Minggu, 07 Juni 2026

Tentang Menjadi Berperan I

Salah satu “palu gada” pekerjaanku selain auditor (tupoksi utama) adalah jadi mbak-mbak admin pengaduan dan konsultasi. Bahkan beberapa teman kantor sudah merasa kasihan sama load pekerjaanku dan sering bilang, “Udah, lepas aja adminnya.” Tapi entah kenapa aku selalu meyakinkan atasan untuk tetap menjadikanku admin, bahkan di tengah banyaknya pekerjaan lain.

Buatku yang anaknya word of affirmation, peran ini justru jadi semacam escape di sela-sela mencari ketidaksesuaian saat audit atau verifikasi dokumen. Apalagi kalau dapat ucapan sederhana dari pelaku usaha, meskipun cuma “terima kasih”. Rasanya capek seharian langsung hilang karena merasa masih punya sedikit peran dan manfaat untuk orang lain.

Selama 5 tahun dan dari peran ini juga, aku banyak belajar tentang komunikasi yang berempati. Aku belajar bahwa komunikasi bukan sekadar mengeluarkan isi pikiran. Komunikasi yang baik adalah memastikan pesan diterima sesuai maksudnya, dengan mempertimbangkan konteks, timing, bahasa, dan kondisi lawan bicara. Karena ternyata, menjadi benar saja tidak cukup cara menyampaikan juga sangat penting.

Aku juga belajar untuk lebih sabar menghadapi pelaku usaha dengan berbagai gap kompetensinya. Ada yang pintar banget, cepat memahami semuanya. Tapi ada juga yang benar-benar masih kesulitan mengoperasikan Ms. Word, sementara seluruh pendaftaran sudah menggunakan OSS 🥹

Belajar tetap santun saat rasanya ingin tantrum. Belajar tetap profesional saat menghadapi berbagai tingkah pelaku usaha yang kadang bikin pengen “nampol online” rasanya 😭 Tapi tetap berusaha sesopan mungkin, tetap open minded, dan tidak merasa paling benar. Karena namanya manusia, semuanya masih sama-sama belajar dan punya salah.

Dari situ juga aku belajar bahwa kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan empati. Aku selalu tertarik dengan orang yang pengetahuannya luas, tapi ternyata tidak semua orang mampu menggunakan empatinya dengan baik, sebesar apa pun wawasannya.

Di dunia yang serba hiruk-pikuk ini, semoga kita bisa menjadi salah satu orang yang tidak hanya punya pikiran luas, tapi juga hati yang luas.

Jumat, 15 Mei 2026

30 Lesson in 30 Years Old

    Hello! Setelah berminggu-minggu ini draft belum ke publish akhirnya mari mempublish pelajaran hidup yg terpikirkan di minggu-minggu ini, akan di update setelah dapat pelajaran hidup yang lain! Semua pelajaran ini bukan di tulis berdasarkan prioritas, tapi yang terpikirkan dan dimaknai sejak bulan April lalu!

1. Kita akan selalu di Uji dengan apa yang Kita Cintai, Suka dan menjadi Tujuan Kita
Semakin dewasa ternyata aku semakin sadar bahwa sering kali  justru hal-hal yang paling kita cintai, paling kita kejar, atau paling kita anggap pentinglah yang menjadi area ujian terbesar dalam hidup kita. Kenapa? Karena di situlah keterikatan kita paling kuat. Saat kita sangat menginginkan sesuatu entah seseorang, karier, mimpi, atau tujuan hidup kita jadi lebih rentan pada takut kehilangan, kecewa, obsesif, atau merasa hancur ketika hasilnya tidak sesuai harapan.  Bukan hanya itu, saat kita belum lulus pada suatu ujian tersebut, kita akan selalu diuji pada hal-hal yang sama.
2Salah satu skill penting saat dewasa adalah kemampuan untuk bangkit dan melanjutkan hidup setelah momen buruk   
Seiring bertambah dewasa, aku belajar bahwa hidup akan selalu dipenuhi proses, usaha, perjuangan, harapan, dan hasil yang tidak selalu berjalan searah dengan apa yang telah kita upayakan. Dari situ, aku menyadari bahwa salah satu skill penting yang perlu diasah adalah kemampuan untuk tidak terlalu lama terjebak dalam momen buruk. Bukan berarti kita harus menekan rasa sedih, kecewa, atau marah, tetapi kita perlu memiliki batas yang sehat: kapan memberi ruang untuk berduka, menerima kegagalan, menangisi kehilangan, lalu perlahan kembali melangkah. Saat gagal dalam percintaan, seberat apa pun rasanya, kita perlu meyakinkan diri bahwa hidup tidak berhenti di satu orang atau satu cerita. Saat gagal dalam usaha atau tujuan yang sudah diperjuangkan, bukan berarti kita harus menghabiskan waktu berbulan-bulan tenggelam dalam penyesalan. Dewasa mengajarkan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana, namun hidup tetap harus bergerak. Maka, yang perlu dilatih bukan kemampuan untuk tidak terluka, melainkan kemampuan untuk pulih, menerima realita, mengambil pelajaran, dan mengalihkan energi pada hal-hal lain yang tetap layak diperjuangkan. Pada akhirnya, hidup bukan tentang menghindari kegagalan atau rasa sakit, tetapi tentang seberapa cepat kita mampu berdamai dan kembali berjalan 
3. Belajar Melepaskan Kemelakatan  
Tidak semua yang kita inginkan ditakdirkan untuk tinggal. Terlalu melekat pada orang, hasil, status, atau rencana justru membuat kita mudah menderita. Memiliki sesuatu itu baik, tapi jangan sampai identitas kita ikut bergantung padanya. Pada sebuah status, identitas, orang, hasil, usaha, dll.  
4. Hasil tidak selalu linear dengan usaha 
Semakin dewasa semakin sadar ternyata hasil memang tidak selalu sesuai dengan usaha, ada kalanya hasilnya eksponensial, kadang linier kadang stuck tidak bergerak tau malah ke arah minus. Usaha dan hasil tidak selalu punya hubungan yang sederhana. Kadang kita bekerja keras lama tanpa hasil terlihat, lalu hasil datang sekaligus. Kadang hasil datang cepat. Kadang tidak sesuai ekspektasi meski sudah optimal. Tugas kita ada pada usaha; hasil sering kali dipengaruhi banyak variabel di luar kendali. Dan aku mempercayai variabel terbaik adalah bukti kasih sayang Allah bagaimanapun hasilnya.
5. Be present 
Banyak kecemasan lahir dari hidup di masa depan, dan banyak penyesalan lahir dari hidup di masa lalu. Padahal hidup hanya benar-benar terjadi di saat ini. Hadir penuh di momen sekarang membuat kita lebih tenang, sadar, dan mampu menikmati hal-hal yang sering terlewat. 
6. Diri kita adalah akumulasi pilihan kita  
Hidup dibentuk bukan hanya oleh keadaan, tetapi oleh keputusan-keputusan kecil yang kita pilih setiap hari: apa yang dibaca, siapa yang ditemui, bagaimana merespons masalah, dan kebiasaan apa yang dipertahankan. Kita sedang membangun versi diri kita melalui pilihan. Kita sering merasa kecewa dengan diri kita, Karena akumulasi berbagai tindakan yang kita miliki, jadi sebelum bereda di titik itu sering-sering, mari memilih keputusan terbaik untuk diri kita. 
7. Kemenangan tidak selalu berbentuk hal besar 
Sering kali kita hanya mengakui pencapaian besar dan lupa bahwa kemenangan juga hadir dalam bentuk kecil: bangun tepat waktu, berani memulai lagi, menahan emosi, konsisten olahraga, atau memilih istirahat saat dibutuhkan. Hidup dibangun dari kemenangan-kemenangan kecil yang konsisten ataupun kemenangan kecil yang kita usahakan setiap saat.
8. Komunikasi bukan hanya pesan tersampaikan, tapi dipahami dengan benar 
Berbicara bukan sekadar mengeluarkan isi pikiran. Komunikasi yang baik memastikan pesan diterima sesuai maksud, mempertimbangkan konteks, timing, bahasa, dan kondisi lawan bicara. Benar saja tidak cukup cara menyampaikan juga penting. 
9. Kita semua punya banyak peran dalam hidup 
Kita bisa menjadi anak, teman, rekan kerja, pemimpin, pasangan, atau individu yang sedang bertumbuh sering kali dalam waktu bersamaan. Hidup yang baik bukan tentang unggul di satu area sambil mengabaikan lainnya, tetapi berusaha hadir dan bertanggung jawab pada setiap peran sebaik mungkin. 
10. Kita dibentuk oleh apa yang kita konsumsi 
Bukan hanya makanan, tetapi juga informasi, percakapan, tontonan, bacaan, dan lingkungan. Apa yang terus-menerus kita lihat, dengar, dan konsumsi akan membentuk cara berpikir, standar hidup, bahkan identitas kita. 
11. Boundaries itu bentuk self-respect 
Menjadi baik bukan berarti selalu tersedia, selalu mengiyakan, atau membiarkan orang melewati batas. Boundaries membantu kita menjaga energi, waktu, nilai, dan kesehatan mental. Orang lain mengajarkan kita cara memperlakukan diri berdasarkan batas yang kita tetapkan. Tidak peduli sehebat apa kamu dalam mengolah waktu hal pertama yang perlu diperhatikan juga tentang mengelola energi dan salah satunya punya batasan/Bounderies pada banyak hal. 
12. Belajar memaknai dan mencintai apa yang dimiliki 
Belalar buat memaknai kehidupan berarti belajar bahwa kita bisa memberikan makna setiap peran, cerita,  garis kehidupan yang kita  punyai, daÅ„ nyatanya setiap coretan memiliki makna, meskipun kadang kita masih berusaha untuk mencerna mengapa dan bagaimanannya. 
13. Menjadi baik adalah bentuk cinta pada diri sendiri dan Pencipta 
Dunia bisa keras, tidak adil, dan melelahkan, tetapi itu bukan alasan untuk ikut berubah menjadi orang yang pahit atau jahat. Menjadi baik adalah keputusan sadar untuk tetap menjaga nilai, integritas, dan kemanusiaan, bahkan ketika berada di lingkungan yang tidak selalu ideal. Aku percaya bahwa apa yang kita tanam pada akhirnya akan kita petik; mungkin balasannya tidak selalu datang langsung dari orang yang menerima kebaikan kita, tetapi energi baik itu akan menemukan jalannya untuk kembali. Karena itu, memilih menjadi baik sejatinya juga merupakan bentuk mencintai diri sendiri sekaligus menghormati Pencipta. Mencintai diri memberi kita penerimaan, penghormatan, serta kemampuan untuk merawat hidup dengan baik, namun cinta diri tanpa arah dapat dengan mudah bergeser menjadi ego. Di sisi lain, mencintai Pencipta membuat kita memiliki pusat, tujuan, serta tempat untuk kembali ketika hidup terasa tidak pasti. Maka, mencintai diri perlu dilakukan secara adil melalui pemahaman akan self-boundaries, self-worth, dan self-love, sehingga kita tahu kapan menjaga diri, menghargai diri, dan tetap bertumbuh. Pada akhirnya, keseimbangan antara mencintai diri dan mencintai Pencipta melahirkan dua hal penting dalam hidup: self-worth yang sehat dan surrender yang tulus. 
14. Penting punya kurikulum untuk diri sendiri 
Semakin dewasa ada banyak hal yang terjadi, selain kita harus beradaptasi dengan berbagai hal itu kita juga harus tetap agile dengan perubahan dan pertumbuhan yang terjadi. Pertumbuhan tidak bisa hanya diserahkan pada kebetulan. Kita perlu sadar: skill apa yang ingin dipelajari, kebiasaan apa yang dibangun, karakter apa yang diperbaiki, dan pengetahuan apa yang diperdalam. Diri kita juga perlu roadmap. Pentingnya sering mengaudit kehidupan, memonitoring dan mengevaluasi kehidupan. 
15. Membaca buku memberi efek domino 
Salah satu pelajaran dari 40 lessonnya bang Raditya Dika salah satu highlight yang aku suka adalah salah satu investasi terbaik adalah dengan baca buku. Karena sebelum buku itu terbit ada proses riset penulis bertahun-tahun atau berbulan-bulan untuk membuat bukunya dan kita bisa langsung membaca buku itu.  Satu buku yang tepat bisa mengubah cara berpikir, keputusan, kebiasaan, bahkan arah hidup. Pengetahuan tidak bekerja satu arah; ia menciptakan efek berantai dan memperluas perspektif secara eksponensial. 
16. Tidak semua kesempatan harus diambil, tapi tanggung jawab harus dijalankan 
Tidak semua hal yang available itu aligned. Kita tidak wajib mengejar semua peluang. Namun apa yang sudah menjadi komitmen dan tanggung jawab perlu diselesaikan dengan baik. 
17. Cukup dengan apa yang dimiliki dan warnai prosesnya 
Rasa cukup bukan berarti berhenti bertumbuh, tapi kemampuan untuk tetap merasa tenang tanpa harus selalu memiliki lebih. Kita tetap boleh punya ambisi dan tujuan, tapi tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang belum ada. Hidup terasa lebih ringan ketika kita bisa menghargai apa yang sudah dimiliki, sambil tetap berjalan menuju apa yang diinginkan.  Hidup bukan hanya soal mencapai tujuan, tapi bagaimana kita menjalani perjalanan menuju ke sana. Kita adalah penulis sekaligus ilustrator cerita hidup sendiri punya kuasa memberi makna pada proses. 
18. Hidup adalah marathon, bukan sprint 
Hidup itu maraton bukan sprint kita semua punya jalur dan kecepannya masing-masing. Tidak perlu melihat hasil ataupun kecepatan oran lain karena memang semua orang punya lintasannya sendiri-sendiri. Belajar dari lari maraton kita bakalan belajar juga tidak semua harus selesai sekarang. Hidup lebih tentang keberlanjutan daripada ledakan sesaat. Konsistensi kecil yang dilakukan lama sering mengalahkan semangat besar yang cepat habis. 
19. Allah selalu memberi yang terbaik 
Yang terbaik tidak selalu berarti yang paling kita inginkan. Kadang bentuk terbaik datang sebagai penundaan, penolakan, kehilangan, atau perubahan arah. Waktu sering membuat kita memahami mengapa sesuatu terjadi. 
20. Compound effect itu nyata 
Keputusan kecil yang diulang setiap hari akan menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang baik maupun buruk. Sedikit lebih baik setiap hari jauh lebih powerful daripada perubahan ekstrem yang tidak konsisten. Hal ini juga berlaku untuk setiap uang yang kita tabung dan kita belanjakan. 
21. Waspada sunk cost fallacy 
Hanya karena sudah menginvestasikan banyak waktu, tenaga, atau emosi, bukan berarti kita harus terus bertahan di sesuatu yang sudah tidak sehat atau tidak relevan. Masa lalu bukan alasan untuk mengorbankan masa depan. 
22. Nilai diri ditentukan dari diri sendiri 
Validasi eksternal itu berubah-ubah. Jika nilai diri bergantung pada pencapaian, pasangan, pekerjaan, atau pengakuan orang lain, kita akan mudah goyah. Self-worth perlu berakar dari dalam. 
23. Coping Mecanism dan Hobi di Usia Dewasa 
Punya hobi itu penting saat dewasa. Semakin bertambah usia, hidup akan semakin mudah dipenuhi tanggung jawab, tuntutan, dan berbagai tekanan yang kadang datang bersamaan. Di tengah rutinitas yang repetitif, hobi memberi kita ruang untuk bermain, berekspresi, beristirahat secara mental, dan mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang produktivitas, target, atau pencapaian. Hobi juga dapat menjadi coping mechanism yang sehat untuk menghadapi stres, karena membantu pikiran memiliki saluran untuk melepaskan emosi dan mengisi ulang energi. Tidak harus sesuatu yang besar atau mahal, justru hal-hal kecil yang sederhana sering kali paling berkelanjutan dan bermanfaat saat dewasa, seperti membaca beberapa halaman buku, berolahraga, berjalan kaki, journaling, mendengarkan musik, memasak, merawat tanaman, merapikan kamar, menggambar, atau sekadar menikmati kopi tanpa distraksi. Kebiasaan kecil seperti ini membantu kita memiliki anchor di tengah hidup yang sibuk dan tidak selalu stabil. Saat dewasa, kemampuan untuk menenangkan diri, mengelola stres, dan kembali terhubung dengan diri sendiri adalah skill yang sama pentingnya dengan bekerja keras. Karena pada akhirnya, hidup yang sehat bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa kita capai, tetapi juga seberapa baik kita bisa menjaga diri di tengah segala tekanan. 
24. Traveling : Semakin jauh pergi, semakin kenal diri sendiri 
Keluar dari zona nyaman, lingkungan familiar, atau rutinitas memaksa kita melihat diri tanpa distraksi. Perjalanan sering kali bukan hanya tentang tempat baru, tapi versi diri yang baru. Traveling juga bukan hanya tentang menemukan hal lebih jauh dari yg kita pikir kan tapi seberapa dalam kita kenal dengan diri kita.  
25. Ambil keputusan berdasarkan nilai dan prinsip 
Tidak semua pilihan diukur dari untung-rugi jangka pendek. Pilihan yang baik adalah yang selaras dengan value, prinsip hidup, kebermanfaatan, serta minim mudharat untuk diri dan sekitar. 
26. Lampu Sorot : Kita Tidak Sepenting itu Untuk Oran Lain
Kita tidak sepenting itu untuk orang lain, jadi berhentilah hidup seolah seluruh dunia sedang memperhatikan setiap langkahmu. Kesalahan kecil yang membuatmu malu berhari-hari, keputusan yang kamu takut akan dihakimi, atau momen canggung yang terus kamu putar ulang di kepala sering kali hanya besar di pikiranmu sendiri. Orang lain pun sibuk dengan hidup, masalah, ketakutan, dan lampu sorot versi mereka masing-masing. Terlalu sering kita menunda banyak hal hanya karena takut dilihat gagal, takut terlihat tidak cukup baik, takut dinilai aneh, atau takut mengecewakan ekspektasi yang bahkan mungkin tidak pernah benar-benar ada. Padahal hidup yang terus dikendalikan oleh ketakutan akan penilaian orang lain hanya membuat kita kehilangan kesempatan untuk benar-benar hidup. Bukan berarti pendapat orang lain tidak penting sama sekali, tetapi tidak semua suara layak dijadikan kompas. Ada saatnya kita perlu menerima bahwa kita hanyalah bagian kecil dari dunia yang besar. Dan justru di sanalah letak kebebasannya. Saat menyadari bahwa tidak semua orang memikirkanmu, kamu jadi lebih berani mengambil keputusan, mencoba hal baru, memulai dari nol, gagal, belajar, lalu bangkit lagi tanpa terlalu banyak drama di kepala. Dunia tidak berhenti hanya karena kamu membuat satu kesalahan. Orang-orang tidak akan mengingat semua detail tentangmu seperti kamu mengingat dirimu sendiri. Maka lepaskan beban untuk selalu tampil sempurna. Hiduplah sedikit lebih ringan. Pakai baju yang kamu suka, ambil peluang yang kamu mau, mulai hal yang sudah lama kamu tunda, katakan pendapatmu, dan jalani hidup sesuai nilai yang kamu percaya. Karena pada akhirnya, kita tidak sepenting itu untuk orang lain dan itu bukan hal yang menyedihkan, melainkan melegakan.
27. Perbandingan terbaik adalah dengan versi diri masa lalu 
Membandingkan diri dengan orang lain sering tidak adil karena variabel hidup berbeda. Ukuran progres yang lebih sehat adalah: apakah hari ini kita lebih baik, lebih bijak, atau lebih kuat dari sebelumnya. 
28. Educated is Weapon
Salah satu warisan terbaik dari orang tuaku adalah pendidikan yang aku miliki. Pendidikan bukan hanya gelar formal, tapi cara memperluas peluang, meningkatkan kualitas berpikir, dan membuka cara pandang baru. Pengetahuan memberi kebebasan memilih hidup dengan lebih sadar.
29. Jangan pernah merubah “warna” hanya untuk orang lain 
Menyesuaikan diri itu perlu, tapi kehilangan jati diri itu mahal. Tidak semua tempat akan cocok dengan kita, dan tidak semua orang akan menyukai kita—itu wajar. Kita boleh berkembang, memperbaiki diri, dan belajar menjadi lebih baik, tapi bukan berarti harus mengubah esensi diri hanya demi diterima. Orang yang tepat tidak akan meminta kita menjadi versi yang bukan diri kita. 
30. Hidup harus selalu bergerak

Hidup tidak berhenti hanya karena kita sedang sedih, gagal, bingung, atau kehilangan arah. Akan selalu ada hari berikutnya yang datang. Maka ketika keadaan terasa berat, tugas kita bukan selalu langsung hebat, tapi tetap bergerak meski pelan. Kadang satu langkah kecil jauh lebih penting daripada menunggu motivasi besar.


Sekian pelajaran hidup yang terpikirkan! Semoga ada sedikit manfaat, apakah sudah diimplementasikan langsung oleh penulisnya, tentu saja belum sepenuhnya, tapi semoga bukan hanya ditulis tapi juga bisa benar-benar diterapkan di kehidupannya. Allahumma baarik….. 

Rabu, 01 April 2026

What Letting Go Actually Feels Like

       Setelah Ramadhan berlalu, harusnya blog ini berisi cerita tentang makna dan hikmah Ramadhan. Eh malah yapping nggak penting lagi kayak gini. Tapi karena lagi bener-bener buntu dan rasanya berat, yapping di sini jadi salah satu cara favorit buat meringankan perasaan.

Mungkin ini efek datang bulan dan berbagai drama kehidupan akhir-akhir ini. Kayaknya memang lagi butuh ruang buat “ngomong” selain journaling. Bahkan lari dan meditasi pun akhir-akhir ini belum cukup membantu. Back to the topic.

Setelah cerita panjang tentang “What Love Taught Me in My Late 20s”, aku sempat berpikir bahwa tanggal 14–16 Februari 2026 adalah momen untuk benar-benar melepaskan semuanya. Menutup semua kenangan buruk soal percintaan di usia yang sudah mau masuk kepala tiga.

Tapi ternyata… tidak, saudara-saudara 😅
Bahkan teman-teman dekatku pun sepertinya sudah capek dengan drama yang berulang ini.


Semua ini bermula dari penugasan mendadak di akhir Ramadhan untuk Monev.

Awalnya kami sudah mendapat perusahaan sesuai risiko usaha, tapi setelah koordinasi ternyata tidak bisa dilakukan karena tidak ada proses produksi. Padahal saat itu aku sudah di Jogja, niatnya WFA cantik di perpus 🥲. Beberapa perusahaan lain juga tidak bisa dilakukan Monev karena masih suasana halal bihalal. Sampai akhirnya…  aku dapat penugasan ke perusahaan lain, dan itu perusahaan tempatnya bekerja.

Jediaarr.

Aku sempat ingin menolak, dengan alasan menghindari conflict of interest karena kami pernah saling kenal. Tapi setelah dipikir lagi, aku juga sering berinteraksi dengan banyak pelaku usaha lain. Jadi alasan itu terasa kurang kuat. Apalagi beliau juga tidak menangani langsung di store tersebut jadi pikirku, tidak akan berpengaruh dalam proses monev ini.

Akhirnya aku tetap lanjut.

Dengan tenang aku mencoba menghubungi PIC store sebut saja perusahaan A. Tapi ternyata PIC-nya sudah pensiun. Dan pada akhirnya… aku harus menghubungi dia lagi.

Di situ rasanya campur aduk.
Bingung, tapi juga… ada sedikit rasa senang. Dan di sinilah aku sadar, logika dan perasaan memang sering tidak sinkron. Kami mulai berkomunikasi lagi. Intens. Apakah ada progress? Tentu saja tidak.

Kalau dipikir-pikir, selama ini aku selalu jadi pihak yang berusaha:
aku yang follow up, aku yang cari topik, aku yang menjaga komunikasi tetap hidup. Dan setelah itu… aku juga yang menyalahkan diri sendiri.

Bukan hanya itu, aku bahkan pernah menangis karena hal kecil. Sebenarnya hal ini sudah berulang dia lakukan, dan selama ini masih berusaha menolerierir. Tapi hari itu, saat hormonku lagi kacau karena PMS, aku jadi blabbering ke dia.

Sederhana: dia tidak memanggil namaku. Aku tahu ini terdengar sepele, tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa menerima kalau ada orang mengirim pesan tanpa sapaan terlebih dahulu. Setidaknya panggil nama, “Tan”, atau sekadar “hi” bukan langsung ke tujuan chat. Menurutku, sesederhana itu adalah bentuk menghargai lawan bicara. Sama seperti ketika kita bicara langsung....

Aku merasa lebih dihargai kalau dipanggil atau disapa dulu. Dihargai sebagai temannya, atau bahkan sebagai koleganya pun, bukankah tetap perlu menyapa sebelum menyampaikan maksud?

Dan ini bukan hal baru. Sejak hari dia datang ke kantor, sejak saat itu dia tidak pernah memanggil namaku lagi. Aku sempat berpikir, mungkin setelah bertemu langsung dia sedang memberikan batasan entah apa alasannya dan itu masih bisa aku tolerir.

Tapi lama-lama aku merasa jengah. Karena kalaupun itu bentuk batasan, seharusnya tetap ada rasa menghargai, kan? Setidaknya sebagai teman, atau kolega, dengan cara komunikasi yang sewajarnya bukan malah terasa seperti menarik diri 🙂


Sampai akhirnya, momen tanggal 17 Maret 2026 itu terasa seperti jawaban.

Saat itikaf tgl 16, aku berdoa:
"Ya Allah, Intan tahu takdir-Mu selalu indah. Besok, 17 Maret, Intan mau dikasih kabar terbaik dari semua ini."

Dan memang… ada “jalan” yang terbuka.

Tapi ternyata bukan jalan untuk bersama.
Melainkan jalan untuk benar-benar melepaskan. Sedih? Iya.

Aku tetap menangis.
Aku tetap butuh waktu untuk menerima semuanya.
Karena jujur… ini masih sulit dicerna, baik oleh hati maupun logika.

Mungkin diperjalanan itu aku mendapati diriku yang sudah mulai kehabisan energi dan capek untuk berusaha juga, akhirnya bener-bener tidak berusaha lebih kembali, rasa-rasanya komunikasi terakhir itu, aku sudah berusaha lebih dewasa untuk benar-benar mau melepaskan semuanya, meskipun tentu saja belum sepenuhnya berhasil. kalo kata temenku masih ada energi chasing tapi setidaknya sudah tidak ada energi cegil seperti biasanya. Jadi mari mengusahakan untuk lebih mencintai diri sendiri itu sebaik mungkin dan melepaskan yang memang tidak pernah memilih dan mengusahakan Intan :).

Sabtu, 21 Februari 2026

Refleksi 2025 Part I

Aku pernah belajar mencintai dan menggenggam semuanya dengan begitu erat. Lalu perlahan, satu per satu, semua itu menghilang.

Sepertinya, sejatinya 2025 adalah tentang belajar melepaskan banyak kemelekatan: kemelekatan pada benda, pada seseorang, pada hal-hal yang berharga, bahkan pada semua yang pernah aku miliki.

Perihal kesehatan.

Alhamdulillah, tahun ini kesehatanku jauh lebih baik. Jika di akhir 2024 aku beberapa kali harus bolak-balik ke klinik karena sakit, di 2025 aku tidak lagi sampai harus sesering itu berobat.

Aku juga mulai banyak memasak, rajin olahraga, dan entah sejak kapan jadi sering membawa bekal yang lucu-lucu dan enak. Ternyata aku bisa menjadi manusia yang sangat menikmati memasak sebagai bentuk stress release. Dari yang awalnya hanya keinginan, berubah menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bahkan sampai pada tahap terasa seperti kebutuhan. Dari sana, aku menemukan bentuk self-love yang baru: merawat diri lewat masakan yang kubuat sendiri. Selain itu aku juga lebih sering nongkrong di tempat gym, buat olahraga entah hanya ikutan kelas yoga, lari di treadmil, dll. Seperti di tahun 2024 aku masih mencintai lari marathon meskipun tahun 2025 tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya untuk ikutan race tapi tahun 2025, lari juga masih menjadi coping stressku. Selain itu coping stressku yang lain tentu saja dengan membaca buku dan traveling, ada lebih dari 8buku yang bisa aku selesaikan di tahun ini, meskipun kurang dari target setidaknya ini lebih banyak dibanding 2024. Traveling masih menjadi salah satu self healing - melepas burn out untukku. Kapan-kapan kita cerita panjang tentang berbagai pengalaman perjalanan ini yang tidak bisa hanya pada satu artikel

Selain kesehatan fisik, di akhir tahun aku juga mulai mengevaluasi kesehatan mentalku. Jujur, 2025 bukanlah tahunku. Tahun ini benar-benar mengguncang kehidupanku sebagai manusia dewasa dari banyak sisi. Sampai akhirnya aku bertekad mengikuti talent mapping dan psychological check-up.

Tidak semuanya baik-baik saja, tetapi ada banyak hal yang tetap perlu disyukuri. Dihasil talent maping ini aku masih sedikit shock dengan hasil IQ ku yg masih diatas average karena sejauh ini aku selalu pikir IQ ku rata-rata, apalagi setelah 5th kerja dengan rutinitas yang sama🥲 Selain itu ada banyak sisi psycology cek up yang aku merasa related blind spotku dari dulu.

Kabar baiknya, dari proses konsultasi itu aku akhirnya menemukan trigger dan akar masalah yang selama ini hanya bisa kuraba-raba. Dulu aku hanya menduga-duga, tidak pernah benar-benar yakin. Kini, semuanya terasa lebih jelas, bahkan sampai pada bagian tentang bagaimana melepaskannya. Meskipun aku belum bisa melepaskan semuanya

Aku masih perlu meramu semuanya. Ibarat memasak, aku baru saja diberikan resep dan bahan-bahannya belum sempat benar-benar mengolahnya dan menghidangkannya.

Akhir 2025 terasa sangat pelik. Aku merasa seperti jiwa yang kehilangan arah  menggenggam begitu banyak hal, tetapi nyatanya justru harus belajar mengikhlaskan semuanya.

Semua memang butuh proses, dan sekarang aku sedang berjalan di dalam proses itu.

Prihal Pekerjaan

Ini adalah salah satu “gong” terbesar tahun 2025. Bahkan menjadi alasan utama aku pergi ke psikolog.

Aku merasa kehidupanku di pekerjaan sudah tidak kondusif. Aku seperti dituntut untuk selalu terlihat baik-baik saja, padahal di dalamnya aku begitu rapuh.

Perpindahan dari peranku sebagai auditor yang mungkin akan membawaku ke peran baru ke depannya  terasa sangat mengguncang. Aku bahkan belum sanggup menyebutnya dengan lantang, karena aku masih sangat mencintai peranku sebagai auditor.

Rasanya seperti duniaku tiba-tiba menjadi gelap. Padahal semua ini bahkan belum sepenuhnya dijalani, tetapi kebingungan dan ketakutannya sudah terasa begitu besar. Aku juga belum tahu alasan aku diposisi ini, belum tau harus bagaimana, belum tau hikmah semua itu tentang apa. Aku masih di fase denial dan fase menerima semuanya dulu tanpa perlu menolak semuanya. 

Memasuki Januari 2026, aku mulai banyak mengerem diri. Aku pelan-pelan melepaskan beberapa hal, sambil menata kembali apa saja yang benar-benar masih menjadi kepunyaanku.

Aku sedang belajar untuk tidak lagi menggenggam terlalu erat.

Belajar bahwa yang memang ditakdirkan untukku tidak akan pernah benar-benar pergi.

Dan yang pergi, mungkin memang tidak pernah ditakdirkan untuk tinggal.

Kita usahakan menulis banyak refleksi baik di bulan baik ini, meskipun mungkin tidak bisa langsung setiap hari satu refleksi, karena ternyata jadwal pelatihan-audit-pekerjaan minggu-minggu ini terlalu kejar-kejaran dengan deadline dan tugas, tapi meskipun begitu aku tetap mencintai pekerjaanku sebagai auditor🥹


Kamis, 19 Februari 2026

How To Self Love Part I

Day 2 — Satu Hari, Satu Cerita: Refleksi Ramadhan 🌙

Setelah fase patah hati kemarin, aku menyadari satu hal: ternyata yang paling sulit bukanlah kehilangan orang lain, tetapi belajar kembali pulang kepada diri sendiri. Sampai hari ini, aku masih bertanya dan belajar  bagaimana cara mengisi kembali “tangki cinta” di dalam diriku, agar setelah semua keraguan, aku tetap bisa memilih diriku sendiri, tanpa syarat.

Beberapa waktu terakhir, aku menemukan jawaban kecil, tapi terasa menenangkan: kembali ke dapur buat masak. Memasak menjadi ruang sunyi yang menenangkan. Di sana tidak ada tuntutan untuk menjadi kuat, tidak ada ekspektasi siapa pun  hanya ada aku, bahan-bahan sederhana, dan proses yang pelan.

Di awal Ramadhan ini, dengan sisa energi yang kumiliki, aku  kembali ke dapur.  Suprisingly! Hari ini aku bisa memasak tahu bakso dalam 30 menit, tumis jamur pakcoy, dan garang asem ayam yang enak meskipun tanpa diicip.

Bagiku, memasak bukan sekadar menyiapkan makanan. Ia seperti ritual merawat diri. Saat memotong, menumis, dan meracik rasa, aku belajar hadir sepenuhnya. Fokus pada apa yang ada di tanganku, bukan pada kekacauan di kepalaku. Memasak bukan hanya soal menyiapkan nutrisi terbaik, tapi juga cara  coping stress terhadap gedebag-gedebug dunia akhir-akhir ini. Saat memasak, aku bisa fokus pada bahan yang kuolah, pada apa yang sebenarnya aku butuhkan dan inginkan. Pelan-pelan, dari proses itu, aku bisa menyajikan “the best food on the table”  bukan cuma untuk tubuh, tapi juga untuk hatiku.

Pelan-pelan aku mengerti, mencintai diri sendiri tidak selalu berbentuk hal besar. Kadang, ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: memastikan diriku tetap ternutrisi dan tetap diperhatikan oleh diriku sendiri. Ini juga hal kecil tapi membahagiakan dan nanti yang akan selalu aku rawat : berbahagia dengan hal yang kecil dan sederhana

Hari ini aku tidak sedang berusaha menjadi luar biasa.

ttd

Yg selalu ingin belajar mencintai dirinya lebih baik. ✨




Rabu, 18 Februari 2026

Day I Refleksi Ramadhan : Reset-Refocus

Day I Refleksi Rahmadhan : Reset-Refocus-Recharger. Momen terbaik untuk merest kehidupan bagiku adalah saat rahmadhan. Alhamdulillah tahun ini masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali menemui rahmadhan. Untuk banyak prihal yang akupun ragu kalo bukan karena Allah gak tau akan kuat atau tidak untuk menjalani semua ujian di tahun ini, tapi diberikan Allah ketemu lagi dengan rahmadhan rasanya bahagia sekali. Momentum sebulan setiap tahun untuk recharger iman. Seperti rahmadhan tahun ini rasanya cuman pengen kembali ke Allah, setelah banyak peristiwa yang rasa-rasanya sudah sejauh itu dengan Allah, tapi aku selalu ingat dengan salah satu hadist ini

Nabi SAW meriwayatkan dari Rabb-nya (hadis qudsi) bahwa Dia telah berfirman, ”Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari)

Bahkan ketika kita banyak dosa sering melakukan kesalahan gitu, Allah masih tetap mau berlari saat kita mau berjalan mendekat kepadaNya🥹

Mungkin sama dengan rahmadhan-rahmadhan tahun-tahun sebelumnya yang akan ada banyak rencana dan target ibadah,  kita coba usahakan untuk beribadah sebaik mungkin itu, mencoba untuk membuat plan sebaik mungkin “If You Fail To Plan you are planning to fail”. Mengusahakan dan merencanakan rahmadhan ini akan menjadi rahmadhan terbaik untuk Intan

Untuk Intan di akhir Ramadhan 1447 H : 

Terima kasih sudah bertahan, sudah berusaha hadir, dan sudah memilih untuk kembali pulang, lagi dan lagi  kepada Allah SWT, di setiap sujud yang mungkin tidak selalu sempurna, di setiap doa yang kadang masih berantakan, dan di setiap niat baik yang pelan-pelan kamu rawat.

Semoga di Ramadhan ini bukan sekadar banyaknya ibadah yang tercapai, tetapi kualitas terbaiknya yang tumbuh di dalam hati. Ibadah yang membuatmu lebih lembut, lebih tenang, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah. Ibadah yang tidak hanya terasa di sajadah, tapi juga terlihat dalam caramu memandang hidup, memandang orang lain, dan memandang dirimu sendiri.

Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadi ruang reset untukmu membersihkan luka lama, melepaskan beban yang tidak perlu kamu bawa, dan menenangkan pikiran yang terlalu sering bekerja keras. Semoga kamu belajar bahwa kamu tidak harus selalu kuat sendirian, karena ada tempat pulang paling aman yang selalu terbuka: kepada Allah.

Jika nanti setelah Ramadhan berakhir kamu kembali merasa lelah, ingatlah versi dirimu di bulan ini  yang bangun lebih awal, yang menahan diri, yang belajar ikhlas, yang percaya bahwa setiap usaha kecil tidak pernah sia-sia.

Intan, kamu tidak harus menjadi sempurna. Kamu hanya perlu terus kembali. Dan Semoga tahun ini merupakan salah satu rahmadhan terbaikmu🥹

Dan semoga setelah Ramadhan ini, kamu tidak hanya menjadi pribadi yang lebih taat, tapi juga lebih damai.

Tertanda

Dengan penuh sayang dan harap, Diriku yang sedang belajar pulang.


Jumat, 13 Februari 2026

What Love Taught Me in My Late 20s

Pernah dengar tentang  “red string theory” ?  keyakinan bahwa orang lama yang dipertemukan kembali adalah bagian dari takdir masa depan. Tahun ini usiaku 30th, aku banyak belajar tentang bagian ini akhir-akhir ini, seperti kebanyakan orang di usia ini yang masih single mungkin ada banyak pertanyaan serupa "Kapan aku menemukan dan ditemukan dengan pasangan yang tepat itu?" itu pertanyaanku berulang hingga akhirnya akhir 2025 kemaren aku bertemu dia. Aku tidak akan membohongi diriku sendiri. Perasaan itu memang muncul. Aku tidak sepenuhnya profesional seperti yang terlihat dari luar. Aku pernah jatuh karena ekspektasiku. Di usiaku yang sudah mau menginjak kepala orang ini, aku berpikir dia orang lama yang akan menjadi takdirku, dia orang lama yang suatu saat akan ada di masa depan dan masa tuaku sebagai teman di kehidupanku bukan hanya hubungan profesional tapi hubungan romantis. Tapi gayung tidak bersambut, interaksi kita memang hanya di ranah profesional bukan personal. Sebagai kawan lama yang ditakdirkan bertemu kembali karena sesuatu hal tidak ada tambahan drama romantis seperti di cerita-cerita novel atau malah film telenovela yang akan berakhir seperti di imajinasiku. Sedih? Pasti! Tapi ternyata aku banyak belajar dari luka masa lalu itu. Jadi Mari di bahas apa yang aku pelajari dari kisah cinta 20s yang gagal muluk ini.


Keterikatan, Pola Masa Lalu, Jogja, Perpustakaan dan 2013
Kenapa aku punya hook yang dalam dengannya?Aku akhirnya memahami kenapa “hook” emosiku dengannya terasa begitu dalam, padahal interaksi kami sebenarnya tidak pernah intens. Ternyata, yang terikat bukan hanya pada dirinya sebagai pribadi  tetapi pada masa hidup yang ia wakili. Kami pertama kali bertemu di tahun 2013–2014, masa ketika aku sedang berada di titik paling rapuh sekaligus paling berjuang dalam hidupku. Tahun-tahun itu identik dengan hal yang sangat bermakna 2013-2014 : Di sanalah aku belajar bertahan, di sanalah aku menemukan makna hidup, dan di sanalah aku mengenal versi diriku yang kuat meskipun sedang rapuh. Aku juga punya kedalaman emosi terutama dengan perpustakaan dan jogja, bagiku salah satu tempat favorite di muka bumi ini adalah Jogja dan perpustakaan. Itu kenapa saat bertemu dengannya aku melihat banyak masa laluku dan keterikatan emosionalku dengan masa laluku. Hal lainnya dia Orang Jogja, hal magis yg sering aku semogakan. Itulah sebabnya Jogja dan perpustakaan selalu terasa seperti rumah dan keterikatan emosional bagiku, bukan sekadar tempat, tetapi simbol dari perjalanan menjadi diriku hari ini. Dan tanpa kusadari, dia menjadi salah satu sosok yang hadir di fase itu. Bukan sebagai cinta, melainkan sebagai teman yang ikut menjadi bagian dari latar perjuanganku. Ketika kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun setelahnya, yang sebenarnya muncul bukan hanya perasaan terhadapnya, tetapi juga gelombang kenangan terhadap masa laluku sendiri. Aku seperti diingatkan kembali pada diriku yang dulu: yang rapuh, yang berjuang, yang belajar berdiri sendiri. Dari situ aku mengerti satu hal penting: Aku tidak sedang terikat pada dirinya di masa sekarang, aku sedang terikat pada masa lalu dan ekspektasi ku. Itu kenapa ekspektasiku tinggi sekali rasa-rasanya. Padahal, meskipun masa itu membentukku, hidupku tidak seharusnya terus berputar di sana. Aku tidak perlu melupakan masa lalu, tetapi aku perlu melepaskan kemelekatan dan ekspektasi terhadapnya. Ekspektasi semesta seperti mendukung dengan kisah ini, seperti red string teori, padahal tidak seindah itu.  Selain itu, aku masih terjebak  ekspektasi pada sosok dia di masa lalu, bahwa dia orang yang aku kenal dulu, bukan dia yang sekarang padahal dia pribadi yang berbeda. Masa lalu adalah pelajaran, bukan tempat tinggal. Ia boleh menjadi bagian dari cerita, tetapi bukan penentu arah masa depan. Dan kini aku belajar untuk memandang semuanya dengan lebih jernih : Aku menyadari bahwa aku perlu melepaskan kemelekatanku pada masa lalu. Bukan karena masa itu tidak berarti, justru sebaliknya ia pernah membentukku, menguatkanku, dan mengajarkanku banyak hal tentang diriku sendiri. Namun, dibentuk oleh masa lalu tidak berarti aku harus terus tinggal di sana. Hidupku tidak lagi terjadi di waktu itu. Hidupku ada di hari ini, di diriku yang sekarang, yang sudah bertumbuh dan berubah. Begitu pula dengannya. Ia bukan lagi sosok yang sama seperti yang pernah aku kenal dulu. Ia hanyalah seseorang di masa kini yang kebetulan memiliki jejak di masa laluku. Karena itu, aku ingin belajar melihat masa lalu dengan cara yang baru  bukan sebagai tempat untuk kembali, melainkan sebagai ruang belajar yang telah selesai perannya. Aku memilih menerimanya dengan utuh, menyimpan pelajarannya. kadang seseorang hadir kembali bukan untuk menjadi bagian masa depan tetapi untuk menunjukkan seberapa jauh kita sudah melangkah dan bertumbuh.

 Aku belajar dia datang : untukku menemukan diriku sendiri                 

Aku selalu punya high standar memasukan seseorang di dalam hatiku, sebagai manusia yang cukup rasional, idealis-keras kepala dan logic bahkan sering pakek tools analisis Matriks, SWOT, Cost Benefit analisys dalam hidupnya sehari-hari. Jatuh cinta adalah hal yang tidak aku sukai karena aku perlu invest waktu, pikiran dan perasaan berhargaku yg bisa jadi investasi bodong.  Jadi  aku selalu punya tools untuk memasukan seseorang baru di hatiku, dan ternyata tools itu tidak berlaku dengannya karena yaa nyatanya aku seperti menemukan diriku yang lain saat jatuh hati dengannya. Menemukan diriku yang tidak perlu insecure buat jatuh cinta, tidak perlu harus menggunakan analisis segambreng buat merasakan cinta lagi, tidak perlu susah payah buat berusaha jadi orang lain. Gongnya aku mulai bersemangat buat ngejar ketertinggalanku dengannya, dia seorang auditor halal. Salah satu impianku dulu, kenapa auditor halal, karena aku ingin menjadi salah satu bagian yg lebih bermanfaat untuk agamaku melalui pekerjaanku, dan salah satu caranya menurutku  dengan jadi auditor halal pun sesuai dengan IKIGAIku. Dewasa setelah aku lulus-bekerja hingga aku melupakan keinginanku, dan saat aku bertemu dengannya ada keinginan itu kembali, jadi mungkin bertemu dia bukan untuk menjadi partner di kehidupanku personal tapi memang Allah kirimkan dia untuk mengingatkanku belajar jadi auditor halal. Jadi mari Kita coba peran itu kembali! Jadi aku juga belajar banyak kehadirannya mungkin bukan untuk menetap tapi hanya sebagai bahan pelajaran dalam hidupku! And thats okeey

 Aku jadi mengenal standar hatiku sendiri

Sebagai orang punya pola “earning love” (harus layak dulu baru dicintai), Ini biasanya terbentuk dari pengalaman hidup lama, misalnya karena aku harus berprestasi dulu baru dipuji, harus kuat dulu baru dihargai, terbiasa berjuang sendirian, sering berada diposisi membuktikan, hingga aku melihat pola aku merasa tertantang buat mencintai duluan dibanding dicintai dulu. Padahal, sebagai seorang cowok mereka memiliki biologis dan psikologis sebagai pengejar/pemburu "If he would, he will" ini standar kan ya?. Tapi ketika aku dikejar-kejar cowok aku merasa ilfil entah kenapa ini dari dulu jaman aku sekolah sampe kerja, aku tidak suka di deketin cowok yang aku tidak naksir duluan. Dari poin ini aku belajar untuk melihat hatiku yang utuh itu : masa laluku yg perlu earning love itu harusnya tidak aku bawa hingga aku dewasa, cinta yang seutuhnya adalah cinta dual side bukan one side. Jika aku sendiri yang memperjuangkan sedangkan dia tidak maka itu namanya bukan perjuangan tapi pengorbanan, dan cinta bukan tentang menjadi korban. Aku mulai mengamati pola ini dan standarku dicintai bukan hanya memiliki tapi tentang diperjuangkan, diusahakan, dihormati dan dipilih dengan sadar. Jadi percuma kalo dia 10000 nilainya di mataku kalo dia tidak punya standar itu yang akan 0 karena semua value hidupnya akan di kali dengan standarku juga kan. Termasuk tentang standar keterikatan/kemelekatan emosional dengan dirinya. Karena cinta yang sehat seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan. Ia tidak membuat kita terus menerka, membaca tanda, atau terjebak dalam overthinking tanpa ujung. Jika sampai hari ini yang tersisa adalah pertanyaan, analisis, dan kegelisahan, mungkin itu bukan standar dicintai dan dipilih olehnya. Melainkan hanya keterikatan emosional, ekspektasiku yang belum selesai dan cinta one side (alias cinta bertepuk sebelah tangan)

 Aku belajar bahwa nilai diriku tidak bergantung pada siapa yang memilihku

Aku pernah dengar analogi sederhana tapi sangat menenangkan: Kalau aku adalah es krim stroberi terenak, lalu ada seseorang yang justru memilih es krim cokelat, itu bukan berarti aku tidak enak, tidak berharga, atau kalah. Itu hanya berarti selera, kebutuhan, dan preferensinya memang berbeda. Begitu juga dalam hidup. Ketika seseorang tidak memilih kita, sering kali refleks pertama adalah menyalahkan diri, merasa kurang, merasa gagal, dan merasa tidak cukup. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap orang membawa: latar belakang, kebutuhan emosional, kesiapan, timing, dan arah hidup yang berbeda. Pilihan mereka lebih banyak berbicara tentang kondisi dan kebutuhan mereka, bukan tentang nilai diri kita. Aku sedang belajar menerima bahwa: tidak dipilih bukan berarti tidak layak, tidak diperjuangkan bukan berarti tidak berharga, dan tidak berjodoh bukan berarti gagal. Sakit? tentu saja. Tapi aku juga belajar bahwa rasa sakit tidak harus menjadi tempat tinggal yang permanen. Ia cukup menjadi tempat singgah untuk memahami, lalu dilepas perlahan. Suatu hari nanti, aku akan dipilih oleh seseorang yang memang membutuhkan “stroberi” seseorang yang melihat nilaiku sebagai sesuatu yang tepat, bukan sekadar alternatif. Dan ketika itu terjadi, aku akan tahu: bukan karena aku berubah menjadi lebih berharga atau berubah menjadi es krim coklat, melainkan karena sejak awal, aku memang sudah berharga dan es krim stroberi terenak itu.

Sekian yapping tentang pelajaran kehidupan mba-mba menuju 30s yang masih gagal dalam kisah cintanya! Tapi meskipun saya gagal dengan kisah cinta saya saat ini dengan anda, saya menemukan diri saya yang lain, Terima kasih pernah singgah! I’m glad we could reconnect again after all these years. Semoga anda selalu diberikan kelancaran dalam karier dan kehidupan anda ya! Dan sekarang saya tetap memilih dengan standar yang saya miliki, dengan value diri saya dan akan lebih mencintai diri saya lebih ugal-ugalan! 


Selasa, 14 Oktober 2025

Lets Talk About Money Part I

       Dulu salah satu targetku sebelum 30th adalah punya rumah sendiri. Apakah ini berlaku untuk saat ini? entah kenapa impian dan target sebelum 30th punya rumah sendiri dan kendaraan itu sirna ditempa realita.  Malah aku mulai realistis untuk tidak pensiun di kota sekarang aku tinggalli dan terlalu dini untuk memutuskan membeli rumah sekarang apalagi jika pakek KPR dan di kota domisili. Aku mulai mempertimbangkan banyak aspek selain dimana domisili untuk pensiun juga tentang prioritas tabunganku akhir-akhir ini. Selama lebih dari 5th aku bekerja mungkin pencapaianku tidak sementereng teman seangkatan yang sudah berani ambil KPR, punya rumah, mencicil beli kendaraan roda 4, atau punya tabungan sekian ratus juta. Semakin aku dewasa, semakin aku melihat orientasiku memang bukan hanya barang-barang tangible yang terlihat, orientasi menumpuk uang dan membelikan barang juga bukan prioritasku. Mungkin semua ini karena salah satu psikologisku di masa lalu terhadap uang. Dulu aku dibesarkan dengan pola “uang disimpan, bukan dinikmati”. Sekarang aku mulai membalik pola itu ingin menikmati apa yang dulu tidak boleh. Orientasi dari pengalaman yang kurang menyenangkan dengan keuangan itu akhirnya membentuk pradigmaku tentang uang sampe saat ini, trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya. Aku mulai banyak membeli barang yang harusnya bisa di beli saat aku kecil, aku mulai menabung untuk banyak perjalanan yang dari dulu aku impikan, aku mulai membeli makanan yang dulu aku ingin rasakan. Financial attacment ini akhirnya membentuk diriku yang sekarang bahkan ketika aku memiliki uang berlebih rasa-rasanya aku hanya ingin menabung tanpa membelikan barang-barang tangible seperti ayahku dulu beli atau membeli sesuai keinginan dia yang selalu ditargetkan ke aku saat aku mulai bekerja, karena merasa untuk apa aku membeli lukaku di masa lalu? yang aku sadari trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya.  

Mungkin di usiaku sekarang ini harusnya keilmuan dan kepemilikan aset sudah ditahap lebih dari cukup dan bisa sesuai dengan target ayahku dari dulu. Nyatanya tidak, aku bukan anak pertama penurut dan sesuai keinginan mereka, aku mulai melepaskan keterikatanku dengan uang, aku tidak perlu harus memenuhi standart dan target sosial. 

Meskipun ini salah tentu saja, aku tumbuh dengan luka-luka yang memang harus aku sembuhkan tapi nyatanya menyembuhkan memang butuh waktu, jadi saat ini aku melalui luka-luka itu dengan melatih keseimbanganku melihat dan menggunakan uang.  Beranjak dewasa  dengan pencapaian yang seadaanya ini akhirnya  aku mulai  berusaha untuk menikmati uangku dengan sadar, tapi tetap aku memiliki prinsip arah tujuan jangka panjang. 

Uang mungkin dibutuhkan untuk semuanya tapi aku tidak harus memiliki uang ratusan juta untuk berbahagia, aku tidak perlu memiliki standar sukses dengan memiliki rumah di usia  30th, tidak harus membeli properti atau barang-barang tangible agar dilihat bahwa aku sukses seperti standar umumnya. Aku mulai nyaman dengan menabung untuk banyak kesempatan tak terbatas, stabilitas batin, kebebasan memilih, pengalaman yang aku ingin rasakan dan kemampuan menikmati hidup tanpa rasa bersalah. Jadi bagiku memiliki tabungan ataupun aset apapun di usia berapapun bukan keterlambatan, tapi juga proses menemukan makna baru dari kata “cukup” dan tau standar kebahagiaan diri sendiri.  

Rabu, 24 September 2025

Sebuah cerita di September 2025 Bagian 1

       Kalo ditanya kamu milih September 2024 atau 2025 tentu aku tanpa pikir panjang akan memilih September 2024 tanpa tapi! Tapi entah gimana ceritanya ada banyak plot twist di 2025 ini yang bikin aku hah heh huh hoh. Plot twist pertama tentang dia. Mari kita cerita ringan-ringan dulu sebelum yang berat-berat 

Dia orang lama, teman belajar, teman ambis keluar dari jurusan selama satu tahun, dia berhasil dan aku masih di jurusanku gagal kedokteran untuk kesekian kali. Akhirnya dia pindah kuliah di PTN lain. Sebut aja X


Ada satu momen akward yang aku ingat. Dulu, dia pernah datang ke kosku tanpa pemberitahuan. Aku kira itu temen cewekku yang janjian nganter buku, temen cewekku nunggu di motor dia yg disuruh ke kamarku, dia berdiri tanpa manggil cuman ngetuk di depan pintu. Saat itu dengan santainya aku menuju pintu tanpa pakai jilbab, dan dia jadi satu-satunya teman cowok yang pernah lihat aku dalam keadaan begitu. Lol, momen awkward tapi memorable krn bingung dan salting sekali waktu


Aku tak banyak pengalaman dengannya yg aku ingat, hanya kenangan belajar dan belajar itu, percakapan sederhana yg aku ingat dulu sepertinya hanya

"Tan matamu mirip mataku ya ada hitam-hitamnya, di bagian lensa mata yg putih" ohiya disitu aku baru menyadari kita punya kesamaan yg unik yg orang lain tidak punya


Satu tahun setelah pisah, kita pernah ketemu di jalan menuju tempat yg sering kita habiskan waktu dulu buat belajar, disana dia dateng entah untuk apa saat aku tanya dia hanya jawab “mau maen” setelah itu kita menjalani hidup masing-masing, dia orang yg masih selalu melihat story2ku dan akupun hanya tau update kehidupannya lewat story2nya


Tau apa plot twist dari semua itu, kita ketemu lagi Sebagai karena pekerjaan, 10th setelah semua itu dan semesta tiba2 nemuin dengan cara yg tidak terduga. Jadi dia kerja di perusahaan A sebagai auditor, aku kerja sebagai auditor eksternal buat sertifikasi izin edar/keamanan pangan untuk perusahaan dia. di tahun 2021 aku sebagai PIC narahubung buat perusahaan dia (X) tapi saat itu langsung koordinasi dengan Lead auditornya sebut aja mba A. Sejak 2021-2022 aku bekerjasamanya dengan mba A langsung, di 2023 mba A resign pindah ke perusahaan B, akhirnya X yg jadi lead pengganti mba A, sayangnya udah bukan aku PIC di perusahaan dia dari 2023-2025


Di tahun 2025, Mba A menghubungiku lagi untuk pendaftaran sertifikasi perusahaan B, tempat dia bekerja sekarang. Kali ini, kami akhirnya bertemu langsung karena sudah nggak ada batasan pandemi. Di sinilah cerita lain ternyata Mba A masih jadi teman dekat X! disini Dia tahu kalau aku dan X juga temenan dulu. Dari situ, Mba A mulai berperan sebagai makcomblang, berusaha nyatuin kami dengan cara yang rapi banget. 


Hasilnya? Belum Berhasil, 🤣

Sayangnya, usaha Mba A belum membuahkan hasil. Ada “krikil-krikil” kecil yang masih mengganjal di antara kami, mungkin perbedaan pandangan atau timing yang belum pas. Tapi, yang bikin aku takjub adalah betapa sempitnya dunia ini. Siapa sangka temen lama dari masa kuliah bisa ketemu lagi lewat hubungan audite-auditor, dan malah dicomblangin sama klien yang juga temen dekat kami masing2


Revisi Core Belief System

Sejak 2022, aku selalu yakin kalau jodohku bakal orang baru, bukan dari lingkaran temen lama. Aku bahkan udah lupa sama kenangan dengan temen-temen kuliah, termasuk X. Tapi, plot twist ini bikin aku mikir ulang. Mungkin aku perlu revisi core belief system-ku soal jodoh. Hidup ternyata punya cara lucu buat ngingetin bahwa masa lalu bisa nyambung lagi ke masa kini dengan cara yang nggak pernah kita duga.

Sabtu, 01 April 2023

Lesson learned Q1 di 2023

Mau bersyukur sudah melewati Quarter 1 dengan berbahagia dan merayakan sepenuhnya meskipun banyak menghadehnya, dan ini beberapa hal yang aku pelajari serta aku syukuri di Triwulan Pertama (Quater 1) 2023

  • Finally meskipun menghadeh-hadeh setiap hari aku sudah bisa memulai beradaptasi dengan kebiasaan baru yang seru. Akhir-akhir ini aku bisa memasak, food preparation dan memikirkan gizi seimbang di makananku. Meskipun aku masih harus tertatih dengan semua itu, setidaknya aku sudah berbahagia dengan sedikit pencapaianku. Aku mulai beradaptasi dengan hal itu di awal tahun sebenernya tapi gagal, karena sakit, dan baru memulai kembali di bulan maret lalu setelah Februai hiatus. Alasan utamanya memulai konsisten masak karena akhir-akhir ini merasa sudah cukup jarang makan sayur jika sering beli, ada kebosenan dengan warung makan deket kost meskipun enak dan murah menunya kurang bervariasi, selain itu karena budgeting ketat akhir-khir ini, dan voila akhirnya saya bisa masak dengan proper sesuai dengan keseimbangan gizi. 

  • Bisa melakukan alokasi budgeting, dan perencanaan keuangan yang sesuai. Belajar banyak terkait dengan excel dan spreed sheet gonta ganti, dan voila akhirnya menemukan cara budgeting yang tepat. Seru sekali akhirnya gak menyusahkan diri sendiri dengan spreadsheet buat manajemen keuangan yang dimiliki.

  • Selain itu tentu saja ada 2 buku yang bisa aku selesaikan di Q1 ini, meskipun kurang dari target  tapi tidak apa-apa yang penting kan implementasi dari membaca bukunya yaa kan, dan tidak lelah dalam berproses sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit 

  • Bisa mengikuti career class dengan tertatih, saya masih berusaha adaptasi untuk tidak pernah absen masuk kelas, meskipun seringnya absen, mencoba mendengarkan rekaman dan mencatatnya dengan seksama namun, begitulah namanya juga hidup, usaha suka mengkhianati hasil memang. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil itu memang jarang terjadi, meskipun begitu berproses dan berprogress tidak harus berhasil adalah salah satu mottoku di 2023. Sampai sejauh ini, aku masih berusaha memperbaiki semua catatanku di career class dan berusaha sedikit demi sedikit mengimplementasikan keilmuan di CC. Setidaknya aku berusaha untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap diriku, termasuk bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah aku buat. Meskipun rasa-rasanya aku sering menghadeh-hadeh sepanjang waktu, semua hal yang aku dapat hari ini adalah doaku yang dulu pernah aku panjatkan, jadi mengapa tidak untuk selalu berproses menjadi yang lebih baik.

  • Aku bisa membeli beberapa barang yang aku impikan, yang notabene sudah menjadi bucket listku sejak 2021, tapi aku baru bisa merealisasikan di 2023., dan semua itu tanpa disengaja hal yang sebenarnya aku sudah lupa pernah mendoakannya, tapi Allah selalu memberikan sama dengan permintaanku sesuai doaku. What an Amazing, masyaAllah  

  • Merayakan ketidakbecusan hidup, dengan berbagai hahahihi di 2023, ada banyak ketidakbecusan yang sering dibuat. Tapi tak mengapa! memang siapa sih yang bisa sempurna dengan berbagai hal di dunia ini, pekerjaan, kehidupan, sosial, hubungan, dll. Pasti ada celah ketidak berdayaan dan kurangnya, 2023 aku berusaha menerima diriku yang masih banyak kurangnya itu, meskipun aku tau selama ini aku pernah melakukannya, tapi 2023 aku lebih berusaha untuk tidak lari dan meninggalkan kekuranganku, ingin aku peluk kurangku dan bilang bahwa aku baik-baik saja dengan berbagai kekurangan yang aku miliki.

  •  Belajar mengendalikan diri, mengendalikan diri dari omongan orang lain entah positif ataupun negatif, bahwa sejatinya yang bisa mengotrol diri kita adalah kita sendiri, bagaimana kita merespon segala sesuatunya, karena semuanya yang ada di dunia ini netral, kita sendirilah yang punya peran untuk mengontrolnya, membuatnya menjadi hal yang berarti atau malah menjadi sakit hati. Itu mengapa pentingnya mengendalikan diri. 

  • Jangan membalas pesan atau merespon sesuatu saat kondisi sedang marah atau ada berbagai emosi yang ada di dalam diri berkumpul seperti kecewa, marah, sedih dll, meskipun menjadi seorang fight tidak serta merta salah, nyatanya kondisi freeze at the moment itu juga penting, kondisi saat kita bisa berusaha meregulasi emosi kita seperti apa dan tindakan apa yang paling penting untuk dilakukan, tidak yang langsung memberikan respon apa yang sedang kita rasakan dan memberikan justifikasi mengapa kita melakukan hal tersebut, karena sejatinya kita manusia biasa ada banyak kesalahan yang bisa kita perbuat tanpa sengaja.    
  • Tidak semua kesempatan harus digunakan, 2023 mengajarkan aku bahwa ada berbagai kesempatan yang memang aku lewatkan, aku merasa aku sudah mengalami berbagai macam hal dan sedang berjuang untuk hal-hal yang memang aku semogakan dan menjadi prioritasku, thats why, aku belajar untuk tidak gegabah menerima semua kesempatan yang aku miliki. Aku juga berusaha menyiapkan diri agar ketika ada kesempatan yang lebih baik aku bisa memberikan yang terbaik dan telah siap mengemban amanah itu. 

  •  Nyatanya move on tidak bisa serta merta, rasanya aku masih harus tertatih-tatih buat bilang bahwa aku sudah lupa dengan perasaanku dan aku sudah mengiklaskan perasaanku, ramadhan tahun 2022 adalah  moment pertama aku mengenalnya, dan ramadhan pula jadi salah satu titik-titik ada garis yang bersingungan dan bisa dibuat garis baru yang menyenangkan di tahun 2022 tapi itu hanya harapku, hal-hal yang aku pikir dulu Tuhan sedang membuat titik-titik yang bisa aku jadikan garis untuk masa depanku, tapi rasa-rasanya moment di 2022 itu adalah moment aku ingin menghapus titik-titik yang pernah aku buat. Hal yang selama ini aku syukuri menjadi salah satu hal yang aku sesali. Lucu bukan? apakah akhirnya aku belum berdamai dengan keadaan itu? Tbh, aku masih meramu perasaan apa yang saat ini aku rasakan dan bagaimana aku harus bersikap, yang aku tau selama 3 bulan ini aku berusaha menyibukan diriku dengan berbagai macam hal, agar aku bisa membuat momen-momen baru yang menyenangkan sehingga aku lupa dengan perihnya kejadian di akhir 2022 hingga sekarang. Nyatanya, aku masih disuruh banyak berusaha dan berdoa lagi, karena hal-hal itu tidak bisa serta merta aku lupakan dan aku iklaskan. Meskipun ada ratusan jenis alasan bahwa titik itu tidak dapat aku jadikan ke garis masa depan yang mau aku tuju, tetap saja ketika harus bersingungan atau melihat ulang kejadian-kejadian di suatu tempat dengannya aku masih tetap harus merasakan  rasa sakit yang selalu aku hindari. Aku sudah berusaha untuk menerima, menyembunyikan story-storynya, menghindari komunikasiku atau tidak pernah lagi stalking, tapi entah angin darimana aku juga sering memimpikannya, hal yang selalu aku hindari di dunia nyata ataupun maya, namun nyatanya aku bertemu di dunia mimpi. Berdamai dengan masa lalu itu tidak bisa serta merta, jadi setelah ini, aku ingin bilang kepada diriku bahwa nanti suatu saat kita sama-sama belajar buat menyakini bahwa rencana dan takdirNya adalah selalu yang terbaik ya tan, tidak perlu tau sekarang alasannya biar waktu yang menjawab :')) 

Sekian lesson learned dari Triwulan pertama 2023.  

Selasa, 21 Februari 2023

“Merasa Cukup” dan “Menjadi Ambisius”

    


    Selama ini kita sering menemui banyak kontradiktif dalam berbagai hal salah satunya tentang “merasa cukup” dan “Menjadi Ambisius”. Tidak ada yang salah untuk keduanya, yang salah adalah ketika saya merasa mudah cukup dengan apa yang saya miliki yang sebenarnya saya hanya sedang malas saja untuk berusaha lebih, Saya tidak mau repot melakukan apa pun, saya hanya ingin hidup dalam zona nyaman saya, yang enggan untuk memperluas zona nyaman. Karena di beberapa fase ternyata fase tidak memperjuangkan apa-apa, tidak memiliki ambisi dan berada di zona nyaman enggan untuk memperluas zona nyaman adalah salah satu fase saya kehilangan diri saya. Meskipun begitu ambisius selama ini sering kali identik dengan hal yang negative “Ambis banget sih”, “Jangan ambis-ambis” dan berbagai kontradiksi terkait seorang yang ambis, seolah-olah seorang yang ambis yang dikejar adalah dunia dan seisinya. 

    Sebenernya ambisius itu apa sih? Menilik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisius adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu tujuan, harapan, atau cita-cita. Sikap ambisius bisa juga berarti melakukan sesuatu dengan penuh ambisi. Sementara ambisi sendiri dalam KBBI diartikan sebagai keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Sedangkan “Merasa Cukup/Being Content” Artinya adalah dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya; tidak kurang.

    Dari dua konteks diatas Ambisius dan Merasa Cukup, apakah melihat kontradiksinya? Setelah saya cermati dan saya refleksikan dikehidupan saya, ternyata tidak banyak kontradiksi antara kedua konsep tersebut. Keadaan “Ambisius” dan “Merasa cukup” adalah suatu dorongan untuk menjadi yang terbaik. Di manakah letak kontradiksinya? Kontradiksinya terletak pada kesalahpahaman kita bahwa merasa cukup berarti tidak ingin mencapai lebih banyak, dan berambisi untuk mencapai lebih banyak adalah tanda bahwa kita tidak merasa cukup. Padahal seharusnya kita perlu menjadi ambisius dan merasa cukup. Karena menjadi ambis berarti mendorong kita untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik dan  “Merasa cukup” membuat kita bisa menikmati perjalanan yang kita miliki. Saat ini, saya sedang berusaha untuk menjaga keseimbangan, salah satunya menjaga keseimbangan menjadi ambisius dan merasa cukup dengan apa yang diusahakan, karena hal ini bukanlah kontrakdiksi yang tidak bisa berjalan beriiringan, kita bisa menjadi seorang yang ambis tapi juga merasa cukup dengan apa yang telah diperjuangkan dan dimiliki, yang penting kita tahu bahwa perjalan terbaik kita hanya untukNya, dan berusaha menjadi umat terbaikNya versi diri kita (Best version of ourself), karena ini salah satu tujuan saya di muka bumi bagi saya pribadi. Terakhir saya menyukai salah satu hadist ini “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

#30DWCJilid41 #30DWC #Day5

Senin, 20 Februari 2023

Menakar Bahagia

Source gambar : https://grandandlovelyprints.com/


    Bahagia menurut KBBI adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram yang terbebas dari segala yang menyusahkan; beruntung. Kebahagiaan menjadi suatu tujuan utama manusia. Semua orang memiliki harapan yang ingin dicapai untuk memenuhi kepuasan dalam kehidupannya. Studi pengukuran tingkat kebahagiaan berbagai negara menemukan kebahagiaan bervariasi tergantung kondisi sosial ekonomi saat itu. Di tingkat individu maupun negara, Tapi tidak sedikit juga ditemukan kasus paradox kebahagiaan di negara maju ataupun negara berkembang, penduduk pedesaan maupun di perkotaan. Ada banyak faktor terkait dengan tingkat kebahagiaan seseorang, salah satunya yang sering kita jadikan perdebatkan adalah terkait kesuksesan ataupun tingkat kekayaan. Semakin kaya seseorang maka kita akan selalu berasumsi orang ataupun masyarakat tersebut Bahagia. Apakah selalu seperti itu?
    Menariknya baru-baru ini sebuah survey menyatakan bahwa D.I. Yogyakarta  tercatat sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2023. Angka kemiskinan Yogyakarta tercatat sebesar 11,49 persen. Persentase kemiskinan itu berada di atas rerata nasional, yaitu 9,57 persen.  Namun, survey lain menyatakan bahwa survey indeks kebahagiaan DIY menurut data BPS pada 2021 adalah 71,70. Angka tersebut merupakan tingkat ke-14 dari seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi nomor satu di pulau Jawa. Dari kedua survey ini ditemukan juga sebuat studi yang menyatakan bahwa kebahagiaan yang dikaitkan dengan pendapatan menemukan adanya paradox of happiness atau income paradox yang dikenal dengan Easterlin Paradox, yaitu peningkatan pendapatan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan atau kebahagiaan seseorang. Easterlin paradox menunjukkan bahwa terdapat faktor lain selain pendapatan (material) yang mempengaruhi kebahagiaan;
    Menurut Veenhoven (1988) membagi teori kebahagiaan menjadi tiga bagian yaitu set point theory, cognitive theory dan affective theory. Dalam set-point theory, kebahagiaan merupakan sesuatu yang sudah diprogram oleh seseorang dan tidak berkaitan dengan bagaimana hidup seseorang. Kebahagiaan dipengaruhi oleh sifat atau karakter (personal trait), genetika dan budaya. Orang akan berupaya untuk mempertahankan tingkat kebahagiaan yang nyaman baginya (comfortable level). Dalam teori kognitif, , kebahagiaan adalah produk dari pemikiran dan refleksi manusia atas perbedaan antara persepsi kehidupan yang sebenarnya dan seharusnya dimiliki. Kebahagiaan tidak dapat dihitung tetapi dapat diketahui. Dalam teori afektif, kebahagiaan adalah refleksi manusia tentang seberapa baik kehidupannya secara umum. Jika orang merasa baik di Sebagian besar hidupnya maka ia mestinya bahagia. (Rahayu, 2016)
    Jadi dari berbagai macam indikator Bahagia menurut ahli ini, menurut kamu takaran Bahagia yang seperti apa sih? Dulu saya pikir Bahagia saat memiliki banyak uang, bisa mendapatkan pekerjaan A, bisa memiliki B, bisa dengan z, dll. Ternyata semakin dewasa saya, saya tidak perlu memiliki A, mendapatkan b, dll untuk bahagia. Tidak perlu membandingkan berbagai teori itu untuk menentukan indikator bahagia saya sendiri, dan tidak perlu membandingkan indikator bahagia yang saya miliki dengan indikator orang lain. Saya menyimpulkan bahwa semakin sederhana indikator dan variable yang kita miliki semakin mudah standar Bahagia itu bisa dilampaui. Tidak ada alat atau instrumen yang ada untuk mengukur kebahagiaan seseorang, tetapi kita sendirilah yang harusnya membuat indikator dan variable itu agar mudah dijangkau ataupun malah dilampaui. Selamat berproses happiness people!

#30DWC #30DWCJilid41 #Day4



Popular Posts