Bahagia menurut KBBI adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram yang terbebas dari segala yang menyusahkan; beruntung. Kebahagiaan menjadi suatu tujuan utama manusia. Semua orang memiliki harapan yang ingin dicapai untuk memenuhi kepuasan dalam kehidupannya. Studi pengukuran tingkat kebahagiaan berbagai negara menemukan kebahagiaan bervariasi tergantung kondisi sosial ekonomi saat itu. Di tingkat individu maupun negara, Tapi tidak sedikit juga ditemukan kasus paradox kebahagiaan di negara maju ataupun negara berkembang, penduduk pedesaan maupun di perkotaan. Ada banyak faktor terkait dengan tingkat kebahagiaan seseorang, salah satunya yang sering kita jadikan perdebatkan adalah terkait kesuksesan ataupun tingkat kekayaan. Semakin kaya seseorang maka kita akan selalu berasumsi orang ataupun masyarakat tersebut Bahagia. Apakah selalu seperti itu?
Menariknya baru-baru ini sebuah survey menyatakan bahwa D.I. Yogyakarta tercatat sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2023. Angka kemiskinan Yogyakarta tercatat sebesar 11,49 persen. Persentase kemiskinan itu berada di atas rerata nasional, yaitu 9,57 persen. Namun, survey lain menyatakan bahwa survey indeks kebahagiaan DIY menurut data BPS pada 2021 adalah 71,70. Angka tersebut merupakan tingkat ke-14 dari seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi nomor satu di pulau Jawa. Dari kedua survey ini ditemukan juga sebuat studi yang menyatakan bahwa kebahagiaan yang dikaitkan dengan pendapatan menemukan adanya paradox of happiness atau income paradox yang dikenal dengan Easterlin Paradox, yaitu peningkatan pendapatan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan atau kebahagiaan seseorang. Easterlin paradox menunjukkan bahwa terdapat faktor lain selain pendapatan (material) yang mempengaruhi kebahagiaan;
Menurut Veenhoven (1988) membagi teori kebahagiaan menjadi tiga bagian yaitu set point theory, cognitive theory dan affective theory. Dalam set-point theory, kebahagiaan merupakan sesuatu yang sudah diprogram oleh seseorang dan tidak berkaitan dengan bagaimana hidup seseorang. Kebahagiaan dipengaruhi oleh sifat atau karakter (personal trait), genetika dan budaya. Orang akan berupaya untuk mempertahankan tingkat kebahagiaan yang nyaman baginya (comfortable level). Dalam teori kognitif, , kebahagiaan adalah produk dari pemikiran dan refleksi manusia atas perbedaan antara persepsi kehidupan yang sebenarnya dan seharusnya dimiliki. Kebahagiaan tidak dapat dihitung tetapi dapat diketahui. Dalam teori afektif, kebahagiaan adalah refleksi manusia tentang seberapa baik kehidupannya secara umum. Jika orang merasa baik di Sebagian besar hidupnya maka ia mestinya bahagia. (Rahayu, 2016)
Jadi dari berbagai macam indikator Bahagia menurut ahli ini, menurut kamu takaran Bahagia yang seperti apa sih? Dulu saya pikir Bahagia saat memiliki banyak uang, bisa mendapatkan pekerjaan A, bisa memiliki B, bisa dengan z, dll. Ternyata semakin dewasa saya, saya tidak perlu memiliki A, mendapatkan b, dll untuk bahagia. Tidak perlu membandingkan berbagai teori itu untuk menentukan indikator bahagia saya sendiri, dan tidak perlu membandingkan indikator bahagia yang saya miliki dengan indikator orang lain. Saya menyimpulkan bahwa semakin sederhana indikator dan variable yang kita miliki semakin mudah standar Bahagia itu bisa dilampaui. Tidak ada alat atau instrumen yang ada untuk mengukur kebahagiaan seseorang, tetapi kita sendirilah yang harusnya membuat indikator dan variable itu agar mudah dijangkau ataupun malah dilampaui. Selamat berproses happiness people!
#30DWC #30DWCJilid41 #Day4

0 comments:
Posting Komentar