Jumat, 31 Agustus 2018

Gadis Intan Project dan Tentang secuil Mimpi


 “Bergerak” apapun gerakan terbaiknya niatkan hanya untuk tujuan Utama mengapa kita diciptakan, seengak jelas apa kadang kehidupan membawanya, saya akan selalu bergerak tidak akan berdiam dan melapukan mimpi ataupun amanat yang sudah dititipkan kesaya!"



Selamat malam semesta, setelah cukup lama saya meninggalkan ruang bercerita saya disini, akhirnya saya kembali, kembali merajut mimpi baru, kembali bahwa blog masih menjadi milestone favorite untuk menertawakan dunia, atau sekedar berkeluh kesah tanpa ujungnya. Setelah hampir satu tahun saya meninggalkan blog ini, saya ingin menceritakan hal baru yang lain, ambisi yang mungkin cukup memuakan tapi setidaknya sedikit ambisi itu menjadi salah satu alasan saya bisa menikmati hari-hari saya dan memberikan yang terbaik sebisa saya.

Tentang Gadis Intan Project’s dan secuil mimpi, saya sudah lupa kapan terakhir saya mengebu-gebu bercerita kepada orang lain tentang secuil harapan saya, tentang sedikit mimpi saya, dan untuk pertengahan tahun ini saya memiliki sedikit harapan yang baru. Bukan tentang passion baru hanya sedikit semangat yang mungkin sudah pudar kapan terakhir saya meletup-letupkannya. Saya menamai project karena saya memiliki berbagai mimpi didalamnya, dulu kenapa Gadis Intan Project juga karena saya bingung menamai apa dan akhirnya terlintas, ini projectnya Gadis Intan trus disingkat GIP jadi apapun latar mimpinya saya akan menamainya dengan Gadis Intan Project’s.

Saat ini dipertengahan 2018 baru ada emapat mimpi yang sedikit ingin saya perbaiki dan kembangkan sedemikian rupa, karena sebenarnya Gadis Intan Project’s sudah running semenjak 2016. Tapi dulu hanya iseng, tidak tertarik menyerusinya sebagai mimpi, tapi berjalannya waktu, Gadis Intan Project’s banyak memberikan celah mimpi baru dan memberikan rasa, warna ataupun ada ruhnya. Kamu bisa bermanfaat dengan projectmu tan itu sedekit filosofisnya!.

Akhirnya distep ini, saya memiliki banyak hal yang saya jadikan project yang banyak diawali dengan GIP, jika dulu pas teman saya nanya GIP : itu nama lengkap kamu ya? Dan banyak yang menduganyya, tak mengapa heheh, pasaran sekali memang namanya. ada mimpi, harapan, dan keinginan kebermanfaat didalam ruhnya itu mengapa saya seperti menemukan puzzle yang dulu pernah menghilang satu tahun lalu mungkin. Saat saya ragu melanjutkan langkah kehidupan saya di pilihan yang saya miliki, tapi ini salah satu harapan baru yang membuat saya bahagia.

Project yang ada didalamnya sih tak banyak berubah dari 2 tahun lalu, hanya saya selalu ingin improve to be better not perfect, karena saya yakin tidak akan ada hal sempurna sampe kapanpun. Di project ini ada GIPBlog dimana project ini paling tua, tapi yang super terbengkalai, dan harapan itu akan segera hadir di cerita-cerita GIPBlog soon heheh. GIPDesign, mungkin ini lucu karena saya tidak pernah membayangkan bisa mendapat sedikit uang buat makan harian dari sini, pun tidak pernah membayangkan bisa mendesign, thank you so much telah banyak ngasih hal yang belum pernah saya ketahui mr.tersirat guru terbaik yang ngajarin design secara tersirat wkkwkw, project running ter-favorite karena entah kenapa saya menemukan diri saya yang ternyata design bukan hanya dari hal kecil tapi melihat hal yang kreatif dan unik saja saya bisa lebih menyukai dan menantang untuk selalu dipelajari karena dinamisnya, saya sudah cukup puas dengan pendapatan selama ini, asal dapur bisa ngebul setiap hari is okey, gak perlu tiap tahun sekali beli tas prada, kwkwk. Tapi bagi saya dari GIPDesign produknya cukup hanya digunakan tidak digunakan sebagai fungsional lain dari design, emm bagi saya orang menggunakan GIPDesign saat menggunakannya aja tidak bisa menikmati ataupun menginginkannya sebagai sebuah kreativitas untuk hal-hal bersifat art story. Tapi jelas nilai fungsional sebuah design pasti akan lebih laku jika disbanding dengan art story design kadang kala, dan ini yang saya rasakan. Meskipun pasti art design memiliki harga jual yang lebih tinggi, tapi tidak semua orang mengetahui dan membutuhkannya. GIPDesign bagi saya sebagai fungsional produk umum yang banyak dibutuhkan orang lain. Hingga akhirnya per agustust 2018 saya menjalannkan produk baru GIPStuff, bagi saya cukup nano-nano karena ini salah satu ambisi yang saya cukup menyukai dan tertantang masuk didalamnya, GIPStuff merupakan produk art and fungsional design, saya ingin berkreatifitas didalamnya, meskipun tantangan menengelamkan ego, GIPDesign lebih menjanjikan disbanding GIPStuff pasti akan ada. Karena 80% GIPDesign produk jasa, sedangkan GIPStuff sebuah hasil produk jadi pasti nano-nano, butuh kejelian dan improvement yang gak main-main didalamnya. Tapi HAJARAJADULU. Lets try to be best. Whatever the result say, but always believe Usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Secuil harap di GIPStuff akan segera saya buat milestonenya di post yang lain karena ini baru tahap awal pengembangan, saya masih perlu banyak belajar tentang produknya apa saya masih menyukai hal kreativ terpadu dengan digitalisasi jadi tidak jauh akan hal-hal itu pastinya. Project lainnya tentang mimpi yang akan selalu ada untuk menjadi manfaat bukan hanya produk yang dibuat, tapi keikutsertaan dalam program kemanusiaan, dan peragustus ini saya mulai aktif lagi di volunterring, yeaayyy, dan namanya GIPVolunteering hehhe, jadi ini akan banyak menceritakan milestone volunteering yang nanti akan saya ikuti, dan so excited to this project karena saya yakin “Ketika kita membantu orang lain, Allah yang bakal membantu kita” dan pastinya volunteering ini bakal memberikan secuil tambahan di motto dan prinsip yang sering saya anut “Menjadi Insan Cendikia yang Bermanfaat”.

Ngomongin project GIPDesign dan mungkin sebagai sebuah evaluasi tersendiri bagi saya, karena produk ini yang ngasih saya makan setiap harinya yang memberikan banyak harapan untuk selalu menginprov kemampuan saya, dan memberikan cerita-cerita lain didalamnya. Mungkin sudah lebih 250an orang yang menggunakan jasa ini, bahagia? Tentuuu! Saya dulu tidak pernah membayangkan akan menekuni dunia ini jadi saat akhirny I do this without the other people, is make me confusing but excited. Do my best, is one of my motto, selain be better product you serve. Ngomongin running produk ini bakal banyak juga evaluasinya, sebulan lalu saya mulai memperbaiki system internal, yang notabene ini membuat saya exhausted duluan aseli! Sebelelum dilakuin hehhe, saking banyaknya yang harus dievaluasi dan diperbaiki, mulai system pelayanan, system transaksi, system financial planning, system design dan manajemen time yang lumayan masih banyak harus diselesaikan.   Tapi disatu sisi ketika ada custumer yang bilang “Saya puas dengan jasanya kak” is really my moodboaster, saya harus berusaha lebih baik lagi!. Financial Planning yang lumayan morat marit akhirnya kamis lalu saya sedikit perbaiki, karena ya akan banyak yang perlu diperbaiki pasti kalo tipe masalah ini karena saya belum jago-jago banget keuangan. Dan akhirnya kemaren mulai menerapkan tips and trik dari Jouska tentang financial management and planning, meskipun masih banyak alfanya ofcourse! tapi saya akan berusaha sebaik mungkin lagi. Mungkin suatu saat akan ada bahasan lain tentang ini bagaimana saya mengembangkan produk hanya bersifat instagram promotion just it! Gak pakek yang lain, tapi sedikit bisa membantu orang tua dan membahagiakan sayaa heheh. So waiting for the next post see yaa!!

Kuncinya untuk GIProject bagi saya hanya satu “Bergerak” apapun gerakan terbaiknya niatkan hanya untuk tujuan Utama mengapa kita diciptakan, seengak jelas apa kadang kehidupan membawanya, saya akan selalu bergerak tidak akan berdiam dan melapukan mimpi ataupun amanat yang sudah dititipkan kesaya!

Thank you for reading this long story I beginning for, meskipun gado-gado gak jelas, semoga ada sedikit harap untuk selalu bergerak kearah bermanfaat untuk saya sekarang ini. Semangat menebar kebermanfaatan



x

Selasa, 12 Desember 2017

1/24 Jam Menciptakan ruang sendiri "Me Time"

      Source Pict : Google
       Minggu ini adalah minggu terberat jika di hitung dari ranah tebaran deadline tugas dan kuis yang mengintai. Minggu tenang yang biasanya saya dapat di univ saya dulu tidak ada disini,  minggu sebelum uas adalah minggu terakhir perkuliahan dimana ada rentetan tugas yang menjerat tanpa ampun dan juga kuis yang menohok beberapa matkul setiap harinya. Saya cukup was-was menghadapi minggu ini karena yang saya ingat saya masih beradaptasi disini, beradaptasi dengan ritmenya, beradaptasi dengan kecepatan segala sesuatunya ataupun beradaptasi dengan lingkuangannya. Kacaunya belakangan saya punya banyak pikiran antah brantah negatif terus akan suatu keadaan, dan saya pikir ini terlalu melemahkan kejiwaan saya dibanding streessnya berbagai jeratan kampus yang saya bilang. Selama yang saya tahu saya memang mudah capek sekali dengan hal-hal yang bersifat "Feeling" atau hal-hal perasaan yang seringnya saya pikirkan secara permanent T.T. Saya akan mudah sekali lelah jika efek negatif itu dengan mudahnya masuk otak. Well, saya gak punya cukup ilmu sih buat menyembuhkan itu semua, tapi ada yang menarik dari semua rangkaian cerita saya ini. Saya menemukan banyak sekali adaptasi yang membuat habit-habit baru untuk "Self Healing" hal-hal tersebut. Salah satunya dengan 1 jam dari 24 jam setiap hari yang saya miliki dengan meditasi diri atau seringnya dibilang dengan me time, saya me time  tanpa HP, tanpa melihat tugas, tanpa melihat kerjaan, tanpa belajar, dan hanya fokus dengan membahagiakan diri selama 1 jam itu, wkwkwk, saya akan melakukan semua kegiatan yang saya sukai selama satu jam ini, tanpa komunikasi dengan siapapun atau meilihat sosial media sama sekali. Biasanya kegiatan yang saya lakukan adalah evaluasi diri dengan banyak menulis keluh kesah tak beraturan diotak di suatu note atau twiter atau tumblr yang memang saya design private account jadi hanya saya yang tahu account tersebut. Disana saya akan ngomel-ngomel atau ngeluapin semua hal yang saya alamin setiap harinya. Effektifnya saya akan mengurangi penumpukan pikiran negatif setiap hari, jadi hari berikutnya saya tidak akan banyak menumpuk pikiran-pikiran negatif untuk hari berikutnya. Evaluasi ini juga bersifat untuk memperbaiki habit setiap harinya mulai dari habit bangun tidur sampe tidur lagi, jadi ada banyak hal-hal yang akhirnya dievaluasi lalu tidak diulangin lagi jadi bisa lebih baik setiap harinya. Manfaat lainnya saya akan lega dengan apa yang saya lakukan hari itu, dan akhirnya lebih banyak menerima kekurangan karena saya tau saya udah ngasih yang lebih baik setiap harinya. Selain menulis saya akan banyak belajar hal-hal baru, yapps, mulai dari pengembangan diri, solving problem dengan metode baru, membaca buku, mendengarkan musik dan segala hal-hal yang berkaitan dengan kebahagiaan yang dapat saya lakukan. Sesimpel itu ya ternyata sebuah kebahagiaan, tapi yang utama adalah tetap selalu bersyukur bagaimanapun ceritanya Allah terlalu baik dengan saya jadi tidak mungkin saya selalu mengeluhkan keadaan. 


Selamat Berproses Lebih Baik Cheers!!


Rabu, 20 September 2017

Catatan Hijrah I : Life Is Dinamyc


(Source : Google)

              Beberapa waktu lalu setelah semua proses antah brantah yang bolak-balik kesana kemari saya mulai menemukan titik terang jika seringnya saya menyebutnya sebagai salah satu titik "Turning Point" dalam kehidupan saya terlebih saat saya mengalami proses pencarian diri, semua ini berawal dari resignnya saya dari pekerjaan yang memang dari awalnya saya mentargetkan resign bulan Juli sebelom peresmian mahasiswa Baru saya ketrima diuniv mana tapi maju karena banyak hal. Diawal waktu saya jadi penganguran parsial siklus hidup saya benar-benar hancur banget! Meskipun saat itu ada usaha kecil-kecilan yang sedikit bisa ada rutinitas setiap hari tapi kerja dan Usaha itu adalah hal yang beda untuk siklus kelangsungan hidupnya terlebih saya adalah orang yang berpedoman teguh dengan Planning entah jangka panjang ataupun pendek. Awal jadi penganguran parsial ritme tidur benar-benar berubah, yang awalnya mengapreciate diri untuk bangun ngak pagi-pagi banget karena sadar diri udah seringan bangun pagi lalu hetic selama ini, dan ini berlanjut dengan kebiasaan buruk lainnya, mulai saya yang punya hobi mageran karena udah lama meninggalkan hidup yang super duper seloow!, dengan kehidupan yang benar-benar seloow banget itu akhirnya membuat saya mulai menikmati zona nyaman saya, itu adalah masa transisi kenyamaan dan kebingungan rasanya. Saat saya harus belajar membiasakan diri untuk melist dan mencoret target-target malah sebaliknya. Dengan ritme hidup yang super selow itu akhirnya saya selalu telat sholat karena ya kayak gak ada rutinitas pasti gitu jadi mageran dan mengampangkan segala sesuatu termasuk sholat, Hingga ada masa saya malu banget sama adek saya saat itu, jadi ceritanya saya saat di Jogja bersama adek saya satu kost karena adek saya kuliah disalah satu ptn di Jogja juga, namun kebiasaan saya dengan adek saya itu benar-benarr jauh. Dia adalah manusia paling ontime nomer dua sholat tepat waktu dikeluarga saya nomer satunya adalah ayah saya, dan tau dong saya nomer berapa :”. Hingga akhirnya lambat laun saya menyadari Allah sedang menguji saya dengan memberikan kenikmatan padahal saat itu saya lagi banyak dosa, sholat telat, baca al-quran jarang, pokoknya masa-masa intan (minus banget), hingga akhirnya kesadaran-kesadaran saya itu menuntun pada banyak hal-hal yang saya syukuri, Hidayah itu pasti ada untuk siapapun dan kapapun, saya percaya banget akan hal itu, tiap sholat saya selalu bilang dikasih hidayah buat hidup lebih baik. Hingga akhirnya saya bertemu dengan teman-teman yang lebih dekat dengan Allah (Read Alim) tanpa sengaja entah di suatu tempat atau kampus, bener-bener Allah baik bangeet datengin orang-orang ini saat Aku mintain hidayah, lambat hari mulai memperbaiki kebiasaan buruk, hingga ada lebih banyak point-point utama yang di list udah ngak dunia lagi di kertas impian, yang awalnya banyak kearah dunia. As time by go akhirnya saya bertemu rahmadhan! Ini juga salah satu titik penting untuk perubahan saya,awal saya mendedikasikan diri saya sepenuhnya untuk dapetin keberkahan rahmadhan, salah satunya dengan keputusan resign biar focus sama Allah dulu. Tapi yah namanya juga manusia ya, tergelincir dikit aja pasti bisa jatuh, nah saya juga begitu di rahmadhan ini, karena kenikmatan yang Allah kasih lewat pintu rizki bernama usaha, saya jadi terfokus ke usaha, Hingga akhirnya ada masa sepuluh hari terakhir yang biasanya saya pengen itikaf ini ikut suatu acara, tapi bener-bener mood boster lebih baik untuk hijrah banget! Namanya RK Academic program karantina 3 hari dari PPSDMS, ini adalah salah satu lembaga beasiswa hitzz dikalangan anak UGM, program ini didesign kayak kita jadi anak bimbingannya RK (Rumah Kepemimpinan), subhanAlllah bangeet saya ketemu orang-orang yang super duper bagus banget dalam hal keimanan, akhwat-akhwat kecee badai yang banyak nunjukin saya jalan untuk berkeinginan keras untuk hijrah. Dari sana juga juga akhirnya saya punya prinsip nojeanseverywhere. Lalu setelah rahmadhan saya mengikuti program yang namanya ODALF (One Day A Half) ini program sejenis dengan ODOJ (One day one Juz) buat baca al-quran nah bedanya adalah kalo ODALF ini cuman setengah Juz, tapi dari program ini Alhamdullilaaah banget rasanya saya pengen bersyukur terus *lay mode*. Karena setelah program ini banyak sekali perubahan yang saya dapatkan entah lebih antusias menggunakan waktu sebaik mungkin, antusias sholat tepat waktu ataupun antusiat yang orientasinya buat Allah. Dan saya selalu percaya banget kalo Allah selalu ngasih hidayah untuk orang yang mau, ngak cuman siap, karena diawal program ODALF saya masih yang, ha setengah juzz yang bener aja?? Selembar perhari aja kayaknya masih yang bisa dihitung perminggu ini kok malah setengah juz, tapi disini tentang kemauan itu, setiap ada kemauan pasti ada jalan, dan Allah ngasih jalan saya buat “udah dis mulai dulu ngak usah dipikirin langsung lakuin aja ngak usah ngasih stimulasi yang buruk buat otak”, dan Allah Huakbar, saya bisa sedikit istiqomah sampai sekarang ini, karena siap pun percuma kalo kita gak mau dan gak niat.

Dari semua titik itu akhirnya, sampailah saya menentukan pilihan study lanjut di tempat ini, dan hidayah Allah itu masih ajaa saya bisa dapat, jadi saya berada dilingkungan mahasiswa ambis yang gak cuman ambis buat dunia tapi lebih akhirat, akhwat-akhwat kecee badaai yang ugh saya mah apa atuhh, remehan debu lah parah :”. Tapi tak mengapa saya suka menjadikan orang disekitar saya sebagai indikator Wheehe jadi saya selalu terpacu untuk menjadi yang lebih baik setiap hari. dari sana jugalah akhirnya saya mulai belajar membuat kehidupan baru, ya disini ditempat ini dengan orientasi dan tujuan hidup baru. Tujuan hidup yang orientasinya cuman satu, saya hidup di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah. Saya yang dulu ambis banget buat gak mau jadi mahasiswa biasa aja yang harus banget ikut banyak kepanitiaan, organisasi, part time sana sini, dan kompetisi. Sekarang jadi mulai mempelajari ulang, organisasi yang saya ikuti bisa jadikan saya yang lebih baik enggak? Jangan-jangan cuman numpang nama? Atau malah menjauhkan diri sama Allah, yang akhirnya buat sholat lebih telat, lebih sibuk organisasi dari tilawah, saya masih berusaha buat tidak tergelincir di aspek-aspek ini, dan masih mencari diri itu mengapa rasa-rasanya sekarang lebih sering bilang sama diri “Tugas kamu sekarang bukan membuat orang terkagum dengan diri kamu dis, tapi lebih dari hal remeh itu Tugas kamu buat menghebatkan diri buat Dia satu-satunya”. Saya juga ngrasa hidup saya bener-bener lebih tenaang sekarang berasa yang, udah dis tenang ada Allah, atau kayak yaudah ngakpapa harus iklas ini cuman dunia. Hidup bener-bener dinamisss bangeet ya, sampe di titik saya tak mempercayai diri saya bisa ngak pakek jeans, seperti sebuah kemustahilan tersendiri yang rasa-rasanya buat saya bersyukur banget dititik ini, bukan apa-apa sih, karena memang dari dulu saya tomboy parah, ngak ada kata everyday everywhere tanpa jeans, dan sekarang say by makss Jeans.

Memperluas Zona nyaman kehidupan, dititik ini mungkin saya masih hanya memperluas zona nyaman saya, tanpa keluar dari zona baru, tapi yang pasti saat ini saya hanya baru memulai memperluas zona saya, bisa jadi suatu hari hidayah itu menghilang dari diri saya lalu saya memulai kehidupan antah brantah lagi, who knows. Itu mengapa saya saat saya memulainya, yang saya butuhkan hanya konsistensi, konsistensi selalu berdoa minta selalu di berikan hidayah dari sang pencipta, konsistensi meperluas pertemenan dengan para calon penghuni surga, konsistensi beribadah sebaik-baiknya, konsisten lebih antusiast dengan kehidupan akhirat ataupun yang lainnya.








Yang Ingin menjadi lebih Baik


Sabtu, 26 Agustus 2017

Jogja Vs Malang


Gambar ini tentang Malang dengan bayangan Jogja-nya :")) source google dengan design by myself

“Setiap tempat adalah sekolah, dan semua orang yang pernah saya temui adalah guru bagi saya”


Tepat beberapa minggu yang lalu saya mengucapkan salam perpisahan untuk Jogja, saya benar-benar belom ngebayangin hari itu ternyata beneran hari terakhir saya buat ngak ketemu Jogja lagi untuk beberapa bulan kedepan. Sedih? Banget! Awalnya saya sih masih yang alah abis ini semua selese juga bakal balik kok, pasti bakal ketemu Jogja dan keluarga lagi sebelom merantau lebih jauh, tapi ternyata tidak, saya benar-benar harus berbenah diri dikota baru lagi!. Tapi dari perjalanan yang super duper tidak pernah saya bayangkan itu ternyata membuat saya benar-benar memperluas Zona Nyaman saya, Zona baru yang sedari awal pernah saya bayangkan tapi dikit! Karena ini bukan kota prioritas saya buat keluar dari zona nyaman saya. Prioritas kota pertama saya setelah dari Jogja adalah (Jog)Jakarta, saya melanjutkan pendidikan disalah satu univ disana dan bekerja, karena disana ada kelas malamnya, tapi Allah punyaa rencana yang super duper lebih seru dibanding saya harus melanjutkan ke sana, Allah punya plan terbaik yang akhirnya saya berada disini, sama-sama untuk melanjutkan study tapi tidak untuk bekerja, hanya melanjutkan pendidikan!

Well di tulisan saya kali ini saya pengen banget cerita tentang kehidupan baru yang amatlah berbeda dari Jogja sebelumnya, dan tentu tentang perjalanan kehidupan beberapa minggu ini yang telah sedikit banyak merubah saya hahah!. 

Edited  di 2020:
Sebagai seorang yang pernah menetap di kedua kota ini, mungkin akan sama-sama bingung jika ditanya lebih baik Jogja atau Malang?. Saya tinggal menetap di jogja selama sekitar 4th untuk menimba ilmu dan bekerja di universitas tertua di sana, sedangkan di Malang saya menghabiskan waktu kurang lebih 2,5th untuk menimba ilmu dan bekerja juga di salah satu universitas terfavorite di kota Malang. So, lest to chek perbedaan dan persamaan kedua kota ini

1.  Biaya Hidup

Ngomongin tinggal dan menetap disuatu tempat tidak akan jauh-jauh sama biaya hidup di kota tersebut. Bagi saya yang pernah menjadikan kedua kota tersebut sebagai pelajar dan pekerja, mungkin Malang lebih mengiurkan untuk UMR-nya. Bagaimana tidak, Jogja sampai saat ini masih menempati posisi buncit sebagai kota dengan UMK termurah. Sayangnya, biaya kehidupan di kedua kota ini tidak berbeda jauh. Makan di Malang dan Jogja akan sebelas dua belas harganya, nasi warteg isi ayam goring lengkap sekitar 10k Jogja dan Malang tidak berbeda jauh disini, jika berbeda mungkin kamu belum tau hidden gem di kedua kota tersebut, how to found lowest price food!, restoranpun harganya sebelas dua belas. Bagaimana dengan kopi-kopian atau gerai kopi local, mungkin beda lagi Malang punya harga yang cukup murah dibandingkan kedai kopi di Jogja. Untuk harga es kopi susu yang cukup legendaris di Malang kamu cukup merogoh kocek sebesar 10k, sedangkan di Jogja untuk kedai kopi yang menjual es kopi susu butuh sekitar 15k keatas, tapi tenang saja di Jogja punya Burjo di setiap sudut jalan, jadi harga es kopi susu sachet bisa murah meriah dan cukup enak!

2. Makanan

Makanan di kedua kota ini juga tidak berbeda jauh. Bagi pecinta pedas Malang lebih juara disbanding dengan Jogja, sedangkan Jogja seperti yang kita tahu Jogja dan Jateng memang terkenal dengan makanan manis sebagai cita rasa utama. Meskipun masakan pedaspun akan mudah ditemui jika kamu tau tempat-tempatnya di Jogja. Bagaimana dengan variansnya? Jenis makanan di Jogja dan di Malang tidak banyak berbeda jauh. Masakan rumahan, masakan padang, masakan citra nusantara banyak di jajakan di warung-warung makan di Malang. Tapi bagaimana denga sanitasi lingkungannya?, bagi saya Jogja lebih memikirkan sanitasi dan kebersihan lingkungan dalam menyajikan makanan. Mungkin ini pendapat pribadi saya ya, sekali lagi

3. Suasana 

Ngomongin suasana mungkin Malang lebih juara dibanding Jogja. Suasana perkotaan yang sejuk, dikelilingi dengan pegunungan akan membuat setiap orang betah di Malang. Apalagi bagi kamu anak rantau dari ibu kota dengan cuaca panas, Malang tempat refreshing terbaik untuk menyegarkan otak. Sedangkan jogja, tipe-tipe kota dengan udara yang cukup terik, tidak begitu panas banget tapi cukup terik pada kondisi-konsisi tertentu. Meskipun begitu angina/udara jogja juga mengarkan, jadi akan berbeda dengan udara lembab ibu kota.

4.  Suasana belajar

Sebagai kota pelajar Jogja salah satu kota terbaik untuk menuntut ilmu. Hal ini terbukti dengan banyaknya alternative tempat nugas atau belajar di luar kamar/kos yang menyenangkan!. Tempat-tempat ini ada yang berjenis café-café 24 jam, perpustakaan 24 jam, art festival, dll. Jika mencari café 24 jam, di Jogja lebih juara dibanding Malang karena memiliki berbagai spot menarik sesuai budget dan kebutuhan. Sedangkan di Malang perpustakaanya hanya sampai jam 20.00. café-café tidak banyak yang buka 24 jam. Jikapun ada, fasilitas untuk nugaspun tak se bagus di Jogja

 

Ada Juga Part personality life  disini (Jogja Vs Malang)

Kisah Perubahan Jogja Vs Malang

Karena Allah Lebih Tahu, Jogja Vs Malang

Selama beberapa minggu terakhir saya juga banyak bangeet dapet hal-hal yang super duper diluar kemampuan saya dan itu berkat bantuanNya, Allah di Jogja sama di Malang sama aja, tapi yang ngebedain cara saya buat dapet keridhoannya Allah mungkin #eaaps. Ada satu kisah di awal saya di Malang yang membuat saya speachless, jadi ceritanya selama saya ketrima dan jadi mahasiswa di UB (Universitas Brawijaya) univ saya sekarang, saya ngak ngerti sama sekali dengan kondisi dan semuanya disana, sampai pada akhirnya saya pusing banget nentuin kamar kost, pun dulu pas saya di Jogja saya bener-bener ngak stricki banget sama detail kamar kos yang saya pengeni, asal bersih ada kasur is fine tapi ngak di Malang ini, saya punya detail kamar kos saya harus gimana, jadi saya pengen kamar kos saya sirkulasi udaranya baik, ada kasur, meja belajar, lemari (ini perabot wajib) karena ngak mungkin banget saya beli, mengingat sedikitnya masa study saya juga dimalang (yang gak bakal selama di Jogja kan pasti dan saya udah males ribet pindahan), ada Dapur, ada wifi, kamar mandi bersih dan sebaiknya didalam kamar, Parkir luas, bisa bayar bulanan dan deket sama warung makan, atm, dll jeng-jeng pas saya cari di semua social media termasuk web dan aplikasi pencarian kost dengan fasilitas yang saya pengeni itu bener-bener jauh dari budget yang saya tentukan, basicly kehidupan Malang emang lebih mahal juga dibanding Jogja, duh tambah pusing kan ya terlebih saat itu saya masih ngurus administrative yang lumayan jugaa. Heuuh. Saya bener-bener pasrah banget akhirnya, mau dapet tempat kost kayak gimanapun pas tau semuanya, yang penting hari pertama di malang udah dapet KOST TAPI dari sejak semua itu saya sering banget doa sama Allah, bedanya di doanya ini saya nyantumin detailnya hahha, saya dapet cara doa kayak gini dari kajian ustad Hanan Ataki, yang beliau bilang kalo doa sama Allah harus detail dan spesifik, jadi saya bener-bener minta kamar kos yang kayak gimana dengan budget yang juga di maintain sama Allah. Tau ngak hasilnya? Saya bener-bener dapet yang saya pengenin itu dengan semua detail yang saya minta diatas dengan budget diatas, Masya Allah banget ngak sih, sampai harganyapun sama kategori maksimal yang saya pengen, padahal kalo saya bayangin itu ngak mungkin, tapi mungkin banget buat Allah, dan dari sejak saat itu, semua hal yang saya lakuin sekarang seringnya selalu saya mintain sama Allah meskipun hal yang super duper remeh, Allah maha segala-galanya. Dari sana jugalah saya belajar untuk selalu melibatkan semua hal karena Allah dan dengan Allah.

Lifestyle Jogja Vs Malang

Malang juga benar-benar ngajarin saya untuk punya lifestyle baru, hahha. Jadi dulu pas di Jogja, kost saya itu kamar mandinya di luar kamar, jadi apa-apa harus keluar dulu kan ya, yang akhirnya sering banget bikin mager, misalnya buat nyuci piring abis makan, jadi seringnya saya tumpuk dulu diluar kamar, atau cucian baju kotor, yang pas malem yang harusnya gosok gigi sebelom tidur, ngejaga wudhu, dan sholat tepat waktu karena mager wudhunya jauh -___-. Tapi selama di Malang alhamdullilah semua kebiasaan jorok itu udah bener-bener sedikit berubah terlebih buat ngejaga wudhu, kalo abis makan piring langsung dicuci, kalo ada cucian kotor langsung mikir kapan dicuci karena bikin sumpek kamar mandi, selalu ngejaga kebersihan kamar mandi! dulu mah santai banget ngebersihin kamar mandi karena gentian sama mbak-mbak kos dan ada tukang bersih-bersihnya juga dikos Jogja, jadi sekarang tottaly saya selalu ngebersihin setelah gunain kamar mandinya ada plus minusnya sih kalo ini tapi saya bahagia aja abis ngliat semuanya bersih dan rapi lagi hahha, dan Juga untuk sholat tepat waktu dgn ngejaga wudhu, ini yang saya sendiri baru ngrasain pas kamar mandi di dalam kamar ini, semuanya lebih bisa dimanage dengan baik more than kamar mandi diluar kamar yang jauh. Lifestyle kedua yang lebih baik adalah #NoJeans everywhere, sebenernya ini prinsip dari pas rahmadhan kemaren sih, tapi baru ngejalani bener-bener di Malang karena dulu pas di Jogja masih ada jeansnya dilemari, jadi masih pengen dipakek kadang, tapi setelah di Malang ini bener-bener berprinsip ngak mau pakek jeans, jadi semua jeansnya di tinggal di rumah, jadi ngak bakal pengen pakek lagi. Doain istiqomah ya! #Lifestyle ketiga, menikmati waktu buat Jalan kaki! Dulu mah pas dijogja saya mana pernah jalan jauh, ada motor gini ngapain coba jalan, ke olive yang jaraknya ngak ada 100m aja saya pakek motor kadang, kebangetan banget ngak sih? T.T. Tapi dari Malang saya banyak belajar menikmati jalan kaki, karena kemana-mana jalan kaki, sampai setiap malem pas awal pegeel banget karena jalan setiap hari 1-2 km buat kemana-mana tapi saya bahagia kok #HidupIntanLebihSehat

Memperluas Zona Nyaman, Jogja Vs Malang

Tempat baru bagi saya adalah zona baru. Dulu saat saya di Jogja saya bener-bener ngrasa sendirianpun, rumah saya dekat saya bisa pulang kapan aja pas stress ataupun ada masalah. Sekarang? Saat saya bener-bener ngrasa sendirian gini saya cuman punya diri saya dan rumah buat kembali itu Allah, jadi di Malang saya belajar untuk selalu bener-bener ngandelin Allah dimanapun dan kapanpun curhat semua-muanya sama Allah yang dulu seringnya sama ibu dirumah T,T, rumah jauh gini mau pulang seminggu sekali juga ngak mungkinkan ya, -___-.

Passion Baru Jogja Vs Malan

Dulu pas di Jogja, saya bahagia karena saya dapet UGM, tapi ngejalani kuliah yang biasa aja di jurusan saya saat itu, pas di UGM pun saya masih punya keinginan kuat buat dapet FK jadi selama 2 tahun kuliah saya benar-benar ngak nikmatin kuliah karena saya lebih suka di Bimbel buat ngerjain soal SBMPTN, saya benar-benar masih ambis dengan FK. Tahun terakhir banyak saya isi dengan mengejar ketinggalan biar bisa cumlaude dan nyeimbangin diri sama organisasi dan lallanya, jadi saya ngrasa banget saya belom menikmati passion saya di Teknologi Industri Pertanian, hingga akhirnya saat saya dikasih kesempatan sama Allah buat belajar lagi diUB, saya benar-benar antusiast banget hahah. Ternyata Allah punya rencana hebat banget ya sampai akhirnya saya masuk di Jurusan ini, karena entah mengapa saya benar-benar suka dengan dunia Food Technology yang dulu pas saat SMA tak pernah sekalipun di otak saya, tapi semuanya berubah dengan semua puzzle yang Allah berikan, satu persatu akhirnya passion saya sedikit terkuak. :D
Kisah Sedih Jogja Vs Malang


Jogja vs Malang dan Cerita awal Kuliah!

Dulu saat saya ketrima di UGM, saya diantarkan untuk pendaftaran/administrative ataupun lainnya oleh keluarga besar, iya keluarga besar men ngak cuman bapak dan ibu! Satu mobil penuhh hahah, saking bahagiannya cucu pertama mereka ketrima di PTN, UGM pula hahah. Bukan hanya itu sih, dulu saya masih culuuun banget ngak tau mana-mana jadi orang tua pasti takut banget kalo ngelepas saya seorang diri untuk mengurus perpindahan dan semua-muanya. Bedanya saat dimalang adalah saya benar-benar ngak mau diantar, sampai saya harus nangis buat bilang ke keluarga besar, keluarga besar saya memang masih mengangap saya anak kecil yang masih perlu di jagain kemana-mana padahal setiap hari saya kemana-mana sendiri #sedih. Sebenarnya saya ngak mau diantar adalah karena saya tau banget Solo-Malang itu gak deket, dan lama banget perjalanannya, pun kalo ngelibatin banyak orang seperti waktu di Jogja pasti “Rempong banget parah” dan dengan ongkosnya pasti ngak sedikit dong apalgi saya kalo pergi gak cuman sama bapak ibu doang tapi sekeluarga besar, jadi dengan semua dalih yang saya miliki saya akhirnya bilang “Ngak mau dianter” nah permasalahannya disini, saat saya ngak mau dianter ini, barang yang saya bawa juga ngak bisa banyak, walhasil saya bener-bener cuman bawa satu koper kecil dan tas baju aja, so simple, sampai temen saya bilang saya mau liburan bukan pindahan -____-.

Kehidupan Malang Vs Jogja

Jogja terlalu ISTIMEWA untuk difinisi kota NYAMAN, dan entah mengapa saya belom bisa move on dari tempat itu, sampai sekarangpun tiap saya ditanya ibu saya “Udah krasan kan disana” saya cuman bilang “enggak kayak pas di Jogja bu, disini bener-bener beda” saya selalu bilang seperti itu, dan selalu saya maintain doa sama keluarga saya kalo abis nelpon saya, semoga saya diberikan kenyamanan seperti saya merantau di jogja, ya aamiin. Di Malang mungkin fasilitas kehidupan yang saya miliki benar-benar lebih baik dari Jogja bagi saya, karena meskipun saya sama-sama anak kost dan diberikan beasiswa orang tua, saya pernah kerja(punya sedikit tabungan), dan masih ada sedikit usaha kecil-kecilan yang uangnya pasti lebih dibanding dulu di Jogja pas jaman Kuliah. Tapi ternyata bukan itu yang saya cari, nilai kenyamanan tidak dapat diukur dari material yang kita miliki. Dan buat move on itu ngak gampang ya, apalagi Jogja udah benar-bener zona nyaman!



Well itu sedikit perubahan kehidupan saya Jogja Vs Malang, semoga perubahan baik selalu ada dan semoga selalu bergerak berubah menjadi lebih baik bukan sebaliknya! 
Oke masih ada part 2 tentang   Transportasi, Kelengkapan Kota (Fasilitas Penunjang) dan Wisata di kedua kota ini, see you next story yaa!!!

Jumat, 18 Agustus 2017

Catatan Pre-Quarter Life Crisis II : Zona Waktu

Setiap orang memiliki zona waktunya masing-masing, termasuk saya sekarang yang sedang berdiri disini, ah jika saya bayangkan betapa pelik kehidupan yang nyatanya tak segampang membalikan telapak tangan ini, meratapi perbandingan zona waktu satu orang dengan orang lain mungkin sebuah ratapan sendu. Tapi sampai saat ini saya percaya akan zona waktu setiap orang berebda-beda, ada yang lulus kuliah usia 21th lulus sarjana, ada yang 21th melanjutkan kuliah, ada yang 23th baru lulus kuliah tetapi langsung kerja, ada yang masih ngangur beberapa tahun kemudian untuk mendapatkan pekerjaan, ada yang usia segitu sudah menikah atau pada 30th seseorang baru menikah, ini tentang sebuah kehidupan bukan? Dan saat quarter life crisis sekarang inipun pemikiran-pemikiran tentang perbandingan usia seseorang dengan kesuksesan seseorang berasa benar-benar menohok (kadang). Kadang sering saya membayangkan saat saya usia 21th masih jauh sekali dengan kesuksesan sepertinya, disaat semua orang yang lain sudah banyak yang berlomba-lomba mengejar kehidupan yang gemilang entah dunia ataupun akhirat, sudah ada yang mendirikan start up, sering mengikuti berbagai conferensi di belahan benua lain, mengikuti berbagai pengabdian untuk masyarakat sekitar, udah hafidz 30 juz alquran sedangkan saya? Jauh sekali diluar hal-hal tersebut, saat saya ingin tidak menunda sholat diawal waktupun, masih aja banyak gagalnya.


Memasuki quarter life crisis rasa-rasanya ambisi-ambisi yang membuncah itu dibarengi juga dengan ambisi untuk tidak kalah dengan keadaan ataupun orang sekitar, terlebih untuk kita yang masih muda tentunya. Sedangkan kehidupan tak selalu memberikan point-point hebat sebuah kesuksesan seperti yang kita harapkan, tidak menyenangkanpun pasti akan lebih banyak disbanding dengan kesenangan yang didapat. Zona waktu setiap orang memang berbeda-beda pada nyatanya, tak mengapa jika kita saat ini masih harus mengayuh sepda dengan ban bocor atau kempes yang akan lebih susah sampai pada tujuan kita, tak mengapa jika kita masih harus ngesot untuk sampai pada titik yang kita inginkan, teruslah berjalan meskipun dengan napas tersengal karena capeknya, teruslah melajukan sepadanya meskipun dengan ban kempes.


Zona waktu setiap orang berbeda, pun dengan roda peputarannya yang berbeda satu sama dengan yang lain, saat kita dibawah suatu saat pasti rodanya akan kembali berputar keatas pun dengan sebaliknya, jadi tak mengapa dan tak usah risau jika saat ini perputarannya masih amat lama untuk sampai ke puncak atau roda diatas. Tapi yang pasti cepat atau lambat kita juga akan (pernah) diposisi puncak ataupun atas yang kita inginkan. Zona waktu juga akan mengajarkan sebuah proses yang tak instan, seinstant bikin mie instant. Tapi dari zona waktu kita akan belajar memaknai proses dan menikmatinya. Zona waktu kita memang tak sama kan pada nyatanya, jika kita masih tertinggal jauh bukan berarti kita yang selalu kalah atau gagal memperjuangkan segala sesuatu. Karena zona waktu setiap orang berbeda, kita tak pernah tahu perjuangan yang bagaimana yang akan membawa seseorang itu melajukan sepadanya secara cepat, tapi kita tahu hal indah sebuah proses yang akan memperindah perjuangan yang kita miliki, Ah proses, seberapa banyak proses indah yang tak terhitung itu kita perjuangkan dengan sangat? Saat kaki yang lelah itu tak pernah meminta untuk berhenti berjalan, untuk setiap rapalan doa yang selalu diucapkan, untuk tangan yang takpernah lelah merendra cerita manis disetiap lembar kertas, untuk daya juang yang saat lelahpun masih ingin dan terus untuk memperjuangkan, tak mengapa jika hasilnya berbeda dengan yang kita harapkan dari doa, mungkin itu cara Tuhan mempercantik jalan cerita kita, kita tak tahu saja sampai mana darah juang terbaik yang akan melajukan sepeda kita untuk lebih cepat sampai pada satu titik

Senin, 07 Agustus 2017

Jogja dan Sapaan Rindunya





Siapa yang tak mengenal kota ini? Kota dengan seribu hal yang akan selalu istimewa tanpa harus disebutnya satu persatu. Kota romantis diestiap sudutnya dengan lampu merkuri kuning lima watt dibeberapa sudut ataupun tempat-tempat tertentu (angkringan). Dulu waktu saya SD, tak pernah sedikitpun membayangkan akan tinggal dikota ini, jika saya bercita-cita saya selalu berharap tinggal di Surabaya, deket dengan tempat Ayah saya bekerja. Saya masih ingat saat itu guru pernah menerangkan tentang universitas di pelajaran PKN dan salah satu pertanyaanya tentang Universitas Gadjah Mada, saya ingat saat itu saya tepat menjawabnya Universitas ini berada di Jogjakarta, ejaanku dulu Yogyakarta bukan Jogjakarta. SMP dan awal SMA saya juga tak pernah tahu tentang Jogja, hanya tau di Jogja ada UGM, Malioboro, dan Parangtritis pun aku belom pernah ke Jogja, iyaa saya belom pernah sekalipun berwisata ataupun study tour di Jogja walaupun Aku hanya dari pinggiran Jawa Tengah. Hingga akhirnya kelas dua SMA seseorang yang saya kenal, diterima di UGM. Saya mulai kasak kusuk mencari tahu tentang UGM dan Jogja saat itu melalui Internet tentunya. Ada ribuan artikel tentang Jogja ataupun UGM. Hingga saat itu tibaa!! saya bersama teman saya SMA berkesempatan study Tour ke Jogjakarta, ah ini untuk pertama kalinya saya di Kota yang istimewa bukan hanya sebutannya. Yeah untuk pertama kalinya saya menjatuhkan air mata saya dan berdoa hanya ingin menjadi salah satu bagian dari Jogja dan kampus impian saya. Lalu ketika bus melaju saat pulang pandangan saya hanya satu mencari UGM karena saya belom pernah melihat kampus itu, kampus impian sayaa. Sayangnya saya tidak bertemu dengan kampus itu. Beberapa minggu berlalu saya ke Jogja kembali, bersama keluarga besar saya dan hanya untuk Ujian Masuk UGM (UM UGM 2013) saat itu saya berkata kepada ibu saya, “Bu, besok Intan wisuda disitu” sambil menunjuk GSP, Grha Sabha Pramana, Setiap ucapan adalah doa, dan saya percaya itu!! Beberapa minggu kemudian saya dinyatakan ketrima di salah satu kampus impian saya dan beberapa tahun setelahnya di wisuda di GSP. Ah itu cerita 4 tahun lalu saat saya berjuang untuk Jogja dan UGM.



             Akan ada seribu kisah jika saya menceritakan Jogja, tentang pahit getir kehidupan seorang anak perantauan, tentang setiap rindu rumah karena rata-rata masakan manis di Jogja, tentang kisah klasik melankolis patah hati atau Jatuh cinta, tentang siapa saja yang pernah menjadi orang istimewa di kota istimewa untuk menemani saya. Rindu itu tak akan pernah ada jika kita belom merasakan kehilangan. Saya pikir benar adanya, selama 4 tahun ini saya berada di Jogja menikmati setiap jengkal kehidupan yang tak selamanya manis dan baik-baik saja. Banyak berjuang dan tragis jika saya mengingatnya.

            Jika saya mendengar kata Jogja, haluan pertama saya tentang istimewa kotanya dan orang yang pernah setidaknya mengisi hari-hari saya selama 4 tahun terakhir. Sepi itu selalu ada saat saya sadar sekarang mereka tak lagi diJogja, ah jika sebuah rasa huru hara, saat ini mungkin jogja mulai sirna keistimewaanya, karena tahun ini tahun tanpa mereka dihari-hari saya. Satu persatu teman seperjuangan saya meninggalkan Jogja, meraih impian mereka, dan hanya saya yang masih sedikit ingin lebih lama di kota ini. Seringnya saya mendengar dari mereka, mereka merinduhkan Jogja, dan selalu saya jawab bahwa sekarang saya tak sedang merinduhkan jogja, tak sedang kasmaran ataupun jatuh cinta dengan setiap hal di Jogja, karena beberapa bulan terakhir saya pikir, saya lebih sering patah hati dengan siapa yang berada di Jogja. Kisah klasik manusia, tentang cinta bukan?.




            Setiap orang yang pernah menginjakan kaki di Jogja pasti tahu, seberapa murah tempat ini, seberapa mengagumkanya Jogja dengan pariwisata yang memukau di setiap sudut yang ia miliki, seberapa banyak makanan yang terlampau nikmat yang sesuai kantong di kota ini, seberapa romantis sudut di Jogja, seberapa ramah setiap senyuman orangnya, seberapa memukau setiap jengkal kehidupan disini, bagi saya Jogja tentang sebuah bukan hanya sebagai kota untuk berjuang dan bertahan hidup. Yaa, saat saya menginjakan kaki saya sebagai mahasiswa, berangkat pagi pulang larut untuk memenuhi standart kualitas yang sesuai dengan harapan kampus dan impian saya, saat saya harus menahan rasa kantuk yang amat hanya untuk mendengarkan evaluasi sebuah acara yang kita kerjakan, saat saya harus menahan rasa lapar ketika tanggal tua, ketika saya sangat bersyukur pernah datang kesebuah kota dengan rasa nasi kucing angkringan yang luar biasa nikmatnya!!, saat saya terlampau bahagia saat saya bisa menikmati seporsi indomie telor rebus pakek cabe di a’ burjo sebrang kos, atau saat saya harus begadang membuat laporan ataupun belajar di café-café 24jam di jogja. Tentang bagaimana, kisah klasik nan indah itu tercipta, tentang bagaimana dari jogja saya bisa jatuh cinta dengan satu orang, Jogja juga mengajarkan saya menjadi seorang melankolis nan realistis mengiyakan anjuran orang tua mencari sesuap nasi di Jogja. Melalui persaingan kerja dan Tentang bagaimana akhirnya saya harus bertahan di Kota yang ingin saya tinggalkan beberapa bulan lalu tapi saya masih harus disini.


Setiap tempat dijogja mungkin pernah saya datangi lalu menghingapi selalu berkesan. Jogja itu rumah bagi siapa saja yang pernah datang ketempat ini, karena pada nyatanya setiap orang yang pernah datang ketempat ini akan ingin segera kembali kesini. Tempo lalu saat perjalanan dari Bandung ke Jakarta, saya satu tempat duduk dengan seorang warga lokal asli Jakarta, yang ingin sekali tinggal di Jogja. Dia menceritakan keinginan terbesarnya bisa melanjutkan karir disini, saat itu saya hanya tertegun, yaa, karena bukan sekali dua kali saya menemukan orang yang bercerita tentang ingin kembali ke Jogja, karena kesan magis yang selalu ditimbulkan kota ini. Setiap sudut Jogja adalah kenyamanan yang tak pernah di ganti di Kota lain.


            Saya mengenal Jogja 4 tahun yang lalu, tinggal dan menikmati setiap kisah kehidupan dikota dengan nilai UMR yang minim sekali dibanding kota lain bagi saya. Pun, Jogja bukan tempat yang paling tepat untuk mengambarkan sebuah kota dengan pesatnya pencari kerja, bukan pula tempat yang menarik sebagai tujuan pencari kerja, tapi Jogja tak menawarkan kemacetan setiap berangkat ataupun pergi kekantor, tak menawarkan polusi disetiap tempatnya, tak menawarkan hedonnya sebuah price tag sebuah barang, tak menawarkan sebuah kedok kemapanan seperti Ibu Kota. Jogja akan selalu sederhana tapi setiap orang yang pernah di kota ini mencintainya dengan luar biasa.




          Saya tak pernah menyarankan sebuah kemewahan yang akan anda dapat disini, pada nyatanya seberapa besar nilai sebuah kehidupan disini, akan selalu terganti dengan kenyamanan setiap jengkal yang selalu ditawarkan dari kota bernama Jogja. Namun, Seberapa besarpun saya mencintai kota ini cepat ataupun lambat saya akan pergi dari tempat ini, tepat bulan Juli nanti saya akan melanjutkan pendidikan dan mulai kehidupan baru di kota lainnya. Lalu sebuah kisah itupun terwujud mengukir kenangan di Jogja sudah cukup selama 4 tahun ini, Jogja adalah rumah bagi saya, tentu saya akan kembali kerumah saya entah kapan itu doakan saja, saya punya peran kecil yang bermanfaat disini. Jogja :”.





Seberapapun besar dan cintanya saya, saya harus sadar saya tak mungkin di Jogja yang terlalu nyaman untuk zona nyaman saya ini.


Yang Akan selalu Mencintai Jogja








All gambar Source by Google dengan kata pencarian

1. Jogjakarta

2. UGM

3. Angkringan

4. Malioboro

















Popular Posts