I came Backk akhirnya setelah beberapa minggu ketelan berbagai aktivitas yang padat merayap minggu ini saya menyelokan diri saya buat nulis, meskipun ini sebenarnya udah ngaak begitu fressh-fresh banget sih, but Hopefully i could get inspired from my blog. Tanggal 16 Maret kemaren akhirnya saya bisa nonton film yang udah saya nantikan di awal tahun 2017, dan menjadi salah satu daftar film yang harus saya tonton di tahun ini, wkwkk #maafkanalay. Akhirnya kamis kemaren setelah pulang kantor jam 17.30an saya cuss ke bioskop Jl Solo Jogja.
Trinity, The nekad Traveller adalah salah satu film indonesia yang bikin saya ngak ngantuk sama sekali saat nonton. Kereeen bagi saya orang yang suka jalan-jalan haha!. Mungkin bagian yang gak begitu keren adalah banyak cerita yang nangung dan terkesan gak dituntasin, antara bikin penasaran dan malah aneh ditengah jalan. But, I really, Loved this film. Bukan hanya itu sih, di film ini juga banyak ngasih gambaran real kehidupan di Usia Quarter Life Crisis yang saya pelajari, Sebelom memasuki hal-hal Life Crisis yang saya pelajari disini saya mau bahas tentang film-nya dulu deh.
-Spoiler Alert
Film ini bercerita tentang seorang yang bernama Trinity, salah seorang pegawai kantor berumur 20tahunan yang hobinya Jalan-jalan. Jatah cuti ataupun tanggal merah adalah hal terindah yang ia miliki untuk menuruti hobinya ini. Segala cara dan upaya harus ia lakukan untuk menuruti hobinya ini, tak terkecuali merengek-rengek dengan si Bos Galaknya. Trinity sendiri dimainkan oleh Maudy Ayunda, siapa sih yang nggak kenal sama artis yang satu ini? Bukan hanya cantik tapi jugaa pinteeer banget. Dan nilai 90 buat meranin Trinty disini. Kesan dramatis, romantis, komedi, realitis, piknik gratis dan unik campur aduk di film ini, bagi saya ini adalah film yang tidak banyak menawarkan kata romantis tapi membuat semua orang optimis mhahahah. Meskipun bukan film yang diisi dengan berbagai quote-quote sih, tapi buatpercaya deh ini film kereeen bangeet! Bikin mupeng jadi Trinity asli.-Film piknik!
Dari judulnya pun udah jelas, film ini akan banyak mengupas tentang jalan-jalan di banding romantisme anak muda. #HARPIKNAS salah satu hastag istagram yang di pakai di film ini, Hari Piknik Nasional, karena saat menonton film kita seperti diajakk piknik bukan lagi nonton film. Dari sini saya merasakan sekali bisa melihat keindahan Lampung, Way Kambas, Filipina dan tentunya Maldives. Dengan sinematografi yang bagus menurut saya, keindahan alam di Indonesia terutama dapat terlihat nyata, dan sungguh sangat menarik! Bikin geregetan kapan gue bisa kayak Trinity. Wkwkwk.
-Penokohan
Saya sukaaa banget dengan Maudy Ayunda disini, Maudy disini sangat memukau dalam penokohan menjadi Trinity, apalagi dengan citra Trinity yang keras kepala, dan memili banyak ambisi rasa-rasanya tepat banget si produser milih Maudy! Hamis Daud, Biasa aja sih buat saya, chemistery yang dibangun antara Trinity dan Pull menurut saya juga just-so-so. Sedangkan buat Ayu Dewi dengan tingkahnya jadi atasan mungkin yang sering bikin saya ngakak disini.
-Jalan Cerita
Aku suka nonton film apa aja sih, meskipun banyak banget reviewer difilm trinity yang bilang bahwa film ini nanggung, but for me, this film is good so far. Meskipun ceritanya tidak diselsein secara tuntas. Tapi aku suka! #Subjectiveopinion buat kamu yang suka jalan sih, is woth it film to watching but buat kamu yang tidak menyukai film yang gak ada klimaksnya, mungkin harus[[punya banyak antisipasi sebelum nonton. Karena totally film ini tidak menyediakan adegan romantis secara chemistery yang bikin kamu sesengukan nan dramatis apalagi suka sama penokohan pasangan yang dihadirkan.
- Trinity dan Life Crisis
Banyak hal yang saya bisa petik dari film ini, tentang impian yang akan menjadi sebuah kenyataan dengan kehendak semesta saat kita memiliki tekad untuk mewujudkannya, pilihan kehidupan saat quarter life, ataupun yang laiinya. Uniknya penyajian dari film ini memberikan sentuhan anak muda yang cukup antusias menikmati kehidupannya dengan melewati jalan yang “Berbeda”. Saat di usia mneginjak Quareter Life Crisis dengan berbagai pertanyaan “Kapan Kawin?” Si Trinity mampu memilih jalan yang berbeda untuk menikmati kehidupannya. Dia mampu memilih untuk Travelling dimanaun kakinya ingin melangkah bukan hanya dengan menuruti kehedak orang disekitarnya. Bukan hanya itu saya belajar tentang “Passion” dipilih bukan hanya karena realitas kehidupan. Misalnya saat trinity lebih memilih Cuti ataupun sampe keluar dari pekerjaanya untuk mewujudkan impiannya, bagi sebagian orang mengejar karir yang cemerlang adalah impian dan tujuan kehidupan "tanpa' ataupun 'dengan' kebahagian yang ia miliki. Pun sama dengan saya saat harus memilih menjadi seorang karyawan dibanding saya menekuni hobi jalan-jalan saya. Saat saya lebih memilih bisa makan tanpa minta orang tua dibanding harus menjadi seorang traveller yang selalu menikmati kehidupannya sendiri. Bukannya apa-apa sampai sekarangpun saya masih menjadi orang yang realistis bukan memilih passion yang ingin saya jalani saat menikmati kehidupan. Berkaca pada Trinity , tidak selamanya memiliki uang sendiri tanpa kesusahan dengan bekerja itu sebagai sebuah kesenangan saat kita menjalani kehidupan yang nyatanya juga butuh embel-embel “Love What You do’ yang sekarang ini lebih mengeruct ke passion saat generasi mileneals menyebutnya. Bukan berarti Trinity salah. Tapi saya (Tidak)inginmemiliki keberanian memilih seperti Trinity saat semua orang sedang berlomba-lomba dengan garis finish yang sama dia memilih untuk mengikuti jalan yang berbeda di kehidupannya. Its like strom in my mind, slowly but hard to know really.














