Saya hidup di Indonesia, dimana berbagai stigma tentang
perempuan melekat tajam disini. Stigma-stigma yang
seakan-akan mengucilkan dan membatasi ruang perempuan untuk mengekspresikan
dirinya agar dapat berkarir. Persimpangan
dan batasan-batasan yang dibuat di masyarakat pada umumnya, membuat kebanyakan dipertimbangkan perempuan di Indonesia untuk
menyesuaikan diri dengan keinginan lingkungan. Menjadi seorang perempuan diera
globalisasi dan digital sekarang ini, menjadikan perempuan memilki banyak
pilihan untuk menentukan kehidupannya, bukan hanya dengan mengikuti arus
ataupun menyesuaikan diri dengan masyarakat pada umumnya namun sayangnya tak
banyak dari kita memilki pilihan untuk kebebasan itu. Saya seorang perempuan
dengan lingkungan yang memiliki minat rendah terhadap sebuah pendidikan,
beruntungnya saya dibesarkan dikeluarga yang sadar akan pentingnya sebuah
pendidikan. Pendidikan di lingkungan saya seperti sebuah mainan atau barang
baru, yang hanya sekedar dan seadanya dalam mendapatkannya, tidak perlu di
miliki dan digunakan. Lalu bagaimana dengan citra emansipasi dari Kartini
selama ini? Pendidikan sudah didapatkan setiap perempuan di Indonesia, tapi
belom sepenuh perempuan-perempuan itu sadar akan pentingnya sebuah pendidikan
bagi saya. Selama ini jeruji penjara tentang batasan seorang perempuan masih
melekat tajam di lingkungan saya
Tentang Stigma masyarakat Macak,
Masak, Manak
"Macak,
Masak, Manak" di lingkungan saya lebih kental untuk seorang perempuan di
banding "Pendidikan Tinggi seorang perempuan untuk kehidupan diri sendiri
dan lingkungan yang lebih baik". Salah satu hal yang seringnya bikin saya
tertohok adalah menikah adalah tujuan dasar nan wajib dibanding sebuah
pendidikan, ada yang salah? Tidak, tapi kurang tepat bagi saya. Dibalik
keagungan seorang perempuan, perempuan banyak memiliki peran penting di
kehidupannya bukan hanya Macak, maasak, manak. Bagaimana dengan kesetaran
gender?. Bukankah Masak, bersih-bersih rumah, merawat anak bukan hanya tugas
seorang Ibu rumah tangga? dan merupakan tugas bersama dengan suaminya? Yah ini
tentang stigma, pandangan kesetaran gender tak ubahnya hanya sebuah teks bacaan
tanpa implementasi di lingkungan kita sehari-hari, karena anggapan seorang pria
yang memenuhi kebutuhannya dengan bekerja, lalu perempuan hanya diinisiasi
sebagai tukang asuh gratis anak, koko rumah tangga, tukang bersih-bersih dan
bla-bla tugas klise seorang perempuan, lalu apa kabar peran kesetaraan gender?
Pendidikan dan Karier seorang Wanita
dan statusnya
Pernah
mendengar Ira Koesno? Seorang moderator di debat pilkadi DKI 2017, yang namanya
sering di sebut di media social hanya karena status single yang dimiliki.
Padahal dibalik status beliau, beliau memiliki prestasi yang luar biasa namun
prestasinya seperti menghilang begitu
saja saat tahu bahawa beliau masih lajang. Bukan hanya itu Mirisnya lagi banyak
netizen yang berkomentar menjijikan sok tau mengapa beliau masih single, dan
mengangap sebuah kecacatan. Kesel? Saya yang perempuan entah mengapa kesell
dengan hal tersebut, mungkin selama ini Ira Koesno bukan role model dalam
kehiduapan saya, tapi mengamati komentar-komentar pedas nan sok tau wal sok
bijak tapi tak berkelas membuat saya berpikir ulang mengapa saya dilahirkan di
Indonesia?.
Masyarakat
pada umumnya mengangap seorang yang normal adalah mereka yang “Menikah-memiliki
anak-memiliki keluarga kecil yang dirasa bahagia”. Lalu mereka perempuan yang
berprestasi dan mengesampingkan hal-hal yang berkaitan dengan “kenormalan” Mungkin
akan digunjing, dikomentarin, dan dihina sesuka hati mereka. Padahal
perempuan-perempuan ini memiliki hak yang sama untuk menentukan arah
kehidupannya, lalu siapa yang salah?. Apresiasi terhadap wanita yang cemerlang
dikarir ataupun pendidikan juga tak sebanding lurus dengan apresiasi sebuah
pernikahan seorang perempuan.
“
Jangan sekolah ketinggian, nanti lelaki pada takut mendekat"
Pernah mendengar kalimat
ini? Saya sering dengar, apalagi dari orang-orang diluar keluarga saya tapi
masih dilingkup lingkungan saya, anggapan seorang wanita tak ubahnya hanya
seorang juru koki, tukah berbersih rumah, dan perawat gratis seorang anak masih
ada sampai sekarang dan anggapan pendidikan tak ubahnya sesuatu yang dirasa
tidak penting karena pada nyatanya hanya akan kembali dirumah sebagai
tukang-tukang diatas, tanpa pendidikanpun mereka mampu. Yakin?
Mandiri dan status lemah
Stigma
lain dimasyarakat tentang seorang perempuan selalu dipandang seorang yang
lemah, manja dan lucu. Lalu saat ada seorang wanita yang tangguh dan mandiri
adalah hal yang menakutkan, dan dianggap perempuan ini adalah perempuan yang
tidak butuh orang lain atau pendamping atau akan sulit mencari pasangan atau
lainnya. Seperti sebuah meme ini.
Mengangap sebuah kemandirian seorang
perempuan adalah sebuah kesalahan dan mengangap perempuan mandiri tak ubahnya
sebagai sebuah kegagalan perempuan?.
Selama ini Pemerintah kita telah menempatkan kaum perempuan
sebagai partner bagi pembangunan. Isu gerakan dan pemberdayaan perempuan yang
berkembang berkisar dalam suatu pemikiran bahwa perempuan sebagai sumber daya
pembangunan, dengan kata lain politik gender telah memakai pendekatan Women In
Development dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam derap pembangunan
nasional. Konsep ini memberikan porsi kepada kaum perempuan untuk lebih eksis
meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan menuju bangsa yang sejahtera dan
penuh kedamaian (Anonim,2013). Jadi tidak ada batasan-batasan aktualisasi diri
seorang perempuan, dan kesadaran tentang nilai tertinggi yang dimiliki seorang
perempuan yang bukan hanya menjadi perempuan biasa saja dengan hal-hal ini
“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901
Bait surat yang ditulis Kartini untuk Prof Anton
dan Nyonya, yang sekarang ini menjadi sebuah buku terkenal “Habis Gelap
Terbitlah Terang” dari sana beliau ibu kartini menyampaikan bahwa seorang
perempuan berhak mendapatkan pendidikan karena nantinya kami seorang perempuan
adalah madrasah pertama dari anak-anak kami-
Selama ini persepsi pendidikan hanya di inisiasi
sebagai sebuah hal yang dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,
ataupun meningkatkan derajat kehidupan orang-orang yang berpendidikan padahal lebih
dari itu semua, pendidikan penting karena dengan pendidikan bukan hanya
mendapat sebuah pengetahuan lebih dari itu dengan pendidikan kita memiliki
banyak cara pandang dalam melihat sebuah masalah, kaya akan jalan pikirnya, luas
pengetahuannya, problem solving handal, dan tentunya tahu mana yang benar dan
buruk bukan hanya mengandalkan feeling namun juga logika. Jika ada yang bilang
“Buat apa sarjana ataupun master yang nantinya hanya akan menjadi seorang ibu
rumah tangga?” saya yakini ibu rumah tangga ini bukan hanya sekedar seorang
ibu, dia pasti tahu bagaiama menjadi seorang ibu rumah tangga yang ahli segala
bidang yang harus di ketahui seorang ibu rumah tangga. Dan jangan salah ibu
rumah tangga yang sarjana pasti tak akan menggunakan sebagian besar energinya
hanya terbuang sia-sia untuk hal-hal negative.
·
·
Seorang
perempuan wajib untuk mandiri
Jika seorang perempuan itu lemah dan manja, bagaimana peran kita nanti untuk generasi kita nanti perempuan tak ubahnya hanya akan selalu dianggap seorang yang tak berguna, atau seorang dibalik layar yang tak pantas menduduki deretan jajaran CEO, Presiden, Direktur, Manager ataupun yang lainnya. Seorang perempuan saya pikir harus memiliki cara pandang menjadi seorang yang mandiri karena perempuan ini memilki multi peran nantinya. Jika ia lemah dan manja, tak mau susah lagi, apa kabar tugas rumah, merawat suami dan seorang anak ataupun dipekerjaan dia yang lain. Tapi mandiiri disini bukan berarti perempuan tersebut harus selalu mengunguli seorang pria kapanpun itu, bagi saya seorang perempuan memiliki kesetaran dengan pria, tapi ada berbagai konteks kodrati dan hakekatnya seorang perempuan tak selalu mengunguli pria. Jika kamu sebagai perempuan lemah, bagaimana membendung stigma tentang berbagai hal dari perempuan dengan pembuktian yang kamu lakukan? Dan jangan pernah takut menjadi seorang perempuan mandiri karena takut dianggap lebih suprerior dibanding pria, karena laki-laki superior pastinya akan memilih perempuan superior juga.
·
Perempuan memilki peran yang sama untuk Indonesia
yang lebih baik
Hubeis (1985) mengatakan, analisis alternatif peran
perempuan dalam mendorong pembangunan dapat dilihat dari tiga aspek yakni (1)
peran tradisi atau peran domestic yang berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga.
Perempuan yang berhasil mengelola rumah tangga dengan baik akan menjadi
inspirasi dan motivator bagi pelaku pembangunan, (2) peran transisi yang
berkaitan dengan garapan lahan pertanian atau bekerja di usaha keluarga dan (3)
peran kontemporer. Perempuan memiliki peran di luar rumah tangga atau disebut
wanita karier. Peran-peran ini menunjukkan bahwa perempuan baik langsung maupun
tidak langsung mempunyai kontribusi yang besar terhadap pembangunan bangsa. Dan
Perempuan tak ubahnya seperti laki-laki yang memiliki peran ganda dalam
kehidupannya, bukan hanya untuk diri mereka sendiri, dan tentu perempuan
memiliki pilihan yang sama untuk menentukan kehidupannya seperti seorang laki-laki,
bukan hanya dipilihkan menjadi seorang ibu rumah tangga atau hanya wanita
karir, ataupun perempuan sekedarnya, kita hidup di era digital dimana ada
banyak pilihan yang dapat kita pilih menjadi seorang perempuan. Sebagai seorang
sarjana lalu menjadi ibu rumah tanggapun tak salah, menjadi perempuan lajang
selama hidupnya dengan berbagai prestasi yang ia miliki juga tak ada yang salah, dan tak ada yang salah dengan berbagai pilihan yang menarik untuk dipilih
asal sesuai norma agama, adat, dan hukum yang berlaku. Bukan hidup memang banyak pilihan?
Saya perempuan Indonesia yang sadar bahwa saya memiliki peran penting tapi
bukan berarti saya melepaskan kodrat saya sebagai perempuan seutuhnya, karena
menjadi perempuan bukan hanya mereka yang dibalik layar, seorang perempuan dan
laki-laki memiliki peran yang sama untuk menjadi seorang khalifah di bumi.
Peranmu, peranku dan peran kita disini ada untuk lingkungan kita yang lebih
baik, dan saya melanjutkan perjuangan ibu Kartini dimulai dari saya sendiri,
menjadi seorang perempuan berpendidikan tinggi, mandiri dan mampu memberikan
manfaat untuk lingkungan dan diri saya sendiri dan aku Menunggu peranmu,
peranku dan peran perempuan Indonesia menjadi Indonesia yang lebih baik.



