Sabtu, 21 Februari 2026

Refleksi 2025 Part I

Aku pernah belajar mencintai dan menggenggam semuanya dengan begitu erat. Lalu perlahan, satu per satu, semua itu menghilang.

Sepertinya, sejatinya 2025 adalah tentang belajar melepaskan banyak kemelekatan: kemelekatan pada benda, pada seseorang, pada hal-hal yang berharga, bahkan pada semua yang pernah aku miliki.

Perihal kesehatan.

Alhamdulillah, tahun ini kesehatanku jauh lebih baik. Jika di akhir 2024 aku beberapa kali harus bolak-balik ke klinik karena sakit, di 2025 aku tidak lagi sampai harus sesering itu berobat.

Aku juga mulai banyak memasak, rajin olahraga, dan entah sejak kapan jadi sering membawa bekal yang lucu-lucu dan enak. Ternyata aku bisa menjadi manusia yang sangat menikmati memasak sebagai bentuk stress release. Dari yang awalnya hanya keinginan, berubah menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bahkan sampai pada tahap terasa seperti kebutuhan. Dari sana, aku menemukan bentuk self-love yang baru: merawat diri lewat masakan yang kubuat sendiri. Selain itu aku juga lebih sering nongkrong di tempat gym, buat olahraga entah hanya ikutan kelas yoga, lari di treadmil, dll. Seperti di tahun 2024 aku masih mencintai lari marathon meskipun tahun 2025 tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya untuk ikutan race tapi tahun 2025, lari juga masih menjadi coping stressku. Selain itu coping stressku yang lain tentu saja dengan membaca buku dan traveling, ada lebih dari 8buku yang bisa aku selesaikan di tahun ini, meskipun kurang dari target setidaknya ini lebih banyak dibanding 2024. Traveling masih menjadi salah satu self healing - melepas burn out untukku. Kapan-kapan kita cerita panjang tentang berbagai pengalaman perjalanan ini yang tidak bisa hanya pada satu artikel

Selain kesehatan fisik, di akhir tahun aku juga mulai mengevaluasi kesehatan mentalku. Jujur, 2025 bukanlah tahunku. Tahun ini benar-benar mengguncang kehidupanku sebagai manusia dewasa dari banyak sisi. Sampai akhirnya aku bertekad mengikuti talent mapping dan psychological check-up.

Tidak semuanya baik-baik saja, tetapi ada banyak hal yang tetap perlu disyukuri. Dihasil talent maping ini aku masih sedikit shock dengan hasil IQ ku yg masih diatas average karena sejauh ini aku selalu pikir IQ ku rata-rata, apalagi setelah 5th kerja dengan rutinitas yang sama🥲 Selain itu ada banyak sisi psycology cek up yang aku merasa related blind spotku dari dulu.

Kabar baiknya, dari proses konsultasi itu aku akhirnya menemukan trigger dan akar masalah yang selama ini hanya bisa kuraba-raba. Dulu aku hanya menduga-duga, tidak pernah benar-benar yakin. Kini, semuanya terasa lebih jelas, bahkan sampai pada bagian tentang bagaimana melepaskannya. Meskipun aku belum bisa melepaskan semuanya

Aku masih perlu meramu semuanya. Ibarat memasak, aku baru saja diberikan resep dan bahan-bahannya belum sempat benar-benar mengolahnya dan menghidangkannya.

Akhir 2025 terasa sangat pelik. Aku merasa seperti jiwa yang kehilangan arah  menggenggam begitu banyak hal, tetapi nyatanya justru harus belajar mengikhlaskan semuanya.

Semua memang butuh proses, dan sekarang aku sedang berjalan di dalam proses itu.

Prihal Pekerjaan

Ini adalah salah satu “gong” terbesar tahun 2025. Bahkan menjadi alasan utama aku pergi ke psikolog.

Aku merasa kehidupanku di pekerjaan sudah tidak kondusif. Aku seperti dituntut untuk selalu terlihat baik-baik saja, padahal di dalamnya aku begitu rapuh.

Perpindahan dari peranku sebagai auditor yang mungkin akan membawaku ke peran baru ke depannya  terasa sangat mengguncang. Aku bahkan belum sanggup menyebutnya dengan lantang, karena aku masih sangat mencintai peranku sebagai auditor.

Rasanya seperti duniaku tiba-tiba menjadi gelap. Padahal semua ini bahkan belum sepenuhnya dijalani, tetapi kebingungan dan ketakutannya sudah terasa begitu besar. Aku juga belum tahu alasan aku diposisi ini, belum tau harus bagaimana, belum tau hikmah semua itu tentang apa. Aku masih di fase denial dan fase menerima semuanya dulu tanpa perlu menolak semuanya. 

Memasuki Januari 2026, aku mulai banyak mengerem diri. Aku pelan-pelan melepaskan beberapa hal, sambil menata kembali apa saja yang benar-benar masih menjadi kepunyaanku.

Aku sedang belajar untuk tidak lagi menggenggam terlalu erat.

Belajar bahwa yang memang ditakdirkan untukku tidak akan pernah benar-benar pergi.

Dan yang pergi, mungkin memang tidak pernah ditakdirkan untuk tinggal.

Kita usahakan menulis banyak refleksi baik di bulan baik ini, meskipun mungkin tidak bisa langsung setiap hari satu refleksi, karena ternyata jadwal pelatihan-audit-pekerjaan minggu-minggu ini terlalu kejar-kejaran dengan deadline dan tugas, tapi meskipun begitu aku tetap mencintai pekerjaanku sebagai auditor🥹


Kamis, 19 Februari 2026

How To Self Love Part I

Day 2 — Satu Hari, Satu Cerita: Refleksi Ramadhan 🌙

Setelah fase patah hati kemarin, aku menyadari satu hal: ternyata yang paling sulit bukanlah kehilangan orang lain, tetapi belajar kembali pulang kepada diri sendiri. Sampai hari ini, aku masih bertanya dan belajar  bagaimana cara mengisi kembali “tangki cinta” di dalam diriku, agar setelah semua keraguan, aku tetap bisa memilih diriku sendiri, tanpa syarat.

Beberapa waktu terakhir, aku menemukan jawaban kecil, tapi terasa menenangkan: kembali ke dapur buat masak. Memasak menjadi ruang sunyi yang menenangkan. Di sana tidak ada tuntutan untuk menjadi kuat, tidak ada ekspektasi siapa pun  hanya ada aku, bahan-bahan sederhana, dan proses yang pelan.

Di awal Ramadhan ini, dengan sisa energi yang kumiliki, aku  kembali ke dapur.  Suprisingly! Hari ini aku bisa memasak tahu bakso dalam 30 menit, tumis jamur pakcoy, dan garang asem ayam yang enak meskipun tanpa diicip.

Bagiku, memasak bukan sekadar menyiapkan makanan. Ia seperti ritual merawat diri. Saat memotong, menumis, dan meracik rasa, aku belajar hadir sepenuhnya. Fokus pada apa yang ada di tanganku, bukan pada kekacauan di kepalaku. Memasak bukan hanya soal menyiapkan nutrisi terbaik, tapi juga cara  coping stress terhadap gedebag-gedebug dunia akhir-akhir ini. Saat memasak, aku bisa fokus pada bahan yang kuolah, pada apa yang sebenarnya aku butuhkan dan inginkan. Pelan-pelan, dari proses itu, aku bisa menyajikan “the best food on the table”  bukan cuma untuk tubuh, tapi juga untuk hatiku.

Pelan-pelan aku mengerti, mencintai diri sendiri tidak selalu berbentuk hal besar. Kadang, ia hadir dalam tindakan yang sangat sederhana: memastikan diriku tetap ternutrisi dan tetap diperhatikan oleh diriku sendiri. Ini juga hal kecil tapi membahagiakan dan nanti yang akan selalu aku rawat : berbahagia dengan hal yang kecil dan sederhana

Hari ini aku tidak sedang berusaha menjadi luar biasa.

ttd

Yg selalu ingin belajar mencintai dirinya lebih baik. ✨




Rabu, 18 Februari 2026

Day I Refleksi Ramadhan : Reset-Refocus

Day I Refleksi Rahmadhan : Reset-Refocus-Recharger. Momen terbaik untuk merest kehidupan bagiku adalah saat rahmadhan. Alhamdulillah tahun ini masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali menemui rahmadhan. Untuk banyak prihal yang akupun ragu kalo bukan karena Allah gak tau akan kuat atau tidak untuk menjalani semua ujian di tahun ini, tapi diberikan Allah ketemu lagi dengan rahmadhan rasanya bahagia sekali. Momentum sebulan setiap tahun untuk recharger iman. Seperti rahmadhan tahun ini rasanya cuman pengen kembali ke Allah, setelah banyak peristiwa yang rasa-rasanya sudah sejauh itu dengan Allah, tapi aku selalu ingat dengan salah satu hadist ini

Nabi SAW meriwayatkan dari Rabb-nya (hadis qudsi) bahwa Dia telah berfirman, ”Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR Bukhari)

Bahkan ketika kita banyak dosa sering melakukan kesalahan gitu, Allah masih tetap mau berlari saat kita mau berjalan mendekat kepadaNya🥹

Mungkin sama dengan rahmadhan-rahmadhan tahun-tahun sebelumnya yang akan ada banyak rencana dan target ibadah,  kita coba usahakan untuk beribadah sebaik mungkin itu, mencoba untuk membuat plan sebaik mungkin “If You Fail To Plan you are planning to fail”. Mengusahakan dan merencanakan rahmadhan ini akan menjadi rahmadhan terbaik untuk Intan

Untuk Intan di akhir Ramadhan 1447 H : 

Terima kasih sudah bertahan, sudah berusaha hadir, dan sudah memilih untuk kembali pulang, lagi dan lagi  kepada Allah SWT, di setiap sujud yang mungkin tidak selalu sempurna, di setiap doa yang kadang masih berantakan, dan di setiap niat baik yang pelan-pelan kamu rawat.

Semoga di Ramadhan ini bukan sekadar banyaknya ibadah yang tercapai, tetapi kualitas terbaiknya yang tumbuh di dalam hati. Ibadah yang membuatmu lebih lembut, lebih tenang, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah. Ibadah yang tidak hanya terasa di sajadah, tapi juga terlihat dalam caramu memandang hidup, memandang orang lain, dan memandang dirimu sendiri.

Semoga Ramadhan ini benar-benar menjadi ruang reset untukmu membersihkan luka lama, melepaskan beban yang tidak perlu kamu bawa, dan menenangkan pikiran yang terlalu sering bekerja keras. Semoga kamu belajar bahwa kamu tidak harus selalu kuat sendirian, karena ada tempat pulang paling aman yang selalu terbuka: kepada Allah.

Jika nanti setelah Ramadhan berakhir kamu kembali merasa lelah, ingatlah versi dirimu di bulan ini  yang bangun lebih awal, yang menahan diri, yang belajar ikhlas, yang percaya bahwa setiap usaha kecil tidak pernah sia-sia.

Intan, kamu tidak harus menjadi sempurna. Kamu hanya perlu terus kembali. Dan Semoga tahun ini merupakan salah satu rahmadhan terbaikmu🥹

Dan semoga setelah Ramadhan ini, kamu tidak hanya menjadi pribadi yang lebih taat, tapi juga lebih damai.

Tertanda

Dengan penuh sayang dan harap, Diriku yang sedang belajar pulang.


Jumat, 13 Februari 2026

What Love Taught Me in My Late 20s

Pernah dengar tentang  “red string theory” ?  keyakinan bahwa orang lama yang dipertemukan kembali adalah bagian dari takdir masa depan. Tahun ini usiaku 30th, aku banyak belajar tentang bagian ini akhir-akhir ini, seperti kebanyakan orang di usia ini yang masih single mungkin ada banyak pertanyaan serupa "Kapan aku menemukan dan ditemukan dengan pasangan yang tepat itu?" itu pertanyaanku berulang hingga akhirnya akhir 2025 kemaren aku bertemu dia. Aku tidak akan membohongi diriku sendiri. Perasaan itu memang muncul. Aku tidak sepenuhnya profesional seperti yang terlihat dari luar. Aku pernah jatuh karena ekspektasiku. Di usiaku yang sudah mau menginjak kepala orang ini, aku berpikir dia orang lama yang akan menjadi takdirku, dia orang lama yang suatu saat akan ada di masa depan dan masa tuaku sebagai teman di kehidupanku bukan hanya hubungan profesional tapi hubungan romantis. Tapi gayung tidak bersambut, interaksi kita memang hanya di ranah profesional bukan personal. Sebagai kawan lama yang ditakdirkan bertemu kembali karena sesuatu hal tidak ada tambahan drama romantis seperti di cerita-cerita novel atau malah film telenovela yang akan berakhir seperti di imajinasiku. Sedih? Pasti! Tapi ternyata aku banyak belajar dari luka masa lalu itu. Jadi Mari di bahas apa yang aku pelajari dari kisah cinta 20s yang gagal muluk ini.


Keterikatan, Pola Masa Lalu, Jogja, Perpustakaan dan 2013
Kenapa aku punya hook yang dalam dengannya?Aku akhirnya memahami kenapa “hook” emosiku dengannya terasa begitu dalam, padahal interaksi kami sebenarnya tidak pernah intens. Ternyata, yang terikat bukan hanya pada dirinya sebagai pribadi  tetapi pada masa hidup yang ia wakili. Kami pertama kali bertemu di tahun 2013–2014, masa ketika aku sedang berada di titik paling rapuh sekaligus paling berjuang dalam hidupku. Tahun-tahun itu identik dengan hal yang sangat bermakna 2013-2014 : Di sanalah aku belajar bertahan, di sanalah aku menemukan makna hidup, dan di sanalah aku mengenal versi diriku yang kuat meskipun sedang rapuh. Aku juga punya kedalaman emosi terutama dengan perpustakaan dan jogja, bagiku salah satu tempat favorite di muka bumi ini adalah Jogja dan perpustakaan. Itu kenapa saat bertemu dengannya aku melihat banyak masa laluku dan keterikatan emosionalku dengan masa laluku. Hal lainnya dia Orang Jogja, hal magis yg sering aku semogakan. Itulah sebabnya Jogja dan perpustakaan selalu terasa seperti rumah dan keterikatan emosional bagiku, bukan sekadar tempat, tetapi simbol dari perjalanan menjadi diriku hari ini. Dan tanpa kusadari, dia menjadi salah satu sosok yang hadir di fase itu. Bukan sebagai cinta, melainkan sebagai teman yang ikut menjadi bagian dari latar perjuanganku. Ketika kami bertemu kembali setelah bertahun-tahun setelahnya, yang sebenarnya muncul bukan hanya perasaan terhadapnya, tetapi juga gelombang kenangan terhadap masa laluku sendiri. Aku seperti diingatkan kembali pada diriku yang dulu: yang rapuh, yang berjuang, yang belajar berdiri sendiri. Dari situ aku mengerti satu hal penting: Aku tidak sedang terikat pada dirinya di masa sekarang, aku sedang terikat pada masa lalu dan ekspektasi ku. Itu kenapa ekspektasiku tinggi sekali rasa-rasanya. Padahal, meskipun masa itu membentukku, hidupku tidak seharusnya terus berputar di sana. Aku tidak perlu melupakan masa lalu, tetapi aku perlu melepaskan kemelekatan dan ekspektasi terhadapnya. Ekspektasi semesta seperti mendukung dengan kisah ini, seperti red string teori, padahal tidak seindah itu.  Selain itu, aku masih terjebak  ekspektasi pada sosok dia di masa lalu, bahwa dia orang yang aku kenal dulu, bukan dia yang sekarang padahal dia pribadi yang berbeda. Masa lalu adalah pelajaran, bukan tempat tinggal. Ia boleh menjadi bagian dari cerita, tetapi bukan penentu arah masa depan. Dan kini aku belajar untuk memandang semuanya dengan lebih jernih : Aku menyadari bahwa aku perlu melepaskan kemelekatanku pada masa lalu. Bukan karena masa itu tidak berarti, justru sebaliknya ia pernah membentukku, menguatkanku, dan mengajarkanku banyak hal tentang diriku sendiri. Namun, dibentuk oleh masa lalu tidak berarti aku harus terus tinggal di sana. Hidupku tidak lagi terjadi di waktu itu. Hidupku ada di hari ini, di diriku yang sekarang, yang sudah bertumbuh dan berubah. Begitu pula dengannya. Ia bukan lagi sosok yang sama seperti yang pernah aku kenal dulu. Ia hanyalah seseorang di masa kini yang kebetulan memiliki jejak di masa laluku. Karena itu, aku ingin belajar melihat masa lalu dengan cara yang baru  bukan sebagai tempat untuk kembali, melainkan sebagai ruang belajar yang telah selesai perannya. Aku memilih menerimanya dengan utuh, menyimpan pelajarannya. kadang seseorang hadir kembali bukan untuk menjadi bagian masa depan tetapi untuk menunjukkan seberapa jauh kita sudah melangkah dan bertumbuh.

 Aku belajar dia datang : untukku menemukan diriku sendiri                 

Aku selalu punya high standar memasukan seseorang di dalam hatiku, sebagai manusia yang cukup rasional, idealis-keras kepala dan logic bahkan sering pakek tools analisis Matriks, SWOT, Cost Benefit analisys dalam hidupnya sehari-hari. Jatuh cinta adalah hal yang tidak aku sukai karena aku perlu invest waktu, pikiran dan perasaan berhargaku yg bisa jadi investasi bodong.  Jadi  aku selalu punya tools untuk memasukan seseorang baru di hatiku, dan ternyata tools itu tidak berlaku dengannya karena yaa nyatanya aku seperti menemukan diriku yang lain saat jatuh hati dengannya. Menemukan diriku yang tidak perlu insecure buat jatuh cinta, tidak perlu harus menggunakan analisis segambreng buat merasakan cinta lagi, tidak perlu susah payah buat berusaha jadi orang lain. Gongnya aku mulai bersemangat buat ngejar ketertinggalanku dengannya, dia seorang auditor halal. Salah satu impianku dulu, kenapa auditor halal, karena aku ingin menjadi salah satu bagian yg lebih bermanfaat untuk agamaku melalui pekerjaanku, dan salah satu caranya menurutku  dengan jadi auditor halal pun sesuai dengan IKIGAIku. Dewasa setelah aku lulus-bekerja hingga aku melupakan keinginanku, dan saat aku bertemu dengannya ada keinginan itu kembali, jadi mungkin bertemu dia bukan untuk menjadi partner di kehidupanku personal tapi memang Allah kirimkan dia untuk mengingatkanku belajar jadi auditor halal. Jadi mari Kita coba peran itu kembali! Jadi aku juga belajar banyak kehadirannya mungkin bukan untuk menetap tapi hanya sebagai bahan pelajaran dalam hidupku! And thats okeey

 Aku jadi mengenal standar hatiku sendiri

Sebagai orang punya pola “earning love” (harus layak dulu baru dicintai), Ini biasanya terbentuk dari pengalaman hidup lama, misalnya karena aku harus berprestasi dulu baru dipuji, harus kuat dulu baru dihargai, terbiasa berjuang sendirian, sering berada diposisi membuktikan, hingga aku melihat pola aku merasa tertantang buat mencintai duluan dibanding dicintai dulu. Padahal, sebagai seorang cowok mereka memiliki biologis dan psikologis sebagai pengejar/pemburu "If he would, he will" ini standar kan ya?. Tapi ketika aku dikejar-kejar cowok aku merasa ilfil entah kenapa ini dari dulu jaman aku sekolah sampe kerja, aku tidak suka di deketin cowok yang aku tidak naksir duluan. Dari poin ini aku belajar untuk melihat hatiku yang utuh itu : masa laluku yg perlu earning love itu harusnya tidak aku bawa hingga aku dewasa, cinta yang seutuhnya adalah cinta dual side bukan one side. Jika aku sendiri yang memperjuangkan sedangkan dia tidak maka itu namanya bukan perjuangan tapi pengorbanan, dan cinta bukan tentang menjadi korban. Aku mulai mengamati pola ini dan standarku dicintai bukan hanya memiliki tapi tentang diperjuangkan, diusahakan, dihormati dan dipilih dengan sadar. Jadi percuma kalo dia 10000 nilainya di mataku kalo dia tidak punya standar itu yang akan 0 karena semua value hidupnya akan di kali dengan standarku juga kan. Termasuk tentang standar keterikatan/kemelekatan emosional dengan dirinya. Karena cinta yang sehat seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan. Ia tidak membuat kita terus menerka, membaca tanda, atau terjebak dalam overthinking tanpa ujung. Jika sampai hari ini yang tersisa adalah pertanyaan, analisis, dan kegelisahan, mungkin itu bukan standar dicintai dan dipilih olehnya. Melainkan hanya keterikatan emosional, ekspektasiku yang belum selesai dan cinta one side (alias cinta bertepuk sebelah tangan)

 Aku belajar bahwa nilai diriku tidak bergantung pada siapa yang memilihku

Aku pernah dengar analogi sederhana tapi sangat menenangkan: Kalau aku adalah es krim stroberi terenak, lalu ada seseorang yang justru memilih es krim cokelat, itu bukan berarti aku tidak enak, tidak berharga, atau kalah. Itu hanya berarti selera, kebutuhan, dan preferensinya memang berbeda. Begitu juga dalam hidup. Ketika seseorang tidak memilih kita, sering kali refleks pertama adalah menyalahkan diri, merasa kurang, merasa gagal, dan merasa tidak cukup. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap orang membawa: latar belakang, kebutuhan emosional, kesiapan, timing, dan arah hidup yang berbeda. Pilihan mereka lebih banyak berbicara tentang kondisi dan kebutuhan mereka, bukan tentang nilai diri kita. Aku sedang belajar menerima bahwa: tidak dipilih bukan berarti tidak layak, tidak diperjuangkan bukan berarti tidak berharga, dan tidak berjodoh bukan berarti gagal. Sakit? tentu saja. Tapi aku juga belajar bahwa rasa sakit tidak harus menjadi tempat tinggal yang permanen. Ia cukup menjadi tempat singgah untuk memahami, lalu dilepas perlahan. Suatu hari nanti, aku akan dipilih oleh seseorang yang memang membutuhkan “stroberi” seseorang yang melihat nilaiku sebagai sesuatu yang tepat, bukan sekadar alternatif. Dan ketika itu terjadi, aku akan tahu: bukan karena aku berubah menjadi lebih berharga atau berubah menjadi es krim coklat, melainkan karena sejak awal, aku memang sudah berharga dan es krim stroberi terenak itu.

Sekian yapping tentang pelajaran kehidupan mba-mba menuju 30s yang masih gagal dalam kisah cintanya! Tapi meskipun saya gagal dengan kisah cinta saya saat ini dengan anda, saya menemukan diri saya yang lain, Terima kasih pernah singgah! I’m glad we could reconnect again after all these years. Semoga anda selalu diberikan kelancaran dalam karier dan kehidupan anda ya! Dan sekarang saya tetap memilih dengan standar yang saya miliki, dengan value diri saya dan akan lebih mencintai diri saya lebih ugal-ugalan! 


Selasa, 14 Oktober 2025

Lets Talk About Money Part I

       Dulu salah satu targetku sebelum 30th adalah punya rumah sendiri. Apakah ini berlaku untuk saat ini? entah kenapa impian dan target sebelum 30th punya rumah sendiri dan kendaraan itu sirna ditempa realita.  Malah aku mulai realistis untuk tidak pensiun di kota sekarang aku tinggalli dan terlalu dini untuk memutuskan membeli rumah sekarang apalagi jika pakek KPR dan di kota domisili. Aku mulai mempertimbangkan banyak aspek selain dimana domisili untuk pensiun juga tentang prioritas tabunganku akhir-akhir ini. Selama lebih dari 5th aku bekerja mungkin pencapaianku tidak sementereng teman seangkatan yang sudah berani ambil KPR, punya rumah, mencicil beli kendaraan roda 4, atau punya tabungan sekian ratus juta. Semakin aku dewasa, semakin aku melihat orientasiku memang bukan hanya barang-barang tangible yang terlihat, orientasi menumpuk uang dan membelikan barang juga bukan prioritasku. Mungkin semua ini karena salah satu psikologisku di masa lalu terhadap uang. Dulu aku dibesarkan dengan pola “uang disimpan, bukan dinikmati”. Sekarang aku mulai membalik pola itu ingin menikmati apa yang dulu tidak boleh. Orientasi dari pengalaman yang kurang menyenangkan dengan keuangan itu akhirnya membentuk pradigmaku tentang uang sampe saat ini, trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya. Aku mulai banyak membeli barang yang harusnya bisa di beli saat aku kecil, aku mulai menabung untuk banyak perjalanan yang dari dulu aku impikan, aku mulai membeli makanan yang dulu aku ingin rasakan. Financial attacment ini akhirnya membentuk diriku yang sekarang bahkan ketika aku memiliki uang berlebih rasa-rasanya aku hanya ingin menabung tanpa membelikan barang-barang tangible seperti ayahku dulu beli atau membeli sesuai keinginan dia yang selalu ditargetkan ke aku saat aku mulai bekerja, karena merasa untuk apa aku membeli lukaku di masa lalu? yang aku sadari trauma finansial bisa membuatku ekstrem ke arah sebaliknya.  

Mungkin di usiaku sekarang ini harusnya keilmuan dan kepemilikan aset sudah ditahap lebih dari cukup dan bisa sesuai dengan target ayahku dari dulu. Nyatanya tidak, aku bukan anak pertama penurut dan sesuai keinginan mereka, aku mulai melepaskan keterikatanku dengan uang, aku tidak perlu harus memenuhi standart dan target sosial. 

Meskipun ini salah tentu saja, aku tumbuh dengan luka-luka yang memang harus aku sembuhkan tapi nyatanya menyembuhkan memang butuh waktu, jadi saat ini aku melalui luka-luka itu dengan melatih keseimbanganku melihat dan menggunakan uang.  Beranjak dewasa  dengan pencapaian yang seadaanya ini akhirnya  aku mulai  berusaha untuk menikmati uangku dengan sadar, tapi tetap aku memiliki prinsip arah tujuan jangka panjang. 

Uang mungkin dibutuhkan untuk semuanya tapi aku tidak harus memiliki uang ratusan juta untuk berbahagia, aku tidak perlu memiliki standar sukses dengan memiliki rumah di usia  30th, tidak harus membeli properti atau barang-barang tangible agar dilihat bahwa aku sukses seperti standar umumnya. Aku mulai nyaman dengan menabung untuk banyak kesempatan tak terbatas, stabilitas batin, kebebasan memilih, pengalaman yang aku ingin rasakan dan kemampuan menikmati hidup tanpa rasa bersalah. Jadi bagiku memiliki tabungan ataupun aset apapun di usia berapapun bukan keterlambatan, tapi juga proses menemukan makna baru dari kata “cukup” dan tau standar kebahagiaan diri sendiri.  

Rabu, 24 September 2025

Sebuah cerita di September 2025 Bagian 1

       Kalo ditanya kamu milih September 2024 atau 2025 tentu aku tanpa pikir panjang akan memilih September 2024 tanpa tapi! Tapi entah gimana ceritanya ada banyak plot twist di 2025 ini yang bikin aku hah heh huh hoh. Plot twist pertama tentang dia. Mari kita cerita ringan-ringan dulu sebelum yang berat-berat 

Dia orang lama, teman belajar, teman ambis keluar dari jurusan selama satu tahun, dia berhasil dan aku masih di jurusanku gagal kedokteran untuk kesekian kali. Akhirnya dia pindah kuliah di PTN lain. Sebut aja X


Ada satu momen akward yang aku ingat. Dulu, dia pernah datang ke kosku tanpa pemberitahuan. Aku kira itu temen cewekku yang janjian nganter buku, temen cewekku nunggu di motor dia yg disuruh ke kamarku, dia berdiri tanpa manggil cuman ngetuk di depan pintu. Saat itu dengan santainya aku menuju pintu tanpa pakai jilbab, dan dia jadi satu-satunya teman cowok yang pernah lihat aku dalam keadaan begitu. Lol, momen awkward tapi memorable krn bingung dan salting sekali waktu


Aku tak banyak pengalaman dengannya yg aku ingat, hanya kenangan belajar dan belajar itu, percakapan sederhana yg aku ingat dulu sepertinya hanya

"Tan matamu mirip mataku ya ada hitam-hitamnya, di bagian lensa mata yg putih" ohiya disitu aku baru menyadari kita punya kesamaan yg unik yg orang lain tidak punya


Satu tahun setelah pisah, kita pernah ketemu di jalan menuju tempat yg sering kita habiskan waktu dulu buat belajar, disana dia dateng entah untuk apa saat aku tanya dia hanya jawab “mau maen” setelah itu kita menjalani hidup masing-masing, dia orang yg masih selalu melihat story2ku dan akupun hanya tau update kehidupannya lewat story2nya


Tau apa plot twist dari semua itu, kita ketemu lagi Sebagai auditor internal vs auditor eksternal, 10th setelah semua itu dan semesta tiba2 nemuin dengan cara yg tidak terduga. Jadi dia kerja di perusahaan A sebagai auditor internal, aku kerja sebagai auditor eksternal buat sertifikasi izin edar/keamanan pangan untuk perusahaan dia. di tahun 2021 aku sebagai PIC narahubung buat perusahaan dia (X) tapi saat itu langsung koordinasi dengan Lead auditornya sebut aja mba A. Sejak 2021-2022 aku bekerjasamanya dengan mba A langsung, di 2023 mba A resign pindah ke perusahaan B, akhirnya X yg jadi lead pengganti mba A, sayangnya udah bukan aku PIC di perusahaan dia dari 2023-2025


Di tahun 2025, Mba A menghubungiku lagi untuk pendaftaran sertifikasi perusahaan B, tempat dia bekerja sekarang. Kali ini, kami akhirnya bertemu langsung karena sudah nggak ada batasan pandemi. Di sinilah cerita lain ternyata Mba A masih jadi teman dekat X! disini Dia tahu kalau aku dan X juga temenan dulu. Dari situ, Mba A mulai berperan sebagai makcomblang, berusaha nyatuin kami dengan cara yang rapi banget. 


Hasilnya? Belum Berhasil, 🤣

Sayangnya, usaha Mba A belum membuahkan hasil. Ada “krikil-krikil” kecil yang masih mengganjal di antara kami, mungkin perbedaan pandangan atau timing yang belum pas. Tapi, yang bikin aku takjub adalah betapa sempitnya dunia ini. Siapa sangka temen lama dari masa kuliah bisa ketemu lagi lewat hubungan audite-auditor, dan malah dicomblangin sama klien yang juga temen dekat kami masing2


Revisi Core Belief System

Sejak 2022, aku selalu yakin kalau jodohku bakal orang baru, bukan dari lingkaran temen lama. Aku bahkan udah lupa sama kenangan dengan temen-temen kuliah, termasuk X. Tapi, plot twist ini bikin aku mikir ulang. Mungkin aku perlu revisi core belief system-ku soal jodoh. Hidup ternyata punya cara lucu buat ngingetin bahwa masa lalu bisa nyambung lagi ke masa kini dengan cara yang nggak pernah kita duga.

Sabtu, 01 April 2023

Lesson learned Q1 di 2023

Mau bersyukur sudah melewati Quarter 1 dengan berbahagia dan merayakan sepenuhnya meskipun banyak menghadehnya, dan ini beberapa hal yang aku pelajari serta aku syukuri di Triwulan Pertama (Quater 1) 2023

  • Finally meskipun menghadeh-hadeh setiap hari aku sudah bisa memulai beradaptasi dengan kebiasaan baru yang seru. Akhir-akhir ini aku bisa memasak, food preparation dan memikirkan gizi seimbang di makananku. Meskipun aku masih harus tertatih dengan semua itu, setidaknya aku sudah berbahagia dengan sedikit pencapaianku. Aku mulai beradaptasi dengan hal itu di awal tahun sebenernya tapi gagal, karena sakit, dan baru memulai kembali di bulan maret lalu setelah Februai hiatus. Alasan utamanya memulai konsisten masak karena akhir-akhir ini merasa sudah cukup jarang makan sayur jika sering beli, ada kebosenan dengan warung makan deket kost meskipun enak dan murah menunya kurang bervariasi, selain itu karena budgeting ketat akhir-khir ini, dan voila akhirnya saya bisa masak dengan proper sesuai dengan keseimbangan gizi. 

  • Bisa melakukan alokasi budgeting, dan perencanaan keuangan yang sesuai. Belajar banyak terkait dengan excel dan spreed sheet gonta ganti, dan voila akhirnya menemukan cara budgeting yang tepat. Seru sekali akhirnya gak menyusahkan diri sendiri dengan spreadsheet buat manajemen keuangan yang dimiliki.

  • Selain itu tentu saja ada 2 buku yang bisa aku selesaikan di Q1 ini, meskipun kurang dari target  tapi tidak apa-apa yang penting kan implementasi dari membaca bukunya yaa kan, dan tidak lelah dalam berproses sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit 

  • Bisa mengikuti career class dengan tertatih, saya masih berusaha adaptasi untuk tidak pernah absen masuk kelas, meskipun seringnya absen, mencoba mendengarkan rekaman dan mencatatnya dengan seksama namun, begitulah namanya juga hidup, usaha suka mengkhianati hasil memang. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil itu memang jarang terjadi, meskipun begitu berproses dan berprogress tidak harus berhasil adalah salah satu mottoku di 2023. Sampai sejauh ini, aku masih berusaha memperbaiki semua catatanku di career class dan berusaha sedikit demi sedikit mengimplementasikan keilmuan di CC. Setidaknya aku berusaha untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap diriku, termasuk bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah aku buat. Meskipun rasa-rasanya aku sering menghadeh-hadeh sepanjang waktu, semua hal yang aku dapat hari ini adalah doaku yang dulu pernah aku panjatkan, jadi mengapa tidak untuk selalu berproses menjadi yang lebih baik.

  • Aku bisa membeli beberapa barang yang aku impikan, yang notabene sudah menjadi bucket listku sejak 2021, tapi aku baru bisa merealisasikan di 2023., dan semua itu tanpa disengaja hal yang sebenarnya aku sudah lupa pernah mendoakannya, tapi Allah selalu memberikan sama dengan permintaanku sesuai doaku. What an Amazing, masyaAllah  

  • Merayakan ketidakbecusan hidup, dengan berbagai hahahihi di 2023, ada banyak ketidakbecusan yang sering dibuat. Tapi tak mengapa! memang siapa sih yang bisa sempurna dengan berbagai hal di dunia ini, pekerjaan, kehidupan, sosial, hubungan, dll. Pasti ada celah ketidak berdayaan dan kurangnya, 2023 aku berusaha menerima diriku yang masih banyak kurangnya itu, meskipun aku tau selama ini aku pernah melakukannya, tapi 2023 aku lebih berusaha untuk tidak lari dan meninggalkan kekuranganku, ingin aku peluk kurangku dan bilang bahwa aku baik-baik saja dengan berbagai kekurangan yang aku miliki.

  •  Belajar mengendalikan diri, mengendalikan diri dari omongan orang lain entah positif ataupun negatif, bahwa sejatinya yang bisa mengotrol diri kita adalah kita sendiri, bagaimana kita merespon segala sesuatunya, karena semuanya yang ada di dunia ini netral, kita sendirilah yang punya peran untuk mengontrolnya, membuatnya menjadi hal yang berarti atau malah menjadi sakit hati. Itu mengapa pentingnya mengendalikan diri. 

  • Jangan membalas pesan atau merespon sesuatu saat kondisi sedang marah atau ada berbagai emosi yang ada di dalam diri berkumpul seperti kecewa, marah, sedih dll, meskipun menjadi seorang fight tidak serta merta salah, nyatanya kondisi freeze at the moment itu juga penting, kondisi saat kita bisa berusaha meregulasi emosi kita seperti apa dan tindakan apa yang paling penting untuk dilakukan, tidak yang langsung memberikan respon apa yang sedang kita rasakan dan memberikan justifikasi mengapa kita melakukan hal tersebut, karena sejatinya kita manusia biasa ada banyak kesalahan yang bisa kita perbuat tanpa sengaja.    
  • Tidak semua kesempatan harus digunakan, 2023 mengajarkan aku bahwa ada berbagai kesempatan yang memang aku lewatkan, aku merasa aku sudah mengalami berbagai macam hal dan sedang berjuang untuk hal-hal yang memang aku semogakan dan menjadi prioritasku, thats why, aku belajar untuk tidak gegabah menerima semua kesempatan yang aku miliki. Aku juga berusaha menyiapkan diri agar ketika ada kesempatan yang lebih baik aku bisa memberikan yang terbaik dan telah siap mengemban amanah itu. 

  •  Nyatanya move on tidak bisa serta merta, rasanya aku masih harus tertatih-tatih buat bilang bahwa aku sudah lupa dengan perasaanku dan aku sudah mengiklaskan perasaanku, ramadhan tahun 2022 adalah  moment pertama aku mengenalnya, dan ramadhan pula jadi salah satu titik-titik ada garis yang bersingungan dan bisa dibuat garis baru yang menyenangkan di tahun 2022 tapi itu hanya harapku, hal-hal yang aku pikir dulu Tuhan sedang membuat titik-titik yang bisa aku jadikan garis untuk masa depanku, tapi rasa-rasanya moment di 2022 itu adalah moment aku ingin menghapus titik-titik yang pernah aku buat. Hal yang selama ini aku syukuri menjadi salah satu hal yang aku sesali. Lucu bukan? apakah akhirnya aku belum berdamai dengan keadaan itu? Tbh, aku masih meramu perasaan apa yang saat ini aku rasakan dan bagaimana aku harus bersikap, yang aku tau selama 3 bulan ini aku berusaha menyibukan diriku dengan berbagai macam hal, agar aku bisa membuat momen-momen baru yang menyenangkan sehingga aku lupa dengan perihnya kejadian di akhir 2022 hingga sekarang. Nyatanya, aku masih disuruh banyak berusaha dan berdoa lagi, karena hal-hal itu tidak bisa serta merta aku lupakan dan aku iklaskan. Meskipun ada ratusan jenis alasan bahwa titik itu tidak dapat aku jadikan ke garis masa depan yang mau aku tuju, tetap saja ketika harus bersingungan atau melihat ulang kejadian-kejadian di suatu tempat dengannya aku masih tetap harus merasakan  rasa sakit yang selalu aku hindari. Aku sudah berusaha untuk menerima, menyembunyikan story-storynya, menghindari komunikasiku atau tidak pernah lagi stalking, tapi entah angin darimana aku juga sering memimpikannya, hal yang selalu aku hindari di dunia nyata ataupun maya, namun nyatanya aku bertemu di dunia mimpi. Berdamai dengan masa lalu itu tidak bisa serta merta, jadi setelah ini, aku ingin bilang kepada diriku bahwa nanti suatu saat kita sama-sama belajar buat menyakini bahwa rencana dan takdirNya adalah selalu yang terbaik ya tan, tidak perlu tau sekarang alasannya biar waktu yang menjawab :')) 

Sekian lesson learned dari Triwulan pertama 2023.  

Selasa, 21 Februari 2023

“Merasa Cukup” dan “Menjadi Ambisius”

    


    Selama ini kita sering menemui banyak kontradiktif dalam berbagai hal salah satunya tentang “merasa cukup” dan “Menjadi Ambisius”. Tidak ada yang salah untuk keduanya, yang salah adalah ketika saya merasa mudah cukup dengan apa yang saya miliki yang sebenarnya saya hanya sedang malas saja untuk berusaha lebih, Saya tidak mau repot melakukan apa pun, saya hanya ingin hidup dalam zona nyaman saya, yang enggan untuk memperluas zona nyaman. Karena di beberapa fase ternyata fase tidak memperjuangkan apa-apa, tidak memiliki ambisi dan berada di zona nyaman enggan untuk memperluas zona nyaman adalah salah satu fase saya kehilangan diri saya. Meskipun begitu ambisius selama ini sering kali identik dengan hal yang negative “Ambis banget sih”, “Jangan ambis-ambis” dan berbagai kontradiksi terkait seorang yang ambis, seolah-olah seorang yang ambis yang dikejar adalah dunia dan seisinya. 

    Sebenernya ambisius itu apa sih? Menilik dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisius adalah berkeinginan keras mencapai sesuatu tujuan, harapan, atau cita-cita. Sikap ambisius bisa juga berarti melakukan sesuatu dengan penuh ambisi. Sementara ambisi sendiri dalam KBBI diartikan sebagai keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Sedangkan “Merasa Cukup/Being Content” Artinya adalah dapat memenuhi kebutuhan atau memuaskan keinginan dan sebagainya; tidak kurang.

    Dari dua konteks diatas Ambisius dan Merasa Cukup, apakah melihat kontradiksinya? Setelah saya cermati dan saya refleksikan dikehidupan saya, ternyata tidak banyak kontradiksi antara kedua konsep tersebut. Keadaan “Ambisius” dan “Merasa cukup” adalah suatu dorongan untuk menjadi yang terbaik. Di manakah letak kontradiksinya? Kontradiksinya terletak pada kesalahpahaman kita bahwa merasa cukup berarti tidak ingin mencapai lebih banyak, dan berambisi untuk mencapai lebih banyak adalah tanda bahwa kita tidak merasa cukup. Padahal seharusnya kita perlu menjadi ambisius dan merasa cukup. Karena menjadi ambis berarti mendorong kita untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik dan  “Merasa cukup” membuat kita bisa menikmati perjalanan yang kita miliki. Saat ini, saya sedang berusaha untuk menjaga keseimbangan, salah satunya menjaga keseimbangan menjadi ambisius dan merasa cukup dengan apa yang diusahakan, karena hal ini bukanlah kontrakdiksi yang tidak bisa berjalan beriiringan, kita bisa menjadi seorang yang ambis tapi juga merasa cukup dengan apa yang telah diperjuangkan dan dimiliki, yang penting kita tahu bahwa perjalan terbaik kita hanya untukNya, dan berusaha menjadi umat terbaikNya versi diri kita (Best version of ourself), karena ini salah satu tujuan saya di muka bumi bagi saya pribadi. Terakhir saya menyukai salah satu hadist ini “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

#30DWCJilid41 #30DWC #Day5

Senin, 20 Februari 2023

Menakar Bahagia

Source gambar : https://grandandlovelyprints.com/


    Bahagia menurut KBBI adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram yang terbebas dari segala yang menyusahkan; beruntung. Kebahagiaan menjadi suatu tujuan utama manusia. Semua orang memiliki harapan yang ingin dicapai untuk memenuhi kepuasan dalam kehidupannya. Studi pengukuran tingkat kebahagiaan berbagai negara menemukan kebahagiaan bervariasi tergantung kondisi sosial ekonomi saat itu. Di tingkat individu maupun negara, Tapi tidak sedikit juga ditemukan kasus paradox kebahagiaan di negara maju ataupun negara berkembang, penduduk pedesaan maupun di perkotaan. Ada banyak faktor terkait dengan tingkat kebahagiaan seseorang, salah satunya yang sering kita jadikan perdebatkan adalah terkait kesuksesan ataupun tingkat kekayaan. Semakin kaya seseorang maka kita akan selalu berasumsi orang ataupun masyarakat tersebut Bahagia. Apakah selalu seperti itu?
    Menariknya baru-baru ini sebuah survey menyatakan bahwa D.I. Yogyakarta  tercatat sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa. Hal ini berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2023. Angka kemiskinan Yogyakarta tercatat sebesar 11,49 persen. Persentase kemiskinan itu berada di atas rerata nasional, yaitu 9,57 persen.  Namun, survey lain menyatakan bahwa survey indeks kebahagiaan DIY menurut data BPS pada 2021 adalah 71,70. Angka tersebut merupakan tingkat ke-14 dari seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi nomor satu di pulau Jawa. Dari kedua survey ini ditemukan juga sebuat studi yang menyatakan bahwa kebahagiaan yang dikaitkan dengan pendapatan menemukan adanya paradox of happiness atau income paradox yang dikenal dengan Easterlin Paradox, yaitu peningkatan pendapatan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan atau kebahagiaan seseorang. Easterlin paradox menunjukkan bahwa terdapat faktor lain selain pendapatan (material) yang mempengaruhi kebahagiaan;
    Menurut Veenhoven (1988) membagi teori kebahagiaan menjadi tiga bagian yaitu set point theory, cognitive theory dan affective theory. Dalam set-point theory, kebahagiaan merupakan sesuatu yang sudah diprogram oleh seseorang dan tidak berkaitan dengan bagaimana hidup seseorang. Kebahagiaan dipengaruhi oleh sifat atau karakter (personal trait), genetika dan budaya. Orang akan berupaya untuk mempertahankan tingkat kebahagiaan yang nyaman baginya (comfortable level). Dalam teori kognitif, , kebahagiaan adalah produk dari pemikiran dan refleksi manusia atas perbedaan antara persepsi kehidupan yang sebenarnya dan seharusnya dimiliki. Kebahagiaan tidak dapat dihitung tetapi dapat diketahui. Dalam teori afektif, kebahagiaan adalah refleksi manusia tentang seberapa baik kehidupannya secara umum. Jika orang merasa baik di Sebagian besar hidupnya maka ia mestinya bahagia. (Rahayu, 2016)
    Jadi dari berbagai macam indikator Bahagia menurut ahli ini, menurut kamu takaran Bahagia yang seperti apa sih? Dulu saya pikir Bahagia saat memiliki banyak uang, bisa mendapatkan pekerjaan A, bisa memiliki B, bisa dengan z, dll. Ternyata semakin dewasa saya, saya tidak perlu memiliki A, mendapatkan b, dll untuk bahagia. Tidak perlu membandingkan berbagai teori itu untuk menentukan indikator bahagia saya sendiri, dan tidak perlu membandingkan indikator bahagia yang saya miliki dengan indikator orang lain. Saya menyimpulkan bahwa semakin sederhana indikator dan variable yang kita miliki semakin mudah standar Bahagia itu bisa dilampaui. Tidak ada alat atau instrumen yang ada untuk mengukur kebahagiaan seseorang, tetapi kita sendirilah yang harusnya membuat indikator dan variable itu agar mudah dijangkau ataupun malah dilampaui. Selamat berproses happiness people!

#30DWC #30DWCJilid41 #Day4



Awas, Makanan Manis bisa bikin Badmood!

Source gambar : fericy.com

   Beberapa waktu lalu saya mengikuti career class, sebuah kelas terkait karir, self development, community development, parenting, financial dll kelas paket komplit semuanya ada disitu. Di kelas itu bertemu dengan dokter Elv, yang menjelaskan tentang “Create Meaning life and Goal”. Seperti biasa ada banyak AHA moment di kelas-kelas career class, salah satunya pembahasan tentang konsumsi gula yang berlebih ternyata bisa bikin kita lebih cemas dan gelisah. Padahal selama ini, saya suka banget nyemil es krim ataupun coklat saat sedang badmood, yang menurut saya akan menjadi pengurang badmood saya, ternyata hal ini tidak selamanya benar! Kok bisa sih? 
    Ternyata makanan manis yang memiliki kandungan gula tinggi seperti coklat ataupun es krim, akan membuat tubuh kita harus menangkalnya dengan melepaskan hormone insulin. Hormon insulin ini memiliki tugas untuk mengendalikan kadar gula dalam tubuh kita. Nah, karena di dalam tubuh, gula darah turun dengan cepat, agar Supaya tetap seimbang, tubuh melepaskan adrenalin, yang bertugas untuk menaikkan tekanan darah dan denyut jantung. Karenanya, di dalam tubuh kita terjadi fight or flight, ini adalah respon yang sama seperti ketika kita menghadapi bahaya. Sehingga tubuh pun menjadi lebih gelisah dan mudah cemas. Makanan tinggi gula memang bisa memberikan sensasi puas, namun hal ini juga akan memicu ketagihan sehingga membuat kita seperti ingin terus memakannya lebih banyak. Jika sampai kita sudah ketagihan, maka tidak mengonsumsinya bisa membuat kita mengalami gejala sakit kepala atau gangguan suasana hati karena otak tidak mendapatkan asupan makanan yang memuaskan. Lantas, apakah hal ini berarti kita sebaiknya tidak lagi mengonsumsi makanan manis? Pakar kesehatan Alan Aragon menyebutkan bahwa tubuh kita masih membutuhkan gula. Sistem pencernaan juga sudah diolah sedemikian rupa agar bisa mencerna gula. Asalkan kita tidak mengonsumsi makanan manis ini dengan berlebihan, maka risiko untuk mengalami gangguan suasana hati atau sakit kepala tidak akan mudah meningkat. 
    Jadi berapa sih jumlah kadar gula yang baik dikonsumsi setiap harinya? Sesuai Permenkes Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam dan Lemak Serta Pesan Kesehatan Pada Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji adalah G4-G1-L5, yaitu 
  • Anjuran Konsumsi GULA /orang /hari adalah 10% dari total energi (200 kkal)atau setara dengan Gula 4 sendok makan /orang /hari (50 gram/orang/hari)
  • Anjuran Konsumsi GARAMadalah 2000 mg natriumatau setara dengan Garam 1 sendok teh (sdt) /orang /hari (5 gram/orang/hari)
  • Anjuran Konsumsi LEMAK /orang/hari adalah 20-25% dari total energi (702 kkal)atau setara dengan Lemak 5 sendok makan/orang /hari (67 gram/orang/hari)

Jadi sudah berapa gram gula yang kamu konsumsi? Gak pengen mudah gelisah dan cemas kan? Yuk batasi konsumsi gulanya!


#30DWC #30DWCJilid41 #Day3

Jumat, 17 Februari 2023

Membaca Buku untuk Lebih Bahagia

Source : Freepik


    Masih melanjutkan topik sebelumnya tentang mengenal diri, saya memulai mencoba lebih peka terhadap diri saya, meskipun masih banyak kurangnya. Mengenai hal ini saya teringat dengan salah satu kebiasan yang bisa membuat saya bahagia dan nggak uring-uringan saat menjalani hari-hari saya. Biasanya saya selalu memiliki ritual setiap harinya. Ritual atau kebiasaan ini yang membuat saya merasa lebih baikan ketika sedang mengalami badmood tiba-tiba, atau mengalami banyak ketidakpastian yang menyebabkan saya akan kesel sendiri. Kebiasaan ini ternyata hanya dengan membaca buku. Efeknya secara langsung bisa meningkatkan mood saya, dan menjadikan suatu tanda pada hal-hal kecil yang saya lakukan nantinya. Saya selalu menyebut baca buku adalah salah satu healing saya di beberapa tahun terakhir. Meskipun sebenernya saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. 
    Nyatanya hanya kegiatan duduk diam dan mulai membaca buku adalah salah satu healing atau escaping murah buat saya. Salah satu kebiasaan membaca buku saya biasanya saat mulai masuk ke dalam mobil, saat perjalanan Dinas Luar yang mengharuskan saya commute dari kantor ke tempat klien, meskipun saya menyukai pekerjaan saya, biasanya saya cukup kesel sendiri dengan kemacetan jalanan atau diperjalanan tanpa ngapa-ngapain, dan untuk menghilangkan bad mood itu ternyata saya cukup mulai membaca buku di perjalanan. Membaca buku juga jadi salah satu reward setelah saya melakukan hal-hal kecil, misalnya setelah saya bisa menyelesaikan suatu pekerjaan atau setelah saya mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, maka buku adalah sarana hadiah kecil-kecilan kepada saya. Saya juga mencoba mulai lebih dekat dengan membaca buku dibandingkan dengan scrolling medsos, meskipun efek Bahagia secara instan yang dihasilkan dari scrolling medsos akan lebih cepat dibandingkan membaca buku. Karena saya melihat ke diri saya, meskipun membaca buku membuat saya healing, efek Bahagia instan yang cepat didapatkan dengan scroll gambar yang memanjakan mata juga tidak bisa ditampik. Namun, nyatanya emosi yang tercipta akan selalu berbeda, buku akan lebih memberikan dampak Bahagia yang Panjang atau rasa menyenangkan yang tahan lama bagi saya dibandingkan media social hanya akan memberikan kesenangan namun sementara. Membaca buku ternyata bisa menjadi terapi bagi saya untuk jadi lebih bahagia, terarah dan punya tujuan. Selamat berproses lebih banyak dengan membaca. 

#30DWC #Day2


Kamis, 16 Februari 2023

Mengenal diri : Tentang Memberi Jeda

      
Source Gambar : Freepik.com

    Konsep mengenal diri dan pembahasan yang tidak selesai-selesai sampai akhir hayat. 2022 lalu ngajarin buat belajar lebih terkait diri sendiri, dulu saya pikir, saya sudah mengenal diri saya dengan baik, ternyata tidak! saya masih kepayahan dengan konsep diri saya. Belajar mengenal diri bukan cuman tentang tujuan saya kedepan, plan jangka panjang dan jangka pendek, tapi lebih sadar dengan diri sendiri siapa diri kita, kelebihan diri kita kelemahan diri, mengenal kebiasaan buruk dan baik diri sendiri, mengenal emosi diri, manajemen energi, manajemen waktu, manajemen emosi, dll. Ternyata, saya baru kenal diri saya hanya sebagian kecil dalam kehidupan saya. Saya masih harus jatuh bangun, mengerti diri saya sendiri, ini emosi apa ya, cara buat lepas dari burn out gimana ya, dll. Beberapa waktu terakhir saya ngerasa burn out, kecapean parah, karena dihantam banyak deadline dan dihantam banyak tugas yang gak selese-selese, harus sakit demam dan flu beberapa hari, sampe sakit telingga yang gak sembuh-sembuh dan belum masalah terkait yang lain. Capek sekali, saya yang seringnya ceria, ke kantor dengan muka murung, gak bersemangat, udah kelelahan sendiri, dan ngerasa udahlah aja. Hari-hari yang kelabu itu diperparah dengan makanan yang tidak jelas, gak mindfull jalanin hari, makan berantakan jamnya, tidur juga, apalagi masalah lainnya.
Titik itu, menjadi salah satu titik saya mulai mengenali diri saya terkait prioritas dan kapasitas. Saya mulai sedikit demi sedikit belajar bahwa tidak mengapa jika pada akhirnya saya mulai istirahat baru melanjutkan perjalanan berikutnya, tidak mengapa tidak mengiyakan semua kesempatan, tidak mengapa jika saya mengisi amunisi saya terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan, tak mengapa, Memberijeda pada diri sendiri. Ada Dunia tak akan pernah berhenti menyajikan hingar bingarnya, kita yang harus jeli member batas, mana yang perlu dimiliki mana yang hanya perlu dipahami, mana yang kita butuhkan mana yang hanya kita inginkan, mana yang kita perlu menjadi mana yang bahkan tak perl kita ketahui. Memang pada akhirnya, yang mau dituju mau kemana dan untuk siapa?
       Ini salah satu challange tulisan di 30 Hari menulis bersama #30DWC, challange pertama terkait kepnulisan yang saya ikuti, mengalokasikan waktu saya setiap hari untuk menguraikan dan merefleksikan kehidupan saya selama ini lewat tulisan, challange pertama meskipun mengumpulkan dengan telat, tapi tak mengapa, kita perbaiki selanjut-selanjutnya setelah ini. Mungkin di topik-topik selanjutnya saya akan banyak belajar tentang ini, tentang refleksi diri di tulisan terkait mengenal lebih ke dalam diri saya sendiri.

#30DaysWrittingChallange #Day1

Minggu, 08 Januari 2023

Tentang Ujian

Salah satu resolusi di 2023 adalah pengeluaran sesuai budget tapi tetep bisa mindfulness eating or my food. Dari seminggu lalu tu udah bisa banget njalanin plan A, masak, trus ngatur pola makan, ngatur budget keuangan, dll. Tapi tiba-tiba aja kupingku sakit berdenging, dan kayak gak bisa denger sebelah (ini karena aku ngebersihin kuping pakek cotton bath tapi kekerasan) Akhirnya Ke dokter, ternyata harga perawatan dan pengobatannya lumayan banget, akhirnya radak kesel lahh ini aku udah hemat selama seminggu ini, tiba-tiba ada pengeluaran out of budget yang mayan, padahal kemren udah berusah ngehemat-hemat, T.T tapi ternyata disitu ujiannya wkwkkw. 

Di fase Aku yg ngerasa alah udah out of budget gitu, gak usah deh repot-repot masak lagi, toh nantinya yg dikeluarin paling sama aja banyaknya, gak usahlah hemat-hemat toh nanti yang dikeluarin bakalan banyak juga dll. Siang ini ngedengerin beberapa rekaman kajian, krn dari kemren gak bisa ikut zoom bcs of something, salah satu kontemplasinya ternyata buat istiqomah tu ujiannya banyak ya :” ya kali mau berubah gak ada ujiannya, dan emang bener sih “Memulai itu lebih gampang dari istiqomah” jadi gimana tan? masih mau lanjut plannya apa dapet ujian kek gitu langsung puter jalan?

Senin, 02 Januari 2023

Lesson Learned From 2022

        2022 mungkin bukan salah satu tahun tahun akselerasi kehidupan, bukan salah satu tahun dengan berbagai pencapaian, dan bukan tahun yang bisa menceklist semua target yang telah di buat.  Seperti menaiki roller coaster, Ada banyak letupan emosi dan perasaan campur aduk yang membuncah di tahun ini. Selain itu tentu saja ada banyak kejadian ups and down yang menegangkan tapi menyenangkan setelah sedikit demi sedikit bisa terlalui dan bisa dimaknai.  Recap lesson learnead 2022 ini,  Aku dedikasikan untuk orang ini, orang yang sudah aku mintai waktunya untuk memberikan berbagai kesan dan pesan dari 2022, di curahkan semua emosinya di berbagai macam tulisan dan ini salah satu tulisannya. Pertama-tama aku pengen bilang terimakasih banyak dulu buat orang ini, orang pertama yang selalu aku sebut dalam doa, orang pertama yang selalu membuat aku yakin aku bisa melewati semuanya dengannya, orang pertama yang ada disampingku saat aku lelah dan ingin menyerah, orang yang tidak pernah lelah berproses dan bertumbuh dengan versinya, dan orang itu adalah diriku sendiri. Terimakasih ya Intan, untuk daya juangmu di tahun ini, terimakasih untuk proses yang telah kamu lalui, terimakasih untuk tidak pernah menyerah dengan berbagai hal yang telah dilewati. And Here we go 8 Lesson learned i got from 2022!


1. Mencintai dan Memaknai Proses bukan Hasil
Tahun ini aku belajar untuk berproses lebih banyak, tidak terhitung berapa jumlah kelas di luar kuliah yang aku ambil, jumlah kursus pengembangan diri ataupun skill yang aku ikuti. Aku juga masih kuliah dan  belajar di kampus setiap hari. Apakah aku sudah bisa menuai yang aku pelajari? aku merasa makin hari makin aku mengalami kemunduran, semakin belajar semakin banyak yang aku tidak paham. Semakin sadar aku bukan siapa-siapa, semakin hari impostor syndromku makin menjadi-jadi. Lelah sekali awalnya, aku merasa sudah selalu memberikan lebih tapi hasilnya masih selalu sama. KPI yang aku buat secara pribadi tidak mengalami peningkatan yang berarti, malah lebih banyak stuck. dan akhirnya aku belajar juga setelah berkomplentasi, Bambu butuh 5 tahun untuk menguatkan akarnya baru bisa langsung tumbuh panjang 2 Meter selama 6 minggu. Aku mengenalnya dari buku Atomic Habit tentang daya laten. Disana juga diberikan contoh “Mengeluhkan kesuksesan yang tidak kunjung tercapai meski sudah bekerja keras sama seperti mengeluhkan balok es yang tidak meleleh meskipun sudah dipanaskan dari suhu minus 3,5 sampai minus 0,5 derajat. Usaha kita tidak sia-sia hanya tersimpan. karena semua terjadi pada suhu nol derajat” see? semua proses punya daya lecut/dataran potensi latennya masing-masing! Selamat melanjutkan proses yang baik tan!

2. Kembali ke Allah
Setelah banyak belajar, belajar pengembangan diri, belajar buat skill digital marketing, ui-ux, sampe segala macem skill baru di 2022. Aku lupa, bahwa yang utama dari sekian banyak pembelajaran muaranya cuman buat Allah. I mean, aku belajar buat apa sih? tujuannya buat apa? buat lebih pinter? buat side hustle? memangnya dari sekian banyak rangkaiannya itu apa tujuan utama yang mau aku dapat?. Dan aku jadi belajar bahwa sejatinya ilmu itu dari Allah, aku terlalu memusatkan perhatianku ke usahaku, tanpa banyak melibatkanNya, aku sering lupa sejatinya aku mencari ilmu itu tujuan utamanya buat apa, dan siapa yang ngasih ilmu itu. Tujuan mengenal Allah dan kembali ke Allah gak sih?. Bahwa aku bukan siapa-siapa, ilmu, dan segala hal yang aku dapat itu titipan dariNya, bagaimana kita bisa menggunakan sebaik-baiknya, buat diri kita dan orang lain nantinya. 

3. I found Myself
Tahun ini mungkin salah satu tahun titik terendah dalam hal relationship setelah 2019 lalu. Semuanya ini, bermuara pada Q2 2022, hal terkonyol yang aku selalu tampik, dulu memang sedari awal aku tidak ingin mencoba menggunakan hatiku, malah aku sudah berkali-kali sholat hajat dan sholat istikharah untuk memasrahkan hatiku, menggunakan segala jenis tools agar aku bisa menghilangkan perasaanku, mencari semua redflagnya, berkali-kali menghapus nomornya, tapi nihil. Perasaan itu masih tetap ada, meskipun begitu 2022, mengajariku bahwa perasaan itu valid, aku hanya perlu menerimanya secara utuh, utuh dan perlahan-lahan mencari tahu, kenapa sih Allah kirimkan perasaan ini? kenapa sih Allah nggak menghilangkan perasaan ini, padahal jelas-jelas sedari awal aku sudah sholat istikharah dan sholat hajat  buat dilepasin aja perasaannya, dan aku baru sadar setelah akhir tahun, yang mau Allah bilang kemaren itu tentang ini, Tahun yang mengajariku bahwa pada akhirnya titik itu bukan cuman buat aku, bahwa ternyata dari sekian titik kesamaan itu, itu cuman sekedar titik-titik yang Allah pengen bilang "Kalo aku tidak menjatuhkan hatimu, kamu masih akan berkutat dengan masalah yang sama". Nyatanya caraNya mendewasakan ku lewat dirinya, pada akhirnya memang cerita akhir bakalan sama aja, tapi prosesnya yang beda, proses itu mengenalkan aku sama diriku, tentang apa yang aku butuhkan, apa yg hanya aku inginkan, mengenalkan aku tentang keberhargaan diriku seutuhnya bukan hanya karena dipilih ataupun tidak, tentang self worthy and esteem ku dan pada nyatanya aku memang masih harus mendeskripsikan rumah yang seperti apa yg aku butuhkan untukku mengangkasa bersama nantinya, terimakasih telah memberikan salah satu pelajaran yang berharga di 2022ku. 

4. Tentang Prioritas
Kayaknya hal utama yang aku soroti di 2022 adalah tentang prioritas, dunia yang sementara aku yang terlalu banyak ingin dicapai, hingga akhirnya prioritas yang aku ingin jadikan utama, banyak bergesernya. Refleksi utama di tahun ini sepertinya tentang ini. Tentang banyaknya hal yang aku kehilangan di dalamnya, disaat harusnya aku memberikan prioritas utama disana. Hingga akhirnya aku mulai mengubah titik balik prioritasku, menjadikan 5 prioritas utama yang aku cuman pengen lebih aku utamain dibandingkan dengan yang lainnya dulu. Mungkin kamu jadi salah satunya! #eh (Read Kamu : Diriku sendiri)

5. Memaknai Cukup
Sejatinya setiap tahun aku berhadapan dengan hal-hal di luar ekspektasiku, mungkin akunya yang terlalu berekspektasi, terlalu berekspektasi hasil, berekspektasi dengan diri sendiri, berekspektasi dengan orang lain, ataupun lainnya, dan akhirnya aku mulai kecewa dengan ekspektasi-ekspektasi yang sudah aku buat. Awalnya berat sekali menerima kejadian demi kejadian yang aku sama sekali tidak pernah aku harapkan dan akan mendapatkannya di tahun ini. 

Ternyata dari semua rentetan masalah itu aku diajarkan tentang makna cukup dan melepas keterikatanku, di beberapa bulan terakhir di akhir 2022 ada banyak rasa tenang dengan saat aku bisa melepaskan keterikatanku pada suatu hal ; entah pertemanan, barang ataupun impian, merasa cukup dengan apa yang telah dimiliki dan tidak banyak berekspektasi apapun dengan berbagai hal. Tidak berekspektasi bukan berarti tidak berharap tapi lebih ke tawakal dengan banyak runtutan kejadian dan target yang telah dibuat, berdamai dengan diri dan berdamai dengan banyak realita disekitar. Meskipun aku masih punya banyak PR juga didalamnya, tapi aku belajar untuk mulai menata harapan, dan memaknai kata cukup yang sesungguhnya, Tentang dunia hanya di tangan bukan di hati itu yang utama, mantraku setiap harinya “Whats Yours will always find you”. 

6. Tentang Support System
2022, ini daiajarin ketemu banyak orang, ketemu dengan berbagai macam orang baru, yang nanonano banget rasanya. Salah satu hal yang kerasa, banyak banget pelajaran dari mereka. Dari mereka yang masyaAllah daya juang untuk akselerasi akhiratnya ataupun daya juang diberbagai aspek. Satu hal yang pasti aku mulai belajar buat melepaskan keterikatanku ke mereka, letting go everythings about us or them and Not expectation of anythings. Aku mulai membuka diriku ke banyak circle tapi gak mau yang mengikat atau terikat ke mereka aku punya batasan sikap dan bagaimana aku harus bersikap, rasa-rasanya aku ketemu diriku yang lebih dewasa dalam hal ini. Kayaknya aku bisa sampe ditahap ini karena aku belajar dari 2021, yang mana aku kecewa banget sama circle yang aku pikir merupakan salah satu support system terbaik tapi mereka meninggalkan aku saat aku berada di titik terendahku. Hingga akhirnya, 2022 aku tidak punya bayangan support system yang seperti apa yang aku harapkan, hingga akhirnya aku diketemukan dengan mereka support system yang bisa mewarnai hari-hari ku di 2022. Terimakasih ya kalian, warna 2022ku yang aku anggap pucat jadi berwarna sekali dengan kalian.

7. Berani ke Psikolog
2022, ngajarin buat memvalidasi perasaanku dan tidak lari dari masalah, termasuk beban dan kegagalan, dulu aku pikir aku bisa menyelesaikan ke rumitan pikiranku dan beban-bebanku tanpa bantuan orang lain, ternyata tidak!. Meskipun sudah sering meminta bantuan ke teman dan sering curhat, ada hal-hal yang memang hanya bisa diselesaikan dengan ahlinya. Ada beberapa blind spot yang baru aku sadarin setelah dari psikolog, pun ada hal-hal yang memang aku harus di sadarin secara objektif scientific based tidak bisa yang menerka-nerka aku ini kenapa dan kayaknya aku harus gini deh.

8. Choose What I Thought and Mindfulness
2022 ngajarin aku buat "Hadir" dengan "Kesadaran Penuh" Saat ini dan sekarang. Sebagai orang yang cukup thinker dalam berbagai hal ada masa-masa aku merasa jiwaku berada di tempat tersebut tapi tidak dengan pikirannya, itu kenapa salah satu bahan evaluasi aku dari diri aku pribadi dan orang lain yang udah isi di NGL maupun di gform, disuruh lebih mengurangi overthinking. 2022, ngajarin aku buat lebih bisa memanage pikiran aku, meskipun tentu saja ini juga masih PR buat aku pribadi sampe di 2023. Aku mulai mencoba memilih apa yang perlu aku pikirin dan apa yang memang rasanya gak penting-penting amat buat dipikirin. Terlebih tentang kekhawatiran aku pada suatu hal, pun aku mau belajar untuk lebih hadir di saat ini, apa yang aku lakukan dan apa yang sekarang terjadi. Indikator keberhasilan mindfulness versi ku kayaknya gampang, salah satunya dengan mengucap bashmallah di aktivitas keseharian, kenapa mengucap bashmallah? bagi kami sebagai umat muslim, basmallah bermakna bahwa kami telah menyertakan Allah SWT dalam kegiatan kami. Pun, bagik,u jika aku hadir di kegiatan itu, saya akan otomatis mengucapkannya, beda saat saya tidak hadir di kegiatan tersebut, kemungkinan aku akan lebih banyak lupa mengucapkannya dan terburu-buru tanpa dinikmati. 


Sekian sedikit pembelajaran yang didapat dari 2022 versiku part 1 mungkin kalo ada tambahan akan aku up selanjutnya, kalo versimu kayak gimana? semoga entah apapun pembelajarannya kita bisa sama-sama memaknai banyak proses di dalamnya yaa dan tentunya diberikan kelapangan hati untuk mencari banyak hikmahnya, meskipun pada nyatanya ada kejadian yang memang tidak bisa langsung kita tahu jawaban mengapa kita di titik itu. Kadang waktu yang hanya bisa menjawab semuanya, tidak perlu buru-buru karena tidak ada yang memburu kita, nikmati saja prosesnya! Happy New Year.  

Jumat, 19 Agustus 2022

Blabbering of life 2

      Untuk banyak-banyak doa yang malah tidak sesuai, pada akhirnya Agustus sama juga se roller coaster dengan Juli, bedanya Agustus malah lebih-lebih. Gilak berasa babak belur, amburadul, bundas sana sini. Selama 1,5 th di surabaya, aku nggak pernah ngerasa sebabak belur ini rasa-rasanya. Meskipun udah banyak kejadian downnya, tapi gak pernah ngebayangin akhirnya malah seperti ini dan semua seperti bertubi-tubi sejak bulan Juli.  percaya sih hidup kadang emang harus ada naik turunnya, kalo enggak ada naik turunnya mah gak seru. Tantangannya dimana yaa, meskipun capek banget, akhirnya mengalami semua ini juga, mengalami bener-bener keluar zona nyaman. Mengalami hal yang mungkin sudah pernah di overthinkingkan tapi, beneran terjadi, kalo biasanya overthinkingku cuman sampe di pemikiran ini beneran yang terjadi. 2023. Ku berharap lebih mampu beradaptasi dengan banyak pilihan yang sudah diambil di 2022. 2022, gilak gw gak ngebayangin akhirnya gw milih buat ngelakuin semua ini. dengan sadar tanpa paksaan. Padahal rencana 2023 gw tu, salah satunya mau nikah (meskipun calon juga belum ada sih, tapi setidaknya ada rencana gitu, buat nyiapin diri sampe yakin dan dengan sadar mau nikah di 2023 sebagai orang yang plan banget, adalah ini dalam plan juga). Lahh malah plot twist, 2022 bulan Agustus, milih buat menyelesaikan overthinkingku sejak awal keterima kerja. Gak, gw gak pernah ngebayangin sih, akhirnya milih ini. Tapi, pada akhirnya kepilih juga pilihan ini. 

     Apakah aku kesel dengan semua yang terjadi? kesel, valid no debat. Tapi, semua udah pilihan dari sejak aku di Surabaya, jadi yakin gak yakin ya emang harus diselesein. Termasuk semua pilihan yang akan datang :). Apakah semua gak bisa beriringan?. Mungkin untuk segala sesuatunya bisa beriringan, tapi, belum bisa ngebayangin gimana akhirnya. Semoga Allah, menguatkan aja jadinya. Hidup mah kadang gak perlu banyak dipikiran akhirnya, dilakuin aja, di nikmati dan di mulai. Gak ada yang gak mungkin. Capek gakpapa, yang penting gak nyerah, bismillah ya, semoga Allah menguatkan segala sesuatunya, semoga semua pilihan mendapatkan hasil yang selalu terbaik versiNya, tanpa harus banyak kecewa jika memang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan plannya.

Rabu, 15 Juni 2022

Blabering of Life

          Hello, long time no see in this platform. Jadi kalo di pikir-pikir ada banyak hal tidak terduga dan sampai di titik ini, tidak pernah di harapkan sebelumnya tapi ternyata dari semua kesempatan dan pilihan pada akhirnya menjalani semua ini. Mungkin terakhir banyak blabering disini itu saat mau ujian skripsi, trus skripsi menentukan pilihan dan menentukan keinginan "Oke aku mau kerja di Jakarta". Eh pada akhirnya kesasar di Surabaya. Mungkin tidak selalu nyaman, tapi setidaknya 1.5 th ini survive juga dengan perhelatan duniawi di Surabaya. 

         Akhir-akhir ini kepikiran dengan moment beberapa tahun lalu setelah sidang skripsi, yg mana dari dulu pengen banget buat post self reward yang gagal, karena kesibukan pindah-pindah dan berjalan dengan pace lambat yang mengesalkan. 

      Kalo dipikir-pikir,  banyak banget connected the dot semua hal yang sudah terganti, tapi ngerasa hidup gw menemukan takdir yang seringnya gak pernah gw perjuangin. Dapet Sarjana Teknik saat impian gw jadi dokter, Sarjana Teknik yang awalnya mau denial ke FEUI tapi gagal,  Jadi PNS saat impian gw jadi Manager di perusahaan Multinasional company/FMCG. Mau kerja di Jakarta dengan hiruk pikuk kehidupan dunia yang cepat, eh dapatnya Surabaya yang mungkin pacenya gak akan secepat Jakarta. Berasa punya hidup slow living, padahal dulu kesel banget di titik slow living. Tapi pada akhirnya gw mensyukuri dengan apapun yang terjadi. kalo dipikir-pikir ulang dari sepanjang perjalanan jatuh bangun itu, semua itu gak lain dan gak bukan karena muara takdir yang menuntun kita disitu gak sih?, kayak Allah pengen bilang "Gakpapa kamu memperjuangkan semua yang terjadi dulu biar hidupmu seru pada akhirnya takdirKu emang yang terbaik nanti". Remind me, pas gw lari memperjuangkan hidup dengan segitunya tapi kalo gak rejeki yaa gak bakal dapet. Segampang "What's yours will find you". Pernah berjuang dengan sangat eh gagal, pas gak diperjuangin malah dapet emang kadang suka sebecanda itu, tapi lucu ajaa, itu yang disyukuri akhirnya, dan kalo ditanya kalo mau merubah masa lalu, kamu mau merubah apa, mungkin bakalan gak mau merubah apa-apa karena itu yang terbaik. Jadi apapun muara takdir yang menggiring kehidupanku nanti pada akhirnya. Cuman pengen bilang ke diri sendiri salah satu ayat yang selalu disukai buat remindering "Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." QS. Al-Baqarah Ayat 216

Sabtu, 19 Februari 2022

Unpredictable Moments In My Life

 Kalo di pikir-pikir, hidup banyak gak sesuai rencananya dibanding sesuai, banyak nylenehnya dibanding teratur nya, banyak absurdnya dibanding jelasnya. Sepanjang usia gw ke-25 th menjelang 26 th ini, gw jadi banyak belajar untuk mengikhlaskan banyak hal, yang gak semua hal bisa gw dapat dan gw kejar. Ambisi gw yang meletup-letup ada masanya stagnan sampe bingung dengan semuanya. Tapi, sampai di usia ini gw mau banyak-banyak bersyukurnya, bersyukur dengan apapun yang Tuhan Pernah kasih ke gw sampai detik ini. Sampai kadang ada masa gw bahagia banget pada akhirnya, hal-hal Besar yang gw kira gak bakal bisa gw lewati, akhirnya terlewati. Hal-hal konyol yang kadang gw pikir gw gak bisa nge lewati ternyata dengan kuasaNya gw bisa nge lewati juga. Time Flies and life changing. Gw banyak belajar ketenangan akhirnya. Lebih banyak merelakan yang dulu gw genggam juga, merelakan semua hal yang gak semua bisa gw miliki. Pada akhirnya selain waktu yang akan mendewasakan mungkin waktu yang juga akan banyak menyembuhkan. Terimakasih sudah mau berjalan dengan semangat yang kadang harus banyak ngerem sampai ditahap ini. 

Minggu, 23 Januari 2022

Kenapa Menjadi PNS Dan Tips and Trik CPNS Part 1

Cerita ini mungkin sudah terlalu usang, tapi daripada kurang lengkap dibanyak penjelasan saya selama ini, mungkin sebaiknya saya membuatkan cerita khusus mengenai CPNS, meskipun saya juga masih umbi-umbian, tapi semoga ada sedikit manfaat dari blog ini.

Tips and Trik Chi Phi En Ice 

  1. Tentuin Formasi Impian

WAJIB!! Fardu ain sih kalo aku. Tapi balik lagi tergantung dari diri sendiri ya, kalo kamu anaknya mudah adaptasi, gakpapa kerja apa aja gak sesuai passion dan keinginan, gakpapa kalo kerjaan gak relate sama kuliah, gakpapa dengan apapun, gak harus yang formasinya bener-bener itu. Tapi karena aku anaknya, cukup idealis dalam kerjaan apalagi sampe pensiun nanti aku harus kerja bidang itu, aku gak bisa kalo gak sesuai sama “IKIGAI” ku sendiri,. Ada beberapa pertanyaan kemaren “mending Kementrian atau Pemerintah Daerah (Pemprov dan Pemkab)) kalo aku sistemnya, gak mikir berapa peluang lolos, tapi yang bener-bener aku pikirin, aku kerja sampe nanti disitu, gak mungkin banget “coba-coba” hanya karena kemungkinan lolos lebih besar. Selain itu, make sure penempatan, jangan asal pilih di lokasi A, biar gampang ketrima padahal penempatan jauh, jauh dari domisili, jauh kemana-mana/akses terbatas, jadi bener-bener pastiin itu tempat yang akan kamu tempatin beberapa tahun kedepan, sebelum kita berhak minta mutasi, bahkan mutasi juga susah, jadi ini balik ke diri masing-masing. Formasi yang related sama jurusan kuliah itu juga memudahkan pas belajar buat SKB (Seleksi Kompetensi Bidang) setelah SKD nanti, lumayan ada basic pengetahuan, setidaknya. Bahkan lebih memudahkan saat adaptasi dikerjaan. Dan tentunya gak akan jadi momok saat belajar buat SKB ataupun saat kerja.

2. Minta Ridho Orang Tua dan  ATAU (Pasangan)

Ini yang paling utama sih, pastiin orang tua dan pasangan (bagi yang sudah punya) ridho dengan lokasi penempatan yang kita pilih, inget suatu hadist “Ridho Allah itu ridho orang tua”. Jadi saat orang tua gak meridhoi, mungkin saat itu Allah juga tidak menyukainya. Kalopun beda pandangan dengan orang tua, bujuk dan rayu sampe beliau-beliau meridhoi kalo emang kamu kekeuh disitu. Atau cari jalan yang akan berakhir win-win solution. 

3.                  What’s yours will find you

Sepengalaman gw, yang berambisi berapi-api gak lolos, yang biasa aja niatnya kek gw malah lolos. Sekedar info, cpns 2019, adalah cpns pertama yang mana gw samasekali gak belajar jauh-jauh hari, to be honest tgl 24 Februari 2020 tes SKD tanggal 22 Februari sampe Surabaya ikutan tes perusahaan swasta. Apakah saya belajar? Tentuu saja tidak, belajar gimana, saat itu jalan hidup gw bener-bener kek kejar-kejaran, setelah nyelesein semua di Malang bulan januari 2020, trus pindah-pindah nomaden sragen-jogja, kapan waktu belajarnya?. Apalagi saat di Malang banyak banget yang dikerjain. Prinsip saya saat itu, rejeki orang tu udah ada yang ngatur, mau seserius apa kalo gak rejekinya juga gak dapet, kalo mau gak serius tapi emang rejeki disitu juga pasti dapet. What’s yours will find you. Ehhh tapi ini gak bisa serta merta saya gak berusaha. Saya emang berusaha, tapi biasa aja, sudah yakin gak lolos malah. Doa pertama pas masuk ruangan di skd, “ya Allah gakpapa aku gak lolos asal aku lulus PG, setidaknya kalo aku ditanyain orang tuaku gak zonk banget, masak bilang gak lulus PG”  ekspektasi gw terhadap diri gw gak ada, gak ada beban sama sekali saat tes, gw sama sekali gak tertekan, bedaa banget sama tes-tes sebelumnya diperusahaan,  gw ketekan dan stress banget pas gak bisa jawab, gw ngerjain sebisa gw tanpa berekspektasi apa-apa. Pas di sesi akhir submit, gw speechless sama nilai gw. Ternyata Allah ngasih keajaiban wkwkwkkw (mon maap emang gak tinggi-tinggi banget sih, tapi karena jauh melampaui target, gw speechless aja) wkwkk

4.                  Strategi gak belajar spaneng tapi lolos

a.      Smart Work

Belajar dari pengalaman orang lain, cari informasi sebanyak-banyaknya dari orang lain yang udah pernah lolos, dulu tu meskipun saya gak niat-niat amat saya suka bacain blog-blog orang atau youtube tentang pns, atau pekerjaan-pekerjaan gitu sebenernya karena masa-masa pencarian diri sih, tapi dari situ ningkatin motivasi dan tentunya jadi sedikit paham nanti pas tes kayak gimana

b.      Instal telegram

Kenapa telegram? Karena ada buanyaak bangett komunitas pendaftar CPNS, pencari beasiswa ataupun malah pencari kerja. Dari telegram tu saya suka ngikutin grup-grup formasi saya, atau grup global seluruh Indonesia. Karena emang buanyak banget yang senasip sepenangungan, sampe dari telegram saya dapet temen perjuangan sampe sekarang (alias temen sekantor wkwkwk). Di telegram juga buanyaak banget yang share soal-soal, saya gak beli buku sama sekali dan persiapan saya cuman dari internet (youtube, telegram, google, Instagram, twitter dll)

c.      Jangan Sampe Ketinggalan Info tapi jangan kebanyakan info

Maksudnya adalah, gakpapa kok tiap hari nge scrool sosmed asal ada gunanya, kalo malah bikin khawatir nanti tesnya gimana, kenapa saingan kita aktif-aktif di semua platform, sampe melihat nilai orang-orang tinggi-tinggi bikin insecure, mending sedikit di netralin, netralin pikiran tu tiap orang beda-beda, jadi caranya gimana, yg tau diri kamu ya cuman diri kamu sendiri

d.     Ningkatin nilai yang emang kita jago disitu. 

Kalo versi saya yang belajar mepettt poll itu. Triknya adalah tau setiap karakteristik dari jenis soal dan tau kelemahan dan kelebihan otak kita. Kalo SKD kan dibagi tiga (TWK, TIU, TKP). 

·         Kalo Saya emang cenderung lemah di TWK. Dan dengan system belajar yang muepeet itu gak mungkin dong saya belajar semua materi TWK, jadinya maksimalin dengan skimming semua materi TWK (belajar kurang lebih 1hari) trus langsung Latihan soal dihari berikutnya, jangan tanya hasilnya gimana yaa kalo ini hahah

·         Trus TIU dan TKP gimana? TIU tu saya Latihan soal bisa diitung jam, karena mikirnya dulu saya kuliah di basic Teknik, itung-itungan udah makanan pokok sehari-hari, dan saya merasa dengan basic itu soal TIU bisa saya jadiin kekuatan saya, jadi saya gak Latihan tapi ngapalin dan mahamin diluar kepala dari perkalian dan pembagian dasar (usahakan ngitung cepet tanpa pakek jari untuk pembagian dan perkalian), apalin nilai-nilai persen ke decimal atau sebaliknya (kalo bisa udah diluar kepala), aljabar dan logaritma dasar, mahamin trik and tips jawaban soal cerita yg muter-muter tentang meja melingkar/antrian, pokoknya wajib banget tau trik jawaban soal tiu cerita gimana jawabnya kalo soalnya kayak gitu, karena rata-rata tiap tahun keluar dan seringnya ceritanya sama persis, lol. Karena persiapan saya mepeet banget, seinget saya cuman dikit saya Latihan soalnya, jadi kalo mau dongkrak nilai, saya saranin di TIU karena meskipun itungan, tapi jawaban pasti gak kayak TKP atau TWK. TIU juga gampang latihannya, dan seinget saya gak ada apa-apanya sama matematika dasar jaman SBMPTN kalo menurut saya

·         TKP, ini tu banyak banget jebakann, semua jawaban mirip, dan nentuin yang terbaik. Saya sedikit banget belajar ini,nilai saya tertinggi di TKP, dibanding yang lain. Yang membantu saya buat dongkrak nilai tkp itu bukan saya pinter atau sesuai dengan sikap ASN, tapi saya suka baca buku kayaknya deh wkwkkw. Soalnya TKP kan ke prilaku ya, kebijaksanaan, integritas, sikap dll gitu-gitu. Tidak ada pemahan teori tentang TKP secara pasti, tapi bisa tercermin dan bisa belajar dari banyak buku atau dari kehidupan sehari-hari. Triknya, jadilah manusia yang lebih bijak dalam menjawab soal. Jadilah orang yang mengikuti alur cerita seolah-olah kita jadi orang itu tapi jawabannya bukan cuman pakek perspektif kita sendiri,  tapi lebih terbuka dengan hasil jawaban yang ngasih banyak opsi kebaikan yang bisa dirasakan ke banyak orang, bukan hanya kebaikan untuk diri sendiri. Trik lainnya : Eliminasi satu persatu jawaban yang dirasa kurang sesuai, trus baru pastikan jawaban paling sesuai/jawaban terbaiknya. Karena biasanya TKP untuk menyelesaikan suatu masalah, pastikan hasil penyelesaian masalah harus Win-Win Solution, sampe ke titik puncak (untuk negara lol), kalo bisa sebelum milih mana jawaban yang paling bener, pakek 5Why, sampe dititik bakal ngerugiin banyak orang atau negara gak kalo jawab ini? 

5. Memperbaiki Niat, LOL sungguh kalo kalian berharap aku ngasih tips secara teknis di awal, bakalan tidak akan di dapat, karena aku selama ini ikut gak pakek persiapan apa-apa hahha. Tapi ini salah satu ujian yang aku bener-bener murni gak ngejar harta dan tahta. Lol. yaa, gimana ya dulu dah ke mindset gaji PNS tu kecil jadi ngapain aku bercita-cita jadi PNS. Sampe pas aku ketrima pun, dah menyakinkan diri bahwa aku harus punya banyak side hustle, agar hidupku selalu berprivilage lol, meskipun aku pns hehehe🙏🏻🙏🏻

 


Popular Posts