Hujan sore ini dibalik
koridor jendela kuamati hujan yang selalu hadir tanpa permisi, menjadikan
ketidak pastian selalu ada saat ia datang begitu saja. Kopi pekat yang baru
kupesan diantar waiters yang sudah hapal dengan kebiasanku di cafe ini. Lucu
saja rasanya melihat gelagapan orang yang sering kecewa dengan ketidakpastian
hujan, gelagapan tanpa persiapan ketika basah menjadi hal yang harus dilalui.
Seorang pria jakung memasuki pelataran cafe, pria yang sama setiap harinya
selalu sama di jam sama, keadaan yang sama dan pesanan kopi yang tak pernah
berubah setiap hari, Expresso, Dengan wajah yang selalu sama menatap layar smarth phone dengan kebinggungan ketika
hujan melanda. Tanpa berpikir panjang dia duduk di depanku, memberikan salam
permisi lewat mata dan tanganya yang meminta perizinan duduk dikursi depan, aku
hanya menganguk mengiyakan, senyumnya masih sama tulus dan berpemanis. Dengan
hembusan napas berat dia mengeluarkan buku hitam yang sering ia bawa kemana-mana.
Aku memang telah mengenalnya jauh-jauh hari sebelum aku tahu kebiasaanya
menunggu hujan reda atau sekedar menengelamkan diri bersama kopinya di tempat
ini.
Lucu rasanya, mengenal
tanpa dikenal sekedar tahu tanpa ingin diketahui. Mencuri pandang dibalik buku
tebal yang aku gunakan untuk menutupi mataku yang sering liar memandang
kearahnya. Aku selalu melihatnya, keseriusanya mencorat-coret bukunya. Duduk di
hadapanya adalah hal pertama dalam sejarah kehidupan paling istimewa yang
sering aku tunggu. Meskipun ketakutan itu ada saat detak jantungku diketahuinya
secara nyata, mungkin. Rasanya mengetahui semua orang yang menceritakanya
dengan nama harum yang selalu ia bawa dibalik wajah tampannya, membuatku sadar
hanya sebuah butiran tanpa kepercayaan saat aku mengetahui persaanku. Aku
tersenyum menatap jendela.
“Apa yang istimewa dibalik
jendela kaca yang selalu sama sepertinya?” ucapnya membuyarkan lamunanku
“Tidak ada, hanya
menyukai orang yang menunggu hujan reda, atau sekedar membasahkan diri dengan derasnya
ketidakastian hujan”
“Jadi anda menyukai
kesusahan orang lain?” ucapnya
‘Tidak juga hujan bukan
malapetaka untuk mengidentifikasi hujan adalah kesusahan”
“Untuk pecandu sastra
iya? Untuk para penggila kerja? Hujan hanya sebuah permasalahaan semata”
“Jadi hujan salah?”
“Aku tidak menyalahkan hujan,
hanya kurang menyukai hujan dibalik permasalahan yang ia timbulkan”
“Mungkin anda disuruh
menunggu atau memberikan jeda”
“Membosankan hidup
seperti itu, memberikan jeda tanpa kepastian”
“Mungkin anda tidak
pernah memberikan jeda dalam hidup, jadi terkesan kehidupan hanya harus diisi
oleh hal yang pasti. Pasti menyisakan tawa atau malah luka”
“Bukankah itu lebih
baik dibanding ketidak pastian, yang membuat orang-orang bertanya-tanya atau
malah kepura-puraan saja”
“Mungkin?” Ucapku
mengakhiri pernyataan klise filosofis yang baru kita buat.
1 tahun berlalu, Aku
telah meninggalkan Jogja. Dengan berbagai cara aku membuang ketidakpastian
perasaanku sendiri, mungkin benar aku terlalu menikmati sebuah jeda tapi lupa
ada kepastian yang harus aku rasa. Mungkin hujan kali ini bukan sebagai jeda
dalam hariku, melainkan sebuah cara harus melewatinya bukan sebuah masalah
besar untuk ditunggu. Mungkin itu sama dengan perasaanku selama satu tahun ini
menunggu tuan yang aku kenal tapi sama sekali tak mengenalku, dibalik jendela
kaca yang sering aku tunggu. Namun, jika aku tetap menunggu dia aku lupa
hakekatnya rasa itu sendiri. Ada saat menunggu tanpa kepastian adalah sebuah
jeda yang menyenangkan dengan harapan palsu yang selalu aku biarkan mengerogoti
logika yang tak semestinya. Kembali lagi, itu hanya sebuah ketidak pastian!.
Dan ketidak pastian hanya dicintai orang yang tidak ingin terlukai oleh
kenyataan, mungkin itu aku. Aku takut terluka. Selama satu tahun ini aku menata
perasaanku sendiri menengalamkan rindu yang tiba-tiba muncul dengan fokus
kepekerjaanku sekarang, selama itu artinya setiap detik ketika aku melewati
waktu. Dia masih selalu terngiang dibalik harapan-harapan ketidak pastian yang
selalu aku agung-agungkan tanpa kejelasan. Mungkin sekarang dia telah bersama
orang lain, memadu cinta seperti semua orang harapkan. Pun aku juga ingin
seperti itu, tentu dengan melupakan orang yang yang tak pernah benar-benar
mengenalku, tapi rasanya semakin aku ingin melupakanya, semakin aku sadar rasa
itu lebih mengikat diperasaanku.
Hujan mengguyur
Jakarta, aku berjalan dengan payung yang selalu aku bawa ditasku, tidak ada
lagi kata menunggu yang syarat akan kenangan bersama hujan deras, aku
melepaskan diri bersama butiran hujan yang turun dari langit. Seorang pria
berjalan mendekatiku menutup payungnya dan berjalan beriringan denganku, senyum
tulus berpamanisnya masih sama tak pernah berubah meski satu tahun telah
berlalu.
“Jadi, sekarang sudah
menjadi seorang yang mencintai kepastian ucapnya”
“Tidak, hanya tidak
mungkin membuang kesempatan hanya karena menunggu ketidakpastian”
“Bagaimana dengan
Cappucino dicafe sebrang jalan?, sekedar penunggu ketidakpastian hujan yang
katanya jeda sebuah rencana?”
“Bukankah itu sama saja
membuang waktu dan membuang kesempatan dibuku agendaku?”
“Bukannya ini waktu
yang kamu tunggu? Membuang ketidak pastian didalam benakmu?”
Aku hanya tersenyum berjalan
beriringan dengannya dibawah hujan
-TAMAT-