se roller coaster dengan Juli, bedanya Agustus malah lebih-lebih. Gilak berasa babak belur, amburadul, bundas sana sini. Selama 1,5 th di surabaya, aku nggak pernah ngerasa sebabak belur ini rasa-rasanya. Meskipun udah banyak kejadian downnya, tapi gak pernah ngebayangin akhirnya malah seperti ini dan semua seperti bertubi-tubi sejak bulan Juli.  percaya sih hidup kadang emang harus ada naik turunnya, kalo enggak ada naik turunnya mah gak seru. Tantangannya dimana yaa, meskipun capek banget, akhirnya mengalami semua ini juga, mengalami bener-bener keluar zona nyaman. Mengalami hal yang mungkin sudah pernah di overthinkingkan tapi, beneran terjadi, kalo biasanya overthinkingku cuman sampe di pemikiran ini beneran yang terjadi. 2023. Ku berharap lebih mampu beradaptasi dengan banyak pilihan yang sudah diambil di 2022. 2022, gilak gw gak ngebayangin akhirnya gw milih buat ngelakuin semua ini. dengan sadar tanpa paksaan. Padahal rencana 2023 gw tu, salah satunya mau nikah (meskipun calon juga belum ada sih, tapi setidaknya ada rencana gitu, buat nyiapin diri sampe yakin dan dengan sadar mau nikah di 2023 sebagai orang yang plan banget, adalah ini dalam plan juga). Lahh malah plot twist, 2022 bulan Agustus, milih buat menyelesaikan overthinkingku sejak awal keterima kerja. Gak, gw gak pernah ngebayangin sih, akhirnya milih ini. Tapi, pada akhirnya kepilih juga pilihan ini. 

     Apakah aku kesel dengan semua yang terjadi? kesel, valid no debat. Tapi, semua udah pilihan dari sejak aku di Surabaya, jadi yakin gak yakin ya emang harus diselesein. Termasuk semua pilihan yang akan datang :). Apakah semua gak bisa beriringan?. Mungkin untuk segala sesuatunya bisa beriringan, tapi, belum bisa ngebayangin gimana akhirnya. Semoga Allah, menguatkan aja jadinya. Hidup mah kadang gak perlu banyak dipikiran akhirnya, dilakuin aja, di nikmati dan di mulai. Gak ada yang gak mungkin. Capek gakpapa, yang penting gak nyerah, bismillah ya, semoga Allah menguatkan segala sesuatunya, semoga semua pilihan mendapatkan hasil yang selalu terbaik versiNya, tanpa harus banyak kecewa jika memang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan plannya.

Rabu, 15 Juni 2022

Blabering of Life

          Hello, long time no see in this platform. Jadi kalo di pikir-pikir ada banyak hal tidak terduga dan sampai di titik ini, tidak pernah di harapkan sebelumnya tapi ternyata dari semua kesempatan dan pilihan pada akhirnya menjalani semua ini. Mungkin terakhir banyak blabering disini itu saat mau ujian skripsi, trus skripsi menentukan pilihan dan menentukan keinginan "Oke aku mau kerja di Jakarta". Eh pada akhirnya kesasar di Surabaya. Mungkin tidak selalu nyaman, tapi setidaknya 1.5 th ini survive juga dengan perhelatan duniawi di Surabaya. 

         Akhir-akhir ini kepikiran dengan moment beberapa tahun lalu setelah sidang skripsi, yg mana dari dulu pengen banget buat post self reward yang gagal, karena kesibukan pindah-pindah dan berjalan dengan pace lambat yang mengesalkan. 

      Kalo dipikir-pikir,  banyak banget connected the dot semua hal yang sudah terganti, tapi ngerasa hidup gw menemukan takdir yang seringnya gak pernah gw perjuangin. Dapet Sarjana Teknik saat impian gw jadi dokter, Sarjana Teknik yang awalnya mau denial ke FEUI tapi gagal,  Jadi PNS saat impian gw jadi Manager di perusahaan Multinasional company/FMCG. Mau kerja di Jakarta dengan hiruk pikuk kehidupan dunia yang cepat, eh dapatnya Surabaya yang mungkin pacenya gak akan secepat Jakarta. Berasa punya hidup slow living, padahal dulu kesel banget di titik slow living. Tapi pada akhirnya gw mensyukuri dengan apapun yang terjadi. kalo dipikir-pikir ulang dari sepanjang perjalanan jatuh bangun itu, semua itu gak lain dan gak bukan karena muara takdir yang menuntun kita disitu gak sih?, kayak Allah pengen bilang "Gakpapa kamu memperjuangkan semua yang terjadi dulu biar hidupmu seru pada akhirnya takdirKu emang yang terbaik nanti". Remind me, pas gw lari memperjuangkan hidup dengan segitunya tapi kalo gak rejeki yaa gak bakal dapet. Segampang "What's yours will find you". Pernah berjuang dengan sangat eh gagal, pas gak diperjuangin malah dapet emang kadang suka sebecanda itu, tapi lucu ajaa, itu yang disyukuri akhirnya, dan kalo ditanya kalo mau merubah masa lalu, kamu mau merubah apa, mungkin bakalan gak mau merubah apa-apa karena itu yang terbaik. Jadi apapun muara takdir yang menggiring kehidupanku nanti pada akhirnya. Cuman pengen bilang ke diri sendiri salah satu ayat yang selalu disukai buat remindering "Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." QS. Al-Baqarah Ayat 216

Popular Posts