Senin, 30 Januari 2017

Pria Di Bawah Hujan


Hujan sore ini dibalik koridor jendela kuamati hujan yang selalu hadir tanpa permisi, menjadikan ketidak pastian selalu ada saat ia datang begitu saja. Kopi pekat yang baru kupesan diantar waiters yang sudah hapal dengan kebiasanku di cafe ini. Lucu saja rasanya melihat gelagapan orang yang sering kecewa dengan ketidakpastian hujan, gelagapan tanpa persiapan ketika basah menjadi hal yang harus dilalui. Seorang pria jakung memasuki pelataran cafe, pria yang sama setiap harinya selalu sama di jam sama, keadaan yang sama dan pesanan kopi yang tak pernah berubah setiap hari, Expresso, Dengan wajah yang selalu sama menatap layar smarth phone dengan kebinggungan ketika hujan melanda. Tanpa berpikir panjang dia duduk di depanku, memberikan salam permisi lewat mata dan tanganya yang meminta perizinan duduk dikursi depan, aku hanya menganguk mengiyakan, senyumnya masih sama tulus dan berpemanis. Dengan hembusan napas berat dia mengeluarkan buku hitam yang sering ia bawa kemana-mana. Aku memang telah mengenalnya jauh-jauh hari sebelum aku tahu kebiasaanya menunggu hujan reda atau sekedar menengelamkan diri bersama kopinya di tempat ini.
Lucu rasanya, mengenal tanpa dikenal sekedar tahu tanpa ingin diketahui. Mencuri pandang dibalik buku tebal yang aku gunakan untuk menutupi mataku yang sering liar memandang kearahnya. Aku selalu melihatnya, keseriusanya mencorat-coret bukunya. Duduk di hadapanya adalah hal pertama dalam sejarah kehidupan paling istimewa yang sering aku tunggu. Meskipun ketakutan itu ada saat detak jantungku diketahuinya secara nyata, mungkin. Rasanya mengetahui semua orang yang menceritakanya dengan nama harum yang selalu ia bawa dibalik wajah tampannya, membuatku sadar hanya sebuah butiran tanpa kepercayaan saat aku mengetahui persaanku. Aku tersenyum menatap jendela.
“Apa yang istimewa dibalik jendela kaca yang selalu sama sepertinya?” ucapnya membuyarkan lamunanku
“Tidak ada, hanya menyukai orang yang menunggu hujan reda, atau sekedar membasahkan diri dengan derasnya ketidakastian hujan”
“Jadi anda menyukai kesusahan orang lain?” ucapnya
‘Tidak juga hujan bukan malapetaka untuk mengidentifikasi hujan adalah kesusahan”
“Untuk pecandu sastra iya? Untuk para penggila kerja? Hujan hanya sebuah permasalahaan semata”
“Jadi hujan salah?”
            “Aku tidak menyalahkan hujan, hanya kurang menyukai hujan dibalik permasalahan yang ia timbulkan”
“Mungkin anda disuruh menunggu atau memberikan jeda”
“Membosankan hidup seperti itu, memberikan jeda tanpa kepastian”
“Mungkin anda tidak pernah memberikan jeda dalam hidup, jadi terkesan kehidupan hanya harus diisi oleh hal yang pasti. Pasti menyisakan tawa atau malah luka”
“Bukankah itu lebih baik dibanding ketidak pastian, yang membuat orang-orang bertanya-tanya atau malah kepura-puraan saja”
“Mungkin?” Ucapku mengakhiri pernyataan klise filosofis yang baru kita buat.
1 tahun berlalu, Aku telah meninggalkan Jogja. Dengan berbagai cara aku membuang ketidakpastian perasaanku sendiri, mungkin benar aku terlalu menikmati sebuah jeda tapi lupa ada kepastian yang harus aku rasa. Mungkin hujan kali ini bukan sebagai jeda dalam hariku, melainkan sebuah cara harus melewatinya bukan sebuah masalah besar untuk ditunggu. Mungkin itu sama dengan perasaanku selama satu tahun ini menunggu tuan yang aku kenal tapi sama sekali tak mengenalku, dibalik jendela kaca yang sering aku tunggu. Namun, jika aku tetap menunggu dia aku lupa hakekatnya rasa itu sendiri. Ada saat menunggu tanpa kepastian adalah sebuah jeda yang menyenangkan dengan harapan palsu yang selalu aku biarkan mengerogoti logika yang tak semestinya. Kembali lagi, itu hanya sebuah ketidak pastian!. Dan ketidak pastian hanya dicintai orang yang tidak ingin terlukai oleh kenyataan, mungkin itu aku. Aku takut terluka. Selama satu tahun ini aku menata perasaanku sendiri menengalamkan rindu yang tiba-tiba muncul dengan fokus kepekerjaanku sekarang, selama itu artinya setiap detik ketika aku melewati waktu. Dia masih selalu terngiang dibalik harapan-harapan ketidak pastian yang selalu aku agung-agungkan tanpa kejelasan. Mungkin sekarang dia telah bersama orang lain, memadu cinta seperti semua orang harapkan. Pun aku juga ingin seperti itu, tentu dengan melupakan orang yang yang tak pernah benar-benar mengenalku, tapi rasanya semakin aku ingin melupakanya, semakin aku sadar rasa itu lebih mengikat diperasaanku.
Hujan mengguyur Jakarta, aku berjalan dengan payung yang selalu aku bawa ditasku, tidak ada lagi kata menunggu yang syarat akan kenangan bersama hujan deras, aku melepaskan diri bersama butiran hujan yang turun dari langit. Seorang pria berjalan mendekatiku menutup payungnya dan berjalan beriringan denganku, senyum tulus berpamanisnya masih sama tak pernah berubah meski satu tahun telah berlalu.
“Jadi, sekarang sudah menjadi seorang yang mencintai kepastian ucapnya”
“Tidak, hanya tidak mungkin membuang kesempatan hanya karena menunggu ketidakpastian”
“Bagaimana dengan Cappucino dicafe sebrang jalan?, sekedar penunggu ketidakpastian hujan yang katanya jeda sebuah rencana?”
“Bukankah itu sama saja membuang waktu dan membuang kesempatan dibuku agendaku?”
“Bukannya ini waktu yang kamu tunggu? Membuang ketidak pastian didalam benakmu?”
          Aku hanya tersenyum berjalan beriringan dengannya  dibawah hujan                        
-TAMAT-









Senin, 09 Januari 2017

Coretan 2016, dan sedikit cerita untuk 2017


               Setelah vakum beberapa minggu dari perblog, postingan ini menjadi salah satu postingan awal tahun di 2017, dan menjadi salah satu postingan tentang rangkuman jatuh bangun di 2016. 2016 menjadi tahun penuh ambisi, asumsi ataupun ekspektasi bagi saya, dan tahun 2017 ini menjadi salah  sesuatu banget, sesuai sedikit tentang curhatan saya tentang Quarter life Crisis disini, fiuhh :”, jadi saya mau cerita tahun 2016 yang lalu waktu yang di titipin Tuhan ke saya buat apa aja, tujuannya simpel buat ingetin aku untuk lebih mengupgrade diri di tahun 2017 sebagai seorang yang lebih baik.  
  1.  Agama
Well, tahun 2016, kondisi agama saya menurut saya gak banget, banyak banget kejadiaan saat saya marah dengan Tuhan cuman karena cobaan, padahal jika saya pikir lagi dan melihat kebelakang, ujian itu masih secuil banget engak ada ipity-ipitnya dengan yang lainnya ataupun sekarang. Tapi ya itu, semakin dewasa kita pasti pemahaman kehidupan kita akan lebih berkembang dan ini yang saya dapatkan setelah beberapa bulan kejadian semua itu.
2.      Kehidupan
Tahun ini jadi tahun paling penting buat start di hal-hal yang baru bagi saya. Banyak sekali kejadian yang akhirnya gue banting setir dari hal yang paling penting sampai gak penting-penting amat. Sulit ditebak, tapi dapat di usahakan ya itu salah satu caption  2016. Di mulai dari awal tahun saya merombah domain di blog ini, mendapatkan berbagai kesempatan kerja part time dan freelance bergengsi mulai dari kerja dengan Ditmawa, BNPT, dan MPR, menurut saya itu adalah sedikit yang istimewa di 2016. Di balik itu semua, ada kegagalan saya mencoret salah satu impian terbesar saya tahun ini, saya melanjutkan kuliah. Kejadian ini bermula ketika saya lebih asik untuk berpart time dan freelance ria, menunda kewajiban menyelesaikan Tugas Akhir saya segera hingga akhirnya harusnya saya Juli bisa yudisium, saya harus menunda sampai bulan Agustus. Mungkin itu waktu yang cukup sedikit hanya berjarak 1 bulan, tapi tidak untuk plan saya selanjutnya, periode satu bulan itu mengakibatkan banyak pilihan besar yang harusnya saya lakukan tahun ini, terpaksa harus saya tunda. Jujur saya sempet kecewa dengan diri saya sendiri saat itu, saya sering nangis didepan temen saya saat curhat, padahal jika saya pikir-pikir saya jarang sekali curhat sampe nangis sebelumnya mau putus pun ngak nangis tapi pas ini, berasa gue males nyelesein tahun 2016, karena akhirnya gue ngeliat 2016 seperti 2015 juga,bulan agustus ngasih liat kegagalan gue. Tapi dari bulan agustus itu saya mulai banting plan-plan saya, Jika Plan A tidak berhasil, masih ada plan A-Z yang bisa kita laksanain, SO?. Daari situ gue mulai nyusun plan baru, mulai dari saya pengen melanjutkan pendidikan menjadi seorang pekerja. Saya mulai plan perusahaan mana saja yang saya inginkan dan berbagai target baru lainnya. Kehidupan masih harus saya lanjutkan dengan berbagai tantangan, september 2016 saya putuskan untuk ke Pare, salah satu fase upgrade diri di 2016 bagi saya, sebelum dari pare, saya sudah merencanakan apa yang akan saya lakukan setelah lulus, salah satunya mendapatkan pekerjaan segera,!! Target utama saya setelah saya dari pare, saya mendapatkan pekerjaan, malah keinginan saya, Pare sebagai tempat mengisi waktu luang sebelum di panggil kerja. Tapi, lagi-lagi saya harus membanting setir kehidupan saya, di awal setelah yudisium saya ingin kerja di JABODETABEK, tapi tidak diridhoi oleh orang tua, dan naasnya, saat mendaftar beberapa perusahaan saya juga tidak dapat kelanjutan, akhirnya saya manut dengan pilihan orang tua yang menginginkan saya bekerja di solo-jogja-semarang. Setelah dari pare, saya pulang kerumah beberapa hari. Setelah itu kembali ke Jogja, karena saya takut akan kelamaan di zona nyaman jika dirumah, itu kenapa saya balik ke Jogja. Di Jogja, saya banyak menikmati quality time saat itu, tapi hanya 7 hari :”(. Setelah saya galau karena males jadi penganguran, Allah langsung turunkan pekerjaan saat itu juga, disaat saya pengen bekerjaa sekali, akhirnya dari beberapa tawaran pekerjaan, dan beberapa analisis papassion yang saya miliki saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dnegan minat saya yeaah!! After this, menikmati menjadi seorang karyawan, ternyata tak semenarik yang pernah saya bayangkan. Di tempat pertama saya bekerjaa itu banyak sekali habit buruk yang saya miliki, karena lingkungan yang  memang mendukung, belum lagi dengan banyaknya hal-hal yang menurut saya tidak sesuai hingga akhirnya saya mengambil keputusan untuk resign. Setelah ssekitar 2 bulan kurang saya menjadi karyawan tempat itu.. Resign  disini yang saya inginkan adalah saya tahu dan ingin tahu who i’m, terutama, karena jelas saat ini saya sedang mencari jati diri itu kenapa saya pikir itu semua adalah hal urgent untuk saya lakukan, Beberapa hari saya masih sering di kamar, setelah itu quality time dengan diri saya, ketempat yang sering saya kunjungi dan lain sebagainya. Resign saat itu juga keputusan besar bagi saaya, tapi saat itu saya pikir sudah tidak ada pilihan mau bagaimana lagi. So i did this. After it, gue yang saat itu emang berkeiginan untuk enggak bekerja dulu dan pengen pulang kerumah buat quality time dengan keluarga dirumah, belum bisa!! Setelah beberapa hari resign saya dipanggil interview lagi, dengan berbagai pertimbangan dan sholat isthikharah akhirnya fix gue mau nerima kerjaan disana, dan tepat sekarang gue jadi karyawan lagi hahah. Bolak balik amat ya cerita hidup di 2016 ini bagian yang ini.
3.      Teman
Saya ngerasain banget kehilangan temen di 2016 juga, hal paling saya takuti dan beneran terjadi di 2016 adalah satu persatu temen saya ningalin saya buat ngejar cita-cita meraka, ternya mereka yang ningalin saya bukan saya yang ninggalin mereka hahaha, karena sampai sekarang saya masih di Jogja. Fase yang menurut gue ngedewasain saya banget, dan buat saya baper banget. Tahun ini saya udah gak ada buat tahun baruan karena biasanya kita sering punya acara entah ngecamp atau yang lainnya. Saya kangen banget nikmatin jogja bareng mereka, jogja sekarang bukan lagi berasa Jogja yang dulu bagi saya. T.T. Meskipun dari semua itu saya juga punya banyak temen baru, tapi tetep aja, mereka enggak pernah keganti sampai kapanpun itu. Mereka terlalu istimewa.
4.      Relathishionshitt
Di tahun 2016, saya masih jomblo dan stay cool, masih tetep sama lebih milih jomblo dibanding nyakitin orang lain lagi kayak tahun-tahun sebelumnya efek saya ngak bisa move on-_-. Tapi kabar gembiranya di tahun ini saya udh 70% move on dari orang yang udah ngisi 3,5 tahun di hati saya. Akhirnya tan, salah satu prestise tersendiri yang bikin saya ngetawain masalah ginian. Daebaak diss!!! Hahah. Karena pada akhirny saya tahu kunci itu saya taruh dimana, dan saya bisa ngebuka gemboknya lagi, meskipun belum sukses besar sih. Tapi tetep aja kan bikin saya bahagia. Semua ini di awali dari saya ke pare, Pare emang oke banget buat pelarian ternyataa hahah, mujarab saya bisa move on 50% dari sana, dari sana juga gue bisa sedikit keketuk hatinya oleh orang lain pernah gue tulis disini... tapi gak sukses juga sih karena balik di jogja saya masih sering dilema sama perasaan saya sendiri. Dan akhirnya ada seseorang yang bisa ngetuk perasaan gue lagi dengan pelan tapi pasti, -____- radak gak terima sih, karena gue paling gak bisa baper sama orang kayak gitu, tapi saat itu entah karena apa gue bisa baper banget, dan setelah kejadi itu semua akhirnya gue sedikit ngibiasain perasaan gue sama tu cecenguk 3,5th gue taksir T.T.
5.      Kesehatan
Yeaah tahun ini Alhamdullilah saya lebih sedikit punya banyak habit baru yang lebih bagus dibanding tahun sebelumnya, mulai kesadaran saya buat ke Gym ataupun yoga, kalo yang ini emang pas masih jadi mahasiswa sih karena sekarang udah gak ada kartu sakti KTM buat nge-GYM dan Yoga cuman 2k wkwkkw. Saya juga mulai sedikit sadar akan minum air putih setiap hari, joging, dan kebiasaan bangun lebih pagi yeaaah!!!
6.      Keuangan
Tahun 2016 menurut saya tahun paling boroos dibanding tahun sebelumnya, karena tabungan saya lebih dikit banget dibanding tahun sebelumnya, T.T tapi semoga uang itu saya manfaatin sebaik mungkin aamiin
7.      Yang lain
Tahun ini, saya masih memiliki tempat ternyaman seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu di perpustakaan pusat, satu-satunya tempat yang selalu dapat membuat saya tenang meskipun saya sedang sebete apapun, tempat yang sampai sekarang dapat menetralkan diri saya segera, saat saya suntuk, gak jelas, absurd tempat itu adalah satu-satunya tempat yang dapat mengembalikan enegergi positif saya segera, i’m so glad know you so well my fav place, Perpustakaan Pusat UGM. Dan tahun ini juga tahun aplikasi spotify buat gue. spotify punya kenangan banyak banget dengan gue. Dan satu-satunya aplikasi yang tahun ini bisa bikin gue bapernya selalu keulang *loh?* di bagian relathionshit tadi gue sempet nyinggung tentang perasaan 3,5th Nah dia orang di balik aplikasi ini, bukan yang nemuin atau bikin. Jadi ceritanya gue nemuin spotify dia karena kita temenan di fb, dari situ gue ngeliat playlist dia, dan you know? 80% playlist dia adalah semua lagu yang gue sukain. Gue paling anti nyamain kesukaan musik, tapi kalo ini beneran sukaa -____-. Dia punya banyak genre musik yang sama kayak gue, apa emang karena kita yang pasaran ya sukanya? Wkkwkw tapi cuman dari dia ada playlist lagu lawas yang I love it banget!! Semacam Weslife, Air supply, All 4 One, Natasha Bedigfield, Train, Iwan false, Sheila on 7, sampe Crisye dia adaa hahah. LOL


Hikmah 2016
Setiap kejadian pasti ada hikmahnya dan gue nysuun sedikit hikmah itu
1.      Kehidupan
a.       Tahun ini saya memang gagal untuk melanjutkan pendidikan saya, tapi Allah mengntikannya lebih dari apa yang sebenarnya saya butuhkan. Dunia kerja!!! Proses yang sama sekali saya rasa lebih memberikan saya banyak ilmu dan banyak waktu untuk tau apa sejaatinya yang saya cari. Mungkin sedikit gambar tentang Who i want di dunia kerja pernah saya tulis disini, dan sekarang 50% dari semua itu sudah saya dapat. Yeahh!!! 
b.  Berproses lebih baik dan lebih cepat, setelah semua proses patah arrah dan bangkit berkali-kali itu, Allah banyak mendewasakan saya lewat banyak hal yang sering saya tidak sadari selama ini. The Power of 2016 adalah saat banyak sekali keajaiban yang saya tidak pernah menyangkanya, dan semua itu karena skenario terhebat Tuhan saya
3.      Teman
Sekarang teman saya satu persatu telah meninggalkan saya, tapi saya bahagia, ternyata teman saya seambisius itu semua ya :”) i’m so glad hear them resolution or them status, is so amazing when your friend said about their happines. And I’m realize that mereka se mandiri-mandiri dan amazing itu semua. Saya juga banyak belajar tentang pertemenan tahun ini.
4.      Relationship(t)
Tahun ini banyak belajar, ternyata Tuhan ngasih tau perasaan yang dulu karena saya banyak belajar dari dia. Dia yang mengajarkan saya untuk selalu mengupgrade diri saya, dan saya melakukan itu, saya mempelajari apa passion saya dan apa yang saya inginkan dan salah satunya design! Karenanya, saya bisa mencintai dunia unik dari design meskipun saya paling nol besar bidang seni tapi saya akan mencobanya, thank you untuk 2016-nya kamu mengajarkanku banyak hal :)

Senin, 26 Desember 2016

Menikmati Fase Awal Quarter Life Crisisis

       

   Selamat datang di area Quarter Life Crisis. Do you know about Quarter life Crisis? Menurut Dr. Robinson menyebutkan Quarter-Life Crisis adalah pengalaman positif, sebuah katalisator untuk perubahan yang konstruktif dan akhirnya menjadi pondasi untuk kehidupan baru, mengalami quarter life crisis akan mengurangi resiko menderita min-life crisis nantinya di usia 40an atau 50an.  Quarter life Crisis sendiri dapat terjadi mulai dari 20tahun-30tahunan. Setiap orang pasti pernah ataupun akan menikmati fase ini. Termasuk gue, yang sekarang mungkin sedang mengalami tahapan fase ini. Ada orang yang berproses tanpa merasakan kegalauan yang paling ketara dalam hidup di fase ini, tapi ada yang galau sampai stres tak ada ujungnya juga ada, dan gue nulis semua disini tujuannya buat merapikan pikiran-pikiran liar gue karena gue ngerasa sedang mengalami fase ini, especially after graduate from university. tahun ini menjadi banyak sekali moment yang mempertaruhkan itu semua. Quarter Life Crisis awal bagi diri gue adalah tahap seseorang banyak mempertimbangkan pilihan yang nantinya di bawa sampai dia Mati ataupun Sampai di alam yang kekal (Akhirat). Pertimbangan-pertimbangan itu pasti banyak banget seperti –Setelah Lulus Kuliah mau kemana, mau berprofesi apa, sesuai dengan passion atau belum, sesuai dengan keinginan ataupun kebutuhan, mau lanjut kuliah lagi atau tidak, ada tekanan dari banyak pihak tentang jodohlah, masa depan mau di bawa kemana dll, fase ini menjadi fase teror untuk orang yang baru beranjak dari labil mau menjadi stabil. Fase yang terjadi karena realita saat ini tidak sesuai dengan ekspektasi. Dr. Oliver Robinson dari University of Greenwich menulis dalam risetnya yang berjudul Early Adulthood and Wuarter Life Crisis, menyebutkan ada 5 fase Quarter-Life Crisis.

  • Fase Pertama : Kamu merasa terjebak oleh pilihan hidupmu, exactly!! Saat semua expektasi dan imaginasi liar kita tak sejalan dengan realita! Buruknya dilema dan galau berkelanjutan. Seperti hidup adalah kejutan tapi kita kurang persiapan dengan pilihan yang akan kita ambil, seperti merasakan di kapal karam di tengah laut tanpa siapapun yang dapat menolong.

  • Fase kedua : Merasakan “Aku harus keluar dari situasi ini” dan ada perasaan kalau perubahan itu mungkin jika kamu yakin. Di fase ini kita merasa kita mulai yakin dengan diri sendiri.

  • Fase ketiga ; Kamu keluar dari pekerjaanmu, mengakhiri hubunganmu , atau bahkan menyudahi komitment yang membuatmu merasa terjebak. Lalu, kamu memasuki zona menjauh” dimana kamu memilih menyendiri dan mencari tahu siapa dirimu dan apa yang kamu inginkan.

  • Fase ke empat kamu mulai memmbangun kembali hidupmu dengan pelan namun pasti

  • Fase kelima : kamu mengembangkan komitmen baru yang sejalan dengan aspirasi dan keinginan.

Quarter-life crisis, mungkin ini awal permulaan gue menikmati fase ini, fase awal mempertanyakan kehidupan mau dimana kehidupan gue selanjutnya. Goals apa yang mau gue capai kedepannya. Ternyata life plan dan life goals yang sering gue tulis di papan deket meja belajar gue ngak banyak memberikan insight gue gak galau mengalami masa ini. Karena akhirnya gue masih aja mempertanyakan ini semua. Kalo untuk menjadi settle life, gue belom yakin dengan kemampuan yang gue miliki sekarang. Tapi untuk survive-life dengan kerjaan gue ataupun kehidupan gue saat ini, mungkin gue bisa aja, tapi balik lagi, hidup bukan hanya tentang seberapa survive kita kan? oke itu untuk masalah karir dan pekerjaan, atau settle dalam kehidupan, tapi ada juga yang katanya urgent selain itu semua, Tentang Jodoh. Well, of course di fase ini gue ngalamin galau karena dorongan temen ataupun orang-orang sekitar gue yang sering banget bahas ini -___- gue yang emang pada titik ini, pasti juga mikir kan, meskipun presentasenya gak sebanyak yang lain.
         Fase Quarter Life Crisis tentang teman hidup. kalo buat gue sendiri lebih serius mikirin karir sih dibanding tentang ini . Gue ngejalani fase tentang ini dengan biasa wae, temen gue yang nikah duluan juga udah banyak dan gue belum merasa di teror fase ini, karena  jodoh. Tapi balik lagi gue manusia biasa sih, ada saat gue mikir serius juga mhahaha. Pertanyaan kapan menikah itu pasti ada dan gue masih sering jawab dengan jujurnya dan b***nya : saat udah ada calon wkwkkw, tapi buat berada di titik tertentu mungkin, mau serius sering konsultasi sama Allah dulu hahah. *kok gakserius dari tadi*. To be honest  sekarang belum kepikiran tentang membangun rumah dibelakangnya ada tangga-nya :D Mungkin lebih mengedepankan apa yang sekarang bisa gue lakuin kalik ya,  target nikah gue juga masih abis 26tahun kok seloow masih 6th lagi, saat gue udah settle dalam kehidupan gue. So to be honest for everyone who want me soon *kalik aja dia baca kan wkkwkw* i'm sorry, i think you must waiting for 5th years later after i finish my master degree, tapi engak menutup kemungkinan lebih cepet dari target gue, Lho??.
      Semua orang akan mengalami masa ini, tinggal pintar-pintarnya kita menyelami diri untuk menyesuaikan ekspektasi dan relatita yang ada di kehidupan, karena ini sebuah fase naik turun kehidupan, akan ada saatnya kita menertawakan fase ini suatu saat nanti, karena saat itu kita telah melewati semua fase ini. Fase Quarter-life Crisis, buat gue sendiri seperti berkaca dari seberapa besar pertimbangan pilihan  kehidupan yang kita ambil sekarang, karena pada pilihan di fase ini banyak mempengaruhi gue di masa depan. Sejurus dengan itu semua, gue mulai sedikit merangkum What I need before i settle and after i start this fase. 
1.      Berpikiran Positiv
2.      Menghadapi dengan santai 
3.      Melakukan  hal yang positif
4.      Bercita-cita sewajarnya 
5.      Berhenti membandingkan
6.      Menyesuaikan imaginasi dan ekspektasi sesuai dengan realita yang kita terima
7.       Open minded
8.      Belajar terbuka untuk menerima kritikan ataupun memberikan kritikan dengan belajar mengungkapkan perasaan *read curhat*
Mungkin pembahasan Quarter Life Crisis disini enggak semenarik yang pernah kalian baca, tapi
semoga Quarter Life kita menarik. Cheers!! Thank You udah baca curhatan gak jelas gue....

Sabtu, 29 Oktober 2016

First Job After First Graduate

            
        Well okey, i think i have more time to leave this blog because my priority have been changed. I already done writen short story Musabah Diri, and i want to continue my last story. First Job after First graduate.I am like lucky people because of this. I have been change my idealism of live to be a realistic yes, i write in there after i changed everything target that i realize is more better than idealism i am. The target is my dream to be a good women karier in big city, Jabodetabek, is my precious dream in my mind several month ago before my graduation day. Why Jabodetabek? Ofcourse because opportunity in there more better than my beloved city right now, Yogyakarta, Jabodetabek have more company which any field job require, Jabodetabek have a more salary which offers, Jabodetabek give chance to expand my safety zone, and other wish. But i already changed my idealism, because of my priority and next target i wanna right now, is not about just salary, expand safety zone, opportunity and others. I believe wherever i am, if i have efforts and prayers i can get what i want. Yogyakarta doesn’t have a good opportunity to my passionate about food technology but yeah Yogyakarta have a good zone to other and new knowladge in my job that i want. So is my new target, ambisius, and dream in there. Doesn’t mean about big city which big salary but big dream with big other passion.
            So i want to introduce my new job  after i’m a fresh graduate. I looking for job like looking for love, made exhausted T.T but i always gratitute to my  God, i Got my job before my Graduation day, 16 Nov later *so if you want to look at me, you can came at gsp wkwkkw*. I accepted in one of company provide for digital marketing field. In there i was accepting in creative digital team, my job desk is make concept begin for indetify of company clien, make sure brand of company clien, creative campaign, conceptor for some program and etc. You know? I’m not graduatate from management or economic major or preferrence marketing entusiat, i came from Food Technology, yes of course i’m learned about marketing but is not detail and is not all about marketing just a part of marketing. From my new job i really happy and entusiast because i learn more knowladge what i need to develop. Marketing is important in all company in arround the world, every company of course have a marketing division, if i want improv or develop my karier marketing have a good opportunity. But marketing is not easy as my learned in my collage, practice of marketing is more of difficult than i’m thinking before. Influencer other people is more difficult than i thinking i can get A in all my examination. But Is live i like new live that i have, right now. When preassure like stone in my brain, when i have to learn-learn-and learn to improve myself and i want to niat in my new job to learn new things, new adventure and new experience like my friend said “You have capabilty to always thirsty of  new experience. Yeah, i, i’m in here to swim my new ambisiotion and passion of new target i drive and i do what i love, which make me happines for the first things after it, My Idealism want to drive for my a gregious Journey of My live.

Oke thank you, and See my new post later.

Musabah Diri


Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT". (HR. Imam Turmudzi)
                Setelah dari Pare beberapa minggu lalu, saya mulai sering menikmati Quality Time dengan diri saya. Lebih sering baca buku, nekuni hobi, improv bahasa inggris, CV dll.  Tapi ada satu kisah yang menarik dari semua hal-hal itu,  saya mau cerita dulu sedikit, dari dulu saya memang udah punya hobi sibuk dan benar-benar sibuk, pas jaman kuliah saya rasa, saya tidak memiliki waktu ngangur banyak. Saya selalu gunakan waktu itu sebaik mungkin mulai dari kuliah, praktikum, part time dibeberapa tempat, organisasi yang lebih dari 3, kepanitiaan setiap bulan, ngerjain tugas dan laporan, belum kalo saya niat ikut lomba atau kompetisi esay atau blog atau LKTI saya ikutin.  Sibuk kan? Tapi setelah lulus saya sama sekali tidak bangga dengan diri saya, selama ini saya terlalu salah dalam menilai segala sesuatu ternyata. Mungkin iya, saya punya banyak pengalaman, banyak networking, banyak achievment atau awards yang saya tulis di CV *Maaf songgong dikit* ettapi saya tidak menjaga pengalaman saya itu, saya lalai dengan networking yang saya miliki, sertifikat yang lebih 20 yang pernah saya kumpulkan juga gak berpengaruh banyak pada kehidupan saya sekrang, saya juga bukan orang yang prestisius dalam kemampuan berbicara yang sebaiknya dimiliki orang berorganisasi banyak, saya juga tidak memiliki ke-Wah-an selama berada di organisasi, saya juga jarang menang di lomba yang saya ikuti, IPK saya kurang dari impian saya saat saya lulus. Tapi selama ini saya ambisius untuk meraih semua itu!, keambisiusan dan idealis saya terhadap pencapaian diri saya melambung terlalu tinggi, hingga akhirnya saya jatuh dengan semua yang tidak sepenuhnya tercapai, tidak sepenuhnya bukan semuanya. Lalu selama ini saya salah? Salahnya apa? Saya sudah berusahaa sepenuhnya, selagi saya bisa, saya salah yang mana?. Pertanyaan itu sering saya ajukan dengan diri saya, apa yang salah selama masa kuliah, seperti dia awal tadi saya bilang saya salah dalam pandangan. Saya tidak menyalahkan pandangan ambisius dan idealis saya yang saya salahkan adalah saya banyak lalai dalam segala sesuatu tersebut.
                Lalai paling sangat yang saya miliki adalah saya lupa apa hakekatnya kehidupan yang saya miliki saat ini. Selama ini yang saya rasakan adalah saya selalu terpacu untuk mengejar, mengejar kebanggaan dan kepuasaan yang saya inginkan, seperti jika saya bisa mendapat IPK sekian maka saya bangga jadi saya bahagia, selalu hari-hari saya selalu saya isi dengan tulisan-tulisan target masa depan masa sekarang, target harian dll. Ternyata saat itu lambat laun tapi pasti saat saya meraih apa yang saya inginkan, ada keinginan yang malah menjauhkan diri saya sepenuhnya. Keinginan itu adalah tentang arti kehidupan saya sepunuhnya saat ini?. Apa yang benar-benar saya cari sebetulnya? Saya mencari kepuasan diri saya, setelah semua yang saya dapatkan itu apakah saya puas? Saya rasa tidak, saya selalu terpacu untuk meraih yang lain. Selama perenungan beberapa hari ini akhirnya saya mulai banyak belajar tentang arti kehidupan dan apa yang yang saya cari *mario te**h sekali ya bahasanya* maafkan. Saya mau nanya yang kalian cari dikehidupan dari kehidupan ini apa? Sedikit saya menemukan jawabannya, selama ini saya terlalu jauh dalam memandang dunia, selalu dan selalu banyak memberikan waktu kepada dunia, saya lupa hakekatnya hidup semestinya.
                Dunia itu fana, tapi akhirat yang kekal. Bukannya saya sok religius atau apa, tapi selama beberapa hari ini saya merenungi hal ini saya mendapatkan banyak sekali pencerahan, Selama ini
  1. Sholat saya jarang tepat waktu. Di agama saya, sholat adalah hal paling utama, jika guru saya bilang sholat adalah pondasinya, dan yang pertama dihisab dialam baka. Tapii, seringnya saya terlalu khilaf dan lalai, lebih mementingkan ontime rapat dibanding ontime sholat, lebih memintingkan sholat tergesa-gesa dibanding kuliah telat, dan masih sering nunda karena hal spele lain. Saya punya cerita tersendiri dengan ibadah saya yang ini akhir-akhir ini juga, dan yang menyadarkan saya, jadi saya punya kecenderungan nelat sholat, pokoknya ada aja syetan yg ngangu saya dalam sholat. Pas akhir-akhir ini saya sering ketemu temen-temen yg agamanya 100% lebih baik dari saya gitu, jadi seringnya saya curhat masalah saya, nah dia menyarankan untuk sholat tepat waktu. Saya yang emang dri dulu sering nyoba tapi lebih ke keinginan saya, jadi saya sholat tepat waktu karena saya inginkan sesuatu #janganditiru. Bedanya di episode saya kemaren itu, saya tidak memiliki keinginan dan ambisi yang harus banget saya dapat, dan saya malah dapat banyak sekali rizki yang jalannya saya dapat dengan mudah, dan gampang aja gitu ngejalaninya, mulai dari kebinggungan masa depan yang berangsur-angsur ada jalan. Saya kan juga jobseeker, baru 10 hari yang lalu saya kirim CV, tapi setelah itu saya sudah disuruh tes lalu interview. Dan kalian tahu? beberapa hari ini saya sudah training setelah itu, padahal sama sekali tidak ada dalam benak saya secepat itu berprosesnya saya mendapatkan tawaran training, dan lain kali akan saya curhatkann lebih dalam di episode berikutnya...
  2. saya jarang menyertakan Rab saya setiap harinya, misal nih pas mau brangkat kuliah, saya cuman punya tujuan nyari ilmu, padahal pendekatan lain ibadah itu bisa dengan aktivitas sehari-hari kita selama ini misal pas nyari ilmu niatnya buat ibadah, Kan Allah selalu beserta kita akhirnya.
  3. Dari hal-hal ambisius dan idealis yang saya miliki selama ini takaran untuk dunia lebih tinggi hingga akhirnya saya lupa daratan, apa sejatinya yang perlu saya perjuangkan lebih.
  4. Akhirat di Hati Dunia di tangan. Iya saya lupa lagi bahwa selama saya ingin mengengam dunia itu, saya lupa prioritas utama saya, akhirat, sehingga dua-duanya saya gak dapet.
  5. Sejatinya saya hidup untuk Rabb saya, dan yang sering saya pertanyakan pada diri saya sekarang adalah “emang yang kamu cari didunia ini apa aja sih tan, cuman sholat tepat waktu aja susah?”


Hemmmm.... Saya kira itu sedikit curhatan random, saya tentang prioritas, idealisme, dan kehidupan saya akhir-akhir ini.

Senin, 26 September 2016

Balada di Kampung Inggris Pare Part I

          

                                                           Source Gambar : Google
             Hello guys, long time no see. Berasa udah lama ngak mengenal peradaban padahal baru sebulan ninggalin. Selamat datang dan hampir selamat tinggal September, yang katanya september ceria :D. Well ini postingan setelah saya mendapatkan wifi dari suatu tempat, dan saya berkeinginan untuk posting meskipun dengan malas-malasan karena rasanya banyak sekali hal yang harus saya lakukan *sok sibuk*  Ini adalah perjalanan saya di kampung inggris pare yang jauh dimata, tapi selalu dekat dihati *nyanyi* *abaikan*. Oke ini juga salah satu hal yang antara saya mempercayai diri saya dan enggak dengan kondisi yang saya alami disana makanya judulnya *alay begitu*. Kampung Inggris Pare yang namanya udah booming banget sebagai kampung yang dikelola memang untuk kursusan bahasa inggris, jadi tidak diragukan jika akan menemui banyak sekali tempat kursusan di Pare, setahu saya ada lebih 100 kursusan mulai yang emang berkualitas sampai yang biasa-biasa saja ada. Dengan bekal pengetahuan seadanya dan testimoni dari seorang teman akhirnya setelah saya yudisium saya memutuskan ke Pare, dorongan utamanya tentu saya ingin fasih berbahasa inggris dengan menambah score toefl, dan skill speaking. Saya ke pare dengan teman dekat saya, saya tidak mempersiapkan banyak hal, hanya beberaapa ngak rempong-rempong banget karena saya pikir adaptasi akan mudah di sana karena dekat dengan daerah asal saya, jadi nggak perlu barang banyak. Koper ukuran 14 yang kecil banget itu juga muat untuk memasukan semua pakaian saya dan 6buku saya haahaha. 
          Perjalanan ke pare juga tidak susah-susah banget, meskipun saya harus berjuang dengan sangat, karena untuk pertama kalinya saya menaiki Bus yang sama sekali diluar expektasi saya, bus tersebut dari arah Yogyakarta-Surabaya, tapi ini pengalaman menaiki bus yang masya Allah bikin saya dzikir saking amazing pengalamannya, karena didalam bis saya ketar-ketir karena ngebut dan tempat duduknya yang lumayan sempit, belum saya di penyet sama mbak-mbak deket saya, dan apesnya mbaknya mabuk darat *huaaa*. Oke itu secuil pengalaman menaiki bus sampai di terminal Jombang, dari terminal Jombang saya menggunakan ojek ke pare yang memang jaraknya lumayan. Jreng-jreng sampai akhirnya saya di Camp saya Logico Camp karena saya ambil program TOEFL ITP CAMP-ELFAST jadi dapet tempatnya di Logico Camp untuk tempat tinggal. Diawal kedatangan saya ada sapaan sumringah dari mbak-mbak yang juga sudah berada di sana lebih dulu dari saya, dan saat itu yang saya inginkan hanya mandi, saya langsung ke kamar mandi, untuk kamar mandinya saya pikir tidak membutuhkan waktu yang lama untuk saya beradaptasi karena bersih. Setelah mandi dan beres-beres saya tidur. Mungkin itu pengalaman yang biasa saja dan iya saya pikir saya akan terbiasa dan mudah adaptasi dengan kesan awal yang biasa saja seperti tempat saya sebelum-sebelumnya. Tapi ternyata saya salah mendugaaa. Di Pare saya seperti memasuki fase keluar dari zona nyaman dengan sangat, adaptasi saya juga terbilang susah-susah gampang, dan gak sebiasa di awal cerita. 
          Saya memilih lembaga Elfast yang notabene jauh dari camp logico, sehingga saya harus menyewa sepeda untuk transportasi hariannya. Emm cukup menyenangkan dibenak saya. di Camp sendiri saya harus menggunakan bahasa inggris total 24 jam selama 7 hari, wahh menarik di anggan saya! Saya juga dituntut belajar dari jam 5pagi sampai jam 9 malam ah menarik bagi saya. Hingga pada suatu ketika semua hal-hal yang biasa, menyenangkan dan menarik dibenak saya berubah sebagai mala petaka rasanya. Saya akui untuk hal perjuangan adaptasi saya sering dengan kondisi-kondisi diatas tapi tidak dengan setengah hati saya menjalaninya. Pare jauh dengan rumah saya, pare panas sekali udaranya, Pare bukan tempat yang menyenangkan untuk orang yang manja masalah makan seperti saya, Pare juga bukan tempat yang menyenangkan untuk orang yang butuh wifi kenceng untuk melalukan kerjaannnya setiap hari, Pare terlalu jauh dari pusat kota, Disana juga saya tidak memiliki akses yang bebas untuk melalukan apa yang saya ingin lakukan seperti belajar dengan kondisi tempat belajar yang nyaman contohnya. Hingga akhirnya saya yang menikmati petualangan baru itu kesusahan sendiri, saya terkena diare beberapa hari, belum udaranya yang lumayan panas, lebih panas dibanding semua kota yang pernah saya datangi, saya juga merasakan petualangan merasakan kesusahan dengan semua hal itu. Ahh mungkin seperti saya manja sekali, nggak tahan banting gitu doang udah ngeluh, mungkin saya pernah merasakan hal yang menyiksa seperti ini tapi tidak dengan kondisi keterbatasan dengan apa-apa susah, mau nyari udara yang tidak panas saja susahnya masya Allah *fiuh* tapii dari semua cerita yang keluhan saya tentang pare itu saya mulai banyak belajar karena saya dodol sekali jika tidak bisa memetik pelajaran yang sudah membuat saya tahan banting tentu!!
1.     Pare bukan pelarian. Selama ini saya kepare dengan tujuan yang cukup sedikit salah, saya ingin mengisi waktu pencarian kerja saya tapi juga ingin melarikan diri dari Jogja, salahnya adalah ada variable pelarian disana jika saya pikir-pikir untuk apa saya belajar jauh-jauh ke pare jika saya di Jogja bisa fasilitas lebih terjamin? ya karena ada sedikit unsur pelarian, dan itu yang sebaiknya tidak dilakukan Pare bukan tempat pelarian, Pare adalah penghubung pasti dengan tujuan  (bahasa Inggris), bukan sekedar pelampiasan untuk kepenatan semata. Bukan hanya sebagai tempat singgah untuk relaksasi masalah. Jadi luruskan niat jika mau ke Pare, Pare tidak semudah dibayangan saya sebelumnya. Apalagi untuk melarikan diri dari masalah, bukan pare tempatnya karena akan menambah masalah hahaha. 
2.     Mungkin kampung inggris bukan satu-satunya tempat yang membuat saya nyaman untuk belajar bahasa inggris, tapi dari sana saya menemukan kecintaan saya di belajar bahasa inggris.
3.     Saya menemukan orang-orang yang mampu memberikan motivasi-motivasi untuk belajar lebih dibahasa inggris karena kita satu visi meningkatkan kemampuan bahasa inggris tanpa pekerjaan dan tugas dari luar selain bahasa inggris
4.     Fokus, pare mengajarkan saya untuk fokus pada satu tujuan apa yang ingin saya capai disana, fokus tanpa adanya penghalang lain. 
5.     Keluar dari zona nyaman. Ini yang sekiranya luar biasa saya terima disana, saya tidak memiliki zona nyaman saya sama sekali disana selain belajar tentunya tapi tempat belajarnya juga lumayan bikin ngak nyaman jadi gak ada zona nyaman disana. Tapi Pare mengajarkan saya untuk memperluas dan keluar zona nyaman itu. Dan untuk keluar zona ini saya masih harus belajar, tapi jika saya selalu berada di zona yang sekiranya nyaman-nyaman saja kapan saya berkembang?!!! 
6.     Petualangan baru. Pare mengajarkan saya bahwa saya memiliki skill bertahan di petualangan baru, yang saya pikir mudah hanya butuh adaptasi tapi tidak kita harus memiliki passion bukan hanya di tujuan tapi di tempatnya
7.     Sosialisasi. Disana saya sekamar 4 orang dan saya bisa berbagi semuanya, di benak saya ini yang bakal sedikit susah karena saya paling males untuk berbagi kamar, kamar adalah tempat penting untuk mengembalikan energi positif saya, ternyata tidak saya merasa bahagia dan lebih termotivasi, apalagi sesi sharing setiap hari yang sering kita lakukan. Sehingga tidak banyak yang harus saya adaptasikan memang. meskipun ya masih harus banyak belajar.
8.  Nikmati proses. Saya bertemu dengan banyak orang mulai dari yang bahasa inggrisnya sebelas duabelas dengan saya yang expert banget atau yang lainnya, tapi dari semua step yang saya jalanni disana saya hanya ingin menikmati prosesnya sebaik mungkin entah hasilnya bagaimanapun. Saya disana untuk belajar bukan mendapatkan score terbaik, meskipun tentunya saya memiliki sikap untu memiliki target tinggi untuk meraih nilai tinggi itu.
9.     Harus Bahagia.
10.  Fokus, Fokus, Fokus, Fokus, Fokus

Mungkin cukup sekian curhatan saya tentang kampung inggris pare, lain kali akan saya curhatkan lagi jika saya bertemu Wifi.





Popular Posts