Jumat, 18 Agustus 2017

Catatan Pre-Quarter Life Crisis II : Zona Waktu

Setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing, termasuk saya sekarang yang sedang berdiri disini, ah jika saya bayangkan betapa pelik kehidupan yang nyatanya tak segampang membalikan telapak tangan ini, meratapi perbandingan zona waktu satu orang dengan orang lain mungkin sebuah ratapan sendu. Tapi sampai saat ini saya percaya akan zona waktu setiap orang berebda-beda, ada yang lulus kuliah usia 21th lulus sarjana, ada yang 21th melanjutkan kuliah, ada yang 23th baru lulus kuliah tetapi langsung kerja, ada yang masih ngangur beberapa tahun kemudian untuk mendapatkan pekerjaan, ada yang usia segitu sudah menikah atau pada 30th seseorang baru menikah, ini tentang sebuah kehidupan bukan? Dan saat quarter life crisis sekarang inipun pemikiran-pemikiran tentang perbandingan usia seseorang dengan kesuksesan seseorang berasa benar-benar menohok (kadang). Kadang sering saya membayangkan saat saya usia 21th masih jauh sekali dengan kesuksesan sepertinya, disaat semua orang yang lain sudah banyak yang berlomba-lomba mengejar kehidupan yang gemilang entah dunia ataupun akhirat, sudah ada yang mendirikan start up, sering mengikuti berbagai conferensi di belahan benua lain, mengikuti berbagai pengabdian untuk masyarakat sekitar, udah hafidz 30 juz alquran sedangkan saya? Jauh sekali diluar hal-hal tersebut, saat saya ingin tidak menunda sholat diawal waktupun, masih aja banyak gagalnya.


Memasuki quarter life crisis rasa-rasanya ambisi-ambisi yang membuncah itu dibarengi juga dengan ambisi untuk tidak kalah dengan keadaan ataupun orang sekitar, terlebih untuk kita yang masih muda tentunya. Sedangkan kehidupan tak selalu memberikan point-point hebat sebuah kesuksesan seperti yang kita harapkan, tidak menyenangkanpun pasti akan lebih banyak disbanding dengan kesenangan yang didapat. Zona waktu setiap orang memang berbeda-beda pada nyatanya, tak mengapa jika kita saat ini masih harus mengayuh sepda dengan ban bocor atau kempes yang akan lebih susah sampai pada tujuan kita, tak mengapa jika kita masih harus ngesot untuk sampai pada titik yang kita inginkan, teruslah berjalan meskipun dengan napas tersengal karena capeknya, teruslah melajukan sepadanya meskipun dengan ban kempes.


Zona waktu setiap orang berbeda, pun dengan roda peputarannya yang berbeda satu sama dengan yang lain, saat kita dibawah suatu saat pasti rodanya akan kembali berputar keatas pun dengan sebaliknya, jadi tak mengapa dan tak usah risau jika saat ini perputarannya masih amat lama untuk sampai ke puncak atau roda diatas. Tapi yang pasti cepat atau lambat kita juga akan (pernah) diposisi puncak ataupun atas yang kita inginkan. Zona waktu juga akan mengajarkan sebuah proses yang tak instan, seinstant bikin mie instant. Tapi dari zona waktu kita akan belajar memaknai proses dan menikmatinya. Zona waktu kita memang tak sama kan pada nyatanya, jika kita masih tertinggal jauh bukan berarti kita yang selalu kalah atau gagal memperjuangkan segala sesuatu. Karena zona waktu setiap orang berbeda, kita tak pernah tahu perjuangan yang bagaimana yang akan membawa seseorang itu melajukan sepadanya secara cepat, tapi kita tahu hal indah sebuah proses yang akan memperindah perjuangan yang kita miliki, Ah proses, seberapa banyak proses indah yang tak terhitung itu kita perjuangkan dengan sangat? Saat kaki yang lelah itu tak pernah meminta untuk berhenti berjalan, untuk setiap rapalan doa yang selalu diucapkan, untuk tangan yang takpernah lelah merendra cerita manis disetiap lembar kertas, untuk daya juang yang saat lelahpun masih ingin dan terus untuk memperjuangkan, tak mengapa jika hasilnya berbeda dengan yang kita harapkan dari doa, mungkin itu cara Tuhan mempercantik jalan cerita kita, kita tak tahu saja sampai mana darah juang terbaik yang akan melajukan sepeda kita untuk lebih cepat sampai pada satu titik

Senin, 07 Agustus 2017

Jogja dan Sapaan Rindunya





Siapa yang tak mengenal kota ini? Kota dengan seribu hal yang akan selalu istimewa tanpa harus disebutnya satu persatu. Kota romantis diestiap sudutnya dengan lampu merkuri kuning lima watt dibeberapa sudut ataupun tempat-tempat tertentu (angkringan). Dulu waktu saya SD, tak pernah sedikitpun membayangkan akan tinggal dikota ini, jika saya bercita-cita saya selalu berharap tinggal di Surabaya, deket dengan tempat Ayah saya bekerja. Saya masih ingat saat itu guru pernah menerangkan tentang universitas di pelajaran PKN dan salah satu pertanyaanya tentang Universitas Gadjah Mada, saya ingat saat itu saya tepat menjawabnya Universitas ini berada di Jogjakarta, ejaanku dulu Yogyakarta bukan Jogjakarta. SMP dan awal SMA saya juga tak pernah tahu tentang Jogja, hanya tau di Jogja ada UGM, Malioboro, dan Parangtritis pun aku belom pernah ke Jogja, iyaa saya belom pernah sekalipun berwisata ataupun study tour di Jogja walaupun Aku hanya dari pinggiran Jawa Tengah. Hingga akhirnya kelas dua SMA seseorang yang saya kenal, diterima di UGM. Saya mulai kasak kusuk mencari tahu tentang UGM dan Jogja saat itu melalui Internet tentunya. Ada ribuan artikel tentang Jogja ataupun UGM. Hingga saat itu tibaa!! saya bersama teman saya SMA berkesempatan study Tour ke Jogjakarta, ah ini untuk pertama kalinya saya di Kota yang istimewa bukan hanya sebutannya. Yeah untuk pertama kalinya saya menjatuhkan air mata saya dan berdoa hanya ingin menjadi salah satu bagian dari Jogja dan kampus impian saya. Lalu ketika bus melaju saat pulang pandangan saya hanya satu mencari UGM karena saya belom pernah melihat kampus itu, kampus impian sayaa. Sayangnya saya tidak bertemu dengan kampus itu. Beberapa minggu berlalu saya ke Jogja kembali, bersama keluarga besar saya dan hanya untuk Ujian Masuk UGM (UM UGM 2013) saat itu saya berkata kepada ibu saya, “Bu, besok Intan wisuda disitu” sambil menunjuk GSP, Grha Sabha Pramana, Setiap ucapan adalah doa, dan saya percaya itu!! Beberapa minggu kemudian saya dinyatakan ketrima di salah satu kampus impian saya dan beberapa tahun setelahnya di wisuda di GSP. Ah itu cerita 4 tahun lalu saat saya berjuang untuk Jogja dan UGM.



             Akan ada seribu kisah jika saya menceritakan Jogja, tentang pahit getir kehidupan seorang anak perantauan, tentang setiap rindu rumah karena rata-rata masakan manis di Jogja, tentang kisah klasik melankolis patah hati atau Jatuh cinta, tentang siapa saja yang pernah menjadi orang istimewa di kota istimewa untuk menemani saya. Rindu itu tak akan pernah ada jika kita belom merasakan kehilangan. Saya pikir benar adanya, selama 4 tahun ini saya berada di Jogja menikmati setiap jengkal kehidupan yang tak selamanya manis dan baik-baik saja. Banyak berjuang dan tragis jika saya mengingatnya.

            Jika saya mendengar kata Jogja, haluan pertama saya tentang istimewa kotanya dan orang yang pernah setidaknya mengisi hari-hari saya selama 4 tahun terakhir. Sepi itu selalu ada saat saya sadar sekarang mereka tak lagi diJogja, ah jika sebuah rasa huru hara, saat ini mungkin jogja mulai sirna keistimewaanya, karena tahun ini tahun tanpa mereka dihari-hari saya. Satu persatu teman seperjuangan saya meninggalkan Jogja, meraih impian mereka, dan hanya saya yang masih sedikit ingin lebih lama di kota ini. Seringnya saya mendengar dari mereka, mereka merinduhkan Jogja, dan selalu saya jawab bahwa sekarang saya tak sedang merinduhkan jogja, tak sedang kasmaran ataupun jatuh cinta dengan setiap hal di Jogja, karena beberapa bulan terakhir saya pikir, saya lebih sering patah hati dengan siapa yang berada di Jogja. Kisah klasik manusia, tentang cinta bukan?.




            Setiap orang yang pernah menginjakan kaki di Jogja pasti tahu, seberapa murah tempat ini, seberapa mengagumkanya Jogja dengan pariwisata yang memukau di setiap sudut yang ia miliki, seberapa banyak makanan yang terlampau nikmat yang sesuai kantong di kota ini, seberapa romantis sudut di Jogja, seberapa ramah setiap senyuman orangnya, seberapa memukau setiap jengkal kehidupan disini, bagi saya Jogja tentang sebuah bukan hanya sebagai kota untuk berjuang dan bertahan hidup. Yaa, saat saya menginjakan kaki saya sebagai mahasiswa, berangkat pagi pulang larut untuk memenuhi standart kualitas yang sesuai dengan harapan kampus dan impian saya, saat saya harus menahan rasa kantuk yang amat hanya untuk mendengarkan evaluasi sebuah acara yang kita kerjakan, saat saya harus menahan rasa lapar ketika tanggal tua, ketika saya sangat bersyukur pernah datang kesebuah kota dengan rasa nasi kucing angkringan yang luar biasa nikmatnya!!, saat saya terlampau bahagia saat saya bisa menikmati seporsi indomie telor rebus pakek cabe di a’ burjo sebrang kos, atau saat saya harus begadang membuat laporan ataupun belajar di café-café 24jam di jogja. Tentang bagaimana, kisah klasik nan indah itu tercipta, tentang bagaimana dari jogja saya bisa jatuh cinta dengan satu orang, Jogja juga mengajarkan saya menjadi seorang melankolis nan realistis mengiyakan anjuran orang tua mencari sesuap nasi di Jogja. Melalui persaingan kerja dan Tentang bagaimana akhirnya saya harus bertahan di Kota yang ingin saya tinggalkan beberapa bulan lalu tapi saya masih harus disini.


Setiap tempat dijogja mungkin pernah saya datangi lalu menghingapi selalu berkesan. Jogja itu rumah bagi siapa saja yang pernah datang ketempat ini, karena pada nyatanya setiap orang yang pernah datang ketempat ini akan ingin segera kembali kesini. Tempo lalu saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta, saya satu tempat duduk dengan seorang warga lokal asli Jakarta, yang ingin sekali tinggal di Jogja. Dia menceritakan keinginan terbesarnya bisa melanjutkan karir disini, saat itu saya hanya tertegun, yaa, karena bukan sekali dua kali saya menemukan orang yang bercerita tentang ingin kembali ke Jogja, karena kesan magis yang selalu ditimbulkan kota ini. Setiap sudut Jogja adalah kenyamanan yang tak pernah di ganti di Kota lain.


            Saya mengenal Jogja 4 tahun yang lalu, tinggal dan menikmati setiap kisah kehidupan dikota dengan nilai UMR yang minim sekali dibanding kota lain bagi saya. Pun, Jogja bukan tempat yang paling tepat untuk mengambarkan sebuah kota dengan pesatnya pencari kerja, bukan pula tempat yang menarik sebagai tujuan pencari kerja, tapi Jogja tak menawarkan kemacetan setiap berangkat ataupun pergi kekantor, tak menawarkan polusi disetiap tempatnya, tak menawarkan hedonnya sebuah price tag sebuah barang, tak menawarkan sebuah kedok kemapanan seperti Ibu Kota. Jogja akan selalu sederhana tapi setiap orang yang pernah di kota ini mencintainya dengan luar biasa.




          Saya tak pernah menyarankan sebuah kemewahan yang akan anda dapat disini, pada nyatanya seberapa besar nilai sebuah kehidupan disini, akan selalu terganti dengan kenyamanan setiap jengkal yang selalu ditawarkan dari kota bernama Jogja. Namun, Seberapa besarpun saya mencintai kota ini cepat ataupun lambat saya akan pergi dari tempat ini, tepat bulan Juli nanti saya akan melanjutkan pendidikan dan mulai kehidupan baru di kota lainnya. Lalu sebuah kisah itupun terwujud mengukir kenangan di Jogja sudah cukup selama 4 tahun ini, Jogja adalah rumah bagi saya, tentu saya akan kembali kerumah saya entah kapan itu doakan saja, saya punya peran kecil yang bermanfaat disini. Jogja :”.





Seberapapun besar dan cintanya saya, saya harus sadar saya tak mungkin di Jogja yang terlalu nyaman untuk zona nyaman saya ini.


Yang Akan selalu Mencintai Jogja








All gambar Source by Google dengan kata pencarian

1. Jogjakarta

2. UGM

3. Angkringan

4. Malioboro

















Sabtu, 05 Agustus 2017

Kilas Balik : Menyikapi Kegagalan


             

          Kegagalan adalah guru terbaik, kegagalan adalah awal dari kesuksesan, dan semua wise quote ketika jatuh dan mengalami kegagalan rasanya selalu tergiang-giang dan diberikan dari temen ataupun lainnya. Okee ini kehidupan hadapi dan jalani meskipun pait sepait jamu brotowali item yang ngebayangin aja saya begidik ngeri apalagi minum, lol. Entah kenapa saya pengen curhat tentang ini, tentang traumatis saya terhadap kegagalan yang its really bikin saya kayak traumatis menghadapinya, alay sih tapi ya gimana lagi ya saya berasa stress sebelom menghadapinya saya benar-benar lelah dengan kehidupan saya hari ini. Benar-benar ngrasain hal konyol yang sering dibilang “Alah santai aja cuman gitu doang” or “Yaampun dis cuman gagal gitu doang” Okee bagi kalian biasaa aja, tapi enggak buat saya!, saya emang idealis dan ambisius banget selama ini sampai hal paling mudah diterima seseorang pun saya kadang bilang “saya gak tau ngehdapin harus gimana” mungkin karena ke tidak bisaan saya dalam menghadapi hal-hal yang dirasa “biasa” aja sama seseorang, tapi enggak buat saya gitu its difficult things when happends, dan Allah tau banget kelemahan saya dititik itu sampai akhirnya, sampai sekarang ini saya selalu diuji dalam hal-hal situ-situ aja terus gak berubah-ubah. Lelah? saya lelahnya karena kegagalannya sama gitu, kayak kerepeat dan bikin saya ngrasa “Ya Allah intan lelah ;””  padahal kalo di uji gitu gue ngrasa banget udah selalu ngasih yang terbaik, dan terus saya ngusahain sedetail apapun yang bikin saya gagal itu  gak keulang lagi, tapi kenapa ujiannya gak beda aja gitu. Hari ini saya lelah dengan semua a,b,c plan saya, saya lelah banget.
                Tapi tidak, saya tidak sedepresi sampai akhirnya gantung diri ataupun nglakuin yang enggak-enggak, meskipun iya sih dulu saya pernah nglakuin hal konyol itu karena saat itu emang bener-benar ngrasa dititik terendah yang kalo saya napas aja harus sesak banget karena keadaan yang ngehimpit saya pun seperti tidak ada orang yang peduli dengan diri saya. Hari ini mungkin keadaanya sebelas-duabelas, tapi saya udah ngak mau segila dulu itu, saya selalu percaya Plan Allah adalah plan terbaik, saya selalu percaya meskipun saya gagal-gagal-dan gagal lagi mungkin, Allah pasti mengantikan dengan yang TERBAIK, SAYA YAKIN itu. Hari ini saya ingin menghadapinya berlapang dada dengan setiap keggagalan yang Allah kasih, berteman baik dengan diri sendiri, meskipun seringnya saya bilang “Ya Allah dis gitu aja masak gagal sih?” atau “Kamu ngecewain banget dis” tapi in the name of life, hadapi semua hal indah yang harus dihadapi, pun belom tentu saat saya berhasil nanti saya tidak akan gagal yang lebih besar bukan, mungkin Allah mau bilang “Ini bukan buat kamu saat ini”. Baiklah ini tentang hal indah untuk diri saaya pada akhirnya tentang bagaimana saya (akan) menyikapi kegagalan saya kali ini


1.    Bersyukur

Mungkin ini point paling remeh temeh yang sering luput dari pandangan saya ketika gagal, saya lebih sering kufur dan mengangap bahwa Tuhan “Jahat” dan memberikan hal buruk untuk saya, tapi rasanya ini point kegagalan saya dalam menyikapi kegagalan, kedengarannya memang klise toh memang begitu nyatanya. Hari ini saat saya masih membangkitkan diri untuk bertingkah seperti sedia kala, ada hal yang mengelitik untuk saya tengok, official line atau OA draft SMS, pandangan saya melihat sebuah cerita haru yang ketika saya membayangan diposisi dia sekarang saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, kegagalanya pun jelas lebih terperosok disbanding saya dan juga kesedihanya, mungkin berates-ratus kali lipat dari saya, dan saya mulai mengerti kata syukur emang tak semudah diucapkan ya? Tapi ayolaah dis selalu upgrade syukurmu setiap hari ini hanya masalah kecil yang tak seberapa….

2.       To be an Idealis and pragmatism is okay

Hal terindah yang dapat saya nikmati dalam diri saya adalah sebuah keidealisan meskipun pada kenyataanya saya benar-benar jatuh banget pas saya ngak daPet keistimewaan itu, dan hal pertama yang saya pelajari adalah is really fine when you idealis in your vision, but you should to be a pragmatism with your mission, is really works. Saya ngak bisa nyalahin sih keidealisan saya tapi bukan berarti itu buruk kan? Terlebih saya emang masih muda, plan-plan terbaik akan masa depan harus saya rencanakan sebaik dan seidealis mungkin, meskipun kita harus punya banyak plan terburuk jika plan terbaik yang kita rencanakan gagal, bukan berarti merutuki diri dengan kegagalan tapi face it and already to a great a new plan.

3.       Berteman dengan keadaan

Kadang ini yang susah sih di saya, karena emang saya udah keliatan idealist pada banyak step yang sering dilirik sama orang “Kamu gak berhak gagal” dan ini berkaitan langsung dengan tatapan akan “Kamu tidak berhak gagal” dari orang yang ngeliat saya itu langsung berbanding terbalik, well ini seperti berkaitan langsung dengan pandangan orang, saya masih belom bisa menghadapi kegagalan yang nantinya akan diajukan kesaya dari orang lain yang akhirnya ngebuat orang lain seperti memandang rendah saya. Tapi saya ingin memulai menerimanya, Bukannya jatah sukses orang beda-beda pun dengan jatah gagalnya, dan mungkin selama ini saya terlalu negative thingking akan kegagalan saya yang dipandang orang lain “rendah” itu, saya tidak tau aja, mungkin dibalik tatapan mereka, mereka ingin mensupport saya kan? Saya ngak tau aja, ngak semua temen akan menyepelekan saya saat saya gagal, gak semuanya! Dan pasti ada banyak yang akan mendukung dan ngasih saya tangan bantuan buat saya bangkit

4.       Berteman dengan diri sendiri

Memaklumi keadaan emang gak segampang membalikan telapak tangan, tapi berdamai dengan diri adalah hal wajib yang harus saya lakukan. Saya harus mencoba dan memberikan yang terbaik dalam hal berteman dengan diri sendiri dengan memaklumi masa lalu saya, saat saya berfikir hello dis kamu bukan hidup dimasa lalu jadi please you already to moving forward for a better Things, jadi apa salahnya menyalami diri ‘Hello dis, I appreciate you with your success journey right now” gakpapa lo gagal, nikmatin dis, karena bentar lagi lo gak perlu nikmatin kegagalan itu, nikmatin aja dis, Surga gak pahit kayak dunia kok rasanya

5.       Positive Thinking

Kadang saat gagal kita ngrasa semuanya benar-benar hitam, mau ada cahaya benderangpun juga sepertinya ditutupin sama bayangan hitam, gelap!. Mungkin saat ini juga yang saya rasain, tapi bukan berarti tidak akan ada cahaya kan? Pasti akan ada, tinggal seberapa positif thingking kita menyikapinya, tinggal sebarapa yakin kita nemu cahaya itu saat gelap menyelimuti kita, dan cara terbaik ada dengan pemikiran tenang dan positive thinking bagi saya.
6.       Setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing, ketika gagal seolah-olah otak saya merespon “Yah gue selangkah lebih mundur dong disbanding yang lain” padahal saat ini kita sedang tidak berlomba dengan yang lain, pun saat zona waktu kita mundur tidak ada yang salah kan dengan itu? Setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing, zona waktu Bali yang lebih cepet disbanding Jakarta bukan berarti Jakarta salah. Dan arah zona waktunya pun berbeda antara satu orang dengan yang lain jadi apa gunanya kita membandingkan zona waktu kita dengan yang lain? Is so wasting time dude, jadi pointnya saya tidak akan menyalahkan zona waktu saya, selama ini saya juga selalu percaya dengan prinsip ketapel, mundur sedikit untuk melaju lebih cepat!

7.       Menghindari media social (Optional)

Pernah gak sih kalian berpikir ketika gagal kalian ngk tau harus kayak gimana, ngrasa hidup sekali dan pengen mati aja karena banyak lingkungan yang menekan dan gak seharusnya kayak gitu? Salah satu penekanan paling dabest saat ini selain orang sekitar, yang tidak ingin melihat kita gagal (Read : Keluarga, Orang Tua), juga lingkungan persosial mediaan dengan segala kefanaanya,  seperti gue ngrasa sedang mencemburi kehidupan orang lain yang “Keliatannya” lurus-lurus aja karena pada nyatanya disosial media jarang bangeet ngasih liat kegagalan mereka dibanding kebahagiaan dan kalo untuk IG, FB, Twitter, Line, WA dll rasa-rasanyaa jarang banget kan orang-orang bilang kegagagalannya. Mungkin karena itu juga gue pengen nulis curhatan absurd ini biar orang lain yang gagal gak pernah ngrasa sendiri, ada jutaan orang tiap harinya yang depressi ataupun gagal tapi tergantung bagaimana kita menyikapinya, and is okay banget sih kalo  akhirnya deaktive medsos sementara waktu buat hibernasi is really great sounds buat gue, mungkin akhir-akhir ini gue bakal sering absen pakek IG yah meskipun selama ini juga saya gak active-aktive banget sih hahah, tapi semoga hibernasi ini membawa dampak yang cukup baik untuk kehidupan saya nantinya aamiin

Mungkin ini sedikit self reminder yang saya tuliskan untuk menyikapi kegagalan saya kali ini, tak mengapa jika harus gagal, yang dibutuhkan hanya bangkit lebih banyak dari kegagalan yang didapat. Semangaat  Gadis Intan!


Gambar Source
1. Freepic
2. Freepic

Sabtu, 01 Juli 2017

Spotify dan Tentang Anda


There is something else if i could tell about this application. It's call Spotify. One of the termendous application make me repeat of fall in crush with someone. Someone who tell me about this, like crazy things called of -On off Move On story-. Someone who taught me about many things, someone who made my friendship is cracked, Someone who have made tears deep down bcs my fell and then i'm in here 4years that i attempt to move on, but bcs many things (not yet happen), one of the reason is SPOTIFY. Why spotify? Bcs almost song in him playlist is my genre Song! Ada kemungkinan gue sok nyamain BUT noo! For music i didn't similarity with someone else, bcs song and music have a lot of history in mylife, bisa karena kenangan dimasa kecil, proses kehidupan yang dibersamai lagu itu, ataupun banyaknya kenangan dengan lagu itu. Because for me there are 3 things i can't let to go because have some memory to be repeating someday, first : Place second : Parfum or Smell and Third : Music or song. Jadi 3 hal itu yang akhirnya banyak memberikan insight pada suatu kisah, memory or kenangan. ketika mendengarkan lagu itu bisa mengenang suatu hal dilain waktu, yang kembali kesuatu tempat akan teringat siapa yang membuat kenangan disana, dan parfum atau aroma apa yang akan memberikan kenangan pada suatu kisahnya, its about representative of my memory. Itu mengapa musik kesukaan saya tidak dapat saya samakan dengan orang lain karena dasar kehidupannya dan kesukaan setiap orang memang berbeda-beda. Tapi tidak untuk playlistnya. He has some playlist that representative of my song or my music, dari yang saya suka The Cranberries, Cold Play, Taylor Swift, Jason Miraz, Air Suply, Weslife,The Beatles, Bon Jovi, Nathasa Badingfield, Richard Clayderman, Mozart, Sheila On 7 and etc he Has! dia punya playlist yang sering membuat mood saya selalu meningkat saat membuka spotifynya. Its reason why i couldn't move on as soon as posible. Pernah beberapa kali menganti aplikasi spotify dengan aplikasi serupa di Hp or Laptop, but i can't! Bayangan lagu yang tidak membosankan ada di playlist yang saya buat dengan kolaborasi dari playlist dia. Tapi, hingga akhirnya hari ini ngak ada lagi deg-deg-an pas gue buka spotify hahah. Biasanya? Suka banget kalo dia abis ngeplay some lagu, apalagi kalo bareng sama-sama lagi ngeplay suatu lagu yang samaa berasa jauh di mata dekat dihati, hahahah, was so happines that i call. So crazy things? Bisa jadi but it is fact. Kembali lagi, di kehidupan nyata, bukan kehidupan yang disponsori spotify, now he has girlfriend, although is really hard to face but i can stand till now, and i said "Selamat" when he is happy :)).

Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia-Ali bin Abi Thalib


Saya suka sekali dengan quote itu sekarang, dan saat inipun saya hanya ingin berharap kepada Tuan terbaik saya, Allah. Just Him, not someone else.Mungkin itu mengapa rasa deg-deg-an alay yang pernah hinggap diperasaan saya itu hilang begitu saja. Bohong sih kalo saya bisa bilang dia udah hilang dalam kehidupan saya atau saya udah melupakan total tentang dia, tapi saya akan selalu mencoba untuk selalu menata hati saya. Saya juga gak akan bilang : Kalo kamu jodohku, Pacarmu bisa apa?. Hhahaha. Gak! Pacar dia yang udah dia perjuangin selama ini patut jadi orang yang ada disampingnya sekarang. Udah banyak short post di blog ini yang bahas dia disini, dan saya berharap ini yang terakhir, aamiin, despite i can guarantee but i will attempt of IT everyday. Hanya tentang waktu pasti :)



















N.P *NGAK PENTING* : Kenapa harus banget di tulis disini? Bukan apa-apa sih, saya orangnya suka lega kalo udah nulis sesuatu jadi ngak ngrasa ada something yang harus dipendam, karena takut bakal keungkit-ungkit nantinya, terlebih sekarang emang saya mau nata hati saya pribadi buat orang yang mungkin menemani saya kelak #eaaps, pun biar jadi warning buat saya sendiri bahwa saya ngak boleh berharap sama dia lagi :). Cukup sampai disini dis!































Yang Tidak Ingin Berharap Lagi































GIP





















































Senin, 05 Juni 2017

Hidup itu seru!

                                                                                                 Source gambar : google
Mood swing efek PMS belakangan hari ini memang tidak bisa saya tampik. Malah rasa-rasanya kesel sering mangkel padahal ngak ada penyebab pasti.  Namun hari ini sudah harus bilang, Welcome monday, tau ngak kalo saya suka banget dengan hari senin. Pasti ngak pada percay ya ? Wkwkkw tapi, so sure hari senin memang hari dimana kualitas hidup saya udah saya perbaiki di hari libur, jadi perfoma hari senin itu meningkatlah harusnya. Eh tapi tidak juga sih kalo udah PMS, rasanya mood swing otomatis kayak on off setiap saat dengan gampangnya. Well saya emang mudah terpengaruh orangnya, apalagi dengan lingkungan yang emang bisa berubah setiap saat. Itu mengapa saat PMS saya cenderung buat non aktivkan notifikasi grup ataupun buka sosmed, yang mungkin bikin mood saya berubah-ubah sewaktu-waktu. Tapi tidak untuk blog ataupun buku, saya emang pecandu buku dan blog atau tumblr jadi hari ini saya banyak baca buku dan blog orang-orang diluar sana, yang ugh! bikin mood saya ningkat buat berbuat lebih dihari senin ini. Hidup itu seru! salah satu secarik cerita di sebuah blog yang saya baca, dan benar sekali, hidup emang seru lho! kita aja yang sering ngeluh ataupun kurang bersyukur jadi menutupi keseruan hidup yang ada. Jadi sudah berapa kesempatan yang hari ini dilewatkan dan sudah sebanyak apa kurang bersyukurnya dihari ini?  Selamat menghebatkan diri, cherrs menjadi orang hebat dimulai dari kepastian dalam memilih hal kecil yang berdampak besar, wah wah jadi sudah seberapa banyak hal kecil hari ini yang berpengaruh di masa depan buat saya? Jangan lupa dinikmati ya dis ritmenya, saya tau kamu hebat dengan caramu #eaaps

Selasa, 16 Mei 2017

Solo Traveller ke Bandung-Jakarta-Bogor dan Filosofi perjalanan Edisi I

-Saya suka menikmati hal baru, mengunjungi tempat baru, menghirup aroma baru,  melakukan hal yang berbeda setiap saya mulai merasakan bosan, atau mendengarkan sebuah playlist baru setiap hari, yeah!! Itu mood terbaik saya!. Waktu itu Tuhan  punya cerita seru untuk saya, di berikan kesempatan menikmati udara di kota baru,  baru pertama kalinya saya mengunjunginya, baru mencoba travelling seorang diri tanpa ditemani kerabat ataupun teman terdekat, baru perjalanan terjauh dengan modal minim backpacker budget. Tapppii Tuhan menghadirkan berbagai rasa baru yang seru, unik dan menarik, ah baru-baru ini saya ingin mengulangnya lagi!.
Hari itu hari kamis, setelah menyelesaikan pekerjaan kantor terakhir saya buru-buru ke stasiun dengan persiapan yang super-duper dadakan! Iyaa bukaan Intan Namanya jika ngakk dadakan! Pesen tiket inipun dengan dadakan pulaaa. Nyaris ngak dapet tiket murah sesuai kantong karena kejepit long weekend. Kereta berangkat pukul 18.15 saya berada 15 menit lebih awal distasiun. Kereta yang saya tumpangi adalah kereta ekonomi tak khayal kita harus berhadap-hadapan tempat duduknya, ada 4 tempat duduk di kerata dekat saya, dan naasnya saya barengan dengan para cowok-cowok strong didekat saya. Yahh tapi ini perjalanan yang baru juga buat saya, baru pertama kalinya saya seorang diri perempuan sendiri yang diapit para pria yang belom pernah saya kenal.
Dari dulu, kereta api adalah salah satu moda transportasi favorite saya, menggunakan kereta selalu memberikan kenyamaanan entah mengapa. Selama di kereta saya seperti menikmati waktu me time yang lebih intim dengan diri saya, how filosofis am? Hahahha. But trust me I always already to do filosofis journey in Bandung. Meskipun dengan perisapan yang dadakan perjalanan ini adalah perjalanan dengan berbagai tujuan yang saya impikan. Ada berbagai alasan absurd yang mengiringi perjalanan sendiri saya tanpa siapa-siapa di 3 kota yang akan datangi, ada berbagai filosofis yang saya gunakan diperjalanan ini, dan ada alasan saya merinduhkan “freedom choice”. Ah jika membahas ini tak akan ada ujungnya bagi saya.
Sepanjang perjalanan hanya beberapa kali saya mengobrol tidak banyak dengan beberapa orang di samping saya ditemani satu buku agenda kecil tentang rangkaian plan saya selanjutnya,  cuaca malam dengan gerimisnya lebih menawarkan rasa kantuk, tapi saya masih mencoba membaca salah satu novel dan menikmati lagu kesukaan saya di spotify karena belom begitu larut bagi saya saat itu, baru pukul 9 malam, beberapa waktu berlalu ditemani dengan bantal pinjeman dari KAI akhirnya saya terlelap juga. Pukul 1 malam saya dibangunkan bapak disamping saya untuk pindah posisi karena orang di depan saya sudah sampai ditujuan mereka masing-masing. Saya menselonjorkan kaki saya, ahh ini rasanyaaa nikmatt tak terkiraa bagi saya saat itu. Pukul 03.00 kereta sampai di Stasiun Terakhir keberangkatan, stasiun Kiara Condong. Dengan mata berbinar-nbinar saya sampai di stasiun pertama #expedisiGadisIntan. Stasiun Kiara Condong. Saya memberanikan diri memasuki wilayah utama di stasiun Kiara condong yang mengingatkan saya dengan kisah absurd backpackeran bersama kedua kawan saya 2 tahun silam Jogja-Surabaya-Malang mungkin lain kali saya akan ceritakan lagi. Saya langsung ke mushola untuk rebahan, tapi tidak dapat tidur T.T mungkin karena posisi yang kurang nyaman ataupun pikiran-pikiran absurd saya yang lain.



      Pukul 4 saat subuh tiba saya kekamar mandi, untuk mandi dan beres-beres dan setelah selesaai semua-muanyaa saya balik kemushola lagi karena nunggu motor yang akan diantar jam 8, masih lamaaa, akhirnya saya memutuskan untuk jalan sekeliling stasiun Kircon, deket kircon ada pasar tapi saya tidak tertarik memasuki pasar karena takutnya bakal kelamaan dan akang yang nganterin motor udah nungguin, jadinya saya sarapan dideket Kircon. Ada berbagai jajanan ataupun sarapan khas yang di tawarkan deket Kircon, dan saya memilih Tahu kupat khas Sumedang. Rasaanya lumayaan, tapii tahu kupatnya beda dengan tahu kupat daerah saya di Sragen, Magelang dan beberapa wilayah Jogja *karena gak semua* yang menggunakan sambal kecap asem bukan sambal kacang, so faar lumayan penganjal peruut yang murah 8k dengan teeh hangat tawar karena sama sekali tanpa gula, *jika diJabar setau saya harus bilang teh manis jika ingin dibuatkan teh manis, bukan teh tawar* Setelah menyantap penganjal perut di pagi ini saya ke staisun kircon kembali untuk bertemu dengan akang pengantar motor.
Saya menyewa motor di hari pertama di bandung karena tujuan hari pertama saya di Lembang yang notabene akan sedikit kesusahan jika saya menggunakan transport umum, meskipun diawal saya berfikir ingin menggunakan transport umum tapi setelah nanya-nanya sama temen-temen yang ada di Bandung akhirnya saya menggunakan motor yang saya pikir lebih effective. Saya menyewa motor di saverental, 24 jam dengan biaya 85k, motor beat, tapi jika yang injection beda 5k menjadi 90k, akan ada kurir yang mengantar motor tanpa kita mengambilnya, dan so worth it rental bagi saya.
Ohiya saya punya cerita lucu difoto ini saat berfoto di Gedung Sate, tunggu kelanjutannya yaa!!

Oke ini pembukaan untuk solo traveler edisi 1 di Bandungnya ya, tunggu cerita tentang Lembang dan Bandung Kota serta 3 kota lainnya : Bogor, Depok, Jakarta ! See Ya! 

Popular Posts