Rabu, 18 Februari 2026

Day I Refleksi Ramadhan : Reset-Refocus

Day I Refleksi Rahmadhan : Reset-Refocus-Recharger. Momen terbaik untuk merest kehidupan bagiku adalah saat rahmadhan. Alhamdulillah tahun ini masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali menemui rahmadhan. Untuk banyak prihal yang akupun ragu kalo bukan karena Allah gak tau akan kuat atau tidak untuk menjalani semua ujian di tahun ini, tapi diberikan Allah ketemu lagi dengan rahmadhan rasanya bahagia sekali. Momentum sebulan setiap tahun untuk recharger iman. Seperti rahmadhan tahun ini rasanya cuman pengen kembali ke Allah, setelah banyak peristiwa yang rasa-rasanya sudah sejauh itu dengan Allah, tapi aku selalu ingat dengan salah satu hadist ini

Nabi SAW meriwayatkan dari Rabb-nya (hadis qudsi) bahwa Dia telah berfirman, ”Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari)

Bahkan ketika kita banyak dosa sering melakukan kesalahan gitu, Allah masih tetap mau berlari saat kita mau berjalan mendekat kepadaNya🥹

Mungkin sama dengan rahmadhan-rahmadhan tahun-tahun sebelumnya yang akan ada banyak rencana dan target ibadah,  kita coba usahakan untuk beribadah sebaik mungkin itu, mencoba untuk membuat plan sebaik mungkin “If You Fail To Plan you are planning to fail”. Mengusahakan dan merencanakan rahmadhan ini akan menjadi rahmadhan terbaik untuk Intan

Untuk Intan di akhir Ramadhan 1447 H : 

Terima kasih sudah bertahan, sudah berusaha hadir, dan sudah memilih untuk kembali pulang, lagi dan lagi  kepada Allah SWT, di setiap sujud yang mungkin tidak selalu sempurna, di setiap doa yang kadang masih berantakan, dan di setiap niat baik yang pelan-pelan kamu rawat.

Semoga di Ramadhan ini bukan sekadar banyaknya ibadah yang tercapai, tetapi kualitas terbaiknya yang tumbuh di dalam hati. Ibadah yang membuatmu lebih lembut, lebih tenang, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah. Ibadah yang tidak hanya terasa di sajadah, tapi juga terlihat dalam caramu memandang hidup, memandang orang lain, dan memandang dirimu sendiri.

Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadi ruang reset untukmu membersihkan luka lama, melepaskan beban yang tidak perlu kamu bawa, dan menenangkan pikiran yang terlalu sering bekerja keras. Semoga kamu belajar bahwa kamu tidak harus selalu kuat sendirian, karena ada tempat pulang paling aman yang selalu terbuka: kepada Allah.

Jika nanti setelah Ramadhan berakhir kamu kembali merasa lelah, ingatlah versi dirimu di bulan ini  yang bangun lebih awal, yang menahan diri, yang belajar ikhlas, yang percaya bahwa setiap usaha kecil tidak pernah sia-sia.

Intan, kamu tidak harus menjadi sempurna. Kamu hanya perlu terus kembali. Dan Semoga tahun ini merupakan salah satu rahmadhan terbaikmu🥹

Dan semoga setelah Ramadhan ini, kamu tidak hanya menjadi pribadi yang lebih taat, tapi juga lebih damai.

Tertanda

Dengan penuh sayang dan harap, Diriku yang sedang belajar pulang.


Jumat, 13 Februari 2026

What Love Taught Me in My Late 20s

Pernah dengar tentang  “red string theory” ?  keyakinan bahwa orang lama yang dipertemukan kembali adalah bagian dari takdir masa depan. Tahun ini usiaku 30th, aku banyak belajar tentang bagian ini akhir-akhir ini, seperti kebanyakan orang di usia ini yang masih single mungkin ada banyak pertanyaan serupa "Kapan aku menemukan dan ditemukan dengan pasangan yang tepat itu?" itu pertanyaanku berulang hingga akhirnya akhir 2025 kemaren aku bertemu dia. Aku tidak akan membohongi diriku sendiri. Perasaan itu memang muncul. Aku tidak sepenuhnya profesional seperti yang terlihat dari luar. Aku pernah jatuh karena ekspektasiku. Di usiaku yang sudah mau menginjak kepala orang ini, aku berpikir dia orang lama yang akan menjadi takdirku, dia orang lama yang suatu saat akan ada di masa depan dan masa tuaku sebagai teman di kehidupanku bukan hanya hubungan profesional tapi hubungan romantis. Tapi gayung tidak bersambut, interaksi kita memang hanya di ranah profesional bukan personal. Sebagai kawan lama yang ditakdirkan bertemu kembali karena sesuatu hal tidak ada tambahan drama romantis seperti di cerita-cerita novel atau malah film telenovela yang akan berakhir seperti di imajinasiku. Sedih? Pasti! Tapi ternyata aku banyak belajar dari luka masa lalu itu. Jadi Mari di bahas apa yang aku pelajari dari kisah cinta 20s yang gagal muluk ini.


Keterikatan, Pola Masa Lalu, Jogja, Perpustakaan dan 2013
Kenapa aku punya hook yang dalam dengannya?Aku akhirnya memahami kenapa “hook” emosiku dengannya terasa begitu dalam, padahal interaksi kami sebenarnya tidak pernah intens. Ternyata, yang terikat bukan hanya pada dirinya sebagai pribadi  tetapi pada masa hidup yang ia wakili. Kami pertama kali bertemu di tahun 2013–2014, masa ketika aku sedang berada di titik paling rapuh sekaligus paling berjuang dalam hidupku. Tahun-tahun itu identik dengan hal yang sangat bermakna 2013-2014 : Di sanalah aku belajar bertahan, di sanalah aku menemukan makna hidup, dan di sanalah aku mengenal versi diriku yang kuat meskipun sedang rapuh. Aku juga punya kedalaman emosi terutama dengan perpustakaan dan jogja, bagiku salah satu tempat favorite di muka bumi ini adalah Jogja dan perpustakaan. Itu kenapa saat bertemu dengannya aku melihat banyak masa laluku dan keterikatan emosionalku dengan masa laluku. Hal lainnya dia Orang Jogja, hal magis yg sering aku semogakan. Itulah sebabnya Jogja dan perpustakaan selalu terasa seperti rumah dan keterikatan emosional bagiku, bukan sekadar tempat, tetapi simbol dari perjalanan menjadi diriku hari ini. Dan tanpa kusadari, dia menjadi salah satu sosok yang hadir di fase itu. Bukan sebagai cinta, melainkan sebagai teman yang ikut menjadi bagian dari latar perjuanganku. Ketika kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun setelahnya, yang sebenarnya muncul bukan hanya perasaan terhadapnya, tetapi juga gelombang kenangan terhadap masa laluku sendiri. Aku seperti diingatkan kembali pada diriku yang dulu: yang rapuh, yang berjuang, yang belajar berdiri sendiri. Dari situ aku mengerti satu hal penting: Aku tidak sedang terikat pada dirinya di masa sekarang, aku sedang terikat pada masa lalu dan ekspektasi ku. Itu kenapa ekspektasiku tinggi sekali rasa-rasanya. Padahal, meskipun masa itu membentukku, hidupku tidak seharusnya terus berputar di sana. Aku tidak perlu melupakan masa lalu, tetapi aku perlu melepaskan kemelekatan dan ekspektasi terhadapnya. Ekspektasi semesta seperti mendukung dengan kisah ini, seperti red string teori, padahal tidak seindah itu.  Selain itu, aku masih terjebak  ekspektasi pada sosok dia di masa lalu, bahwa dia orang yang aku kenal dulu, bukan dia yang sekarang padahal dia pribadi yang berbeda. Masa lalu adalah pelajaran, bukan tempat tinggal. Ia boleh menjadi bagian dari cerita, tetapi bukan penentu arah masa depan. Dan kini aku belajar untuk memandang semuanya dengan lebih jernih : Aku menyadari bahwa aku perlu melepaskan kemelekatanku pada masa lalu. Bukan karena masa itu tidak berarti, justru sebaliknya ia pernah membentukku, menguatkanku, dan mengajarkanku banyak hal tentang diriku sendiri. Namun, dibentuk oleh masa lalu tidak berarti aku harus terus tinggal di sana. Hidupku tidak lagi terjadi di waktu itu. Hidupku ada di hari ini, di diriku yang sekarang, yang sudah bertumbuh dan berubah. Begitu pula dengannya. Ia bukan lagi sosok yang sama seperti yang pernah aku kenal dulu. Ia hanyalah seseorang di masa kini yang kebetulan memiliki jejak di masa laluku. Karena itu, aku ingin belajar melihat masa lalu dengan cara yang baru  bukan sebagai tempat untuk kembali, melainkan sebagai ruang belajar yang telah selesai perannya. Aku memilih menerimanya dengan utuh, menyimpan pelajarannya. kadang seseorang hadir kembali bukan untuk menjadi bagian masa depan tetapi untuk menunjukkan seberapa jauh kita sudah melangkah dan bertumbuh.

 Aku belajar dia datang : untukku menemukan diriku sendiri                 

Aku selalu punya high standar memasukan seseorang di dalam hatiku, sebagai manusia yang cukup rasional, idealis-keras kepala dan logic bahkan sering pakek tools analisis Matriks, SWOT, Cost Benefit analisys dalam hidupnya sehari-hari. Jatuh cinta adalah hal yang tidak aku sukai karena aku perlu invest waktu, pikiran dan perasaan berhargaku yg bisa jadi investasi bodong.  Jadi  aku selalu punya tools untuk memasukan seseorang baru di hatiku, dan ternyata tools itu tidak berlaku dengannya karena yaa nyatanya aku seperti menemukan diriku yang lain saat jatuh hati dengannya. Menemukan diriku yang tidak perlu insecure buat jatuh cinta, tidak perlu harus menggunakan analisis segambreng buat merasakan cinta lagi, tidak perlu susah payah buat berusaha jadi orang lain. Gongnya aku mulai bersemangat buat ngejar ketertinggalanku dengannya, dia seorang auditor halal. Salah satu impianku dulu, kenapa auditor halal, karena aku ingin menjadi salah satu bagian yg lebih bermanfaat untuk agamaku melalui pekerjaanku, dan salah satu caranya menurutku  dengan jadi auditor halal pun sesuai dengan IKIGAIku. Dewasa setelah aku lulus-bekerja hingga aku melupakan keinginanku, dan saat aku bertemu dengannya ada keinginan itu kembali, jadi mungkin bertemu dia bukan untuk menjadi partner di kehidupanku personal tapi memang Allah kirimkan dia untuk mengingatkanku belajar jadi auditor halal. Jadi mari Kita coba peran itu kembali! Jadi aku juga belajar banyak kehadirannya mungkin bukan untuk menetap tapi hanya sebagai bahan pelajaran dalam hidupku! And thats okeey

 Aku jadi mengenal standar hatiku sendiri

Sebagai orang punya pola “earning love” (harus layak dulu baru dicintai), Ini biasanya terbentuk dari pengalaman hidup lama, misalnya karena aku harus berprestasi dulu baru dipuji, harus kuat dulu baru dihargai, terbiasa berjuang sendirian, sering berada diposisi membuktikan, hingga aku melihat pola aku merasa tertantang buat mencintai duluan dibanding dicintai dulu. Padahal, sebagai seorang cowok mereka memiliki biologis dan psikologis sebagai pengejar/pemburu "If he would, he will" ini standar kan ya?. Tapi ketika aku dikejar-kejar cowok aku merasa ilfil entah kenapa ini dari dulu jaman aku sekolah sampe kerja, aku tidak suka di deketin cowok yang aku tidak naksir duluan. Dari poin ini aku belajar untuk melihat hatiku yang utuh itu : masa laluku yg perlu earning love itu harusnya tidak aku bawa hingga aku dewasa, cinta yang seutuhnya adalah cinta dual side bukan one side. Jika aku sendiri yang memperjuangkan sedangkan dia tidak maka itu namanya bukan perjuangan tapi pengorbanan, dan cinta bukan tentang menjadi korban. Aku mulai mengamati pola ini dan standarku dicintai bukan hanya memiliki tapi tentang diperjuangkan, diusahakan, dihormati dan dipilih dengan sadar. Jadi percuma kalo dia 10000 nilainya di mataku kalo dia tidak punya standar itu yang akan 0 karena semua value hidupnya akan di kali dengan standarku juga kan. Termasuk tentang standar keterikatan/kemelekatan emosional dengan dirinya. Karena cinta yang sehat seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan. Ia tidak membuat kita terus menerka, membaca tanda, atau terjebak dalam overthinking tanpa ujung. Jika sampai hari ini yang tersisa adalah pertanyaan, analisis, dan kegelisahan, mungkin itu bukan standar dicintai dan dipilih olehnya. Melainkan hanya keterikatan emosional, ekspektasiku yang belum selesai dan cinta one side (alias cinta bertepuk sebelah tangan)

 Aku belajar bahwa nilai diriku tidak bergantung pada siapa yang memilihku

Aku pernah dengar analogi sederhana tapi sangat menenangkan: Kalau aku adalah es krim stroberi terenak, lalu ada seseorang yang justru memilih es krim cokelat, itu bukan berarti aku tidak enak, tidak berharga, atau kalah. Itu hanya berarti selera, kebutuhan, dan preferensinya memang berbeda. Begitu juga dalam hidup. Ketika seseorang tidak memilih kita, sering kali refleks pertama adalah menyalahkan diri, merasa kurang, merasa gagal, dan merasa tidak cukup. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap orang membawa: latar belakang, kebutuhan emosional, kesiapan, timing, dan arah hidup yang berbeda. Pilihan mereka lebih banyak berbicara tentang kondisi dan kebutuhan mereka, bukan tentang nilai diri kita. Aku sedang belajar menerima bahwa: tidak dipilih bukan berarti tidak layak, tidak diperjuangkan bukan berarti tidak berharga, dan tidak berjodoh bukan berarti gagal. Sakit? tentu saja. Tapi aku juga belajar bahwa rasa sakit tidak harus menjadi tempat tinggal yang permanen. Ia cukup menjadi tempat singgah untuk memahami, lalu dilepas perlahan. Suatu hari nanti, aku akan dipilih oleh seseorang yang memang membutuhkan “stroberi” seseorang yang melihat nilaiku sebagai sesuatu yang tepat, bukan sekadar alternatif. Dan ketika itu terjadi, aku akan tahu: bukan karena aku berubah menjadi lebih berharga atau berubah menjadi es krim coklat, melainkan karena sejak awal, aku memang sudah berharga dan es krim stroberi terenak itu.

Sekian yapping tentang pelajaran kehidupan mba-mba menuju 30s yang masih gagal dalam kisah cintanya! Tapi meskipun saya gagal dengan kisah cinta saya saat ini dengan anda, saya menemukan diri saya yang lain, Terima kasih pernah singgah! I’m glad we could reconnect again after all these years. Semoga anda selalu diberikan kelancaran dalam karier dan kehidupan anda ya! Dan sekarang saya tetap memilih dengan standar yang saya miliki, dengan value diri saya dan akan lebih mencintai diri saya lebih ugal-ugalan! 


Selasa, 14 Oktober 2025

Lets Talk About Money Part I

       Dulu salah satu targetku sebelum 30th adalah punya rumah sendiri. Apakah ini berlaku untuk saat ini? entah kenapa impian dan target sebelum 30th punya rumah sendiri dan kendaraan itu sirna ditempa realita.  Malah aku mulai realistis untuk tidak pensiun di kota sekarang aku tinggalli dan terlalu dini untuk memutuskan membeli rumah sekarang apalagi jika pakek KPR dan di kota domisili. Aku mulai mempertimbangkan banyak aspek selain dimana domisili untuk pensiun juga tentang prioritas tabunganku akhir-akhir ini. Selama lebih dari 5th aku bekerja mungkin pencapaianku tidak sementereng teman seangkatan yang sudah berani ambil KPR, punya rumah, mencicil beli kendaraan roda 4, atau punya tabungan sekian ratus juta. Semakin aku dewasa, semakin aku melihat orientasiku memang bukan hanya barang-barang tangible yang terlihat, orientasi menumpuk uang dan membelikan barang juga bukan prioritasku. Mungkin semua ini karena salah satu psikologisku di masa lalu terhadap uang. Dulu aku dibesarkan dengan pola “uang disimpan, bukan dinikmati”. Sekarang aku mulai membalik pola itu ingin menikmati apa yang dulu tidak boleh. Orientasi dari pengalaman yang kurang menyenangkan dengan keuangan itu akhirnya membentuk pradigmaku tentang uang sampe saat ini, trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya. Aku mulai banyak membeli barang yang harusnya bisa di beli saat aku kecil, aku mulai menabung untuk banyak perjalanan yang dari dulu aku impikan, aku mulai membeli makanan yang dulu aku ingin rasakan. Financial attacment ini akhirnya membentuk diriku yang sekarang bahkan ketika aku memiliki uang berlebih rasa-rasanya aku hanya ingin menabung tanpa membelikan barang-barang tangible seperti ayahku dulu beli atau membeli sesuai keinginan dia yang selalu ditargetkan ke aku saat aku mulai bekerja, karena merasa untuk apa aku membeli lukaku di masa lalu? yang aku sadari trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya.  

Mungkin di usiaku sekarang ini harusnya keilmuan dan kepemilikan aset sudah ditahap lebih dari cukup dan bisa sesuai dengan target ayahku dari dulu. Nyatanya tidak, aku bukan anak pertama penurut dan sesuai keinginan mereka, aku mulai melepaskan keterikatanku dengan uang, aku tidak perlu harus memenuhi standart dan target sosial. 

Meskipun ini salah tentu saja, aku tumbuh dengan luka-luka yang memang harus aku sembuhkan tapi nyatanya menyembuhkan memang butuh waktu, jadi saat ini aku melalui luka-luka itu dengan melatih keseimbanganku melihat dan menggunakan uang.  Beranjak dewasa  dengan pencapaian yang seadaanya ini akhirnya  aku mulai  berusaha untuk menikmati uangku dengan sadar, tapi tetap aku memiliki prinsip arah tujuan jangka panjang. 

Uang mungkin dibutuhkan untuk semuanya tapi aku tidak harus memiliki uang ratusan juta untuk berbahagia, aku tidak perlu memiliki standar sukses dengan memiliki rumah di usia  30th, tidak harus membeli properti atau barang-barang tangible agar dilihat bahwa aku sukses seperti standar umumnya. Aku mulai nyaman dengan menabung untuk banyak kesempatan tak terbatas, stabilitas batin, kebebasan memilih, pengalaman yang aku ingin rasakan dan kemampuan menikmati hidup tanpa rasa bersalah. Jadi bagiku memiliki tabungan ataupun aset apapun di usia berapapun bukan keterlambatan, tapi juga proses menemukan makna baru dari kata “cukup” dan tau standar kebahagiaan diri sendiri.  

Rabu, 24 September 2025

Sebuah cerita di September 2025 Bagian 1

       Kalo ditanya kamu milih September 2024 atau 2025 tentu aku tanpa pikir panjang akan memilih September 2024 tanpa tapi! Tapi entah gimana ceritanya ada banyak plot twist di 2025 ini yang bikin aku hah heh huh hoh. Plot twist pertama tentang dia. Mari kita cerita ringan-ringan dulu sebelum yang berat-berat 

Dia orang lama, teman belajar, teman ambis keluar dari jurusan selama satu tahun, dia berhasil dan aku masih di jurusanku gagal kedokteran untuk kesekian kali. Akhirnya dia pindah kuliah di PTN lain. Sebut aja X


Ada satu momen akward yang aku ingat. Dulu, dia pernah datang ke kosku tanpa pemberitahuan. Aku kira itu temen cewekku yang janjian nganter buku, temen cewekku nunggu di motor dia yg disuruh ke kamarku, dia berdiri tanpa manggil cuman ngetuk di depan pintu. Saat itu dengan santainya aku menuju pintu tanpa pakai jilbab, dan dia jadi satu-satunya teman cowok yang pernah lihat aku dalam keadaan begitu. Lol, momen awkward tapi memorable krn bingung dan salting sekali waktu


Aku tak banyak pengalaman dengannya yg aku ingat, hanya kenangan belajar dan belajar itu, percakapan sederhana yg aku ingat dulu sepertinya hanya

"Tan matamu mirip mataku ya ada hitam-hitamnya, di bagian lensa mata yg putih" ohiya disitu aku baru menyadari kita punya kesamaan yg unik yg orang lain tidak punya


Satu tahun setelah pisah, kita pernah ketemu di jalan menuju tempat yg sering kita habiskan waktu dulu buat belajar, disana dia dateng entah untuk apa saat aku tanya dia hanya jawab “mau maen” setelah itu kita menjalani hidup masing-masing, dia orang yg masih selalu melihat story2ku dan akupun hanya tau update kehidupannya lewat story2nya


Tau apa plot twist dari semua itu, kita ketemu lagi Sebagai auditor internal vs auditor eksternal, 10th setelah semua itu dan semesta tiba2 nemuin dengan cara yg tidak terduga. Jadi dia kerja di perusahaan A sebagai auditor internal, aku kerja sebagai auditor eksternal buat sertifikasi izin edar/keamanan pangan untuk perusahaan dia. di tahun 2021 aku sebagai PIC narahubung buat perusahaan dia (X) tapi saat itu langsung koordinasi dengan Lead auditornya sebut aja mba A. Sejak 2021-2022 aku bekerjasamanya dengan mba A langsung, di 2023 mba A resign pindah ke perusahaan B, akhirnya X yg jadi lead pengganti mba A, sayangnya udah bukan aku PIC di perusahaan dia dari 2023-2025


Di tahun 2025, Mba A menghubungiku lagi untuk pendaftaran sertifikasi perusahaan B, tempat dia bekerja sekarang. Kali ini, kami akhirnya bertemu langsung karena sudah nggak ada batasan pandemi. Di sinilah cerita lain ternyata Mba A masih jadi teman dekat X! disini Dia tahu kalau aku dan X juga temenan dulu. Dari situ, Mba A mulai berperan sebagai makcomblang, berusaha nyatuin kami dengan cara yang rapi banget. 


Hasilnya? Belum Berhasil, 🤣

Sayangnya, usaha Mba A belum membuahkan hasil. Ada “krikil-krikil” kecil yang masih mengganjal di antara kami, mungkin perbedaan pandangan atau timing yang belum pas. Tapi, yang bikin aku takjub adalah betapa sempitnya dunia ini. Siapa sangka temen lama dari masa kuliah bisa ketemu lagi lewat hubungan audite-auditor, dan malah dicomblangin sama klien yang juga temen dekat kami masing2


Revisi Core Belief System

Sejak 2022, aku selalu yakin kalau jodohku bakal orang baru, bukan dari lingkaran temen lama. Aku bahkan udah lupa sama kenangan dengan temen-temen kuliah, termasuk X. Tapi, plot twist ini bikin aku mikir ulang. Mungkin aku perlu revisi core belief system-ku soal jodoh. Hidup ternyata punya cara lucu buat ngingetin bahwa masa lalu bisa nyambung lagi ke masa kini dengan cara yang nggak pernah kita duga.

Sabtu, 01 April 2023

Lesson learned Q1 di 2023

Mau bersyukur sudah melewati Quarter 1 dengan berbahagia dan merayakan sepenuhnya meskipun banyak menghadehnya, dan ini beberapa hal yang aku pelajari serta aku syukuri di Triwulan Pertama (Quater 1) 2023

  • Finally meskipun menghadeh-hadeh setiap hari aku sudah bisa memulai beradaptasi dengan kebiasaan baru yang seru. Akhir-akhir ini aku bisa memasak, food preparation dan memikirkan gizi seimbang di makananku. Meskipun aku masih harus tertatih dengan semua itu, setidaknya aku sudah berbahagia dengan sedikit pencapaianku. Aku mulai beradaptasi dengan hal itu di awal tahun sebenernya tapi gagal, karena sakit, dan baru memulai kembali di bulan maret lalu setelah Februai hiatus. Alasan utamanya memulai konsisten masak karena akhir-akhir ini merasa sudah cukup jarang makan sayur jika sering beli, ada kebosenan dengan warung makan deket kost meskipun enak dan murah menunya kurang bervariasi, selain itu karena budgeting ketat akhir-khir ini, dan voila akhirnya saya bisa masak dengan proper sesuai dengan keseimbangan gizi. 

  • Bisa melakukan alokasi budgeting, dan perencanaan keuangan yang sesuai. Belajar banyak terkait dengan excel dan spreed sheet gonta ganti, dan voila akhirnya menemukan cara budgeting yang tepat. Seru sekali akhirnya gak menyusahkan diri sendiri dengan spreadsheet buat manajemen keuangan yang dimiliki.

  • Selain itu tentu saja ada 2 buku yang bisa aku selesaikan di Q1 ini, meskipun kurang dari target  tapi tidak apa-apa yang penting kan implementasi dari membaca bukunya yaa kan, dan tidak lelah dalam berproses sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit 

  • Bisa mengikuti career class dengan tertatih, saya masih berusaha adaptasi untuk tidak pernah absen masuk kelas, meskipun seringnya absen, mencoba mendengarkan rekaman dan mencatatnya dengan seksama namun, begitulah namanya juga hidup, usaha suka mengkhianati hasil memang. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil itu memang jarang terjadi, meskipun begitu berproses dan berprogress tidak harus berhasil adalah salah satu mottoku di 2023. Sampai sejauh ini, aku masih berusaha memperbaiki semua catatanku di career class dan berusaha sedikit demi sedikit mengimplementasikan keilmuan di CC. Setidaknya aku berusaha untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap diriku, termasuk bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah aku buat. Meskipun rasa-rasanya aku sering menghadeh-hadeh sepanjang waktu, semua hal yang aku dapat hari ini adalah doaku yang dulu pernah aku panjatkan, jadi mengapa tidak untuk selalu berproses menjadi yang lebih baik.

  • Aku bisa membeli beberapa barang yang aku impikan, yang notabene sudah menjadi bucket listku sejak 2021, tapi aku baru bisa merealisasikan di 2023., dan semua itu tanpa disengaja hal yang sebenarnya aku sudah lupa pernah mendoakannya, tapi Allah selalu memberikan sama dengan permintaanku sesuai doaku. What an Amazing, masyaAllah  

  • Merayakan ketidakbecusan hidup, dengan berbagai hahahihi di 2023, ada banyak ketidakbecusan yang sering dibuat. Tapi tak mengapa! memang siapa sih yang bisa sempurna dengan berbagai hal di dunia ini, pekerjaan, kehidupan, sosial, hubungan, dll. Pasti ada celah ketidak berdayaan dan kurangnya, 2023 aku berusaha menerima diriku yang masih banyak kurangnya itu, meskipun aku tau selama ini aku pernah melakukannya, tapi 2023 aku lebih berusaha untuk tidak lari dan meninggalkan kekuranganku, ingin aku peluk kurangku dan bilang bahwa aku baik-baik saja dengan berbagai kekurangan yang aku miliki.

  •  Belajar mengendalikan diri, mengendalikan diri dari omongan orang lain entah positif ataupun negatif, bahwa sejatinya yang bisa mengotrol diri kita adalah kita sendiri, bagaimana kita merespon segala sesuatunya, karena semuanya yang ada di dunia ini netral, kita sendirilah yang punya peran untuk mengontrolnya, membuatnya menjadi hal yang berarti atau malah menjadi sakit hati. Itu mengapa pentingnya mengendalikan diri. 

  • Jangan membalas pesan atau merespon sesuatu saat kondisi sedang marah atau ada berbagai emosi yang ada di dalam diri berkumpul seperti kecewa, marah, sedih dll, meskipun menjadi seorang fight tidak serta merta salah, nyatanya kondisi freeze at the moment itu juga penting, kondisi saat kita bisa berusaha meregulasi emosi kita seperti apa dan tindakan apa yang paling penting untuk dilakukan, tidak yang langsung memberikan respon apa yang sedang kita rasakan dan memberikan justifikasi mengapa kita melakukan hal tersebut, karena sejatinya kita manusia biasa ada banyak kesalahan yang bisa kita perbuat tanpa sengaja.    
  • Tidak semua kesempatan harus digunakan, 2023 mengajarkan aku bahwa ada berbagai kesempatan yang memang aku lewatkan, aku merasa aku sudah mengalami berbagai macam hal dan sedang berjuang untuk hal-hal yang memang aku semogakan dan menjadi prioritasku, thats why, aku belajar untuk tidak gegabah menerima semua kesempatan yang aku miliki. Aku juga berusaha menyiapkan diri agar ketika ada kesempatan yang lebih baik aku bisa memberikan yang terbaik dan telah siap mengemban amanah itu. 

  •  Nyatanya move on tidak bisa serta merta, rasanya aku masih harus tertatih-tatih buat bilang bahwa aku sudah lupa dengan perasaanku dan aku sudah mengiklaskan perasaanku, ramadhan tahun 2022 adalah  moment pertama aku mengenalnya, dan ramadhan pula jadi salah satu titik-titik ada garis yang bersingungan dan bisa dibuat garis baru yang menyenangkan di tahun 2022 tapi itu hanya harapku, hal-hal yang aku pikir dulu Tuhan sedang membuat titik-titik yang bisa aku jadikan garis untuk masa depanku, tapi rasa-rasanya moment di 2022 itu adalah moment aku ingin menghapus titik-titik yang pernah aku buat. Hal yang selama ini aku syukuri menjadi salah satu hal yang aku sesali. Lucu bukan? apakah akhirnya aku belum berdamai dengan keadaan itu? Tbh, aku masih meramu perasaan apa yang saat ini aku rasakan dan bagaimana aku harus bersikap, yang aku tau selama 3 bulan ini aku berusaha menyibukan diriku dengan berbagai macam hal, agar aku bisa membuat momen-momen baru yang menyenangkan sehingga aku lupa dengan perihnya kejadian di akhir 2022 hingga sekarang. Nyatanya, aku masih disuruh banyak berusaha dan berdoa lagi, karena hal-hal itu tidak bisa serta merta aku lupakan dan aku iklaskan. Meskipun ada ratusan jenis alasan bahwa titik itu tidak dapat aku jadikan ke garis masa depan yang mau aku tuju, tetap saja ketika harus bersingungan atau melihat ulang kejadian-kejadian di suatu tempat dengannya aku masih tetap harus merasakan  rasa sakit yang selalu aku hindari. Aku sudah berusaha untuk menerima, menyembunyikan story-storynya, menghindari komunikasiku atau tidak pernah lagi stalking, tapi entah angin darimana aku juga sering memimpikannya, hal yang selalu aku hindari di dunia nyata ataupun maya, namun nyatanya aku bertemu di dunia mimpi. Berdamai dengan masa lalu itu tidak bisa serta merta, jadi setelah ini, aku ingin bilang kepada diriku bahwa nanti suatu saat kita sama-sama belajar buat menyakini bahwa rencana dan takdirNya adalah selalu yang terbaik ya tan, tidak perlu tau sekarang alasannya biar waktu yang menjawab :')) 

Sekian lesson learned dari Triwulan pertama 2023.  

Selasa, 21 Februari 2023

“Merasa Cukup” dan “Menjadi Ambisius”

    


    Selama ini kita sering menemui banyak kontradiktif dalam berbagai hal salah satunya tentang “merasa cukup” dan “Menjadi Ambisius”. Tidak ada yang salah untuk keduanya, yang salah adalah ketika saya merasa mudah cukup dengan apa yang saya miliki yang sebenarnya saya hanya sedang malas saja untuk berusaha lebih, Saya tidak mau repot melakukan apa pun, saya hanya ingin hidup dalam zona nyaman saya, yang enggan untuk memperluas zona nyaman. Karena di beberapa fase ternyata fase tidak memperjuangkan apa-apa, tidak memiliki ambisi dan berada di zona nyaman enggan untuk memperluas zona nyaman adalah salah satu fase saya kehilangan diri saya. Meskipun begitu ambisius selama ini sering kali identik dengan hal yang negative “Ambis banget sih”, “Jangan ambis-ambis” dan berbagai kontradiksi terkait seorang yang ambis, seolah-olah seorang yang ambis yang dikejar adalah dunia dan seisinya. 

    Sebenernya ambisius itu apa sih? Menilik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisius adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu tujuan, harapan, atau cita-cita. Sikap ambisius bisa juga berarti melakukan sesuatu dengan penuh ambisi. Sementara ambisi sendiri dalam KBBI diartikan sebagai keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Sedangkan “Merasa Cukup/Being Content” Artinya adalah dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya; tidak kurang.

    Dari dua konteks diatas Ambisius dan Merasa Cukup, apakah melihat kontradiksinya? Setelah saya cermati dan saya refleksikan dikehidupan saya, ternyata tidak banyak kontradiksi antara kedua konsep tersebut. Keadaan “Ambisius” dan “Merasa cukup” adalah suatu dorongan untuk menjadi yang terbaik. Di manakah letak kontradiksinya? Kontradiksinya terletak pada kesalahpahaman kita bahwa merasa cukup berarti tidak ingin mencapai lebih banyak, dan berambisi untuk mencapai lebih banyak adalah tanda bahwa kita tidak merasa cukup. Padahal seharusnya kita perlu menjadi ambisius dan merasa cukup. Karena menjadi ambis berarti mendorong kita untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik dan  “Merasa cukup” membuat kita bisa menikmati perjalanan yang kita miliki. Saat ini, saya sedang berusaha untuk menjaga keseimbangan, salah satunya menjaga keseimbangan menjadi ambisius dan merasa cukup dengan apa yang diusahakan, karena hal ini bukanlah kontrakdiksi yang tidak bisa berjalan beriiringan, kita bisa menjadi seorang yang ambis tapi juga merasa cukup dengan apa yang telah diperjuangkan dan dimiliki, yang penting kita tahu bahwa perjalan terbaik kita hanya untukNya, dan berusaha menjadi umat terbaikNya versi diri kita (Best version of ourself), karena ini salah satu tujuan saya di muka bumi bagi saya pribadi. Terakhir saya menyukai salah satu hadist ini “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

#30DWCJilid41 #30DWC #Day5

Popular Posts