Jika seringnya saya menyebut diri sedang mengalami Quarter Life Crisis, tapi saya merasa sedang mengalami fase diluar Quarter Life Crisis tentang Cinta, Teman Hidup, ataupun hal-hal berkaitan dengan Jodoh menikah dll segala tetek bengek yang melingkupinya. Mungkin kedengaran aneh, disaat usia saya yang mengarah lebih dewasa pemikiran menjadi seorang isteri ataupun hal-hal itu tak pernah lagi terpikir diotak saya, bukan hanya itu membicarakan tentang pernikahan sekarang ini bagi saya adalah hal yang juga sama-sama tabu dan benar-benar tak ingin saya pikirkan saat ini. Mungkin fase ini diluar life crisis yang saya menyebutnya Fase mati perasaan, ya fase mati perasaan saat perasaan tak pmerespon sedikitpun tentang berbagai hal yang berkaitan dengan virus merah jambu. Bagi saya pribadi ini adalah tahun tanpa galau berkelebatan di otak saya berbulan-bulan selama beberapa tahun terakhir. Tapi disatu sisi saya merasa takut, takut saya benar-benar tidak tertarik menikah dan menjadi perawan tua sepanjang umur saya (amit-amit ya Allah). Saya single dan belom minat menikah, iya karena saya tahu:
1. Bayangan pernikahan saat ini dan (belom)
lurusnya niat sebuah pernikahan
Bagi saya bayangan saya tentang
menikah sekarang ini masih semu dan terlalu abstrak. Bagi saya menikah gak
segampang saya mendaftar jurusan kedokteran sebanyak 14 kali meskipun gak ada
yang lolos, menikah gak segampang saya bisa tidur pules malam ini. Lol. Dan berbagai bayangan menakutkan saat kita akan menikah, lebih sering muncul dipikiran saya saat ini. Yang tambah bikin saya kadang mikir adalah
kata-kata yang sering bertebaran di lini masa sosmed saya “Memperbaiki diri untuk
calon imamku kelak” (atau kalimat senada). Ini salah satu niat yang disalurkan
lewat kata yang belom lurus bagi saya. Pun dengan niat saya pribadi, bisa jadi
selama saya memperbaiki diri atau sedang memantaskan diri jatuhnya itu
diniatkan untuk imam saya kelak bukan untuk Tuhan saya, meskipun tak salah sih
ketika kita memantaskan diri maka kita juga mendapat imam yang sesuai dengan
kita seperti di ayat Al-qur’an. Tapi menjadi hal paling konyol yang bikin saya
mikir itu salah satu indikasi belom lurusnya niat buat nikah karena
sebaik-baiknya niat ditujukan hanya karena Allah bukan untuk ciptaannya.
2.Bayangan : Mengarungi kehidupan berdua akan
lebih menarik dibanding tanpa pasangan
Siapa yang bilang? Bagi saya
sampai sekarang yang masih menganut paham single happy, ini salah satu hal
terlampau jija* karena bagi saya dan analisis saya dari orang disekitar saya,
menikah itu bukan hanya menyatukan kita dengan si pasangan, namun juga dengan
keluarganya, dan semakin banyak orang yang berada di lingkup pernikahan semakin
banyak probelitas sebuah masalah yang akan muncul.
3. Saya belom memiliki, Komitmen pernikahan, komitmen
tertinggi dari sebuah kehidupan
Bagi saya komitmen pernikahan gak
segampang nulis komitmen seratus persen di lembar protofolio pendaftaran
pekerjaan, atau melamar beasiswa, atau ndaftar organisasi. Komitmen pernikahan
adalah komitmen yang dipertanggung jawabkan langsung dengan janji didepan
penghulu dan langsung janji sama Tuhan. komitmen ini yang nantinya gak cuman
untuk sekarang didunia. Kalo ditanya tentang (berkurangnya) komitmen dengan
: besok kan bisa cerai dis kalo gak
cocok? Well gue paling benci hal senada
ini, emangnya janji sama Tuhan lo bisa
seenak jidatnya dikotori dengan Cerai, well kalo cowok sih banyak yang ngak
masalahin ya tapi kalo cewek, dengan streotip “Janda” yakin gak dapet tatapan
miring di masyakarat sekarang ini?. Dan saya masih bego yang masalah beginian,
masih sering gak seratus persen dengan orang untuk mengikat komitmen lebih jauh
dengan saya, dan masih sering mikir “jalani aja dulu” itu ngak berlaku
dipernikahan . Itu mengapa saya masih cenderung no coment tentang pernikahan
karena komitmen saya terhadap pernikahan saja nol persen.
4. Saya sadar belom bisa menjadi ibu yang baik
Klise! Alasan lain saya menolak
menikah muda atau saat ini adalah saya tau banget, I’m not really good mother
if I marriage right now karena saya belom becus menurunkan ego saya dan saya juga belom memiliki pengetahuan tentang pernikahan,
belom ngerti caranya jadi istri yang baik, dan belom punya basic agama yang
baik dalam segala sesuat. Bisa sih belajar, tapi saya tidak ingin tergesa-gesa belajar hal seperti ini, terlebih hanya karena saya ingin
menyegerakan tapi jatuhnya tergesa-gesa seperti diburu-buru deadline
5. Masih ingin sendiri
Klise kedua! Saya seorang
introvert, tapi saya juga bisa jadi extrovert, namun untuk sekamar dengan orang asing yang biasa disebut suami, Oh
dear! itu hal yang bikin saya begidik ngeri sendiri sebelom membayangkan
sekarang ini. Saya masih mencintai aktivitas kesendirian saya, bisa memiliki
banyak quality time bersama keluarga, bisa kesana kesini sendirian, bebas
ngelakuin apapun keinginan saya, bisa jalan kemanapun, Bisa ketawa ketiwi dengan
sahabat-sahabat saya, bisa menikmati setiap sudut tempat atau hal baru setiap
saat, dan tentunya masih bisa ngraih impian terbaik saya.
6. Masih memiliki banyak keinginan
Well, ini juga klise sih, tapi
saya gak ngak bisa menyalahkan hal ini, I have a lot of plans. Beberapa hal
yang ingin saya capai sekarang adalah S2 dan menduduki jabatan bonafit di salah
satu perusahaan multinasional *Oke ini mimpi saya*. Saya juga masih memiliki
segudang harapan ingin melangkahkan kaki saya kemanapun keinginan saya, menyusuri
belahan benua di dunia. Saya masih punya ambisi melanjutkan usaha kedua orang
tua saya, dan masih memiliki ambisi memiliki sebuah usaha yang bisa survive,
dan di bilang sebagai salah satu “Industri Kreatif”. Masih punya tanggung jawab besar sebagai anak
pertama serta untuk bermanfaat bagi orang disekitar saya, Dan ofcourse masih ingin lebih banyak
berbakti terhadap keluarga terutama ayah dan ibu saya.
7.
Berekspektasi
terlalu tinggi.
Bayangan berkedok bahagia abis
nikah, Pernah membayangkan happily after ever abis nikah? Saya pikir banyaak
dari teman saya yang seirng menyebutkannya dengan memiliki ambisi dan
ekspektasi terlalu tinggi “Happily ever after” dari sebuah pernikahan.
Pernikahan menjadi gerbang kebahagiaan selamanya, namun disatu sisi saat saya
membayangkan ini sama sekali jauh tentang happily ever after. Terutama dalam hal emosional dan finansial
yang bagi saya belom sama sekali cukup untuk saya jika memikirkan menikah
sekarang ini. Dan ekspektasi saya terlalu jauh kebawah
tentang pernikahan, yang membuat saya merasa saya belom yakin terhadap
pernikahan pada saat ini.
8. Tentang
pernikahan dan called of Muslimah yang dirinduhkan surga
Pemikiran ataupun anjuran menikah
hanya karena “Wanita yang dirinduhkan
surga adalah wanita yang tunduk dengan suami” atau kata-kata senada yang
memojokon wanita, bahwa wanita harus tunduk dengan suami jika ia ingin masuk
surga. Bukannya saya menentang menjadi wanita soleh yang taat dengan suami,
tapi bagi saya pribadi, seorang wanita sudah agung dari sejak ia dilahirkan,
tanpa ataupun dengan suami pasti dia akan mendapat surga dengan ketaqwaannya,
tanpa harus diiming-imingin dengan tunduk ataupun taat dengan suami. Dan jalan
menuju surga gak semuanya harus melalui sebuah pernikahan bagi saya. tapi saya tidak meragukan bahwasanya kedudukan seorang istri sholeh di berbagai hadist dan ayat al-qur'an adalah sebuah keagungan dan perhiasan terbaik di dunia, tapi kembali lagi seperti yang saya bilang, tidak semua jalan masuk surga harus melalui tahap jadi istri kan?
9. Ikut-ikutan
Takutnya, dengan niat saya yang
emang belom lurus-lurus bangett, saya juga takut menikah hanya sebagai ajang
ikut-ikutan, temennya yang lain udah pada nikah! Terus saya ikutan nikah, yang
lebih ngak enaakin perasaan dan jiwa adalah saat pertanyaan “Kapan nikah?”
bersaut-sautan di sekliling saya, dan membuat saya pengen cepet-cepet nikah
hanya karena itu *nauzubillah dah masalah beginian*
10. Belom mengetahui pentingnya pernikahan
Last but not leats, Sampai saat
ini saya belom tahu mengapa seorang harus menikah? So far saya tidak menemukan
why I should to be marriage. Kalo kata teman saya, because saya belom banyak
ngebutuhin orang lain (read pasangan), dan untuk mencapai I know the urgent
things about marriage, is when I believe saya tidak bisa hidup sendiri sampai
kapanpun, semandirinya saya sekarang jadi saya butuh orang disamping saya dalam
kehidupan saya. Hal lain
yang membuat saya merasa saya tidak ingin menikah sekarang adalah saya masih sering
merasa saya bisa apa-apa sendiri. Meskipun belom 100% karena masih ada campur
tangan kedua orang tua ataupun orang disekitar kadang. Tapi btw beberapa waktu lalu saya mendapat
sebuah meme yang membuat saya kesal, tentang seorang wanita yang mandiri dan
tidak membutuhkan seorang disampingnya dalam kasus ini seorang pasangan. Ini
meme-nya
Dan entah kenapaa saya
gregetaaan!!! Hahaha, seperti yang saya bilang so far saya belom membutuhkan
orang lain (read pasangan) sekarang tapi bukan berarti saya tidak ingin menikah
atau tidak butuh pasangan suatu saat nanti, saya percaya suatu saat
pemikiran-pemikiran ini akan dapat berubah dan yang merubahnya bukan saya yang
harus menurunkan kemandirian saya, karena akan down grade dong jadinya, if I
have to down my own perspective about independent person, tapi harusnya si pria
yang harus me-upgrade diri mereka untuk bisa membuktikan kepada si wanita,
bahwa dia bisa mengayomi dan melindungi tanpa si wanita harus menurunkan level
mandirinya.
Mungkin ini curhatan ngaco
saya hari ini. Percaya pada saya ini adalah curhatan 25 April 2017, bukan
berarti satu atau dua tahun yang akan datang saya masih tidak ingin menikah,
malah bisa jadi saya udah dilamar, ada rencana menikah, ataupun lainnya dan
semua ini bisa berubah karena saya percaya Allah adalah sebaik-baiknya
pembolak-balikan hati kapanpun itu.
Yang selalu Memperbaiki diri
Gadis Intan P















