Kamis, 04 Mei 2017

Bukan Hanya Menjadi Perempuan (Biasa) di Indonesia




Saya hidup di Indonesia, dimana berbagai stigma tentang perempuan melekat tajam disini. Stigma-stigma yang seakan-akan mengucilkan dan membatasi ruang perempuan untuk mengekspresikan dirinya agar dapat berkarir. Persimpangan dan batasan-batasan yang dibuat di masyarakat pada umumnya, membuat kebanyakan  dipertimbangkan perempuan di Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan keinginan lingkungan. Menjadi seorang perempuan diera globalisasi dan digital sekarang ini, menjadikan perempuan memilki banyak pilihan untuk menentukan kehidupannya, bukan hanya dengan mengikuti arus ataupun menyesuaikan diri dengan masyarakat pada umumnya namun sayangnya tak banyak dari kita memilki pilihan untuk kebebasan itu. Saya seorang perempuan dengan lingkungan yang memiliki minat rendah terhadap sebuah pendidikan, beruntungnya saya dibesarkan dikeluarga yang sadar akan pentingnya sebuah pendidikan. Pendidikan di lingkungan saya seperti sebuah mainan atau barang baru, yang hanya sekedar dan seadanya dalam mendapatkannya, tidak perlu di miliki dan digunakan. Lalu bagaimana dengan citra emansipasi dari Kartini selama ini? Pendidikan sudah didapatkan setiap perempuan di Indonesia, tapi belom sepenuh perempuan-perempuan itu sadar akan pentingnya sebuah pendidikan bagi saya. Selama ini jeruji penjara tentang batasan seorang perempuan masih melekat tajam di lingkungan saya

Tentang Stigma masyarakat Macak, Masak, Manak
"Macak, Masak, Manak" di lingkungan saya lebih kental untuk seorang perempuan di banding "Pendidikan Tinggi seorang perempuan untuk kehidupan diri sendiri dan lingkungan yang lebih baik". Salah satu hal yang seringnya bikin saya tertohok adalah menikah adalah tujuan dasar nan wajib dibanding sebuah pendidikan, ada yang salah? Tidak, tapi kurang tepat bagi saya. Dibalik keagungan seorang perempuan, perempuan banyak memiliki peran penting di kehidupannya bukan hanya Macak, maasak, manak. Bagaimana dengan kesetaran gender?. Bukankah Masak, bersih-bersih rumah, merawat anak bukan hanya tugas seorang Ibu rumah tangga? dan merupakan tugas bersama dengan suaminya? Yah ini tentang stigma, pandangan kesetaran gender tak ubahnya hanya sebuah teks bacaan tanpa implementasi di lingkungan kita sehari-hari, karena anggapan seorang pria yang memenuhi kebutuhannya dengan bekerja, lalu perempuan hanya diinisiasi sebagai tukang asuh gratis anak, koko rumah tangga, tukang bersih-bersih dan bla-bla tugas klise seorang perempuan, lalu apa kabar peran kesetaraan gender?

Pendidikan dan Karier seorang Wanita dan statusnya
Pernah mendengar Ira Koesno? Seorang moderator di debat pilkadi DKI 2017, yang namanya sering di sebut di media social hanya karena status single yang dimiliki. Padahal dibalik status beliau, beliau memiliki prestasi yang luar biasa namun prestasinya seperti  menghilang begitu saja saat tahu bahawa beliau masih lajang. Bukan hanya itu Mirisnya lagi banyak netizen yang berkomentar menjijikan sok tau mengapa beliau masih single, dan mengangap sebuah kecacatan. Kesel? Saya yang perempuan entah mengapa kesell dengan hal tersebut, mungkin selama ini Ira Koesno bukan role model dalam kehiduapan saya, tapi mengamati komentar-komentar pedas nan sok tau wal sok bijak tapi tak berkelas membuat saya berpikir ulang mengapa saya dilahirkan di Indonesia?.
Masyarakat pada umumnya mengangap seorang yang normal adalah mereka yang “Menikah-memiliki anak-memiliki keluarga kecil yang dirasa bahagia”. Lalu mereka perempuan yang berprestasi dan mengesampingkan hal-hal yang berkaitan dengan “kenormalan” Mungkin akan digunjing, dikomentarin, dan dihina sesuka hati mereka. Padahal perempuan-perempuan ini memiliki hak yang sama untuk menentukan arah kehidupannya, lalu siapa yang salah?. Apresiasi terhadap wanita yang cemerlang dikarir ataupun pendidikan juga tak sebanding lurus dengan apresiasi sebuah pernikahan seorang perempuan.
Jangan sekolah ketinggian, nanti lelaki pada takut mendekat" 
Pernah mendengar kalimat ini? Saya sering dengar, apalagi dari orang-orang diluar keluarga saya tapi masih dilingkup lingkungan saya, anggapan seorang wanita tak ubahnya hanya seorang juru koki, tukah berbersih rumah, dan perawat gratis seorang anak masih ada sampai sekarang dan anggapan pendidikan tak ubahnya sesuatu yang dirasa tidak penting karena pada nyatanya hanya akan kembali dirumah sebagai tukang-tukang diatas, tanpa pendidikanpun mereka mampu. Yakin?

Mandiri dan status lemah
Stigma lain dimasyarakat tentang seorang perempuan selalu dipandang seorang yang lemah, manja dan lucu. Lalu saat ada seorang wanita yang tangguh dan mandiri adalah hal yang menakutkan, dan dianggap perempuan ini adalah perempuan yang tidak butuh orang lain atau pendamping atau akan sulit mencari pasangan atau lainnya. Seperti sebuah meme ini. 

Mengangap sebuah kemandirian seorang perempuan adalah sebuah kesalahan dan mengangap perempuan mandiri tak ubahnya sebagai sebuah kegagalan perempuan?.

Selama ini Pemerintah kita telah menempatkan kaum perempuan sebagai partner bagi pembangunan. Isu gerakan dan pemberdayaan perempuan yang berkembang berkisar dalam suatu pemikiran bahwa perempuan sebagai sumber daya pembangunan, dengan kata lain politik gender telah memakai pendekatan Women In Development dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam derap pembangunan nasional. Konsep ini memberikan porsi kepada kaum perempuan untuk lebih eksis meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan menuju bangsa yang sejahtera dan penuh kedamaian (Anonim,2013). Jadi tidak ada batasan-batasan aktualisasi diri seorang perempuan, dan kesadaran tentang nilai tertinggi yang dimiliki seorang perempuan yang bukan hanya menjadi perempuan biasa saja dengan hal-hal ini
             
  Perempuan berhak Mengenyam pendidikan Tinggi
 “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901
 Bait surat yang ditulis Kartini untuk Prof Anton dan Nyonya, yang sekarang ini menjadi sebuah buku terkenal “Habis Gelap Terbitlah Terang” dari sana beliau ibu kartini menyampaikan bahwa seorang perempuan berhak mendapatkan pendidikan karena nantinya kami seorang perempuan adalah madrasah pertama dari anak-anak kami-
Selama ini persepsi pendidikan hanya di inisiasi sebagai sebuah hal yang dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, ataupun meningkatkan derajat kehidupan orang-orang yang berpendidikan padahal lebih dari itu semua, pendidikan penting karena dengan pendidikan bukan hanya mendapat sebuah pengetahuan lebih dari itu dengan pendidikan kita memiliki banyak cara pandang dalam melihat sebuah masalah, kaya akan jalan pikirnya, luas pengetahuannya, problem solving handal, dan tentunya tahu mana yang benar dan buruk bukan hanya mengandalkan feeling namun juga logika. Jika ada yang bilang “Buat apa sarjana ataupun master yang nantinya hanya akan menjadi seorang ibu rumah tangga?” saya yakini ibu rumah tangga ini bukan hanya sekedar seorang ibu, dia pasti tahu bagaiama menjadi seorang ibu rumah tangga yang ahli segala bidang yang harus di ketahui seorang ibu rumah tangga. Dan jangan salah ibu rumah tangga yang sarjana pasti tak akan menggunakan sebagian besar energinya hanya terbuang sia-sia untuk hal-hal negative.
·      
·         Seorang perempuan wajib untuk mandiri 
                Jika seorang perempuan itu lemah dan manja, bagaimana peran kita nanti untuk generasi kita     nanti perempuan tak ubahnya hanya akan selalu dianggap seorang yang tak berguna, atau seorang dibalik layar yang tak pantas menduduki deretan jajaran CEO, Presiden, Direktur, Manager ataupun yang lainnya. Seorang perempuan saya pikir harus memiliki cara pandang menjadi seorang yang mandiri karena perempuan ini memilki multi peran nantinya. Jika ia lemah dan manja, tak mau susah lagi, apa kabar tugas rumah, merawat suami dan seorang anak ataupun dipekerjaan dia yang lain. Tapi mandiiri disini bukan berarti perempuan tersebut harus selalu mengunguli seorang pria kapanpun itu, bagi saya seorang perempuan memiliki kesetaran dengan pria, tapi ada berbagai konteks kodrati dan hakekatnya seorang perempuan tak selalu mengunguli pria. Jika kamu sebagai perempuan lemah, bagaimana membendung stigma tentang berbagai hal dari perempuan dengan pembuktian yang kamu lakukan? Dan jangan pernah takut menjadi seorang perempuan mandiri karena takut dianggap lebih suprerior dibanding pria, karena laki-laki superior pastinya akan memilih perempuan superior juga.
·         Perempuan memilki peran yang sama untuk Indonesia yang lebih baik
Hubeis (1985) mengatakan, analisis alternatif peran perempuan dalam mendorong pembangunan dapat dilihat dari tiga aspek yakni (1) peran tradisi atau peran domestic yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga. Perempuan yang berhasil mengelola rumah tangga dengan baik akan menjadi inspirasi dan motivator bagi pelaku pembangunan, (2) peran transisi yang berkaitan dengan garapan lahan pertanian atau bekerja di usaha keluarga dan (3) peran kontemporer. Perempuan memiliki peran di luar rumah tangga atau disebut wanita karier. Peran-peran ini menunjukkan bahwa perempuan baik langsung maupun tidak langsung mempunyai kontribusi yang besar terhadap pembangunan bangsa. Dan Perempuan tak ubahnya seperti laki-laki yang memiliki peran ganda dalam kehidupannya, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, dan tentu perempuan memiliki pilihan yang sama untuk menentukan kehidupannya seperti seorang laki-laki, bukan hanya dipilihkan menjadi seorang ibu rumah tangga atau hanya wanita karir, ataupun perempuan sekedarnya, kita hidup di era digital dimana ada banyak pilihan yang dapat kita pilih menjadi seorang perempuan. Sebagai seorang sarjana lalu menjadi ibu rumah tanggapun tak salah, menjadi perempuan lajang selama hidupnya dengan berbagai prestasi yang ia miliki juga tak ada yang salah, dan tak ada yang salah dengan berbagai pilihan yang menarik untuk dipilih asal sesuai norma agama, adat, dan hukum yang berlaku. Bukan hidup memang banyak pilihan?
             
Saya perempuan Indonesia yang sadar bahwa saya memiliki peran penting tapi bukan berarti saya melepaskan kodrat saya sebagai perempuan seutuhnya, karena menjadi perempuan bukan hanya mereka yang dibalik layar, seorang perempuan dan laki-laki memiliki peran yang sama untuk menjadi seorang khalifah di bumi. Peranmu, peranku dan peran kita disini ada untuk lingkungan kita yang lebih baik, dan saya melanjutkan perjuangan ibu Kartini dimulai dari saya sendiri, menjadi seorang perempuan berpendidikan tinggi, mandiri dan mampu memberikan manfaat untuk lingkungan dan diri saya sendiri dan aku Menunggu peranmu, peranku dan peran perempuan Indonesia menjadi Indonesia yang lebih baik.





Senin, 24 April 2017

Mengapa (belom) ingin Menikah?



Jika  seringnya saya menyebut diri sedang mengalami Quarter Life Crisis, tapi saya merasa sedang mengalami fase diluar  Quarter Life Crisis tentang Cinta, Teman Hidup, ataupun hal-hal berkaitan dengan Jodoh menikah dll segala tetek bengek yang melingkupinya. Mungkin kedengaran aneh, disaat usia saya yang mengarah lebih dewasa pemikiran menjadi seorang isteri ataupun hal-hal itu tak pernah lagi terpikir diotak saya, bukan hanya itu membicarakan tentang pernikahan sekarang ini bagi saya adalah hal yang juga sama-sama tabu dan benar-benar tak ingin saya pikirkan saat ini. Mungkin fase ini diluar life crisis yang saya menyebutnya Fase mati perasaan, ya fase mati perasaan saat perasaan tak pmerespon sedikitpun tentang berbagai hal yang berkaitan dengan virus merah jambu. Bagi saya pribadi ini adalah tahun tanpa galau berkelebatan di otak saya berbulan-bulan selama beberapa tahun terakhir. Tapi disatu sisi saya merasa takut, takut saya benar-benar tidak tertarik menikah dan menjadi perawan tua sepanjang umur saya (amit-amit ya Allah). Saya single dan belom minat menikah, iya karena saya tahu:
1.  Bayangan pernikahan saat ini dan (belom) lurusnya niat sebuah pernikahan
Bagi saya bayangan saya tentang menikah sekarang ini masih semu dan terlalu abstrak. Bagi saya menikah gak segampang saya mendaftar jurusan kedokteran sebanyak 14 kali meskipun gak ada yang lolos, menikah gak segampang saya bisa tidur pules malam ini. Lol. Dan berbagai bayangan menakutkan saat kita akan menikah, lebih sering muncul dipikiran saya saat ini.  Yang tambah bikin saya kadang mikir adalah kata-kata yang sering bertebaran di lini masa sosmed saya “Memperbaiki diri untuk calon imamku kelak” (atau kalimat senada). Ini salah satu niat yang disalurkan lewat kata yang belom lurus bagi saya. Pun dengan niat saya pribadi, bisa jadi selama saya memperbaiki diri atau sedang memantaskan diri jatuhnya itu diniatkan untuk imam saya kelak bukan untuk Tuhan saya, meskipun tak salah sih ketika kita memantaskan diri maka kita juga mendapat imam yang sesuai dengan kita seperti di ayat Al-qur’an. Tapi menjadi hal paling konyol yang bikin saya mikir itu salah satu indikasi belom lurusnya niat buat nikah karena sebaik-baiknya niat ditujukan hanya karena Allah bukan untuk ciptaannya.
2.Bayangan : Mengarungi kehidupan berdua akan lebih menarik dibanding tanpa pasangan
Siapa yang bilang? Bagi saya sampai sekarang yang masih menganut paham single happy, ini salah satu hal terlampau jija* karena bagi saya dan analisis saya dari orang disekitar saya, menikah itu bukan hanya menyatukan kita dengan si pasangan, namun juga dengan keluarganya, dan semakin banyak orang yang berada di lingkup pernikahan semakin banyak probelitas sebuah masalah yang akan muncul.
3.  Saya belom memiliki, Komitmen pernikahan, komitmen tertinggi dari sebuah kehidupan
Bagi saya komitmen pernikahan gak segampang nulis komitmen seratus persen di lembar protofolio pendaftaran pekerjaan, atau melamar beasiswa, atau ndaftar organisasi. Komitmen pernikahan adalah komitmen yang dipertanggung jawabkan langsung dengan janji didepan penghulu dan langsung janji sama Tuhan. komitmen ini yang nantinya gak cuman untuk sekarang didunia. Kalo ditanya tentang (berkurangnya) komitmen dengan :  besok kan bisa cerai dis kalo gak cocok?  Well gue paling benci hal senada ini, emangnya janji  sama Tuhan lo bisa seenak jidatnya dikotori dengan Cerai, well kalo cowok sih banyak yang ngak masalahin ya tapi kalo cewek, dengan streotip “Janda” yakin gak dapet tatapan miring di masyakarat sekarang ini?. Dan saya masih bego yang masalah beginian, masih sering gak seratus persen dengan orang untuk mengikat komitmen lebih jauh dengan saya, dan masih sering mikir “jalani aja dulu” itu ngak berlaku dipernikahan . Itu mengapa saya masih cenderung no coment tentang pernikahan karena komitmen saya terhadap pernikahan saja nol persen.
4.  Saya sadar belom bisa menjadi ibu yang baik
Klise! Alasan lain saya menolak menikah muda atau saat ini adalah saya tau banget, I’m not really good mother if I marriage right now karena saya belom becus menurunkan ego saya  dan saya juga belom memiliki pengetahuan tentang pernikahan, belom ngerti caranya jadi istri yang baik, dan belom punya basic agama yang baik dalam segala sesuat. Bisa sih belajar, tapi saya tidak ingin tergesa-gesa belajar hal  seperti ini, terlebih hanya karena saya ingin menyegerakan tapi jatuhnya  tergesa-gesa seperti diburu-buru deadline
5.  Masih ingin sendiri
Klise kedua! Saya seorang introvert, tapi saya juga bisa jadi extrovert, namun untuk sekamar  dengan orang asing yang biasa disebut suami, Oh dear! itu hal yang bikin saya begidik ngeri sendiri sebelom membayangkan sekarang ini. Saya masih mencintai aktivitas kesendirian saya, bisa memiliki banyak quality time bersama keluarga, bisa kesana kesini sendirian, bebas ngelakuin apapun keinginan saya, bisa jalan kemanapun, Bisa ketawa ketiwi dengan sahabat-sahabat saya, bisa menikmati setiap sudut tempat atau hal baru setiap saat, dan tentunya masih bisa ngraih impian terbaik saya.
6.  Masih memiliki banyak keinginan
Well, ini juga klise sih, tapi saya gak ngak bisa menyalahkan hal ini, I have a lot of plans. Beberapa hal yang ingin saya capai sekarang adalah S2 dan menduduki jabatan bonafit di salah satu perusahaan multinasional *Oke ini mimpi saya*. Saya juga masih memiliki segudang harapan ingin melangkahkan kaki saya kemanapun keinginan saya, menyusuri belahan benua di dunia. Saya masih punya ambisi melanjutkan usaha kedua orang tua saya, dan masih memiliki ambisi memiliki sebuah usaha yang bisa survive, dan di bilang sebagai salah satu “Industri Kreatif”.  Masih punya tanggung jawab besar sebagai anak pertama serta untuk bermanfaat bagi orang disekitar saya, Dan ofcourse masih ingin lebih banyak berbakti terhadap keluarga terutama ayah dan ibu saya.
7.    Berekspektasi terlalu tinggi.
Bayangan berkedok bahagia abis nikah, Pernah membayangkan happily after ever abis nikah? Saya pikir banyaak dari teman saya yang seirng menyebutkannya dengan memiliki ambisi dan ekspektasi terlalu tinggi “Happily ever after” dari sebuah pernikahan. Pernikahan menjadi gerbang kebahagiaan selamanya, namun disatu sisi saat saya membayangkan ini sama sekali jauh tentang happily ever after.  Terutama dalam hal emosional dan finansial yang bagi saya belom sama sekali cukup untuk saya jika memikirkan menikah sekarang ini.  Dan ekspektasi saya terlalu jauh kebawah tentang pernikahan, yang membuat saya merasa saya belom yakin terhadap pernikahan pada saat ini.
8.   Tentang pernikahan dan called of Muslimah yang dirinduhkan surga
Pemikiran ataupun anjuran menikah hanya karena “Wanita yang dirinduhkan surga adalah wanita yang tunduk dengan suami” atau kata-kata senada yang memojokon wanita, bahwa wanita harus tunduk dengan suami jika ia ingin masuk surga. Bukannya saya menentang menjadi wanita soleh yang taat dengan suami, tapi bagi saya pribadi, seorang wanita sudah agung dari sejak ia dilahirkan, tanpa ataupun dengan suami pasti dia akan mendapat surga dengan ketaqwaannya, tanpa harus diiming-imingin dengan tunduk ataupun taat dengan suami. Dan jalan menuju surga gak semuanya harus melalui sebuah pernikahan bagi saya. tapi saya tidak meragukan bahwasanya kedudukan seorang istri sholeh di berbagai hadist dan ayat al-qur'an adalah sebuah keagungan dan perhiasan terbaik di dunia, tapi kembali lagi seperti yang saya bilang, tidak semua jalan masuk surga harus melalui tahap jadi istri kan?
9.  Ikut-ikutan
Takutnya, dengan niat saya yang emang belom lurus-lurus bangett, saya juga takut menikah hanya sebagai ajang ikut-ikutan, temennya yang lain udah pada nikah! Terus saya ikutan nikah, yang lebih ngak enaakin perasaan dan jiwa adalah saat pertanyaan “Kapan nikah?” bersaut-sautan di sekliling saya, dan membuat saya pengen cepet-cepet nikah hanya karena itu *nauzubillah dah masalah beginian*
10.      Belom mengetahui pentingnya pernikahan
Last but not leats, Sampai saat ini saya belom tahu mengapa seorang harus menikah? So far saya tidak menemukan why I should to be marriage. Kalo kata teman saya, because saya belom banyak ngebutuhin orang lain (read pasangan), dan untuk mencapai I know the urgent things about marriage, is when I believe saya tidak bisa hidup sendiri sampai kapanpun, semandirinya saya sekarang jadi saya butuh orang disamping saya dalam kehidupan saya. Hal lain yang membuat saya merasa saya tidak ingin  menikah sekarang adalah saya masih sering merasa saya bisa apa-apa sendiri. Meskipun belom 100% karena masih ada campur tangan kedua orang tua ataupun orang disekitar kadang.  Tapi btw beberapa waktu lalu saya mendapat sebuah meme yang membuat saya kesal, tentang seorang wanita yang mandiri dan tidak membutuhkan seorang disampingnya dalam kasus ini seorang pasangan. Ini meme-nya

Dan entah kenapaa saya gregetaaan!!! Hahaha, seperti yang saya bilang so far saya belom membutuhkan orang lain (read pasangan) sekarang tapi bukan berarti saya tidak ingin menikah atau tidak butuh pasangan suatu saat nanti, saya percaya suatu saat pemikiran-pemikiran ini akan dapat berubah dan yang merubahnya bukan saya yang harus menurunkan kemandirian saya, karena akan down grade dong jadinya, if I have to down my own perspective about independent person, tapi harusnya si pria yang harus me-upgrade diri mereka untuk bisa membuktikan kepada si wanita, bahwa dia bisa mengayomi dan melindungi tanpa si wanita harus menurunkan level mandirinya.
Mungkin ini curhatan ngaco saya hari ini. Percaya pada saya ini adalah curhatan 25 April 2017, bukan berarti satu atau dua tahun yang akan datang saya masih tidak ingin menikah, malah bisa jadi saya udah dilamar, ada rencana menikah, ataupun lainnya dan semua ini bisa berubah karena saya percaya Allah adalah sebaik-baiknya pembolak-balikan hati kapanpun itu.


Yang selalu Memperbaiki diri



Gadis Intan P

Sabtu, 25 Maret 2017

Rekomendasi Film Traveller di akhir pekan : Trinity, The Nekad Traveleller

             

           I came Backk akhirnya setelah beberapa minggu ketelan berbagai aktivitas yang padat merayap minggu ini saya menyelokan diri saya buat nulis, meskipun ini sebenarnya udah ngaak begitu fressh-fresh banget sih, but Hopefully i could get inspired from my blog. Tanggal 16 Maret kemaren akhirnya saya bisa nonton film yang udah saya nantikan di awal tahun 2017, dan menjadi salah satu daftar film yang harus saya tonton di tahun ini, wkwkk #maafkanalay. Akhirnya kamis kemaren setelah pulang kantor jam 17.30an saya cuss ke bioskop Jl Solo Jogja.  
         Trinity, The nekad Traveller adalah salah satu film indonesia yang bikin saya ngak ngantuk sama sekali saat nonton. Kereeen bagi saya orang yang suka jalan-jalan haha!. Mungkin bagian yang gak begitu keren adalah banyak cerita yang nangung dan terkesan gak dituntasin, antara  bikin penasaran dan malah aneh ditengah jalan. But, I really, Loved this film. Bukan hanya itu sih, di film ini juga banyak ngasih gambaran real kehidupan di Usia Quarter Life Crisis yang saya pelajari, Sebelom memasuki hal-hal Life Crisis yang saya pelajari disini saya mau bahas tentang film-nya dulu deh.
-Spoiler Alert 
Film ini bercerita tentang seorang yang bernama Trinity, salah seorang pegawai kantor berumur 20tahunan yang hobinya Jalan-jalan. Jatah cuti ataupun tanggal merah adalah hal terindah yang ia miliki untuk menuruti hobinya ini. Segala cara dan upaya harus ia lakukan untuk menuruti hobinya ini, tak terkecuali merengek-rengek dengan si Bos Galaknya. Trinity sendiri dimainkan oleh Maudy Ayunda, siapa sih yang nggak kenal sama artis yang satu ini? Bukan hanya cantik tapi jugaa pinteeer banget. Dan nilai 90 buat meranin Trinty disini. Kesan dramatis, romantis, komedi, realitis, piknik gratis dan unik campur aduk di film ini, bagi saya ini adalah film yang tidak banyak menawarkan kata romantis tapi membuat semua orang optimis mhahahah. Meskipun bukan film yang diisi dengan berbagai quote-quote sih, tapi buatpercaya deh ini film kereeen bangeet! Bikin mupeng jadi Trinity asli.
-Film piknik! 
Dari judulnya pun udah jelas, film ini akan banyak mengupas tentang jalan-jalan di banding romantisme anak muda. #HARPIKNAS salah satu hastag istagram yang di pakai di film ini, Hari Piknik Nasional, karena saat menonton film kita seperti diajakk piknik bukan lagi nonton film. Dari sini saya merasakan sekali bisa melihat keindahan Lampung, Way Kambas, Filipina dan tentunya Maldives. Dengan sinematografi yang bagus menurut saya, keindahan alam di Indonesia terutama dapat terlihat nyata, dan sungguh sangat menarik! Bikin geregetan kapan gue bisa kayak Trinity. Wkwkwk.
-Penokohan
Saya sukaaa banget dengan Maudy Ayunda disini, Maudy disini sangat memukau dalam penokohan menjadi Trinity, apalagi dengan citra Trinity yang keras kepala, dan memili banyak ambisi rasa-rasanya tepat banget si produser milih Maudy! Hamis Daud, Biasa aja sih buat saya, chemistery yang dibangun antara Trinity dan Pull  menurut saya juga just-so-so. Sedangkan buat Ayu Dewi dengan tingkahnya jadi atasan mungkin yang sering bikin saya ngakak disini. 
-Jalan Cerita
Aku suka nonton film apa aja sih,  meskipun banyak banget reviewer difilm trinity yang bilang bahwa film ini nanggung, but for me, this film is good so far. Meskipun ceritanya tidak diselsein secara tuntas. Tapi aku suka! #Subjectiveopinion buat kamu yang suka jalan sih, is woth it film to watching but buat kamu yang tidak menyukai film yang gak ada klimaksnya,  mungkin harus[[punya banyak antisipasi sebelum nonton. Karena totally film ini tidak menyediakan adegan romantis secara chemistery yang bikin kamu sesengukan nan dramatis apalagi suka sama penokohan pasangan yang dihadirkan. 
- Trinity dan Life Crisis                                 
Banyak hal yang saya bisa petik dari film ini, tentang impian yang akan menjadi sebuah kenyataan dengan kehendak semesta saat kita memiliki tekad untuk mewujudkannya, pilihan kehidupan saat quarter life, ataupun yang laiinya. Uniknya penyajian dari film ini memberikan sentuhan anak muda yang cukup antusias menikmati kehidupannya dengan melewati jalan yang “Berbeda”. Saat di usia mneginjak Quareter Life Crisis dengan berbagai pertanyaan “Kapan Kawin?” Si Trinity mampu memilih jalan yang berbeda untuk menikmati kehidupannya. Dia mampu memilih untuk Travelling dimanaun kakinya ingin melangkah bukan hanya dengan menuruti kehedak orang disekitarnya. Bukan hanya itu saya belajar tentang “Passion” dipilih bukan hanya karena realitas kehidupan. Misalnya saat trinity lebih memilih Cuti ataupun sampe keluar dari pekerjaanya untuk mewujudkan impiannya, bagi sebagian orang mengejar karir yang cemerlang adalah impian dan tujuan kehidupan "tanpa' ataupun 'dengan' kebahagian yang ia miliki. Pun sama dengan saya saat harus memilih menjadi seorang karyawan dibanding saya menekuni hobi jalan-jalan saya. Saat saya lebih memilih bisa makan tanpa minta orang tua dibanding harus menjadi seorang traveller yang selalu menikmati kehidupannya sendiri. Bukannya apa-apa sampai sekarangpun saya masih menjadi orang yang realistis bukan memilih passion yang ingin saya jalani saat menikmati kehidupan. Berkaca pada Trinity , tidak selamanya memiliki uang sendiri tanpa kesusahan dengan bekerja itu sebagai sebuah kesenangan saat kita menjalani kehidupan yang nyatanya juga butuh embel-embel “Love What You do’ yang sekarang ini lebih mengeruct ke passion saat generasi mileneals menyebutnya. Bukan berarti Trinity salah. Tapi saya (Tidak) ingin memiliki keberanian memilih seperti Trinity saat semua orang sedang berlomba-lomba dengan garis finish yang sama dia memilih untuk mengikuti jalan yang berbeda di kehidupannya. Its like strom in my mind, slowly but hard to know really.

Popular Posts